
"Abang, kok tutup. Hp Nindi juga gak bisa dihubungi."
Khalisa nampak cemas, kini mereka sedang berada di depan toko Anincake.
"Ke rumah Ayah kali Kha."
"Coba aku tanyain dulu," katanya seraya menghubungi sang ayah berbasa-basi menanyakan sedang apa dan sama siapa. Dia tidak ingin membuat orang tuanya ikut khawatir.
"Gak ada, Abang." Gumamnya lemas.
"Abang tanya Tomi ya?" Ghani meminta persetujuan pada istrinya terlebih dahulu. Khalisa hanya menganggukkan kepala.
"Tomi sendirian di apartemen Kha. Sebentar lagi dia menyusul ke sini." Ujar Ghani sambil merangkul Khalisa untuk menenangkan, setelah selesai menghubungi Tomi. Dia juga sudah menelpon pengawalnya.
"Nindi gak kenapa-kenapa kan, Abang."
"InsyaAllah Nindi baik-baik aja, Sayang. Dia gak ada keluar rumah, mungkin ada di dalam." Ujar Ghani sesuai informasi yang dia dapat dari pengawalnya. "Kita tunggu Tomi, sepertinya dia punya kunci cadangan toko Nindi.
Tidak berapa lama orang yang ditunggu datang. Tomi memarkirkan mobil di samping mobil Ghani. Lelaki itu menyusul sepupunya yang berdiri di depan pintu.
"Kayaknya orangnya ada di dalam," kata Tomi setelah mengamati lampu yang masih menyala dalam ruangan.
"Lo punya kunci cadangankan?" Tanya Ghani pada sepupunya.
"Enggak, pintunya juga sudah gue ubah double lock." Dia jadi susah sendiri saat seperti ini.
"Pecahkan kaca jendelanya aja," usul Khalisa tanpa berpikir panjang.
"Bahaya Sayang, kita bisa dituduh pencuri. Lagian jendelanya di teralis. Kita gak bisa masuk," jelas Ghani.
"Bobol kuncinya aja, mustahil lo gak tau caranya." Lanjutnya seraya melirik ke arah Tomi.
"Lo kira gue maling," Tomi berdecak tapi tetap beraksi juga.
Setelah setengah jam membobol pintu, akhirnya terbuka juga. Khalisa langsung naik ke lantai atas mencari Anindi. Dia sudah sangat khawatir dengan keadaan perempuan itu.
"Nindi!" Pekik Khalisa, sepupunya itu meringkuk di bawah selimut dengan wajah pucat.
"Panasnya tinggi," katanya setelah menempelkan punggung tangan di kening Anindi.
Tomi langsung mencari apa saja yang bisa digunakan untuk mengompres.
"Nindi," panggil Khalisa membangunkan. Tomi datang membawakan sebaskom air dan handuk kecil.
__ADS_1
"Biar Tomi yang urus dulu, Sayang. Kita carikan bubur dan obat." Ajak Ghani, Khalisa menurut mengikuti suaminya. Mempercayakan Anindi pada Tomi.
"Kenapa sulit sekali untuk kamu membuka hati, Nin. Aku janji bakal jagain kamu dengan baik." Batin Tomi sambil mengompres Anindi.
Dia saja yang terlalu banyak berharap pada perempuannya ini. Semakin besar harapan maka semakin besar juga kekecewaan, seperti yang dirasakannya sekarang.
"Nindi bangun," panggil Tomi lembut sambil menepuk-nepuk di pipi. Perempuan itu mengerjap pelan sebelum membuka mata sempurna.
"Mas," lirih Anindi. Saat membuka mata, tatapan teduh Tomi yang menyambutnya. Entah kenapa dia sangat ingin memeluk mantan suaminya ini.
"Kenapa gak ngasih tau Mas kalau sakit?" Tanya Tomi lembut.
"Kok bisa masuk?" Anindi balik bertanya, sebenarnya dia tidak heran kalau Tomi bisa masuk. Karena yang mensetting keamanan ruko ini lelaki itu.
"Kami khawatir sama kamu, cuci muka dulu yuk. Kha sama Ghani lagi belikan obat."
Anindi mengangguk lemah, membawa kepalanya yang berat untuk bangun. Mau duduk saja susah apalagi jalan.
"Pusing banget?" Tanya Tomi saat Anindi kembali berbaring.
"Iya," sahutnya sangat pelan.
Tomi membawa kepala Anindi ke pangkuan lalu memijat dengan lembut. Lingkaran mata itu menghitam, jelas sekali kalau kurang istirahat.
