Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
Bonchap 17


__ADS_3

"Bibi-bibi, ciniii." Nefa menarik tangan Khalisa yang baru sampai di rumah utama untuk duduk di sofa.


"Kenapa Sayang?" Khalisa menurut saja duduk di sofa sesuai keinginan Nefa.


"Nefa mau cium dedek," katanya singkat. Tidak banyak berceloteh, bocah kecil itu memeluk perut Khalisa posesif menciuminya di sana.


"Nefa minggir!!" Seru Arraz dengan ketus mengusir adik sepupunya. Tapi putri Tomi dan Anindi itu tidak menghiraukan.


"Abang," sang bunda menggeleng pelan. "Gak boleh berteriak kasar sama adek." Khalisa mengelus puncak kepala Arraz yang berdiri di depannya.


"Bunda nanti sakit dipegang begitu." Sahut Arraz cemberut. Dia tidak suka bundanya selalu membela anak kecil itu.


"Enggak sakit Sayang," ucap Khalisa sambil tersenyum.


"Arraz, Ayah gak suka Arraz berteriak-teriak seperti itu. Gak baik Sayang. Kalau mau ngasih tau pake suara lembut." Nasehat Ghani yang baru sampai di ruang tengah bersama orang tua Nefa.


"Lihat, Nefa peluk Bunda gitu!" Tunjuk Arraz dengan wajah masam pada Nefa. Putri Tomi itu membenamkan kepala di perut Khalisa yang masih belum terlalu besar.


"Panggil Adek, Sayang." Beritahu Ghani lagi, "lihat tangan adek itu kecil. Kepalanya juga kecil, jadi gak akan bikin Bunda Arraz kesakitan."


"Adek sama Ayah sini Sayang," Tomi mensejajarkan tubuh dengan putri kecilnya lalu merentangkan tangan. Gadis kecil itu melepaskan diri dari pelukan Khalisa berlari kecil mendekati sang ayah.


"Putri Ayah pintar," puji Tomi mengelus-elus rambut lembut Nefa.


"Kenapa sih sekarang Abang suka kesal sama adek. Kan adek gak berbuat salah sama Abang?" Tanya Ghani pada putranya dengan lembut.


"Arraz gak suka adek manja sama Ayah dan Bunda!" Jawab Arraz seraya menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Tapi Arraz juga suka manja sama ayah dan bunda adek jugakan?" Tanya Ghani dengan tawa kecil, "gak boleh gitu lagi ya Sayang."


Putra sulung Ghani itu mengangguk saja agar tidak dapat petuah yang lebih panjang.


"Yayah, Nefa mau adek juga." Ucap gadis kecil yang berada dalam pelukan Tomi itu. Tomi menatap istrinya yang memelototkan mata dengan kekehan kecil.


"Nefa bantu doa ya Sayang, biar bisa punya adek juga." Tomi mengecup gemas pipi putrinya, untuk mendapatkan gadis ini saja mereka harus bersabar hampir empat tahun.


Kepala mungil itu mengangguk-angguk. Turun dari pangkuan sang ayah mendekati Arraz yang masih cemberut.


"Abang," panggil Nefa lalu berusaha keras naik ke sofa kemudian duduk dalam pangkuan Arraz.


Anak lelaki Ghani itu sudah ingin mengusir Nefa. Tapi melihat sang ayah yang menatap tajam padanya, akhirnya pasrah saja memangku gadis manja itu.

__ADS_1


"Jangan malah cama Nefa," ucap Nefa sambil menggeleng lucu memain-mainkan tangan Arraz.


"Iya," sahut Arraz kesal. Terpaksa meladeni adik comel yang sebenarnya tidak menyusahkan.


"Adeknya disayang dong, kasihan tuh dicuekin." Goda Khalisa pada putranya.


"Ini sudah Arraz sayang," katanya sambil mengusap-usap lengan Nefa. Gadis kecil itu malah bersandar dengan nyaman di dada Arraz.


Khalisa terkekeh kecil melihat putranya yang masih memasang wajah masam. Ia memberikan elusan lembut di kepala Arraz.


"Nefa sama Abang Airil aja sini," panggil putri Ghina yang datang dengan membawa permen lolipop. Sengaja agar gadis kecil itu anteng bersamanya.


"Holeee dapat pelmen!!" Teriak Nefa girang merentangkan tangan mungilnya pada Airil. Bocah laki-laki yang dua tahun lebih tua dari Arraz itu menyambutnya dengan senang hati.


"Dikasih makanan aja langsung kabur!!" Desis Arraz kesal.


"Abaaang, kenapa sih adek jadi salah terus. Abang gak sayang sama adek, giliran adek sama Bang Airil marah-marah." Tegur Khalisa sambil tertawa geli pada putranya.


