
Perpisahan kali ini untukku,
Akan menjadi kisah...
Sedih yang tak berujung...
(Glenn Fredly)
...💟💟💟...
*Cecilia PoV*
Aku sedang bersiap untuk menghadiri sidang putusan akhir perceraianku dan Mas Alvian. Iya, sekarang sudah tiba saatnya. Aku harus benar-benar melepas Mas Alvian. Tidak pernah terbayangkan kalau hari ini akan benar-benar terjadi padaku.
Aku harus melepas cinta pertamaku. Aahh, aku begitu lemah. Memikirkan semua ini membuat air mataku kembali menetes. Terlalu banyak hal yang masih membekas dalam ingatanku. Saat pikiranku sedang menjelajah entah kemana, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamarku dan membukanya. Itu pasti ibu. Aku buru-buru menghapus air mataku.
"Kau sudah siap?" tanya ibu padaku.
"Iya Bu." jawabku sambil tersenyum.
"Apa perlu ibu temani?"
"Tidak usah, Bu. Lagipula, mana ada seorang ibu yang ingin melihat putrinya bercerai?"
"Tidak! Ibu malah ingin melihat hakim mengetuk palu untuk perceraian kalian. Sudah cukup selama ini kau menderita. Ibu jadi bersyukur karena sekarang kau sudah terbebas dari keluarga itu."
"Ibu? Jangan berkata begitu." ucapku dengan memelas. Aku tidak mau ibu terus mengumpati Mas Alvian dan keluarganya.
"Ya sudah. Itu Bima sudah menunggu dari tadi. Cepatlah berangkat."
"Iya, Bu"
...***...
"Untuk apa kau datang menjemputku? Aku bisa datang sendiri ke pengadilan." tanyaku pada Bima saat diperjalanan menuju pengadilan agama.
"Alvian yang memintaku untuk menjemputmu."
"Oh."
"Kau kelihatan sudah lebih tenang." Ucap Bima sambil sesekali melirik ke arahku yang duduk disebelahnya.
"Tidak ada yang tenang menghadapi sidang perceraian, Bim. Aku hanya menutupinya saja."
Sesampainya di kantor pengadilan agama. Aku dan Bima masih berdiam di dalam mobil. Aku melihat sekeliling parkiran gedung. Sepertinya Mas Alvian belum datang.
Maklumlah, dia harus benar-benar menutupi masalah ini dari wartawan. Sama seperti sidang yang dulu, Mas Alvian pasti butuh persiapan ekstra agar tidak ada orang yang mengenalinya.
Ponsel Bima berdering. Aku tidak tahu siapa yang meneleponnya. Bima hanya menjawab iya iya saja.
"Ayo turun, Cil. Alvian sudah ada didalam"
"Hah?" Aku bingung. Kenapa Mas Alvian sudah tiba lebih dulu? Tapi aku tidak melihat ada tanda-tanda keberadaan mobilnya.
"Kau mencari mobil Alvian? Dia tidak mungkin memakai mobilnya sendiri. Shasha sudah menyiapkan semuanya dengan baik."
Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan Bima. Kenapa aku bodoh sekali? Tentu saja mas Alvian tidak akan membawa mobilnya sendiri kesini. Itu sama saja bunuh diri.
...***...
Aku merasa sidang berjalan dengan sangat lambat. Aku sudah tak kuasa harus duduk berdampingan dengan Mas Alvian sambil mendengar hasil putusan sidang terakhir ini. Sesekali aku menoleh ke arah Mas Alvian yang sedari aku bertemu dengannya hari ini, dia hanya diam.
Aku pikir dia akan terus mengucap maaf padaku saat bertemu. Tapi ternyata tidak. Mungkin karena dia tahu aku sudah tidak mau mendengar kata maaf lagi.
Pikiranku melayang. Tidak bisa fokus mendengar semua yang diucapkan hakim. Aku hanya samar-samar mendengarnya. Hingga akhirnya yang aku dengar adalah suara keras ketokan palu hakim yang menggema didalam ruang sidang. Itu adalah tanda kalau sidang sudah berakhir. Dan putusan sudah disahkan.
Aku masih diam terpaku. Aku melihat Mas Alvian bersalaman dengan para hakim. Lalu memeluk Bima. Kurasakan ada yang menyentuh tanganku. Mas Alvian.
"Ayo ikut denganku!" ajak Mas Alvian seraya menggenggam tanganku.
Aku hanya menganggukan kepala. Kupikir aku akan menangis saat mendengar hakim mengetok palunya. Tapi tidak. Aku sudah cukup menangis. Jangan lagi menangis Cecilia. Pintaku dalam hati.