"Mas tuntun ke kamar mandi, baru nanti tiduran lagi." Tomi membantu Anindi bangun, kemudian menuntunnya ke kamar mandi.
Sambil menunggu Anindi selesai berganti pakaian Tomi menunggu di sofa.
"Nindinya mana?" Tanya Khalisa sambil membawa semangkuk bubur dan air putih. Meletakkan nampan di atas nakas, lalu membereskan tempat tidur Anindi.
"Masih di kamar mandi."
"Nindi minum ini?" Tanyanya sambil menggoyang-goyangkan botol kosong di tangannya.
Tomi mengiyakan, "dia gak bisa tidur kalau gak minum obat," jelasnya.
"Pantas aja sampai sakit. Obatnya habis berarti dia gak tidur tadi malam." Perempuan hamil itu meletakkan kembali botol obat saat mendengar suara pintu kamar mandi dibuka.
Khalisa langsung mendekati Anindi dan menuntunnya ke tempat tidur. Mendudukkan dengan posisi bersandar di kepala ranjang.
"Makan dulu baru minum obat." Ujar Khalisa seraya menyuapkan bubur pada Anindi. "Sampai demam gini, berapa hari gak tidur?" Tanyanya lembut.
"Dua," jawab Anindi lemah. "Aku bisa sendiri," katanya mengambil alih mangkok di tangan Khalisa.
__ADS_1
"Pulang ke rumah Ayah aja ya biar ada yang jagain kamu." Usul Khalisa, Anindi tidak mungkin mau lagi pulang ke rumah besar Emran.
"Enggak Kha, aku di sini aja." Tolak Anindi dengan suara yang sangat pelan.
"Kamu ini lagi sakit, kalau kami gak nekat masuk mau jadi apa?" Omel Khalisa geram.
"Aku tadi cuma ketiduran, kamu aja yang terlalu parno." Jawan Anindi tenang, Khalisa berdecak. "Cuma tidur ya, tapi sampai demam!" Sindirnya.
"Mau aku kasih tau Ayah sama Papa biar kalian dipaksa nikah, hah." Ancam Khalisa kesal.
Anindi hanya diam, tidak menanggapi kekesalan Khalisa.
"Sayang," tegur Ghani yang duduk di samping Tomi sambil menggelengkan kepala.
"Habisnya Nindi nyebelin, Abang." Adu Khalisa lalu beranjak duduk ke pangkuan Ghani.
"Kita jangan ikut campur lagi," bisik Ghani lembut sambil mengelus punggung sang istri.
"Kita pulang aja," kata Khalisa gusar.
"Nindinya di tinggal?"
"Biarin aja, mereka udah besar!"
Anindi masih berusaha tenang sambil menyuap bubur. Walau lelah dengan hatinya sendiri, dia tidak ingin menangis di depan orang lain. Biarlah Khalisa marah dengannya, asal jangan sedih. Ibu hamil itu sangat sensitif, dia tidak mau membebani Khalisa karena masalahnya.
"Oke, kita pulang. Tapi gak cemberut gitu juga." Ghani mencubit gemas bibir Khalisa, lalu membawanya pulang setelah berpamitan pada dua orang itu.
"Sayang, udah dong. Jangan mikirin Nindi terus." Ghani menepuk pelan kepala Khalisa dengan tangan kirinya sambil mengendarai mobil.
"Kesal tau, kita aja yang khawatir. Dia nya enjoy banget." Oceh Khalisa, ingin sekali dia menceramahi sepupunya itu sampai tujuh hari tujuh malam. Tapi tidak tega.
"Kita gak bisa ngapa-ngapain juga, Kha. Nindi tetap teguh dengan prinsipnya sendiri. Kita beli ice cream ya. Biar hatinya adem," ajak Ghani membujuk ibu hamil itu.
"Mau yang di Mall." Ujar Khalisa dengan pipi yang digembungkan.
"Ya udah, ayo." Ghani tidak bisa protes, kalau suasana hati istrinya sedang seperti ini. Menurut lebih baik dari pada dunianya jadi jungkir balik.
Mereka datang ke Mall hanya untuk membeli ice cream. Istrinya itu menolak dibelikan apapun lagi.
"Abang pulang, Kha capek jalan."
Ghani ingin tertawa, padahal mereka tidak berkeliling ke seluruh sudut Mall, langsung ketujuan. Tapi isyrinya itu sudah mengeluh kecapean. Apakabar mereka yang masuk Mall cuma numpang parkir dan foto lalu pulang. Paling banter cari barang diskonan. Eh.
__ADS_1