
Mobil yang membawa pasangan suami istri itu sampai belakangan. Tomi dan Guntur sudah sampai lebih dulu memasuki ruang keluarga.
"Ayo Sayang, gak perlu di gendongkan." Ujar Ghani sembari membantu istrinya turun dari mobil.
"Gendongnya kalau di kamar aja." Khalisa tersenyum menggoda.
"Istriku masih suka nakal," Ghani menoel hidung kesayangannya. "Nanti jangan manja-manja di sini ya Sayang. Belajar kendalikan diri." Pesannya, Khalisa mengangguk. Dia akan jadi istri penurut untuk suami tersayangnya.
Ghani merangkul Khalisa menuju ruang keluarga, rumah yang tidak asing untuknya. Tapi membuat hatinya hampa saat menginjakkan kaki kembali ke sini. Ghani berusaha mengembangkan senyuman setulus mungkin.
"Kha!" Ghina menghambur kepelukan adik iparnya. "Ini calon dedek Airil apakabar?" Kembaran Ghani itu beralih mengusap perut Khalisa. Ghani tidak banyak basa-basi hanya menemani istrinya.
"Dedeknya baik." Sahut Khalisa lalu memberikan senyuman termanisnya. "Airilnya mana?" Tanyanya dengan antusias.
"Ada, sama papanya." Ghina menunjuk ke arah Zaky yang berjalan mendekat. "Gha! Masih marah sama papa?" Ghina beralih pada kakak kembarnya, Ghani menggeleng sambil tersenyum. "Maafin papa Gha, kamu kalau perlu sesuatu bilang aja ya."
"Semua cukup, gak ada yang kurang." Ghani mengecup kening adiknya. "Kamu kenapa, sakit?" Lelaki itu mengusap kepala adik kembarannya, wajah Ghina yang terlihat sendu.
"Kangen kamu."
Ghani memeluk adiknya dengan erat. "Aku di sini Sayang, jangan menangis." Bisik Ghani lembut, memberikan usapan lembut pada punggung sang adik.
"Kamu tambah manis sekarang, apa karena Kha?" Bisik Ghina.
"Kha memberiku terlalu banyak gula dalam hidup ini." Sahut Ghani sambil menyeka air mata di pipi adiknya, sebelum beralih pada sang istri.
"Ayo Sayang, duduk, jangan kelamaan berdiri." Ghani membawa Khalisa duduk di sofa. Emran dan Mira masih belum ada yang keluar sedang Guntur dan Tomi masih meletakkan koper ke kamarnya.
"Aku kangen kamar itu." Khalisa menunjuk ke arah kamar Ghani.
"Sayang, jangan." Ghani memeluk istrinya, "jangan minta itu yaa yang lain aja, tapi jangan yang susah buat Abang." Bujuk Ghani, hatinya sekarang perih.
Papa sudah menoreh luka di hatinya. Apapun permintaan Khalisa selalu berusaha dia turuti. Asal jangan minta untuk tinggal di sini lagi, itu melukai harga dirinya.
"Iya, nanti kita tidur di kamarku aja ya." Sahut Khalisa tersenyum sambil mengusap dada suaminya. "Aku ada di sini, tidak pernah pergi darimu Sayang, jangan merasa sendirian." Bisiknya, yang membuat Ghani terenyuh. Ghina mengamati dua orang yang duduk di depannya itu.
__ADS_1
"Airil kangen Papa Ghani nih, apa karena udah mau punya dedek jadi lupa sama Airil." Goda Zaky.
"Ingat kok Sayang, Papa kangen Airil." Ghani membawa Airil kepangkuannya, sambil mengusapkan tangan kecil itu ke perut Khalisa. "Dedeknya ada di sini, nanti kita kenalan ya Sayang." Ghani menciumi puncak kepala Airil dengan hangat.
"Giliran Airil boleh megang, kok gue gak boleh." Sambar Guntur yang menghempaskan pantatnya di samping Ghani.
"Lo megangnya pakai nafsu." Ghani menempelkan tangan Airil ke pipi Guntur. "Gini aja, udah megangkan." Guntur menggigit jari Airil sampai anak kecil itu menangis.
"Guntur, bisa putus jari anak gue. Lo harus bikinin jarinya nanti." Bentak Ghina pada adik sepupunya yang tengil itu.
"Nanti gue pahatkan Ghin." Sahut Guntur dengan cengiran.
"Emang manekin." Ghina mencebik kesal.