"Kita mau kemana, Mas?" tanyaku bingung.
"Nanti juga kamu tahu."
...***...
__ADS_1
Lautan. Pantai. Mas Alvian mengajakku kesini.
Pantai ini penuh kenangan untukku. Disini, dia dulu menyatakan perasaannya padaku, dan melamarku.
Untuk apa dia membawaku kesini?
"Kenapa kita kesini, Mas?"
"Tempat ini penuh dengan kenangan. Bertahun-tahun lalu. Apa kau masih ingat?"
Aku menggangguk.
"Kita akan selesaikan semuanya disini."
Aku terkejut. Menyelesaikan? Apa maksudnya?
"Cecil--- Mari selesaikan semuanya."
Aku tidak tahu apa maksud perkataan Mas Alvian. Yang jelas hubungan kami memang sudah selesai.
"Cil? Tanyakan semua hal padaku. Katakan semuanya. Jangan terus menutupi kesedihanmu." raut wajah Mas Alvian mulai berubah. Dia terlihat sedih.
"Apa maksudmu, Mas?"
"Selama satu tahun ini, kenapa kamu memendamnya sendiri? Bukankah aku ini suamimu saat itu?"
Aku mulai paham kemana arah pembicaraan ini. "Apa Bima sudah menceritakan semuanya?"
"Aku tidak mau mendengar dari Bima. Aku mau mendengar semua dari kamu."
"Mas---?"
"Tolong katakan semuanya padaku, Cil. Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan padaku."
"Semua sudah berakhir, Mas. Pada akhirnya, kita akan menjalani takdir kita masing-masing. Kita tidak bisa menjalaninya bersama-sama lagi."
"Kumohon tanyakan satu hal saja padaku, Cil?!" nada bicaranya mulai geram.
"Oke, baiklah. Apa kamu masih mencintai Nayla?" pertanyaan itu terucap begitu saja dari bibirku.
Mas Alvian menghindariku. Dia berjalan menjauh. Dan mengacak-acak rambutnya. Terlihat frustasi. Sedari tadi dia baik-baik saja, sangat tenang dan pendiam. Tapi kenapa sekarang dia terlihat emosional.
"Aku memang pernah mencintainya, tapi tidak sekarang. Aku menikahinya bukan karena aku masih mencintainya, tapi karena aku menjalankan wasiat Mas Alif. Aku hanya mencintaimu, Cil."
"Tapi Nayla adalah cinta pertama kamu, Mas."
"Semua orang pernah memiliki cinta pertama. Dan belum tentu kita berjodoh dengan cinta pertama kita."
"Kamu adalah cinta pertamaku, Mas." air mata yang sedari kutahan, sekarang keluar dengan sendirinya.
Mas Alvian terdiam. Dia mendekatiku, dan menggenggam tanganku.
"Cil, aku memang pergi ke Amerika karena aku patah hati. Tapi sejak bertemu denganmu, aku merasa hidupku kembali berwarna. Kamu berbeda. Kamu membuatku percaya lagi akan cinta. Meskipun kamu bukan cinta pertamaku."
Mas Alvian pun ikut bersedih. Aku tak pernah melihatnya menangis. Tapi kali ini, dia menangis dihadapanku.
"Maafkan aku, Cil. Aku sangat menyesal semuanya jadi begini."
"Bukan salah kamu juga, Mas. Tapi juga salahku."
"Cil, berhari-hari aku berpikir. Selama ini aku selalu menyakitimu. Keluargaku selalu menekanmu. Membuatmu bersedih. Aku tidak mau melihatmu bersedih lagi, Cil. Jadi, setelah hari ini, tolong berbahagialah. Maafkan semua kesalahanku dan keluargaku. Sampaikan permintaan maafku juga pada ibu."
Aku mengangguk. Air mataku masih terus mengalir. Entah kenapa aku ingin menangis dengan keras. Mas Alvian pun tak henti menangis juga.
"Aku mencintaimu, Cil. Kamu harus percaya itu."
"Aku percaya, Mas."
Mas Alvian mengulurkan tangannya. "Mari berjabat tangan, untuk yang terakhir kali. Kita---Masih bisa bersilaturahmi kan, Cil?"
Aku mengangguk. Aku menyambut uluran tangan Mas Alvian.
"Ayo pulang!" ajak Mas Alvian.
"Aku akan pulang naik taksi saja, Mas. Sampai bertemu lagi, Mas. Selamat tinggal."
Aku melepas jabat tanganku dengan Mas Alvian. Aku membalikkan badan dan berjalan menjauh. Langkah kakiku terasa berat. Ya Tuhan, apa aku sanggup benar-benar kehilangan dia?
