Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
97


__ADS_3

Khalisa bosan di tengah keramaian, Ghani meninggalkannya sendirian di meja khusus. Mertuanya pemilik hotel ini, jelas dia mendapatkan hak istimewa. Suaminya itu sibuk menyapa rekan bisnisnya.


Dia baru tau ini acara apa setelah Papa Emran mengumumkan sebuah program Corporate Social Responsibility – CSR yang dilaksanakan bersama perusahaan-perusahaan besar. Tidak hanya para pengusaha yang hadir, di sini juga ada dokter-dokter terbaik yang dimiliki Emeral Hospital. Khalisa hanya manggut-manggut tak mengerti.


Matanya mencari-cari keberadaan sang suami. Dia melihat Zaky pada satu meja, di sana juga ada Ghani dan temannya. Khalisa beranjak dari tempat duduk menyusul suaminya. Dia menepuk pundak Ghani, pria itu berbalik dan tersenyum padanya.


"Kenapa Sayang?" Ghani menarik pinggangnya, "bosan sendirian." Cicit Khalisa pelan, hanya Ghani yang mendengar.


"Please, mata gue lelah lihat adegan seperti ini." Gumam temannya Zaky, Khalisa tidak tau siapa pria itu mungkin yang disebutkan Guntur kemaren.


"Makanya nikah." Ucap Ghani dan Zaky bersamaan.


"Jangan sampai pernikahan gue gagal gara-gara program kalian ini." Sarkas pria itu kesal, Khalisa ikut menimpali karena tak tahan diam.


"Husstt ngomong jangan sembarangan, kalau diaminkan malaikat gimana." Pria itu diam, suaminya dan Zaky tertawa gelak.


"Sayang duduk sini." Ghani menepuk pahanya, pria itu tidak malu memangku sang istri di tengah umum seperti ini. "Fan, kenalin istri gue Khalisa." Matanya beralih pada Khalisa, "Sayang, ini Erfan teman Abang."


"Salam kenal." Cicit Khalisa melambaikan tangannya, Erfan tersenyum manis melihat istri temannya itu.


"Jadi lo bersedia bantu kitakan Gha?" Desak Zaky, Ghani menatap wajah istrinya sebelum menjawab.


"Oke." Kata Ghani akhirnya, Khalisa tersenyum cerah, "gitu dong. Abangkan baik hati." Ujarnya lalu bersandar di dada Ghani. Ghani melihat tatapan mata Zaky bertanya tanpa suara.


"Mungkin lagi hamil, jadi manja." Ucapan Ghani membuat Khalisa mengangkat wajahnya.


"Bawa periksa dulu aja Gha, biar bisa lebih hati-hati." Saran Zaky, Ghani mengangguk. "Nanti setelah ini gue kenalin sama dokter kandungan gebetan Erfan."


"Sembarangan Zak, mulut lo!" Erfan berdecak kesal, Zaky terkekeh geli.


"Abang!!" Rajuk Khalisa, Ghani menoleh dan tersenyum manis. "Iya Sayang, mau pulang?" Khalisa menggeleng lemah.


"Ya sudah, tidur di sini aja kalau capek. Mau pake earphone." Tawarnya, Khalisa mengangguk. Ghani mengeluarkan earphone bluetooth yang sudah disiapkannya. Khalisa membenamkan wajah di dada Ghani dengan menutup mata.


"Bisa dia tidur di tempat seperti itu?" tanya Erfan heran.


"Dia terbiasa tidur seperti ini Fan, lebih aman juga."

__ADS_1


"Maksudnya?" Teman Ghani itu semakin penasaran, dengan tingkah aneh dan lucu istri teman lamanya.


"Dia baru pulih dari amnesia beberapa hari yang lalu, sebelumnya Kha bertingkah seperti anak kecil," jelas Zaky.


"Amnesia karena apa?"


"Lo sekepo itu ya Fan?" Ghani bergeming.


"Sorry, bukan ranah gue tau masalah kalian. Cuma penasaran aja." Erfan merasa tidak enak karena sudah ingin tau banyak tentang keluarga teman lamanya.


"Dia ditembak Fan, hampir mati. Makanya gue lebih tenang kalau dia tidur begini, selalu ada di sisi gue."


"Astaghfirullah segitunya musuh lo."


Ghani tertawa penuh arti.


"Begitulah kehidupan kita Fan, kejam!" Timpal Zaky. Tidak berselang lama Tomi dan Anindi datang menyusul mereka, juga Guntur.


"Bawa Kha ke kamar Gha, nanti Nindi yang temani. Guntur, lo cari dr. Fakhira Shakira. Papa dan yang lain sudah menunggu di meeting room. Lo juga ikutan Fan." Tomi melirik Erfan dengan seringaian jahil.