"Mama Papa kemana lama banget, kasian Kha capek." Ghani merasakan istrinya sedang gelisah, walau masih asyik bermain dengan Airil.
"Paling bentar lagi turun, sabar aja dulu." Ghina tau kembarannya itu tidak betah berada di rumah ini lagi sekarang.
"Abang!"
"Mau muntah," bisik Khalisa pelan.
"Guntur pegangin." Ghani memberikan Airil pada Guntur, kemudian membawa istrinya ke kamar mandi. Istrinya itu mau muntah tapi tidak mengeluarkan apa-apa. "Pusing?"
"Lumayan," sahut Khalisa lemas.
Ghani memijat punggung istrinya sampai rileks lalu membawanya kembali ke ruang tamu.
"Kami pulang aja ya, kasian Kha mau istirahat."
"Bawa ke kamar aja Gha, kenapa harus dibawa pulang." Pinta Ghina, dia belum ingin ditinggalkan kakaknya pergi.
"Nanti aja ke sini lagi."
Ghani membawa istrinya keluar rumah mewah itu. Kemudian memesan taksi online, untung tidak lama mobilnya datang.
__ADS_1
"Sabar ya Sayang, sebentar lagi kita sampai rumah ayah. Nanti aja kita ketemu mamanya ya." Khalisa mengangguk lemah. Perutnya sekarang sedang tidak bisa diajak kerjasama.
Setelah sampai rumah keluarga Haris, Ghani memencet bel beberapa kali. Nina muncul dibalik pintu. Ghani menggendong istrinya langsung ke kamar tanpa banyak bicara. Haris dan Nina yang bengong langsung menyusul ke kamar.
Dengan telaten Ghani mengambil minyak kayu putih lalu memijat kaki istrinya.
"Kha kenapa Gha?" Tanya Nina, perempuan paruh baya itu ikut duduk di samping putrinya.
"Kecapean aja Bu, perjalanan jauh jadi masuk angin." Ghani memijat istrinya sampai tertidur lalu melepaskan jilbab dan alas kakinya. Kemudian mengobrol dengan mertuanya di ruang keluarga.
"Sudah ke rumah Papa, Gha?" Tanya Haris sambil menonton televisi.
"Tadi mampir, tapi mereka gak keluar-keluar jadi kami ke sini, kasian Kha kelamaan nunggu, kecapean Yah," jelas Ghani.
Haris hanya manggut-manggut, "Kha tambah manja ya sekarang?" Selidik Haris, putri tunggalnya itu memang sangat manja ditambah sedang hamil, double lah manjanya.
"Mungkin karena hamil jadi tambah manja Yah." Sahut Ghani tersenyum, belum hamil juga manja sih.
"Kamu juga capek kan, istirahat aja. Masih banyak waktu buat kita ngobrol." Ujar Nina, Ghani mengangguk menyetujui saran ibu mertuanya lalu beranjak ke kamar.
***
"Sayang lagi ngapain?" Ghani bergelayut manja mengganggu Khalisa yang asyik di depan laptop. Khalisa mendongakkan kepala menatap Ghani.
"Kakak gak lihat aku lagi berimajinasi, jadi gak fokus digangguin gini." Manyun Khalisa, tapi tetap mengikuti Ghani yang membawanya untuk duduk di atas pangkuan lelaki tampan itu.
Hampir saja, jantung Khalisa melayang karena Ghani. Senyuman jahat keluar dari wajah tampan itu, dijelek-jelekkan gimana pun wajahnya akan tetap tampan dan menggoda. Khalisa menunggunya dengan senang hati.
Bibir mereka semakin tak berjarak dengan, sama-sama menikmati deru napas yang menyatu. Adegan terputus karena ponsel Ghani berkali-kali berdering. Pria itu bangun mengambil ponsel di meja sambil menarik napas kasar.
"Ada apa Tom?" Jawab Ghani kesal, seketika wajahnya yang tadi marah berubah jadi panik.
"Cepat ganti baju Kha, papa serangan jantung." Panik Ghani, Khalisa langsung berpakaian rapi. Enaknya pakai gamis tidak perlu repot cari atasan atau bawahan, langsung pakai beres.
Dengan hati yang tidak karuan Ghani melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia memang marah dengan papa, tapi tidak akan tega juga mengabaikan ayahnya itu. Sampai kapanpun papa tetap menjadi ayah terbaiknya.
__ADS_1
Khalisa tidak banyak bicara. Hanya menenangkan suaminya dengan memberikan sentuhan lembut di lengan.