Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
62


__ADS_3

"Kamu lupa sedang berurusan dengan siapa Bung. Semua belum selesai, ini hanya permulaan. Kalian yang mengibarkan bendera perang lebih dulu."


Guntur menepuk kedua bahu bidang Dhafi lalu meninggalkan rumah besar itu bersama Anindi dan Tomi. Membiarkan pihak kepolisian yang menyelesaikan urusan mereka.


Anindi diam sepanjang jalan, Guntur membawanya ke rumah keluarga Emran karena Haris dan Nina juga ada di sana menjenguk Khalisa.


"Nin, udah jangan dipikirin." Tegur Guntur yang sambil menyetir, Tomi memberikannya sebotol air mineral yang sudah dibuka.


"Minum dulu Nin, tenangkan pikiranmu." Kalimat itu seakan menyejukkan untuk Anindi. "Kami bukan ingin menyakitimu, tapi ingin menyelamatkanmu dari keluarga brengsek yang tidak tahu balas budi itu." Lanjut Tomi, Anindi mengambil air mineral dan mengucapkan terimakasih.


"Gara-gara dia, aku kehilangan keponakanku, Tom." Sesal Anindi, dia yang paling bersalah di sini. Selain cake itu dari tokonya yang melakukan juga calon suaminya.


"Bukan salah kamu Nin, Allah lebih menyayanginya." Tomi berusaha menenangkan.


"Kha pasti sangat kehilangan, karena cake itu dia kehilangan calon bayinya." Butiran bening jatuh dari mata Anindi, Tomi menatap Guntur kebingungan. Ingin menenangkan perempuan itu tapi tak tau apa yang harus dilakukan.


"Nin, jangan menyalahkan dirimu seperti ini atas kesalahan yang tidak kamu lakukan." Tomi memberikan tisu pada Anindi, gadis itu mengambilnya, isak tangis menggema dalam mobil.


"Sudah ya, kita hampir sampai. Jangan buat Kha tambah sedih melihat keadaanmu seperti ini." Bujuk Tomi, Anindi mengangguk. Guntur memarkirkan mobilnya di kediaman Emran.


Mereka datang tepat jam makan siang, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Tomi mengajak Anindi untuk bergabung di sana.


Anindi memeluk Khalisa dari belakang, "maafin aku Kha, aku tidak menyangka Dhafi yang melakukannya." Khalisa sudah mengetahui itu jadi tidak mempermasalahkannya. Dia juga baru mengetahui kalau Dhafi dan Azhar saudara sepupu dari mamanya. Sedang Clara sepupu Azhar dari sang papa.


"Bukan salahmu Nin, ayo makan." Khalisa menarik kursi di sampingnya. "Jangan sedih, urus hatimu." Perempuan itu menyeka air mata yang jatuh di pipi Anindi kemudian memeluknya.


"Dia bukan yang terbaik Nin, pasti Allah akan mengirimkan yang lebih baik lagi untukmu. Jangan berlarut dalam kesedihan ya. Aku akan menemanimu di sini."


Ghani yang masih berdiri mengawasi istrinya melotot mendengar apa yang diucapkan Khalisa. Perempuan itu hanya mengedipkan mata padanya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu tidak meninggalkanku lagi Kha?"


"Iya, aku akan tinggal di sini."


"Sayang, kita udah bicarakan inikan." Protes Ghani, Khalisa tidak menghiraukan suaminya, mengurai pelukan sepupunya.


"Kamu makan ya, kalau mau tinggal sementara di sini bersamaku." Anindi mengangguk. "Bolehkan Pah, Yah, Anin menemaniku di sini."


Haris dan Emran berbarengan mengiyakan, ada yang seperti sedang mendapat berlian di ujung meja makan. Tersenyum penuh kemenangan. Tapi tidak dengan Ghani yang menampakkan wajah kecutnya.


"Senyam-senyum sendiri." Guntur memainkan sendok di tangannya pada piring yang ada dihadapan Tomi sampai berbunyi melenting.


"Guntur, iseng banget sih." Tegur Mira sambil terkekeh.


"Maaf, sengaja Mah." Sahut Guntur tanpa dosa, beberapa detik kemudian mendapatkan ciuman sendok di jidatnya. "Gilaa Tom, sakit tau."


"Ayo kita makan dulu baru nanti lanjut ngobrolnya." Semua duduk rapi di meja makan, kalau sudah papa yang mengeluarkan kalimat mautnya. Saat seperti ini takkan ada yang berani membantah titah sang raja di wilayah kekuasaannya.


