
Beberapa hari kemudian
Radit mencari-cari keberadaan Cecil. Di kantor dia tidak bisa menemukan sosok Cecil. Bahkan di ruangannya pun tidak ada. Biasanya setiap pagi mereka selalu bertemu dan mengobrol di cafe.
Radit mulai panik. Dia takut terjadi sesuatu pada Cecil.
Dia bertanya kesana kemari, ke semua orang yang ditemuinya. Namun tak ada satupun yang memberi jawaban.
Nadine!! Tiba-tiba dia teringat tentang Nadine.
Tidak mungkin!!! Jangan-jangan Nadine melakukan sesuatu pada Cecil!! Sial!!! Aku harus menemukan Cecil sebelum Nadine melakukan hal nekat padanya.
Radit berlari dengan kencang menyusuri tiap-tiap ruangan di kantor Aj Foods.
...***...
Sementara itu, Nadine menemui Cecil dan mengajaknya untuk bicara berdua.
"Tunggu sebentar, Nad!! Kita mau kemana?" tanya Cecil dengan pergelangan tangannya yang dicengkeram kuat oleh tangan Nadine.
"Sebaiknya kau tidak banyak bertanya!!! Cepat ikut denganku!!!"
Nadine membawa Cecil ke balkon lantai atas gedung. Nadine menyeret Cecil dan mendorongnya. Untungnya Cecil tidak terjatuh.
Namun sedikit merintih karena kesakitan.
"Sebenarnya ada apa, Nad? Kenapa kamu bawa aku kesini?"
"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Kenapa aku harus bertemu lagi denganmu, huh? Mengapa kau selalu merebut apa yang kumiliki? Mengapa, Cil?"
"Apa maksudmu, Nad?"
"Kau tidak perlu berpura-pura tidak tahu apapun. Aku sudah tahu sejak pertama bertemu denganmu lagi. Semua ini pasti akan terjadi. Sama seperti dulu. Kau tidak pernah berubah, Cecil. Kau selalu merebut kebahagiaanku!" Mata Nadine memerah, karena marah dan juga sedih.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti. Aku tahu dulu aku pernah punya salah padamu, tapi aku selalu berusaha untuk menjelaskannya padamu. Dan kamu tidak pernah mau mendengar penjelasan dariku."
__ADS_1
"Aku tak butuh penjelasan darimu. Semuanya sudah jelas! Kau merebut Ricky dariku. Dan sekarangpun, kau ingin merebut Rangga dariku!" Nadine berteriak.
"Merebut Pak Rangga? Itu tidak mungkin, Nad!"
"Aku minta padamu, jauhi Rangga!!! Jangan pernah mendekatinya! Aku tahu ada sesuatu yang aneh diantara kau dan Rangga. Aku bisa merasakan itu! Rangga tiba-tiba banyak berubah. Dan itu pasti karenamu!!"
"Kenapa kamu bisa bilang begitu? Aku dan Pak Rangga selalu bersikap profesional dalam bekerja. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk berbuat macam-macam dengannya. Apalagi aku sudah menikah, Nad. Tidak mungkin aku mengkhianati suamiku."
"Cukup, Cil. Aku tidak mau mendengar apapun dari mulutmu! Aku membencimu, Cecilia!! Aku membencimu!!!"
Cecilia hanya diam mendengar semua kemarahan Nadine. Nadine yang dia kenal sebagai teman baiknya, sekarang menganggapnya sebagai musuh. Bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Tapi ketika bertemu kembali, keadaan tetap tidak membaik.
Setelah meluapkan kekesalannya, Nadine terdiam. Tatapannya kosong. Cecil menghampirinya. Ingin sekali Cecil memeluknya, namun enggan dia lakukan karena takut Nadine bertambah marah.
"Apa kau tahu berapa lama aku menunggu Rangga?" Tiba-tiba Nadine kembali bicara.
"Sudah lama sekali. Aku menunggunya selama dua belas tahun. Aku menunggu Rangga hingga dua belas tahun!!!" Nadine kembali berteriak. Lalu terduduk lemas.
