99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Kecewa, Maaf, dan Cinta (2)


__ADS_3

...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Keesokan harinya, Rangga sudah beraktifitas seperti biasa. Dia kembali masuk ke kantor seakan tak pernah terjadi apapun hari kemarin.


Semalam Rangga tak bisa tidur nyenyak. Kenangan demi kenangan bersama Mamanya di waktu kecil kembali muncul. Tapi dia adalah orang paling profesional se-AJ Foods. Sudah pasti ekspresi muka datarnya menutupi semua permasalahan di hatinya.


"Kakak baik-baik saja?" Tanya Danny dengan hati-hati.


Rangga melirik sinis ke arah Danny.


"Maaf kak. Maksudku bukan..."


"Sudahlah. Jangan dibahas. Aku baik-baik saja. Cepat keluarkan jadwal hari ini!"


"Baik, kak!"


.


.


.


Adi Jaya hari ini bertolak ke Bali. Namun Sandra tak menemaninya. Sandra ingin membuat semua masalah ini selesai dengan menemui Rangga di sela istirahat siangnya. Sandra akan menceritakan semua kisah yang dia tahu mengenai ibu kandung Rangga, Anna.


"Tante tahu sudah terlambat untuk mengatakan ini semua, tapi... Kamu tetap harus tahu hal yang sebenarnya..."


".............."


"Rangga... Mama kamu pergi, mungkin karena Papa kamu menikah dengan tante dan saat itu tante datang dengan mengandung Sheila."


"Mungkin?" Rangga mengernyit. Ekspresi wajahnya tetap datar seperti biasa.


"Maaf jika memang semua ini terjadi karena tante. Tapi..."


"Tapi apa?!"


"Tapi mereka juga memiliki perjanjian tersendiri dengan pernikahan mereka."


"Apa?" Rangga terbelalak.


Yang Rangga tahu, mamanya pergi karena kehadiran Sandra. Makanya dia membenci Sandra. Namun Rangga lebih membenci Mamanya karena tidak mengajaknya pergi bersama.


"Tante dan Papamu sudah lebih dulu kenal sebelum Papa dan Mamamu dijodohkan. Setelah mereka menikah, tante memutuskan hubungan kami karena tidak mau merusak rumah tangga mereka.


Tante bertemu Papamu lagi setelah sekian lama, dan kami memutuskan untuk menikah secara diam-diam. Meskipun akhirnya Mbak Anna mengetahui hubungan kami.


Dia marah besar ketika tahu tante hamil anak Mas Adi. Dia sangat ingin mengakhiri pernikahan, tapi dia berpikir ulang karena mereka memiliki kamu. Tante tahu tante salah karena sudah hadir lagi di pernikahan mereka.


Tapi Rangga, pernikahan mereka memang sudah bermasalah bahkan sebelum tante hadir lagi. Mereka membuat perjanjian pernikahan setelah kamu lahir."


"Apa tante tahu apa isi perjanjian itu?" Mata Rangga mulai memerah.


"Setahu tante isinya adalah jika salah satu pihak ingin mengakhiri hubungan, maka pihak itu tidak berhak atas hak asuh anak mereka. Yaitu kamu."


"Perjanjian macam apa itu? Itu artinya Papa menjebak Mama karena Papa tahu jika mama tidak akan bisa menerima tante sebagai madunya."


"Maafkan tante, Rangga... Maafkan tante..." Sandra mulai menitikkan air mata.


".................."


"Tante mohon... Kamu bisa memaafkan semua ini. Bagaimanapun juga, mereka adalah orang tuamu. Maafkanlah mereka agar kita semua bisa hidup dengan tenang..."


Sandra menangkupkan kedua tangannya memohon ampunan dari Rangga.


"Sudah dua puluhΒ tahun tante... Aku membenci semuanya selama dua puluh tahun!!

__ADS_1


Bagaimana bisa aku memaafkan kalian hanya dalam satu hari?!


Tahukah kalian bagaimana perasaanku? Aku hanya anak kecil saat itu. Bagaimana bisa kalian hanya memikirkan diri kalian sendiri?"


Rangga mengusap wajahnya dan menyeka air matanya dengan cepat. Ia sedih, marah, kecewa dan benci. Sedang Sandra sudah menangis terisak mendengar semua ungkapan hati Rangga.


"Biarkan aku sendiri tante. Biarkan aku memikirkan semua ini sendiri."


"Baiklah. Maafkan tante, Rangga. Satu hal yang harus kamu tahu, tante tulus menyayangimu seperti putra tante sendiri. Tante tidak mau kamu terluka. Maafkan tante..." Dan Sandra melangkah keluar dari kantor Rangga masih dengan isakan tangisnya.


Rangga memukul meja kerjanya. Kenyataan apa lagi ini yang harus dihadapinya? Ia harus berpikir jernih. Ia tak akan nekat seperti dulu.


.


.


.


Rangga memutuskan menemui Cecilia di kafenya. Ada hal yang harus ia tanyakan pada Cecil.


"Rangga? Apa yang kamu lakukan disini?" Cecilia kaget melihat Rangga ada di kafenya.


"Ada waktu? Bisa bicara sebentar?" Tanya Rangga datar.


"Kebetulan kafe sedang sepi. Mau disini atau..."


"Disini saja kalau boleh."


"Silahkan duduk. Mau pesan apa?"


"Coklat panas ada?"


Cecilia mengernyitkan dahi.


"Sorry, kopi saja, please..."