***


Karena tidak ingin mendebat istrinya yang masih belum stabil Ghani terpaksa menurut untuk tetap tinggal di rumah sang papa. Usaha yang baru dirintis diserahkan pada karyawan yang dipercayanya.


Ghani menemani Khalisa jalan-jalan setelah pulang kontrol dari rumah sakit. Tangannya tak lepas menggenggam istrinya berkeliling mall.


"Sayang, mau kemana? Nonton, shopping atau gramedia?"


"Ke hatimu."


"Iih!" Ghani mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas. "Seriusan dong nanti kamu capek keliling gak tau arah begini."

__ADS_1


"Makanya gendong." Ujar perempuan yang mengenakan gamis polos berwarna dusty dengan khimar berwarna senada. Penampilannya jadi tambah manis, walau gurat kesedihan masih tampak di wajahnya. Mata panda yang begitu jelas, dengan pipi yang lebih tirus sekarang.


"Udah ah pulang aja, mending kita pacaran di rumah." Ajak Ghani, yang dibalas dengan gelengan kepala. Segarang apapun lelaki kalau di luar rumah, saat berurusan dengan istri jadi penurut juga.


Dia pasrah mengikuti langkah kaki Khalisa, tatapan mata istrinya itu masih kosong. Meskipun masih merespon ketika diajak bicara.


"Abang, mau ke sana." Khalisa menunjukkan jarinya ke arah baby shop. Ghani mengangguk, menguatkan genggaman tangannya pada sang istri. Dengan girang Khalisa mengamati seluruh isi toko untuk mengobati kerinduannya.


Ghani menatap nanar sang istri, hatinya meringis. Allah sesakit ini melihat Kha menderita karena kerinduannya. "Mau yang mana Sayang?" Ghani menata hatinya agar tetap terlihat tenang di samping perempuannya itu.


"Aku boleh beli ini Bang?" Khalisa mengambil sepasang sepatu bayi berwarna biru dan pink.


"Boleh Sayang." Saat ini rasanya Ghani ingin menangis dan berteriak. Berharap istrinya tetap baik-baik saja. Dia harus memberikan perhatian lebih, agar jiwa Kha tidak kosong. "Mainannya gak sekalian?" Tawar Ghani dengan tersenyum.


"Hmm, gak deh. Ini aja Bang." Ghani mengangguk, tak ingin mendebat kemudian membayarnya ke kasir. Muter-muter di mall hanya itu yang Kha beli. Saat ini juga Ghani ingin menghantamkan kepalanya ke tembok.


Pulang dari mall Khalisa mengajaknya ke tempat bermain anak, ke PAUD, TK padahal jam sekolah sudah usai, tempat itu kosong. Hanya nampak mainan di taman bermain.


Semua hal yang menyangkut anak-anak mereka kunjungi. Ghani hanya menurut kemana pun istrinya mau. Itu lebih baik daripada harus mendebatnya yang berujung kebisuan sang istri siang dan malam.


Saat makan malam, semua mata tertuju pada Khalisa. Dia seperti tak memiliki semangat hidup. Tomi memandang Ghani, ingin memastikan apa yang terjadi pada perempuan itu dengan tatapan mata.


"Ayo makan Nak." Mira duduk di samping Khalisa mengisi piringnya dengan nasi dan mendekatkan lauk apa yang menantunya mau. Namun Khalisa menggelengkan kepalanya. "Mau makan bubur Sayang?" Tanya Mira lagi, jawabannya tetap sama hanya gelengan kepala. Ghani tampak frustasi menghadapi istrinya.


"Kha, makan ya Sayang. Abang suapin." Bujuk Ghani menyendokkan makanan ke mulut istrinya, walaupun Khalisa ogah-ogahan lelaki itu tetap sabar membujuknya. Anak bisa dibikin lagi ya kan? Kalau istrinya yang sakit hidupnya akan lebih menderita.


"Kenyang." Cicit Khalisa, Ghani mendesah berat. "Baru tiga sendok Sayang, makan lagi ya." Lelaki itu masih menyodorkan sendoknya, lagi-lagi Khalisa menggeleng dan menepisnya. Allah, mau dipaksa kasihan, dibiarkan juga kasihan.


"Ya sudah minum susu aja kalau gak mau makan lagi." Akhirnya Ghani menyerah menyodorkan segelas susu cokelat. Dia mulai makan untuk dirinya sendiri. Menghadapi istrinya perlu tenaga dan kesabaran ekstra.

__ADS_1


__ADS_2