Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
134


__ADS_3

Saat Khalisa lengah, Ghani memberi tahu Guntur untuk mencari keberadaan Tomi. Dia tidak bisa terang-terangan mengkhawatirkan Tomi di depan sang istri. Walau bagaimana pun juga, dia harus meluruskan semuanya.


"Abang ngapain masih sakit main hp?" Tegur Khalisa, ibu hamil itu sangat sensitif.


"Lagi balas email, Sayang." Jawab Ghani sambil tersenyum, tidak sepenuhnya bohong. Dia menyempatkan mencek email-email yang masuk.


"Kerjanya nanti aja kalau Abang udah sembuh. Abang gak akan jatuh miskin karena gak kerja satu minggu," ujar Khalisa jutek.


"Bukan masalah miskin, Sayang. Ini namanya tanggung jawab. Sebagai pemimpin harus memiliki rasa tanggung jawab, gak bisa menyerahkan sepenuhnya pekerjaan pada orang lain." Jelas Ghani pelan membawa tangan istrinya dalam genggaman. Khalisa mengangguk-angguk mengerti.


"Assalamualaikum," ucap Anindi dari depan pintu. "Boleh masuk?" Tanyanya setelah mendapatkan jawaban dari sepasang suami istri itu. Khalisa melirik Ghani lalu mengangguk.


"Red velvet buat kamu." Anindi memberikan box cake pada Khalisa. Dia sengaja membuatkan untuk ibu hamil itu walau tokonya sedang tutup.


"Terimakasih," Khalisa langsung memeluk Anindi. Dia salut dengan kakak sepupunya yang sangat tegar ini.


"Maafkan Tomi ya, sudah buat Abang kamu sakit." Ucap Anindi tulus, saat pelukan diantara mereka terurai. Demi apa dia memintakan maaf untuk mantannya itu.


"Aku yang harusnya minta maaf Nin." Ghani yakin Anindi paham apa yang dimaksudnya. Di ruangan hanya ada mereka bertiga.


Anindi menggeleng, "aku memang kecewa, tapi ini bukan salah kalian."


"Tomi benar-benar mencintai kamu Nin, bisakah kamu memikirkan kembali hubungan kalian ini. Dev bukan siapa-siapa, dia datang karena aku yang mengundang." Jelas Ghani, "aku yakin kamu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Bisakah kali ini kamu tidak mendahulukan ego. Kalian berhak bahagia."


"Aku sudah memikirkannya Gha, jawaban aku tetap sama." Ujar Anindi tenang sambil menyunggingkan senyum.


Ghani menghela napas pelan, "apa yang kamu takutkan?"


Anindi menggeleng, dia takut Tomi bermain dengan perempuan lain saat mereka kembali menikah nanti. Tapi dia tidak bisa mengungkapkan itu.


"Apa yang kamu takutkan belum pasti terjadi Nin. Tolong kamu tanya hatimu lagi, benarkah kamu ingin Tomi pergi."


Perempuan itu bergeming, kalau dia ingin Tomi pergi. Tidak mungkin Anindi mengalami kesulitan tidur setiap malam.


Khalisa hanya diam, tidak ikut menimbrung dalam percakapan serius itu.


Sampai pulang ke rumah Anindi masih kepikiran dengan ucapan Ghani. Benarkah dia ingin Tomi pergi. Siapkah dia kalau benar-benar mengandung anak lelaki itu.


Anindi membaringkan tubuhnya di sofa ruang kerja. Dia sedang malas melakukan apapun. Ghani sudah mengetahui apa yang dia lakukan dengan Tomi. Bahagia seperti apa yang dirinya inginkan sebenarnya.


Di tempat lain Tomi sudah mendapatkan apartemen yang bisa langsung di tempati. Sementara waktu dia akan tinggal di sini. Melupakan semua kekacauan yang sudah terjadi.


***

__ADS_1


"Mobil Tomi ada di apartemen sekitar sini. Hpnya gak bisa dihubungi." Ujar Guntur, dia duduk bersila di atas brankar satunya. Khalisa sedang diajak Ghina ke kantin.


"Kita berhenti ajalah, Nindi gak mau nerima Tomi lagi." Ghani menyerah, "gue gak mau Kha sedih," lanjutnya.


"Setuju, gue juga capek ngurusin masalah orang terus." Adu Guntur.


"Kabar dokter Hira, gimana?" Ghani tersenyum mengejek.


"Ya gitu. Gimana apaan nih?"


"Gimana sekarang, apa masih trauma. Gue gak nanya gimana hubungan kalian." Sindir Ghani, Guntur memutar bola mata jengah.


"Masih, kurang lebih Kha. Perempuan emang gitu ya kalau trauma. Capek banget ngurusnya kalau lagi tantrum."


