Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
79


__ADS_3

"Tidurnya jangan kelamaan, Abang takut kamu tidurnya berbulan-bulan lagi." Bisik Ghani iseng, sengaja mengganggu kenyamanan tidur gadisnya. Walau tubuh itu lebih kurus tapi tetap cantik.


Gambaran sempurna untuk Khalisa Rihana, putih, tinggi, cantik, anggun, hidungnya mancung, bulu matanya lentik, bibirnya sangat manis bagi Ghani, jangan ditanya istrinya akan tambah **** kalau terbaring di ranjang tanpa busana.


Tuhkan otaknya mesum lagi, lama kurang sentuhan. Ghani senyam-senyum memandang wajah Khalisa yang tertidur tanpa merasa bosan.


Kebaikan apa yang pernah dilakukannya sampai bisa menikah dengan perempuan titisan bidadari. Cinta yang sejak kecil merekah itu akhirnya kembali dalam penyatuan.


Beberapa hari ini Ghani habiskan bersama Khalisa di rumah sakit. Ghani memberikan seluruh cintanya pada Khalisa dengan memanjakannya. Dia tidak ingin lengah, memperlakukan istrinya layaknya kaca yang mudah retak.


Aktivitas Ghani terjeda kala ponselnya yang terletak di atas nakas berdering. Dari orang kepercayaannya di Singapura, Ghani duduk di samping Khalisa sembari menjawab telpon.


"What the ****, siapa yang berani mengusikku lagi." Teriaknya saat mendapatkan kabar ada yang mensabotase bisnis yang dirintisnya dari nol.


Lima belas outlet yang dibangun dengan keringat dan jerih payahnya. Tiga outlet terbesar miliknya mengalami kebakaran secara bersamaan, sungguh tidak masuk akal. Tujuh lainnya mengalami kerusakan parah karena kebobolan. Sangat-sangat tidak masuk akal.


Ghani menghela napasnya dengan berat mengucapkan istighfar berkali-kali. Khalisa yang tidak mengerti apa-apa ketakutan melihat ekspresi membunuh Ghani.


Menyadari itu Ghani mengembalikan ekspresinya, menarik Khalisa dalam pelukan. "Maaf, sudah membuatmu takut," lirihnya pelan.


Masih ada lima outlet yang selamat, batin Ghani. Syukurlah dia berhasil mengembangkannya di negeri lain, jadi tidak terendus.


Apa ini ulah Papa agar dia tidak kembali ke Singapura. Kalau iya, sungguh sangat menyebalkan sekali. Ghani gulung tikar karena kegilaan orang lain yang tidak suka melihatnya sukses.


Ghani menciumi pucuk kepala Khalisa, hatinya sakit, marah, benci, dendam. Dia terluka saat ini, ujian bertubi-tubi menghantamnya tanpa henti. Tanpa mau mengerti kalau dia juga lelah. Ghani lelah dengan masalah yang tidak ada akhirnya. Matanya berembun, satu tetes berhasil terjatuh.

__ADS_1


"Abang kenapa? Apa aku sudah membuat Abang marah?" Khalisa mendongakkan wajahnya menatap wajah sendu suaminya. Ghani menggeleng, "Enggak Sayang, bukan karena Kha." Jelas Ghani lalu berusaha tersenyum manis.


Masih ada istrinya di sini yang harus Ghani jaga dan lindungi. Jangan sampai tangan-tangan kotor itu berhasil menyentuh istrinya lagi.


***


"Apa Papa yang mensabotase King Burger milikku?" Tanya Ghani to the point saat semua orang berkumpul di ruang keluarga. Dia baru bergabung setelah menemani Khalisa sampai tidur. Baru tadi sore mereka pulang dari rumah sakit.


"Maksud kamu apa Gha? Kamu datang-datang membuat semua orang bingung."


Ghani menarik napas panjang, menatap langit-langit. Berarti bukan Papa yang melakukannya, sekarang dia belum bisa mengajak Khalisa pulang, juga belum bisa meninggalkannya.


"Tiga outletku di bakar, tujuh outlet dihancurkan secara brutal." Semua yang ada diruangan tercengang, Ghani memejamkan matanya berusaha menerima kenyataan yang begitu pahit untuk dinikmati.


"Ya, aku percaya." Ucap Ghani akhirnya, "King Burger adalah bukti cintaku pada Kha, aku berdiri dengan kaki tanganku sendiri. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk istriku dari hasil jerih payah dan keringatku." Ghani tersenyum, matanya masih terpejam.


