
...💟💟💟...
"Kak Rangga pergi kemana malam minggu kemarin? Herman bilang kakak tidak ada dirumah. Atau jangan-jangan kakak datang ke pembukaan kafenya Bu Cecil sembunyi-sembunyi ya?"
"Jangan bicara sembarangan! Aku hanya pergi keluar cari angin. Mana mungkin aku kesana!!" Jawab Rangga sewot.
"Sudahlah, kak. Aku tahu perasaan kakak. Kakak masih mencintai Bu Cecil 'kan?"
Rangga melotot. "Jangan asal bicara! Kamu mau mati, huh?" Rangga mengarahkan tinjunya ke wajah Danny.
"Jangan kasar dong, Kak! Aku hanya bicara apa adanya saja. Kalau begitu aku permisi dulu. Jangan lupa nanti ada meeting pukul satu siang."
Danny pun keluar dari ruang kerja Rangga.
Rangga menatap layar komputernya. Namun pikirannya entah berada dimana. Otaknya tiba-tiba tertuju pada Cecilia. Apa karena ucapan Danny barusan?
Sejak Cecil meninggalkannya, Rangga sudah tak mau mendengar hal tentang Cecil lagi. Tapi orang disekitarnya seakan tidak bisa berhenti untuk mengingatkannya pada Cecil.
Tok tok tok
Pintu ruangan Rangga di ketuk.
"Masuk!"
Dan Danny muncul lagi dari balik pintu.
"Ada apa lagi?"
"Aku cuma mau tanya, Kak Rangga mau ikut makan siang bersama?"
"Tidak, aku masih kenyang."
"Oh, baiklah. Kalau begitu aku permisi."
Suasana kembali sunyi setelah Danny pergi.
Rangga berjalan menuju balkon. Menatap barisan gedung-gedung tinggi di sekitar kantornya.
Apa yang sebenarnya kamu inginkan Cecil? Kenapa kamu tiba-tiba pergi lalu sekarang tiba-tiba kembali? Apa yang kamu cari Cecilia? Aku ingin menemukan jawabannya, tapi hatiku masih terasa sakit. Apa kamu tahu apa obatnya?
Rangga menutup matanya. Sekelebat sosok tetiba hadir dalam lamunannya.
"Mama...?!?"
...***...
"Thank you, sudah bersedia menemaniku makan siang," ujar Nadine.
"Jangan sungkan, Nad. Santai saja. Waktunya istirahat, ya kita istirahat. Waktunya kerja, ya kita harus kerja. Iya 'kan?"
Nadine tertawa kecil. Dasar pria aneh. Pikirnya.
"Oh ya, Nad. Bagaimana hubunganmu dan Rangga? Apa kamu sudah bertemu dengannya?"
Nadine menggeleng. "Aku belum bertemu dengan Rangga semenjak kedatanganku kesini."
"Aku mengerti. Kamu secara tiba-tiba membatalkan pertunangan kalian secara sepihak. Bukan Rangga yang terluka, tapi lebih ke Om Adi. Dia pasti marah besar 'kan?" Radit tertawa menyeringai.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kontrak kita tetap berjalan dengan AJ Group. Jadi, Om Adi tidak perlu kecewa."
"Baguslah. Bukan jamannya mengekspansi bisnis dengan pernikahan. Mengorbankan anak hanya untuk kepentingan perusahaan. Ckckck, aku tak bisa membayangkan jika aku harus menjalani hidup seperti itu. Makanya aku lebih memilih pergi dari rumah."
__ADS_1
Drrrrrrttttt drrrrrttttt drrrrrttttt
Ponsel Radit bergetar. "Panjang umurlah dia! Baru saja kita membicarakannya, dia langsung menghubungiku."
"Siapa?" Nadine penasaran.
"Si Rangga. Halo, Ga. Ada apa?"
"Kamu ada dimana?"
"Aku sedang makan siang bersama Nadine. Ada apa?"
"Aku sedang ada di dalam kantormu. Sebaiknya kamu cepat kemari."
"Ooh, iya-iya. Tunggulah sebentar. Aku akan segera kesana."
Panggilan berakhir.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Rangga?"
"Ah, tidak ada apa-apa. Seperti biasa, dia hanya merindukanku, hahahah."
Nadine mengernyitkan dahi. "Apa setelah ditinggal Cecil dan juga diriku Rangga lebih memilih bersama pria?" Tanya Nadine dalam hati.
"Maaf ya, aku harus kembali ke kantor. Lain kali kita makan siang bersama lagi."
"Iya tidak apa-apa. Sampaikan salamku untuk Rangga."
"Oke!"
...***...
VROOOOOOOMMMM!!!!!
"Hai, Cil. Kamu belum tidur? Ini sudah hampir tengah malam lho!" Ismail melirik arlojinya.
