
"Gha, ayo keluar sebentar biar Mama yang menemani Kha." Ghani menurut mengikuti Emran keluar ruangan, baru tiga langkah Ghani berbalik mendengar teriakan istrinya.
"Abang kemana, aku takut, jangan tinggalkan sendirian!" Pekik Khalisa histeris, Ghani menatap Papa kemudian kembali ke samping istrinya.
"Iya, Abang di sini aja Sayang." Lelaki itu menenangkan Khalisa yang bergetar.
"Jangan pergi, takut!" Khalisa duduk lalu memeluk pinggang Ghani dengan erat. Kalau seperti ini Ghani bakal menang banyak, tidak sabar untuk mengajaknya pulang.
"Iya, Abang gak jadi pergi. Sekarang kamu mau apa Sayang?"
"Mandi." Satu kata yang muncul dipikiran Khalisa, badannya sudah sangat gerah. Entah berapa lama dia tidak mandi. Dan entah kepolosannya itu beneran atau hanya pura-pura. Hanya Tuhan yang tau, sekarang dia senang menikmati peran ini, bersikap lebih manja.
"Oke, mandi sendiri atau Abang yang mandiin?" Goda Ghani, biarlah otaknya yang bekerja untuk mentes kepolosan istrinya ini serius atau hanya sedang mengerjai dirinya.
"Abang yang mandiin." Hm, lagi-lagi Ghani menang banyak, tapi apa sanggup dia hanya bisa melihat tanpa bisa merasakan.
"Modus." Emran mencebik, Ghani tersenyum penuh kemenangan. Mira juga ikut menepuk jidat gemas dengan tingkah menantunya yang baru sadar.
"Ayo." Ghani menuntun Khalisa ke kamar mandi sambil memegangkan cairan infus. Uh, kenapa istrinya jadi seperti anak kecil sih, kan kan bikin tambah cinta. "Abang tunggu di depan ya, mandi sendiri." Ghani melepaskan jilbab Khalisa, mengacak rambut panjang yang tak terurus. Khalisa cemberut memajukan bibirnya, sangat lucu.
"Kenapa hm, kenapa jadi manja sekali." Ghani menyatukan keningnya dengan kening Khalisa, hidung mereka saling bertaut. "Bau asem ih," godanya membuat istrinya tambah cemberut.
Tak ingin berlama-lama Ghani membantu Khalisa mandi. Ingat, bukan saatnya bermesraan di kamar mandi. Istrinya masih sakit, melihat tubuh mungil Khalisa bisa bergerak lagi saja Ghani sudah sangat bahagia.
Ruangan sudah ramai saat mereka keluar kamar mandi, Ghani sudah tidak heran. Mereka antusias saat mendapat kabar Khalisa sudah siuman. Ghani melirik wajah istrinya seperti orang bingung.
"Sudah cantik dan wangi." Puji Ghani, mengangkat tubuh mungil Khalisa ke atas brankar.
"Abang kenapa banyak orang, siapa mereka?" Tanya Khalisa bersembunyi dibalik punggung Ghani yang sedang duduk bersamanya di atas brankar.
__ADS_1
Ghani tersenyum membawa istrinya dalam pelukan, "diantara mereka tidak ada yang kamu ingat?" Khalisa menggeleng, Haris dan Nina tak kalah heran melihat tingkah putrinya.
"Kalau begitu sekarang kita kenalan lagi ya, dimulai dari Ayah dan Ibu." Ghani melirik Khalisa yang masih bingung.
"Ayah, Ibu?" Tanyanya, Ghani mengangguk. "Ayo salim dulu Sayang." Khalisa menurut mengulurkan tangan pada Haris dan Nina yang mendekatinya. Khalisa terperanjat ketika Nina memeluknya, matanya melirik Ghani meminta pertolongan.
"Kamu sudah sembuh, Sayang." Nina mengusap kepala Khalisa yang tertutup hijab, bergantian dengan Haris. Khalisa risih ketika sang ayah memeluknya, dia lekas melepaskan.
"Hanya Abang yang boleh memanggilku Sayang." Sarkasnya, Ghani bingung bagaimana menghadapi istrinya yang seperti baru lahir ke dunia.
"Gak boleh ngomong begitu sama Ayah dan Ibu ya Sayang, mereka menyayangi Kha jauh lebih besar daripada kasih sayang Abang sama Kha." Jelas Ghani perlahan, Khalisa tidak paham dengan apa yang Ghani ucapkan. Begitu banyak hal baru yang ditemuinya saat membuka mata.
Banyal hal yang tidak dimengerti oleh otaknya, orang-orang yang tidak dikenalnya. Suasananya yang tak Khalisa pahami. Semua membingungkan, membuat kepalanya pusing. Khalisa mengerang menutup kedua telinganya.
"Sttt, Sayang jangan terlalu dipikirkan." Ghani memeluk kembali kekasihnya untuk menenangkan. "Kamu pusing, Sayang?" Khalisa mengangguk, "tenang Sayang, ayo kita tidur." Ghani berbaring membawa Khalisa dalam pelukannya.
