
"Abang, aku bosan cuma diam di rumah terus. Tapi takut juga kalau ada di luar." Adunya, dia seperti berada dalam penjara mewah.
"Kha maunya ngapain? Abang temenin."
"Mau kita kayak dulu lagi, tinggal berdua merawat anak kita." Ucapnya manja, selama beberapa bulan di Singapura mereka bisa hidup lebih bahagia.
"Kha ngertikan sekarang kita gak bisa lakuin itu, demi keselamatan Kha dan dedek." Ghani mengelus manja perut ramping Khalisa.
"Iya, Kha ngerti Abang."
"Abang mau ajak Kha ke Malaysia, tapi akan lebih bahaya kalau gak ada pengamanan di sana, Sayang."
Outlet Ghani di Singapura sebulan terakhir ini sudah buka kembali. Keuangannya sudah cukup stabil setelah terjadinya sabotase itu. Kini tidak hanya king burger, tiga outlet dijadikan Ghani sebagai restoran. Dua outlet menjadi supermarket.
Yah, itu memang ide gila yang Ghani lakukan. Menguras habis semua uang untuk membesarkan usahanya, tapi berhasil. Dia hanya perlu memantau dan menerima laporan. Semua dilakukannya untuk Khalisa Rihanna, istrinya tercinta.
"Gak papa kita di sini aja. Aku bisa bantu kerjaan Abang dari rumah."
"Nanti Abang buatkan ruang kerja yang nyaman buat kita." Putus Ghani, dengan begitu dia bisa mengawasi Khalisa dengan leluasa dan bekerja.
"Setuju." Pekik Khalisa girang mengacungkan jempolnya. Itulah kelakuan istri Ghani yang aneh dan labil.
"Bobo Sayang, biar dedek sehat dan kuat." Ghani memutar murotal dengan volume sedang untuk mengisi kamarnya. Tadi siang dia baru memasang semua peralatan itu, agar Khalisa bisa lebih rileks saat tidur. Itu juga bagus untuk janinnya. Ghani dapat ide ini dari Erfan, agar tidak capek telinga Kha dipasangin earphone.
"Peluk, gak bisa tidur kalau gak Abang peluk." Pinta Khalisa manja.
"Sini kesayangan Abang." Ghani merengkuh tubuh Khalisa erat membawanya berlayar dengan penuh cinta.
***
"Nin, kamu tidak ingin kita punya anak juga?" Tanya Tomi dengan wajah sendu, setelah mendengar berita Khalisa hamil tadi siang. Dia juga ingin menjalani pernikahan yang sebenarnya. Tidak hanya sebatas status.
"Atau kamu tidak nyaman berada di sisiku?"
"Mas maaf," cicit Anindi. Selama beberapa bulan mereka menikah Tomi tidak pernah memaksa untuk meminta haknya.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak nyaman jujur saja, aku tidak akan memaksamu." Mencintai sepihak itu ternyata menyakitkan. Tomi sudah berusaha bersabar memberikan cintanya. Tapi Anindi seperti tidak tertarik padanya.
"Apa boleh?" Tanya Anindi, jantung Tomi rasanya seperti ditusuk ribuan belati, lelaki itu mengangguk dengan tersenyum.
"Aku tidak ingin merebut kebahagiaanmu, berbahagialah seperti apa yang kamu mau. Aku akan selalu mendukungmu." Ucap Tomi penuh kepalsuan, menyimpan rapat segala sesak yang menghimpit dadanya.
"Kalau kamu tidak nyaman aku tidur di sini, mulai malam ini aku akan tidur di kamarku." Lanjutnya dengan tersenyum manis.
"Terimakasih sudah mau mengerti." Lirih Anindi penuh rasa bersalah. Dia belum bisa menerima Tomi, sebaik apapun lelaki itu memperlakukannya.
"Tidak perlu berterimakasih. Kamu istirahat, aku ke kamar dulu." Tomi mengusap puncak kepala istrinya kemudian meninggalkan kamar yang selama lima bulan ini dia tempati. Tidak pernah terjadi apa-apa selain sebuah pelukan hangat.
Tomi menghempaskan tubuhnya di kasur, mulai malam ini dia tidur sendiri lagi. Tidak ada guling hidup yang bisa dipeluknya. Selama ini dia berusaha mengabaikan perasaannya. Tapi ternyata tidak bisa bertahan lama.