"Abang," panggil Khalisa.


Suara itu membuat Ghani tidak jadi menanggapi ucapan Guntur. Dia memberikan senyuman yang menawan pada sang istri.


"Kenapa, Sayang?" Ghani membawa Khalisa duduk di sampingnya.


"Aku mau makan gudeg, tapi di kantin gak ada." Adunya dengan wajah sendu.


"Abang pesankan ya, Sayang." Khalisa mengangguk setuju.


"Iya, Sayang. Kenapa juga, hm?"


Ghani memberikan ponselnya pada Guntur, untuk membantunya memesan makanan. Tangan satunya sudah dia gunakan untuk menyambut Ghina yang ikutan bermanja-manja.


"Gak jadi makan, Kha gak mau diajak makan di kantin." Rengek Ghina manja.


"Gak beli buat makan di sini?" Tanya Ghani sambil tersenyum. Membawa dua orang tersayangnya dalam pelukan. Ghina menggelengkan kepala.


"Guntur sekalian buat Ghina juga." Ujar Ghani, Guntur menggaruk kepalanya, pusing mengurusi perempuan-perempuan yang bisa mengacaukan dunia lelaki ini.


"Aduduh, yang manja sekali dua." Tegur Mira, perempuan paruh baya itu datang membawakan makanan.


"Anak dan menantu Mama ini manjanya kebangetan. Aku yang lihat aja pusing. Apalagi yang sakit." Sindir Guntur, sontak dia mendapatkan pelototan dari kedua perempuan itu. Ghani terkekeh geli.


"Kalau manja gak papa, asal jangan berantem." Ghani mencium puncak kepala istri dan adiknya bergantian.


"Ada yang mau makan masakan Mama gak nih?" Tawar Mira, dua orang perempuan itu melompat dan berteriak "mau" bersamaan.


Guntur membulatkan mata, "lah yang gue pesan ini siapa yang makan?"

__ADS_1


"Guntur," teriak Khalisa dan Ghina bersamaan lalu tertawa.


"Sungguh terlalu," desis Guntur.


Kalau sedang tidak terluka Ghani akan mentertawakan sepupunya ini dengan puas.


"Kalian kenapa suka sekali menistakan jomblo sih," tegur Emran pada dua perempuan itu.


Khalisa dan Ghina hanya menyengir kuda, siap menyantap makanan yang ada di hadapannya.


"Pah, aku diam aja loh. Kok dibawa-bawa," protes Guntur tidak terima.


"Kalian kayak orang yang gak dikasih makan seminggu aja," sarkas Mira pada anak dan menantunya.


"Ketularan ibu hamil nih, Mah. Aku juga jadi ikutan manja kalau di samping Kha." Ghina berdecak, iparnya ini memang bisa menularkan virus.


"Lah kok aku dibawa-bawa." Ujar Khalisa tidak terima.


"Hm, Abang gak suka kalian berantem ya!" Peringat Ghani, keduanya langsung diam.


"Lo apain Ghina jadi penurut juga sekarang?" Tanya Guntur pelan, hanya bisa di dengar Ghani. Si empunya mengendikkan bahu.


"Ghina ikutan aneh. Kalau Kha manja, dia mau dimanja-manja juga," desis Ghani.


"Cukup ada dua di rumah yang kayak gitu, gue angkat tangan ngurusinnya." Ujar Guntur dramatis.


"Hiburan, tingkah mereka bisa bikin ketawa." Ghani mengawasi dua orang perempuan yang makan dengan semangat itu sambil tersenyum.


"Hiburan pala lo, yang ada juga pusing ini." Guntur berdecak, apalagi kalau dia yang selalu ternistakan.


"Hati-hati, istri lo lebih ceriwis nanti." Wanti-wanti Ghani.


"Amit-amit, gue nyari yang pendiam aja. Biar gak saingan sama gue pidatonya. Kalau dia juga ceriwis nanti siapa yang dengerin."


"Ikutin lomba pidato aja sekalian," ejek Ghani.


Guntur beranjak saat pesanan makanannya datang, meletakkan di atas meja. "Habiskan, gue gak ikutan." Titahnya pada dua perempuan itu.


"Mah, Pah, Guntur ke kantor dulu. Bye-bye." Katanya melambaikan tangan, lalu meninggalkan ruang rawat.


Khalisa dan Ghina saling pandang lalu berteriak bersamaan, "GUNTUR!!"


"Ini rumah sakit, kalau mau berteriak di ruang musik aja sekalian latihan vokal."

__ADS_1


Dua orang perempuan itu menoleh ke sumber suara yang datang dari arah pintu. Zaky geleng-geleng kepala melihat kelakuan istri dan iparnya.


__ADS_2