Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
Bonchap 19


__ADS_3

“Nefa gak mau pindah rumah, Nefa mau di sini sama adek.” Putri Tomi itu menangis kencang.


“Kita akan sering jenguk adek nanti Sayang, rumah Nefa kan gak jauh dari sini juga.” Bujuk Tomi, putrinya itu tetap menggeleng keras.


“Nefa sini ikut Abang,” panggil Arraz merentangkan tangan. Gadis itu berlari kecil mendatangi Arraz. Inilah salah satu alasan Nefa tidak ingin pindah rumah, di sini banyak yang menyayanginya. Dia tidak akan kesepian.


“Jangan nangis, kalau nangis jadi jelek.” Arraz menghapus bekas air mata di pipi Nefa sambil tersenyum. Bocah laki-laki Ghani itu menggendong adik kecilnya yang manja, membawanya ke rumah sebelah.


Ghani menggaruk kepala melihat bocah-bocah itu. Pantas saja kakeknya ingin memisahkan mereka.


"Mama lihatkan, kalau dibiarkan terus lengket seperti itu bahaya. Ini untuk kebaikan cucu-cucu kita." Emran membujuk istrinya yang masih marah padanya.


"Mama gak mau pisah sama Nefa Pah, dia cucu perempuan kita satu-satunya." Jawab Mira masih sewot pada sang suami.


"Si kembar gak dihitung nih, dia cucu kita juga Mah?" Kekeh Emran.


"Si kembar masih belum bisa Mama kepang rambutnya Pah. Masih lama baru bisa Mama dandanin," sahut Mira sendu.


"Nanti kalau Nefa ke sini, seharian waktu Mama sama Nefa." Ujar Emran masih membujuk sang istri.


"Itu kalau dia gak memilih bermain sama Arraz!"


"Mama mainnya sama Celin aja ya," Ghani memberikan putri yang digendongnya pada sang mama.


"Ini kakak atau adek?" Tanya Mira saat menyambut cucunya, sudah lupa perihal Nefa.


"Ini kakak Celin Mah," beritahu Ghani.


"Ijinin Tomi pindah ya Mah, ini untuk kebaikan cucu Mama. Papa benar, nanti kasihan mereka kalau saling jatuh cinta." Tomi merangkul sang mama yang asik menciumi Celin. Sang nenek kembar itu mengangguk setuju.

__ADS_1


Arraz menurunkan Nefa di tempat tidur kamarnya, ia memberikan satu toples cokelat koin pada Nefa. “Abang punya banyak cokelat buat adek, ini disimpan buat Nefa ya.”


“Nefa mau di sini, gak mau ikut Yayah.” Rengek Nefa mengayun-ayunkan kakinya manja.


“Gak boleh gitu, Nefa harus ikut Ayah ya Sayang. Nanti Abang kasih cokelat yang banyak lagi.” Arraz menepuk pipi sang adik lembut.


Ia sempat mendengar kalau pamannya pindah rumah agar dia tidak terlalu dekat dengan Nefa lagi. Padahal dia menyayangi Nefa seperti adiknya sendiri, walau sempat kesal dengan gadis kecil ini karena selalu mengganggu kesenangannya.


“Abang ikut Nefa ya?” Ajaknya, Arraz menggeleng pelan. “Abang gak bisa ikut adek,” katanya.


“Abang gak sayang sama Nefa!!” Rajuk gadis kecil itu melemparkan toples cokelat di tangan ke sembarang arah.


“Abang sayang sama Nefa,” Arraz memeluk adik kecilnya. Bocah lelaki itu persis mesin fotocopy sang ayah.


“Tapi Nefa gak mau jauh dari Abang,” putri Tomi itu terisak sendu.


“Abang gak suka kalau Nefa gak nurut gini, Abang gak sayang lagi sama Nefa nanti.” Sebut Arraz seperti yang sering ayahnya katakan.


“Yayah ayo kita pergi sekarang, Nefa gak mau di sini.” Nefa menarik-narik tangan Tomi, sang ayah menatap heran. Dia baru mengerti ketika melihat Arraz mengamati dari jauh.


“Pamitan dulu Sayang,” ujar Anindi.


"Ya Bubun," sahut Nefa malas menyalami kakek dan neneknya terlebih dahulu.


"Jangan sedih, Nefa boleh kapanpun kalau mau ke sini." Emran menciumi pipi cucu kesayangannya.


"Nefa gak mau ke sini lagi," rajuk gadis itu beralih menyalami sang nenek.


Ghani terkekeh geli, pasti ulah putranya yang membuat Nefa merajuk sampai seperti ini. "Siapa yang nakal Sayang?" Tanyanya seraya menggendong gadil kecil itu.

__ADS_1


"Abang Arraz!" Jawab Nefa sewot.


"Abang nakal kenapa?" Ghani membelai-belai kepala Nefa sambil menciumi di pipi.


"Abang gak sayang sama Nefa lagi."


Ghani mengulum senyum, "kita semua di sini sayang sama Nefa. Cium adeknya dulu Sayang."


Nefa menurut, mencium Celin yang ada di gendongan sang nenek dan Celena yang bersama Khalisa.


"Kalau ngambek gak cantik lagi, hm." Sekali lagi Ghani mengecup pipi gadis itu lalu menurunkannya.


"Ayo kita pergi," ajak Nefa setelah menyalami semua orang yang ada di sana.


“Sama Abang Arraz gak pamit dulu Sayang?” tanya Anindi.


Gadis kecil itu menggeleng langsung naik ke gendongan Tomi.


“Ya sudah, ayo kita berangkat.” Ajak Tomi, barang-barang mereka sudah dipindahkan lebih dulu.


Arraz tersenyum dari jauh melihat adiknya merajuk. Dia langsung pulang setelah mobil sang paman pergi.


Putra Ghani itu mengambil toples yang dilempar Nefa ke sudut kamar sambil tersenyum geli.


“Kenapa dibikin merajuk?” tanya Ghani yang menyusul putranya.


“Kalau gak gitu Nefa gak mau pindah Yah," jawab Arraz sambil tertawa kecil. Memakan satu cokelat yang ada di dalam toples.


"Jangan dibikin lama marahnya, nanti Arraz jenguk ke sana ya Sayang." Ghani mengusap sayang kepala putranya.

__ADS_1


"Iya Yah," Arraz mengangguk saja.


__ADS_2