Dia menyerah dengan cinta. Raga itu memang milik Tomi namun hatinya tidak, lalu untuk apa. Susah payah Tomi memejamkan mata yang enggan terpejam.
Lelah berusaha untuk teetidur, akhirnya lelaki itu keluar kamar, ruang tengah tujuannya. Dia ingin menonton televisi di sana. Melebur rasa sakit yang baru saja Tomi terima. Bukan baru, sudah lama namun dia enggan mengungkitnya.
Tomi berbaring di sofa bed sambil memainkan remot tv. Entah apa yang dicarinya, malam ini hatinya terasa hampa.
"Ada apa?" Ghani ikut duduk di sofa, tadi setelah Khalisa tertidur dia merasakan lapar. Jadilah malam-malam membongkar dapur mama mencari sesuatu yang bisa dimakan.
"Lo mau gimana sekarang?" Ghani tidak berani menghakimi, mencintai sepihak memang sangat menyakitkan.
"Dia gak nyaman sama gue, itu artinya apa selain pisah," Tomi tertawa getir. "Sekarang gue ngerasain gimana sakitnya Kha dulu mencintai lo Gha."
Ghani menarik napas panjang, kesalahannya dulu terlambat menyadari perasaan sendiri.
"Gue juga pengen menjalani kehidupan rumah tangga yang utuh Gha, bukan hanya status. Gue gak bisa bahagiain dia."
"Yakin lo bisa pisah dari Nindi? Gak mau berjuang sekali lagi. Gini deh, lo kasih dia waktu sendiri. Lihat gimana perkembangannya selama lo gak ada di sampingnya. Ikuti aja maunya dulu, jauhi. Kalau dia mencari lo berarti dia sebenarnya juga memiliki perasaan sama lo hanya belum menyadari."
Ghani seperti menasehati dirinya sendiri. "Mungkin dengan adanya jarak dia jadi menyadari kalau lo itu berarti," lanjutnya.
"Kira-kira berapa lama gue kasih dia waktu buat menyadari itu?"
__ADS_1
"Tiga bulan cukup, kalau tidak ada perubahan lo bisa melangkah maju. Temukan orang yang memang bisa mencintai lo dengan tulus. Lo berhak bahagia."
"Oke gue coba." Putus Tomi menyetujui ide adik sepupunya itu.
"Selama ini ngapain aja selama satu ranjang?" Goda Ghani.
"Tidurlah, emang ngapain lagi." Tomi memutar bola mata kesal pada Ghani.
"Kuat banget lo lima bulan satu kasur gak ngapa-ngapain. Lo belok ya." Tuduh Ghani asal sambil tertawa geli.
"Sembarangan, lo gak ngerti aja derita gue harus solo karier di kamar mandi." Tomi berdecak, Ghani sudah tertawa terpingkal-pingkal. "Sedih banget ada yang halal tapi masih berbuat dosa," sesalnya.
"Masih ada sisa kouta tiga, kalo dia gak bisa ngasih hak lo, ya udah nambah gih sana."
"Lo ngomong kayak yang paling bener aja, Kha lo digituin mau gak. Kalau gak, jangan ngasih saran yang ngaco." Kesal Tomi melempar bantal pada sepupunya.
"Ya gak lah. Gue cukup Kha aja selamanya."
"Bullshit, Clara dulu udah lo apain aja. Ajak tidur di apartemen tiap malam, heh." Kesal Tomi.
"Eh, eh. Makin kelayapan bahasannya. Gue gak pernah ngapa-ngapain Clara. Nemenin tidur doang."
"Yakin?" Tomi menaik turunkan alisnya, "gue tau semuanya loh."
"Enggak, gue gak pernah nidurin anak orang." Tegas Ghani, cuma nemenin tidur.
"Kalau *****-***** pernah?"
"Ya pernahlah, gue gak sealim itu sampai menyia-nyiakan yang ada di depan mata," desisnya. "Lo bikin aib gue kebongkar. Kalau Kha tau abis gue."
"Biarin, siapa suruh rese sama gue. Ngamuk-ngamuk tuh sekalian anak."
"Lo yang lagi sakit hati, jangan ngajak-ngajak gue. Awas aja kalau sampai Kha dengar." Ghani melempari Tomi bantal sofa.
"Kalau Kha dengar kenapa emang, hm?"
__ADS_1
Mampus, Ghani bisa mati berdiri kalau ibu hamilnya ini mengamuk.
Tomi sudah tertawa sampai memegangi perut melihat wajah pias Ghani.