"Iya. Aku tahu. Aku terlalu senang untuk bisa tertidur." Cecilia meringis bahagia.
"How was the caffé?"
"Good. Everything was so good. Perfect."
"Syukurlah. Sepertinya kamu lelah. Istirahatlah. Lihatlah matamu. Jika kamu tidak tidur sekarang akan muncul lingkaran hitam di bawah matamu seperti panda."
"Hahaha, bisa saja kau! Sebentar lagi aku akan masuk lalu tidur. Aku ingin menghabiskan tehku dulu."
"Untukku mana? Biasanya kamu membuatkan untukku juga."
"Sorry. Aku lupa. Ya sudah tunggu disini sebentar. Akan kubuatkan terlebih dulu." Cecilia segera menghambur ke dapur.
.
.
"Sebaiknya kau pulang, Nak!" Suara ibu Maria mengagetkan Ismail.
"I-ibu? Kukira ibu sudah tidur," sapa Ismail canggung.
"Belum. Nak Ismail... Maaf kalau ibu harus berkata begini padamu. Ibu sangat menyayangimu seperti putra ibu sendiri. Tapi, ibu tidak mau kau terus berharap pada Cecil. Kau boleh menganggapnya sebagai adikmu, tapi jangan mengharap lebih. Sampai kapanpun kalian tidak bisa bersama. Kau mengerti maksud ibu 'kan? Kau lelaki cemerlang. Cecil tidak pantas untukmu. Dia seorang janda, Nak! Kau berhak mendapat yang lebih baik dari Cecil. Jadi, setelah ini tolong batasi pertemuanmu dengan Cecil. Dan kau tidak perlu menjaga Cecil lagi. Ibu sangat berterimakasih padamu atas semuanya. Suatu saat ibu akan membalas kebaikanmu pada kami."
"..........." Ismail tak mampu berkata apapun.
__ADS_1
Tak berselang lama, Cecilia datang dengan secangkir teh jahe di tangannya.
"Lho? Ibu? Ibu belum tidur? Ismail kemana, Bu?"
"Dia lelah. Dia bilang dia ingin beristirahat. Kau juga, tidurlah! Besok kau harus berangkat ke kafe lagi 'kan?"
"Lalu bagaimana dengan tehnya? Akan kuantar ke rumahnya saja."
"JANGAAANN!!! Pergilah ke kamarmu dan tidur!!"
"Ibu... Kenapa ibu marah?"
"Ibu tidak marah! Ibu hanya ingin kau beristirahat. Ini sudah malam!"
Cecilia tak menjawab lagi dan menuruti perintah ibunya.
...***...
Raditya turun dari mobilnya dengan gaya maskulinnya. Lalu merapikan rambutnya sambil berkaca di depan kaca mobilnya.
Ia berjalan dengan gagah memasuki kafe. Ia melihat sekeliling mencoba mencari keberadaan Cecil.
"Kau cari siapa?" Radit dihadang ibu Maria.
"Eh, Tante. Maaf Tante, Cecilnya ada?"
"Tidak ada! Dia sedang pergi!"
"Eh, pergi kemana? Tadi dia bilang katanya masih di kafe..."
"Tapi sekarang Cecil tidak ada! Jadi sebaiknya kau pergi saja!" usir ibu Maria.
"Hah?" Radit bingung.
Tak biasanya ibu Maria bersikap seperti ini padanya. Karena tak mau membuat ibu Maria marah, Raditpun bergegas pergi meninggalkan kafe.
Dan Ceciliapun keluar dari persembunyiannya.
"Apa maksud ibu? Kenapa tidak mengijinkan Radit bertemu denganku?"
Plaaaakkkk. Maria memukul lengan Cecil.
"Aw!!! Sakit Bu!!"
"Kau masih tak paham, huh? Kau dilarang terlalu dekat dengan dia. Dia lelaki cemerlang. Pewaris perusahaan besar di kota ini. Kau tidak pantas dengannya, Cecil... Sadarlah!!!"
"Aku hanya berteman dengan Radit, tidak lebih. Ooh, aku tahu sekarang. Jadi karena ini ibu juga menyuruh Ismail untuk menjauhiku? Ibu keterlaluan!"
"Ibu melakukan ini demi kebaikanmu. Ibu tidak mau kau terluka lagi. Tolong mengerti perasaan ibu."
"Ibu!!!! Lantas siapa yang pantas untuk mendekatiku?" Cecil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Seseorang dengan status yang sama sepertimu... Itu akan lebih baik..." Ibu Maria menjawab datar.
"IBU!!!" Cecilia mengeraskan suaranya.
...💟💟💟...
Bersambung dulu yaaa,,,
Stay tuned terus 😘😘😘
__ADS_1
Jangan lupa like. comment, love n vote 😍😍
Terima kasih 🙏🙏