"Tunggu sebentar!"


Cecilia kembali dengan secangkir kopi di tangannya.


"Terima kasih." Rangga menyesap perlahan kopinya.


"Ada yang mau aku tanyakan soal...."


"Mama kamu?"


"Iya."


"Kenapa tidak langsung menemuinya saja? Bukankah kamu sudah berusaha mencarinya."


"Aku sudah membencinya selama dua puluh tahun, tidak mungkin tiba-tiba aku datang menemuinya."


"Kamu tidak membencinya, Rangga."


"Eh?"


"Apa yang kamu dapatkan setelah dua puluh tahun membenci mamamu sendiri? Apa kamu bahagia, Rangga?"


"Cecilia!!!" Rangga menaikkan suaranya.


Cecilia syok mendengar Rangga membentaknya.


"Maaf... Aku... Aku..." Rangga menatap Cecilia sangat dalam.


Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu, Cecilia. Meski kamu sudah meninggalkanku.

__ADS_1


"Aku apa?" Cecilia melanjutkan.


"Aku... Mohon padamu... Beritahu padaku yang kamu tahu tentang Mama..." Rangga mengiba.


"Aku tidak tahu banyak mengenai kisah Umi Isma. Tapi, dia bercerita kalau dia harus meninggalkanmu karena hidupmu akan lebih baik jika bersama dengan Papamu.


Maaf jika aku ikut campur masalah ini, tapi aku rasa kamu tidak membenci Umi Isma, kamu menyayanginya, karena itu kamu mencarinya.


Tapi, jika kamu akan terus membenci, sampai kapan semua ini akan berakhir Rangga? Apa kamu akan terus menambah dua puluh tahunmu hanya untuk hidup dalam kebencian dan dendam?


Maafkanlah semua, maka hidupmu akan lebih tenang. Masa lalu tak akan bisa terulang, tapi masa depan, kamu sendirilah yang harus menentukan. Apakah kamu akan hidup dalam kebencian, atau hidup dalam ketenangan."


"Bicara itu mudah, Cecil... Kamu tidak akan tahu hanya dengan..."


"Aku tahu semuanya, Rangga. Aku merasakan semuanya. Cinta, kebencian, dendam, kehilangan, penyesalan. Tapi aku lebih bahagia dengan memaafkan... Itu adalah jalanku, aku tidak tahu bagaimana jalanmu."


"..............."


Yang dikatakan Cecilia benar. Hati Ranggapun berkata demikian. Andai saja Cecilia masih yang dulu, sudah langsung dipeluknya dengan erat wanita berhijab itu.


Rangga masih bisa menahan hasratnya. Meski sorot matanya tak bisa berbohong. Rangga masih mencintai Cecilia. Hatinya masih tertaut dengan satu nama, Cecilia Wijaya...



...***...


Setelah Adi Jaya kembali dari perjalanan bisnisnya di Bali, Rangga memutuskan untuk memperjelas semua masalah. Dia mengumpulkan orang-orang dirumahnya untuk bicara. Sudah tak bisa ia bendung lagi. Ia ingin mengungkap kebenaran di keluarganya.


"Tante Sandra sudah cerita semua padaku, Pa. Jadi, Papa tidak perlu mengelak lagi. Mama tidak meninggalkanku seperti yang Papa ceritakan padaku. Papa yang sudah membuat Mama pergi."


"Lalu apa yang kamu inginkan sekarang?" Adi Jaya berkacak pinggang. Sifat keras Rangga pastinya didapat dari Papanya yang tak kenal kata menyerah.


"Aku akan memaafkan Mama. Memaafkan kalian yang selama ini berbohong padaku. Aku tidak mau hidup dalam kebencian selamanya. Sudah cukup semuanya, Pa. Aku juga mohon pada Papa, untuk menghentikan semuanya. Mari kita hidup dengan tenang mulai sekarang. Aku mohon, Pa!" Mata Rangga memerah. Air matanya sudah dipelupuk mata.


Adi Jaya terdiam. Sementara Sandra sudah berurai air mata.


"Kamu yakin bisa menerima Mamamu kembali?" Tanya Adi Jaya kemudian. Ia mulai luluh karena kegigihan putranya.


"Dia adalah Mamaku. Dia yang melahirkanku. Aku akan menerimanya kembali. Aku tidak akan pergi dari sini, aku akan tetap jadi anak Papa. Aku akan mengurus perusahaan juga. Aku janji!"


"Pa, ijinkan Rangga menemui Mbak Anna. Dia sudah menderita selama dua puluh tahun tanpa bertemu Rangga," pinta Sandra.


Adi Jaya mendekat ke arah Rangga. Menatap putra kesayangannya itu. Kemudian memeluknya.


"Selama ini yang Papa lakukan adalah untuk melindungimu, Nak."


"Aku sudah dewasa, Pa. Aku berhak menentukan jalanku sendiri."


Dada Adi Jaya terasa sesak. Ia tak mau kehilangan putranya. Ia tak mau jika Rangga melakukan hal bodoh lagi ketika keinginannya tidak dikabulkan.


"Baiklah. Kamu boleh menemui Mamamu."


"Benarkah, Pa?"


Adi Jaya mengangguk.


"Terima kasih banyak, Pa!" Rangga memeluk Adi Jaya.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Bersambung,,,,


*nyesek rasane gaess 😭😭


Terima kasih yg sudah memberi dukungan kepada author, kaliaaaann ruaaaarrrr biasaaaaah 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2