"Daripada ngambek mending makan kue bikinan Oma." Ujar sang nenek yang datang membawakan minuman dan cemilan pada cucu-cucunya yang sedang berkumpul di hari libur.


***


“Sayaaaang,” Ghani mengunyel-unyel gemas pipi Khalisa sambil menciumi.


“Abaang, pipi Kha bisa protol kalau digituin.” Khalisa menahan tangan Ghani agar berhenti mengunyel pipinya. Tapi sang suami semakin menciumi di pipi.


“Kamu pake bahasa planet mana sih Sayang," ujar Ghani semakin gemas.


"Planet pluto, berhenti Abaaang!! Pipi Kha sakit," rengek Khalisa.


"Kamu kenapa bikin Abang gemas banget sih Sayang, pengen makan kamu jadinya." Ghani membawa tubuh Khalisa berguling-guling di kasur.


"Makan terus gak ada kenyangnya sampai perutku kembung!!" Tukas Khalisa memberengut.


"Kha itu gak bikin kenyang, tapi bikin kecanduan. Abang gak bisa jauh-jauh dari kamu." Ghani merapikan rambut Khalisa yang jungkir balik karena ulahnya.


"Rambut Kha jadi kusutkan, gara-gara Abang nakal."


"Nanti Abang temani ke salon Sayang," ucap Ghani sebagai permohonan maaf. Salahkan tangannya yang sangat suka menjahili istrinya ini.


"Kha maunya Abang yang rapiin," rajuk Khalisa.

__ADS_1


"Udah tua masih suka merajuk," kekeh Ghani menyisir rambut Khalisa dengan jemarinya. Bukan semakin rapi, malah tambah berantakan.


"Kha belum tua Abang, belum jdi nenek-nenek!" Protes Khalisa.


"Oh ya, kita sudah sembilan tahun menikah Sayang. Kamu masih merasa muda aja. Bentar lagi juga punya cucu, hm."


"Sembarangan, Arraz baru tujuh tahun Abang. Mau lahir cucu dari mana."


"Nambah anak aja deh, kalau belum bisa punya cucu." Sahut Ghani asal sambil tertawa geli.


Khalisa melengos, "yang ini aja belum lahir. Abang sudah mau nambah lagi. Emang bikinnya pake diadon kayak roti."


"Biar rumah kita rame Sayang. Habis ini lahir, kita nambah tiga lagi ya. Nanti Abang adonin." Ghani mengerling genit pada Khalisa.


Khalisa memelototkan mata, entah otak siapa yang sedang putus sarafnya.


"Abang keluarin sendiri terus pelihara sendiri!!" Tukas Khalisa ketus.


"Bukan ikan Kha, kenapa pake bahasa pelihara sih. Abang gak mau bikin anak sama ikan, Abang mau ngadonnya sama kamu."


"Ih Abaaang, ngeselin banget. Mending Kha pulang!!" Geram Khalisa, pembicaraan suaminya itu semakin tidak jelas ujungnya.


Ghani tertawa gelak, menahan istrinya agar tidak benar-benar pulang. "Jangan pulang Sayang, Abang belum dapat obat penawar racun. Racun cinta Kha."


"Abang gak jelas, otak Kha bisa ikutan error nanti!!"


"Jelas kok Sayang, ini masih bisa dilihatkan. Abang masih ada wujudnya Kha."


Dahlah Khalisa malas meladeni suaminya ini, "serah Abang aja. Kha mau pulang."


"Nggak akan bisa Sayang," Ghani senyam-senyum sendiri melihat istrinya cemberut. Dia langsung membanting tubuh Khalisa pelan dan mengungkungnya.


"Kamu gak akan bisa kabur sebelum Abang dapat obat," ujarnya genit langsung melahap bibir Khalisa lembut.


Wanita hamil itu tidak akan bisa menolak. Dapat sentuhan sedikit saja, nalurinya sudah meledak-ledak. Khalisa tidak bisa menghentikan dirinya kalau Ghani sudah mulai nakal.


"Rasanya masih sama, hm." Ghani mengusap lembut bibir Khalisa yang membengkak karena gigitannya.


"Abaaangg!!" Panggil Khalisa sayu.


"Kenapa Sayang, mau lagi?" Tanya Ghani usil, istrinya itu mengangguk lemas. Dia sudah tau pasti akan berakhir seperti ini kalau dimulai.

__ADS_1


"Enggak, sudah cukup Sayang. Nanti Abang kebablasan, mereka masih kecil." Ghani tersenyum memeluk tubuh istrinya. Membiarkan saja Khalisa merengek-rengek dalam pelukannya. Kalau kelelahan nanti akan tertidur sendiri.


__ADS_2