"Jangan takut, tidak ada yang menyakitimu di sini Sayang." Ghani mengusap punggung Khalisa, membawanya dalam rasa nyaman. Memberikan perlindungan untuk jiwa gadisnya yang rapuh.
Nina sangat rindu dengan putrinya, sudah dua bulan mereka tidak bertemu. Butiran bening terjatuh dari sudut mata perempuan paruh baya. Matanya tak berkedip menatap anak satu-satunya. Haris merengkuh pundak istrinya untuk menguatkan. Hatinya juga bersedih, putrinya bahkan tidak mau dipeluknya lagi.
Ghani membenarkan posisi tidur istrinya yang sudah terlelap. Dia bangkit dari ranjang, bergabung duduk di sofa.
"Sudah sarapan Nak?" Tanya Nina, Ghani menggeleng. "Makan dulu, nanti kamu ikutan sakit." Ibu mertuanya itu membuka rantang yang dibawanya.
"Kha ingat denganmu Gha?" Pertanyaan yang membuat Guntur penasaran sejak tadi, sebab Kha hanya mau dekat dengan Ghani.
"Kha juga lupa denganku." Jawabnya sendu sembari menyendokkan nasi ke mulut, walau tidak memiliki nafsu makan. Ghani tetap mengunyahnya.
"Tapi Kha lengket denganmu." Sekarang Zaky yang begitu antusias. "Itu karena Ghani yang selalu menemaninya, Kha pasti sudah terbiasa mendengarkan suara dan sentuhan Ghani." Bukan Ghani yang menjawabnya tapi Ghina. Ghani menjentikkan jarinya dengan senyum mereka.
__ADS_1
"Anak pintar, sini peluk dulu." Ghani merentangkan tangannya untuk memeluk adik kembarnya. Ghina duduk dipangkuan Ghani memeluknya dengan erat.
"Kangen?" Tanya Ghina, Ghani mengangguk membenamkan dagunya dipundak sang adik. Ghina tau kakaknya sedang menangis meluapkan segala perasaan yang dipendam. Masa-masa sulit itu belum berakhir.
"Aku tau kamu sedang menangis." Bisik Ghina lirih yang juga ikut menangis. "Kamu kuat Gha, kamu lelaki hebat," tambahnya.
"Tetap begini," pinta Ghani saat Ghina ingin melerai pelukannya. "Menangislah sepuasnya agar hatimu lega." Ghina mengusap punggung kakaknya dengan lembut.
"Kau yang paling mengerti aku." Ghani mengurai pelukannya, menangkup pipi Ghina menyatukan keningnya dengan kening adik kembarnya. "Karena kita satu Gha, karena kita selalu bersama sejak kita dalam rahim Mama." Ujar Ghina lembut, mereka sudah lama tidak bersikap manis seperti ini.
"Hm, jangan jadi anak nakal. Berbaktilah dengan suamimu Sayang." Ghani memberikan kecupan singkat di kening Ghina. Ghina mengangguk, "love you Gha."
"Ekheem," Zaky menarik lembut tangan Ghina menjaukan dari kakak iparnya, "mesra-mesraannya sudahkan?" Sindirnya, Ghani tersenyum kecut.
"Kalau orang liat adegan kalian tadi bisa dikira selingkuh." Guntur terkikik, "sembarangan." Ghina memukul Guntur dengan tasnya.
"Selalu deh aku yang disiksa." Adu Guntur dengan wajah sangat menderita. Empat orang paruh baya yang ada di ruangan itu ikut menyunggingkan senyuman. Sejenak mereka terlupa dengan apa yang sudah terjadi.
"Mukamu pantas disiksa Tur." Pekik Ghina geram.
"Sstt, ingat rumah sakit bukan hutan." Tegur Tomi dingin.
"Iya tau, siapa juga bilang ini hutan." Sanggah Guntur, ini anak emang tidak tau tempat selalu bikin ulah, gemesin banget pengen dikarungin deh.
"Ayah, Ibu gak papa kan?" Tanya Ghani, menatap mertuanya dengan rasa bersalah, "maafin Kha bersikap seperti itu. Dia sekarang seperti anak kecil yang gak tau apa-apa." Jelas Ghani pelan. Dia tidak enak pitri merka malah tidak mau didekati.
"Kenapa harus minta maaf Gha, harusnya Ayah berterimakasih sama kamu karena sudah menjaga putri Ayah dengan baik. Wajar kalau dia tidak nyaman ketika disentuh orang asing menurutnya."
Ghani terharu memiliki Ayah mertua yang begitu pengertian. Dari awal beliau tidak main hakim sendiri, selalu memandang dari sudut yang berbeda.
__ADS_1
"Kita harus lebih bersabar. Kalau tidak bisa membuat ingatannya kembali. Kita harus membimbingnya." Ujar Ghani seraya melangkahkan kaki mendekati brankar lalu mengecup kening Khalisa. Kalau bisa setiap detik dia berada di samping istrinya, tak rela terpisah lagi. Apalagi maut yang memisahkan, dia tidak akan sanggup.