"Ah, kalian keroyokan gini gak seru." Erfan berdesis kesal, Zaky dan Tomi tertawa gelak.


"Jangan kebablasan kayak pagi tadi." Guntur bergumam dengan senyuman mengejek.


"Gak akan, ada Nindi. Kecuali nanti setelah acara selesai bisa diaturlah." Ghani tertawa kecil kemudian beranjak menuju kamar president suite. Kamar yang dulu ditempatinya untuk bulan madu, tapi sayang tidak digunakannya dengan baik kesempatan itu.


Khalisa mengerjapkan mata, tidak dalam pelukan Ghani tapi berada di sebuah kamar. Dia sangat ingat kamar ini, kamar yang dulu pernah ditempatinya bersama Ghani setelah resepsi pernikahan. Ghani tidak ada. Disampingnya ada Anindi yang ikut tertidur.


Setelah melepas earphone, Khalisa mencek ponsel Ghani yang ada didekatnya. Sebuah rekaman suara terbuka saat dia menghidupkan layar.


"Sayang, Abang meeting sebentar ya. Nanti kalau sudah selesai Abang susul Kha. Love you Sayang." Khalisa tersenyum geli dengan kebucinan Ghani. Perempuan itu mengelus perutnya, benarkah dia hamil lagi. Tapi tidak merasakan apa-apa, selain itu dia juga lupa kapan terakhir haid.


Khalisa beranjak dari ranjang menuju sofa, melihat gedung pencakar langit dari sini. Sepuluh bulan yang lalu dia pernah berada di kamar ini. Menangis pertama kalinya karena Ghani, cinta kecilnya. Dia bersyukur sekarang Ghani sudah mencintainya.


"Kha..!" Panggil Anindi.


Khalisa menoleh pada Anindi, perempuan itu menyusulnya ke sofa. "Ada apa?" Lanjutnya, Khalisa menggeleng pelan.

__ADS_1


"Ini kamar pertama kali aku ketemu sama Ghani lagi setelah akad nikah Nin. Dulu dia belum semanis sekarang." Khalisa tersenyum mengingat semua rasa sakitnya dulu.


"Mudah bagi Allah mengubah hati hambanya Kha, sekarang Ghani menyayangimu melebihi dirinya sendiri."


"Aku juga Nin, sangat menyayanginya."


"Aku tau, kami semua tau. Kalian saling mencintai dan menyayangi." Anindi tersenyum, mengusap lembut pipi Khalisa. "Jaga dirimu jangan sampai terluka lagi, kita berada di tempat yang sulit sekarang. Harus lebih kuat."


"Yah, kita harus lebih kuat untuk mendampingi para jagoan." Khalisa tersenyum geli, telinganya menajam saat terdengar langkah kaki. "Nin, seperti ada orang di depan."


"Mungkin Ghani."


"Semoga saja." Khalisa tiba-tiba merasakan cemas berlebihan, "kenapa aku takut ya Nin."


"Tenang Kha, kamar ini aman." Khalisa mengangguk, kekhawatirannya menguap saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu. Khalisa berlari ke arah pintu, melompat dalam gendongan Ghani.


"Kenapa Sayang?" Ghani saling pandang dengan Tomi, lalu membawa Khalisa ke ranjang. Tomi duduk di samping Anindi.


"Takut," cicit Khalisa pelan. Ghani melirik Tomi mengisyaratkan agar meninggalkannya dengan Khalisa.


"Nin, ayo kita pulang. Biar Ghani nenangin Kha dulu." Ajak Tomi, dia paham istri Ghani itu bersikap aneh lagi.


"Ayo," jawab Anindi diikuti anggukan kepala.


"Lo nginap di sini Gha?"


"Iya Tom, nanti kirimin pakaian ganti ya. Gue malas bawa Kha keluar." Pinta Ghani.


"Oke, kalau ada apa-apa kabarin." Kata Tomi lalu beranjak pergi bersama Anindi. Selepas kepergian Tomi, Khalisa masih berada dalam pelukannya.


"Kha takut apa, Sayang?" Mata Khalisa mengerjap-ngerjap lucu. Tunggu, apa istrinya jadi polos lagi.


"Takut, bukan Abang yang datang." Katanya dengan manja.


"Abang ada di sini Sayang, Kha aman sama Abang."


"Huu huu, takut." Cicit Khalisa lagi, "cup cup, Sayang, kita pulang aja ya kalau Kha takut di sini." Khalisa mengangguk-angguk lucu.

__ADS_1


"Sebentar, Abang minta jemput dulu ya."


"Cepetan!!" Ujarnya terisak-isak, Allah Ghani ingin punya pintu doraemon rasanya. Kenapa lagi dengan istrinya ini.


__ADS_2