Cecil mengikuti Nadine yang terduduk. Ada butiran-butiran kecil yang mengalir di pipinya. Nadine menangis.
Dan baru kali itu Cecil melihat Nadine menangis dengan sedihnya.
"Mungkin kau bisa menyebutku tidak waras. Tapi sedikitpun aku tidak akan pernah mundur, hingga aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan."
Cecil bingung harus berkata apa. Bertahun-tahun tidak bertemu, lalu tiba-tiba Nadine yang dia kenal berubah jadi wanita yang obsesif seperti ini.
"Aku juga belajar membuat kue. Karena aku tahu dia memiliki perusahaan makanan. Tapi apa kau tahu dia bilang apa? Dia bilang dia tidak suka dengan kue buatanku. Dan dia malah membuangnya." tangis Nadine makin menjadi.
Cecil mengelus pundak Nadine.
Dan sesaat dia teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu. Saat dia masih kuliah di New York.
Ya, saat itu dia pernah bertemu dengan Nadine. Dia bertemu Nadine yang menangis terduduk seperti saat ini. Dan disekelilingnya berjatuhan beberapa kue coklat yang berbentuk bulat. Cecil menghampirinya, namun Nadine bergeming. Dia hanya memandang sesosok laki-laki yang pergi membelakanginya.
Cecil memunguti satu persatu kue coklat yang berserakan. Dan mengembalikannya pada Nadine. Namun Nadine malah beranjak pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Kue coklat buatanmu sangatlah enak, Nad."
Nadine memandang Cecil dengan heran.
"Dan menurutku, tidak seharusnya kamu menyia-nyiakan kue buatanmu hanya karena seorang pria."
"Apa kau bilang? Kau bahkan masih ingat tentang kejadian memalukan itu?" Nadine memalingkan wajah.
"Iya, aku masih mengingatnya. Jadi, pria yang meninggalkanmu waktu itu adalah----Pak Rangga?"
Nadine berbalik dan menatap Cecil dengan tajam.
"Nad, jika memang orang itu adalah Pak Rangga, seharusnya kau tidak perlu bersedih seperti ini. Kau adalah wanita yang hebat. Tidak semestinya kau menunggunya hingga bertahun-tahun lamanya. Dia---dia tidak pantas untuk kau tunggu."
Kalimat Cecil mampu menohok hati Nadine, dan membuatnya hanya terdiam. Antara malu dan sedih, karena ternyata Cecil masih mengingat kejadian itu.
"Nad---Jangan bersedih. Dan---sekali lagi aku minta maaf. Aku ingin kita bisa seperti dulu lagi."
"Diam kau!!! Kau tidak tahu apa-apa tentangku!!! Bukan urusanmu aku mau menunggu Rangga atau tidak. Dan satu hal lagi, kita tidak akan bisa seperti dulu lagi. Aku tidak akan memaafkanmu jika kejadian di masa lalu kembali terulang. Ingat itu Cecilia!!!" Nadine berdiri dan bergegas pergi meninggalkan Cecil sendiri.
.
.
.
Radit yang sedari tadi mencari keberadaan Cecilia akhirnya berhasil menuju ke atap gedung atas bantuan dari salah seorang office boy yang menyebutkan kalau dia melihat Cecil dan Nadine pergi ke atap gedung.
Radit berpapasan dengan Nadine saat akan menuju ke atap gedung. Radit tak menghiraukan Nadine dan segera menemui Cecil yang masih diam terduduk.
"Cil? kamu tidak apa-apa??" tanya Radit panik dan langsung membantu Cecil berdiri. "Nadine tidak melakukan sesuatu padamu bukan?"
Cecil hanya menggelengkan kepalanya.
Radit membantu Cecil berjalan dengan memeluk bahunya. "Ayo pergi dari sini, Cil! Angin disini sangat kencang. Nanti kamu sakit jika terlalu lama disini."
__ADS_1
...💟💟💟...
tobe continued......