Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
104


__ADS_3

Suasana ruang tengah hening saat Tomi dan Anindi mengutarakan keputusan mereka untuk berpisah. Mira dan Emran tidak bisa membantah keputusan dua orang itu.


"Aku izin keluar dari rumah malam ini Pah, Mah." Pamit Anindi, Tomi hanya bisa menghela napas panjang. Setelah mengucap talak tadi mereka sudah resmi bercerai. Lelaki itu meninggalkan ruang tengah kembali ke kamarnya.


"Besok aja pulangnya Nin, ini sudah malam loh. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa." Bujuk Khalisa namun Anindi menggeleng, bersikeras untuk kembali malam ini. Dia tinggal di lantai atas tokonya, berada di sana lebih nyaman saat seperti ini.


"Nanti Pak Maman yang antar kamu. Sayang, bantu Nindi beres-beres gih." Ghani mengkode istrinya untuk membawa Anindi ke kamar.


"Ayo Nin, aku bantu." Khalisa menuntun Anindi naik ke kamarnya. Sedang Ghani melesat menuju kamar Tomi. Sepupunya itu pasti sedang kacau.


Ghani mengamati Tomi yang sedang merokok di balkon. Pria itu sangat jarang menyentuh rokok kalau tidak sedang kalut.


"Jodoh kalian cuma sampai di sini, mungkin dengan cara seperti ini Anindi bisa lebih bahagia." Ucap Ghani sambil bersandar di pintu balkon.


"Yah, mungkin begini lebih baik Gha. Gue bisa bayar perempuan manapun buat menemani tidur." Jawabnya sambil tertawa, Ghani menghela napas berat.


"Dari pada gonta-ganti mending nikah lagi sama orang yang benar-benar mau menerima lo, Tom. Jangan cari yang haram kalau bisa milih jalan yang halal."


"Entahlah Gha, gue malas mikir nikah, yang ada nyakiti diri sendiri." Jawab Tomi acuh, serasa cuma dia yang paling menderita di dunia ini. Namanya juga lagi patah hati.


"Lo istirahat sana, jangan kebanyakan ngerokok."


"Gue mau clubbing malam ini, lo mau ikut?"


Ghani menggeleng tak percaya, Tomi paling anti sama hal begituan. Kenapa malah jadi kacau begini.


"Tom istighfar, bercerai sama Nindi nggak membuat lo mati sekarang. Dunia masih berputar pada porosnya. Masih banyak hal bermanfaat yang bisa lo lakuin."


"Terus gue harus apa Gha, harus apa?"


"Lo tenangin diri dulu, kita gak bisa bicara sekarang."


Ghani meninggalkan Tomi kembali ke kamar. Khalisa masih belum ada, berarti masih mengurus Anindi.


Suami Khalisa itu membaringkan tubuh di kasur, kepalanya terasa pusing. Tangannya bergerak memijat pelipis. Ghani sampai tak percaya, Tomi bisa se-frustasi itu.


"Sakit kepala?" Tegur Khalisa yang baru masuk ke kamar duduk di samping sang suami. Ghani langsung berubah posisi merebahkan kepalanya di pangkuan Khalisa.


"Nindi sudah diantar Pak Maman?" Tanya Ghani, tanpa menjawab pertanyaan istrinya.

__ADS_1


"Sudah." Khalisa memijat lembut kepala suaminya. Ghani membenamkan wajah di perut Khalisa, sambil menciumi.


"Abang gak tau gimana harus mnghadapi Tomi, argh!" Ghani menggigit perut Khalisa untuk menghilangkan rasa kesalnya.


"Aauww, jangan digigit Abang. Sakit!" Ringis Khalisa, dia mengangkat piyamanya menunjukkan bekas gigitan pada Ghani.


"Maaf Sayang, kok sampai merah gini. Abang gigitnya pelan." Ghani mengusap-usap bekas gigitan itu dengan lembut.


Pelan apaan, bekas giginya membekas begitu, batin Khalisa. "Tomi ngapain sekarang?"


"Dia mau clubbing, hm."


Khalisa ikut memijat keningnya pusing, "Abang gak mau nemenin?"


Ghani sontak mengangkat wajahnya untuk bangun, "Kha nyuruh Abang nemenin Tomi clubbing? Itu ide gila, Sayang."


"Kasihan kalo Tomi kenapa-kenapa Bang."


"Nanti biar Guntur yang Abang suruh nemenin." Ghani kembali membenamkan wajahnya dalam pelukan Khalisa. Yah begitu lebih baik, terserah sajalah.


Dalam kamarnya Tomi melepaskan seluruh amarah terpendamnya.