Setetes cairan bening terjatuh mengingat bagaimana perjuangannya membangun usaha dari nol dalam keadaan diliputi kerinduan. Rindu pada istrinya yang tidak bisa di dekap saat itu.


Ruang keluarga hening, mereka ikut terenyuh apalagi melihat Ghani sampai meneteskan air matanya.


"Semua ini bukan tentang uang, jika hanya memikirkan uang aku bisa mempertimbangkan kembali penawaran Papa. Apalagi saat aku sudah bersama Kha. Bukan, bukan itu. Ini tentang tanggung jawabku sebagai lelaki. Aku ingin anak dan istriku bangga padaku karena ayahnya bukan pecundang yang hanya menikmati harta keluarga yang tak habis tujuh turunan."


"Tapi satu persatu kejadian itu membuat aku lelah sekarang. Aku sangat lelah saat ini. Kenapa tidak nyawaku saja yang direnggut paksa. Bukan orang yang kucintai." Mira mendekat ke sisi putranya, merengkuhnya sangat erat. Air mata sudah menganak sungai, hatinya ikut terluka mendengar rintihan putranya.


"Papa memang marah saat kamu pergi Gha, tapi Papa tidak mungkin melakukan hal sekonyol itu." Emran menepuk pundak putranya. "Kalau ada yang harus Papa lumpuhkan, itu banyak perusahaan para rival, tapi Papa tidak sekeji itu memutus rezeki orang."

__ADS_1


Sekali lagi bukan nilai kerugian yang Ghani pikirkan, tapi harga dirinya sebagai lelaki seakan terkoyak.


"Biar aku yang selidiki nanti, kamu diam di sini temani Kha," ujar Guntur.


"Kita lakukan perbaikan cepat untuk outlet itu." Tomi memandang sepupunya yang bersandar dibahu sang mama.


"Tidak perlu, aku tidak perlu bantuan kalian. Harga diriku tercoreng kalau kalian membantuku. Lagian aku masih punya lima outlet di Malaysia. Dalam waktu dekat aku akan pindah ke Malaysia bersama istriku."


"What? Lo menyembunyikan itu dari kita," geram Guntur.


"Tidak semua yang kumiliki harus diceritakan Guntur, outlet itu bukti cintaku. Oh ya, aku lebih suka menyebutnya outlet." Ghani menyeringai karena sudah berhasil membuat semua orang tegang.


"Kenapa harus Malaysia Gha, lo bisa buka di sini dan kita masih bisa berkumpul. It's okay kalau lo gak mau ambil bagian di perusahaan lagi. Itu bukan masalah, yang penting kalian di sini, kita bisa sama-sama menjaga Kha. Kalau bisnis lo di Singapura saja disabotase, tidak menutup kemungkinan mereka juga bisa mencelakai Kha di sana."


Ghani hanya bisa mendesah, apa yang dikatakan Tomi memang benar. Papa memang tidak melarangnya lagi mau melakukan apapun. Beliau sudah angkat tangan.


"Kamu tau Papa tidak akan melarangmu melakukan apapun lagi Gha. Tapi untuk keselamatkan istrimu bolehkan kali ini Papa egois menahan kalian agar tetap di sini."


"Papa tidak akan mengancammu seperti dulu lagi, kamu sudah berubah menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab sekarang. Kamu bisa mempertimbangkan apa yang Papa katakan ini. Semua untuk kebahagian keluarga kecilmu."


Ghani menatap Emran yang begitu tulus mengucapkannya, Mira yang duduk di sampingnya tidak bersuara. Pembicaraan terhenti kala pintu kamar Ghani terbuka. Ghani melirik ke arah tangga, istrinya duduk di anak tangga. Ghani memicingkan matanya lucu, kemudian mendekati sang gadis. Astaga Kha keluar tanpa menutup kepalanya, Ghani baru menyadari.


"Sayang, kenapa keluar tidak menggunakan jilbab." Bisik Ghani lembut, beberapa detik berlalu Ghani membawa tubuh mungil itu dalam gendongan kembali ke kamar.


"Aku haus." Cicitnya, Ghani mengambil jilbab kaos di atas sofa lalu memasangkan ke kepala Khalisa. Selanjutnya tubuh mungil itu sudah dalam gendongan Ghani lagi, membawanya menuruni tangga.

__ADS_1


__ADS_2