__ADS_1
"Cecil!!!" Mas Alvian memanggilku.
Aku menoleh dan membalikkan badan. Kulihat Mas Alvian berlari kemudian memelukku. Dia memelukku sambil menangis. Mendekapku dengan erat dan membelai rambutku.
Akupun balas memeluknya. Tangisan kami pecah. Ini akan menjadi pelukan perpisahan untukku dan mas Alvian.
Mas Alvian melepas pelukannya. Menghapus air mataku dengan jarinya.
"Jangan menangis lagi. Berjanjilah padaku, kamu akan bahagia."
Aku mengangguk. Tak lama ponselku berdering. Telepon dari driver taksi online yang kupesan beberapa saat lalu.
Aku berpamitan pada Mas Alvian. Kemudian memasuki mobil yang berhenti didepan kami.
Didalam mobil, aku menangis sejadinya. Kulihat Mas Alvian masih berdiri dengan terus menatap mobil yang membawaku pergi.
Ya Tuhan, apakah memang ini adalah suratan takdirMu untuk kami? Aku harus merelakan cinta pertamaku, meski hatiku sangat sakit.
.
.
.
Aku menemukan cinta pertama.
Namun aku juga menemukan luka padanya.
Tidak ada yang sempurna didunia ini. Mengharap cinta pertama menjadi yang terakhir.
Aku menghiba pada Tuhan.
Agar dia selalu bahagia.
Agar aku juga bisa bahagia.
Setelah ini, aku harus membuka lembaran kisah baru.
Apa aku bisa menemukan cinta yang baru?
Cinta terakhir yang akan kubawa sampai akhir hayatku.
...💟💟💟...
"Maaf karena aku terus mengganggumu. Aku hanya ingin memberitahukan satu hal padamu. Aku akan berpisah dengan Cecilia. Aku sudah menandatangani surat perceraian kami. Setelah kami resmi bercerai, tolong jaga Cecilia. Aku tahu kamu menyukainya. Bahagiakanlah dia. Aku mohon padamu. Mungkin ini adalah permintaan bodoh dariku. Tapi, coba tanyakan pada hatimu, apa benar kamu tak punya sedikitpun rasa pada Cecilia? Jika memang ada, kamu harus menyadarinya, dan memperjuangkannya. Jangan seperti aku yang jadi pengecut. Aku tidak bisa mempertahankan Cecil untuk berada disisiku. Terima kasih karena sudah mau jadi temanku."
Rangga terus menatap layar ponselnya. Berulang-ulang membaca pesan yang dikirimkan oleh Alvian padanya beberapa waktu lalu. Hatinya mulai bergejolak.
"Bisa-bisanya si Alvian ini melakukan ini padaku?" umpat Rangga.
Rangga mulai resah. Dia tidak pernah merasakan jatuh cinta pada wanita manapun. Ia menghindar untuk jatuh cinta. Karena ia takut akan patah hati. Ia pernah merasakan sakitnya, saat kehilangan orang yang dicintai. Dan ia tak mau merasakan hal itu lagi.
Namun setelah bertemu Cecilia, ada rasa berbeda saat bersamanya. Rangga merasa kalau Cecilia adalah wanita yang berbeda. Dia rapuh. Sehingga membuat Rangga ingin menjaganya, ingin melindunginya, dan memeluknya di saat Cecil bersedih.
Apa benar yang dia rasakan pada Cecilia adalah cinta? Rangga sendiri masih bingung.
Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Sebuah pesan. Dari Cecilia.
"Pak Rangga, saya mohon ijin. Untuk satu minggu kedepan saya tidak bisa masuk kerja. Ada urusan pribadi yang harus saya urus. Saya sudah menyerahkan beberapa pekerjaan pada Amel. Atas perhatian bapak, saya ucapkan terimakasih."
Rangga menghela nafas. Pikirannya di isi bermacam-macam spekulasi mengenai Alvian dan Cecilia.
"Apa mereka benar-benar sudah bercerai?" Rangga mengernyitkan dahinya.
...💟💟💟💟💟...
Season satu berakhir sampai disini-----
dan akan dilanjutkan ke season dua---
*How's your feeling, anyway??
Aku sendiri yang menulisnya----agak nyesek di dada--- tapi mau bagaimana lagi?
Jika aku harus ditanya apa sanggup untuk dimadu?
Akan dengan sangat tegas kujawab, aku tidak sanggup 😭😭😭
__ADS_1
Mungkin seperti itulah suara hati para istri, begitu juga dengan Cecilia.