Braakk


Prank


Tomi tidak peduli dengan tangannya yang sudah berlumuran darah. Sakit di tangan itu tidak sesakit yang dirasakan hatinya.


"Tomi!! Bodoh. Bodoh! Lo patah hati, patah hati aja ngapain bunuh diri." Teriak Guntur, dia pulang karena disuruh Ghani menemani Tomi. Guntur sudah menelpon Ghani untuk datang ke kamar Tomi.


"Gue benci gini Tur, gue benci lemah gara-gara perempuan. Gue benci!" Teriaknya lantang. Guntur membawa Tomi duduk di sofa, membersihkan darah yang terus menetes di tangan Tomi dengan Tissue lalu mengikatnya menggunakan kain.


"Astaga, ini definisi bodoh yang sebenarnya." Ujar Ghani tak kalah marah melihat kondisi Tomi yang mengenaskan.


"Abang, sudah. Jangan dimarahi." Khalisa mendekati Tomi membawanya menuju wastafel. Tomi menurut, perempuan itu membuka kain yang menutupi luka lalu menyiramnya di bawah air keran.


"Perih," lirih Tomi.


"Sudah tau perih ngapain dilukai Cukup hati yang luka, fisik jangan ikut dilukai." Bentak Khalisa, Tomi hanya diam tidak menjawab. Setelah cukup lama Khalisa mengguyur tangan Tomi, darah sudah berhenti keluar.

__ADS_1


"Kalau ginikan semua susah, makan susah, mandi susah, nyetir susah." Omel Khalisa masih membersihkan luka Tomi dengan kapas beralkohol. "Abang, panggil dokter gih biar dijahit lukanya."


Tomi meringis mendengar lukanya harus di jahit.


"Kenapa? Takut dijahit?" Khalisa tertawa meremehkan Tomi, "makanya mau ngapain itu mikir dulu," geramnya.


"Nyesel," cicit Tomi seperti anak kecil.


"Telat, kalau nyesalnya udah luka-luka gitu." Khalisa terus mengomeli Tomi, padahal tadi dia yang melarang Ghani marah-marah.


Guntur ikut meringis mendengar Khalisa yang tak berhenti memarahi Tomi. Tidak berapa lama dokter Rizal, ayah Guntur datang sambil geleng-geleng kepala.


"Kalau mau bunuh diri jangan nanggung," ujar Rizal seraya memeriksa luka di tangan Tomi.


"Gak niat bunuh diri, cuma lagi marah." Tomi membela diri setelah bisa mengendalikan dirinya lebih tenang.


"Mau marah juga mikir, noh cermin harganya berapa. Biaya berobat berapa. Terus bekas lukanya bertahan berapa lama."


Emang orang marah bisa disamain dengan ujian, harus mikir dulu, pikir Ghani dalam hati. Kalau bisa mikir semua orang jadi penyabar. Tuh yang ngomel gak mikir apa, kalau yang dengar ikut pusing. Ghani menggeleng pelan lalu tersenyum dengan tingkah istrinya.


Guntur menahan diri untuk tidak tertawa gelak. Rizal mengusap kepala Khalisa sambil tersenyum, "anak pintar," pujinya.


Tomi merasa jadi orang paling bodoh ditertawakan seperti ini. Dia pasrah menahan nyeri di tangan.


"Sudah selesai, kalau mau buat pukul orang bisa dicoba sekarang." Canda Rizal, menepuk lengan Tomi dengan keras.


"Aauw, masih sakit Paman. Jangan dipukul!" Teriak Tomi kaget, Ghani dan Guntur tertawa gelak.


"Ternyata orang patah hati masih punya rasa sakit," sindir Rizal.


"Tolong jangan membully duda ting-ting ini. Sana kalian pergi aku mau istirahat," usir Tomi kesal.


"Kalau mau bunuh diri lagi, pastikan besok pagi harus sudah jadi mayat. Jangan nanggung." Ujar Rizal sebelum meninggalkan kamar Tomi diikuti Guntur, Ghani dan Khalisa.


Seperginya empat orang itu Tomi berpindah ke kamar Anindi. Dia ingin tidur di bekas kamar perempuan yang beberapa bulan ini menemani hari-harinya.


Dadanya terasa sesak mengingat kalimat perpisahan yang dia ucapkan beberapa jam yang lalu. Kalau boleh diberi kesempatan dia tidak ingin melakukan itu. Namun mengingat orang yang paling ingin Tomi bahagiakan menderita, dia tak bisa.


Pengaruh obat yang diberikan dokter Rizal tadi membuat Tomi mengantuk. Untuk malam ini dia bisa beristirahat. Entah bagaimana nasibnya untuk hari esok dan selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2