
Jam istirahat Anindi membaringkan tubuh sebentar di kasur. Tangannya menjangkau ponsel di atas nakas. Sudah dua hari dia tidak mengunjungi Khalisa. Bagaimana kabar adik sepupunya itu.
Braak
Tak sengaja tangannya menyenggol vas bunga, hingga jatuh berserakan di lantai. Anindi segera bangkit dari posisi rebahan untuk membereskan.
Netranya menemukan benda kecil diantara pecahan vas bunga. Hatinya mencelos, saat mengetahui fungsi si mungil itu.
Sudah berapa lama benda ini ada di kamarnya. Aninda mengamati benda mungil yang dipegangnya. Apa saja yang sudah terekam dalam sini. Argh, dia tidak menyangka Tomi sampai melakukan ini. Hanya lelaki itu yang pernah masuk ke kamarnya.
Sekarang kekecewaannya bertambah pada mantan suaminya itu. Kenapa sisi buruk Tomi terlihat sekarang. Dari bermain dengan wanita, juga mengintai aktivitasnya di kamar. Anindi tidak ingin memikirkan. Namun pikiran itu hadir sendiri.
Anindi bisa aja menghancurkan benda ini langsung. Tapi dia tidak tau apa hanya satu atau masih ada lagi yang di pasang di tempat lain. Dia harus mencari tau pada pemiliknya.
"Masuk Mas," Anindi menyambut Tomi, lalu membawa ke ruang kerja. Dia yang meminta mantan suami itu datang ke toko.
Perempuan itu mempersilahkan Tomi duduk, mengambilkan cake dan minuman. "Minum dulu." Katanya seraya ikut duduk bersebelahan dengan Tomi.
Tomi menyeduh minuman dan memakan cake yang ada di depan mata. Dia tidak tau kenapa Anindi memintanya datang ke toko. Dia bergegas datang, selain penasaran dengan apa yang akan dibicarakan perempuan itu. Tomi juga sangat rindu. Walau pertemuan ini akan membuat rindunya semakin bertambah nanti.
"Ada apa kamu minta aku ke sini Nin?" Tanya Tomi setelah selesai menyuap beberapa sendok cake.
Anindi beranjak dari sofa, mengambil kamera kecil di atas meja kerjanya. Meletakkan di depan Tomi.
Tomi yang tadi nampak tenang mendadak gelisah. Ketahuan, batinnya. Setelah mengerti apa yang akan diutarakan Anindi. Tanpa perempuan itu bicarapun. Tomi tau kalau Anindi kecewa dengannya.
"Aku kecewa sama kamu, Mas. Kenapa harus pasang kamera di kamarku." Ucap Anindi datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
Tomi bingung harus menjawab apa, sampai susah menelan saliva. Sudah seperti maling ayam yang kepergok warga.
"Maaf Nin, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik aja. Aku tidak pernah menggunakannya untuk hal yang aneh-aneh." Lirih Tomi yang tidak sepenuhnya benar. Dia memasang kamera itu agar bisa menatap wajah Anindi yang tertidur untuk mengobati rasa rindunya.
"Justru karena ini aku tidak baik-baik aja, Mas." Anindi kecewa, malu, marah, semuanya bercampur aduk. Dia pikir akan kuat menghadapi Tomi, tapi ternyata tidak. Hatinya tergores juga.
Ingin bersikap biasa saja pada Tomi, tapi Anindi tidak bisa. Dia malu, semua aktivitasnya dalam kamar terekam dalam kamera itu.
"Ambil semua kamera yang kamu pasang di tempat ini!" Titah Anindi dingin, tak bisa di bantah.
Tomi mengangguk lemas, mengambil kamera yang terselip di handle pintu ruang kerja. Lalu naik ke lantai dua, di handle pintu kamar juga ada.
Anindi membulatkan mata, kamera dalam kamarnya tidak hanya satu. Argh, dia bisa gila kalau terus berurusan dengan Tomi.
"Sudah semua," Tomi meremukkan benda itu dengan kakinya. Kalau sudah begini Anindi mana mau lagi memaafkannya.
"Aku pulang ya, maaf untuk semuanya. Kamu jaga kesehatan." Pesan Tomi sebelum meninggalkan kamar Anindi.
Tomi tidak kembali ke kantor, apalagi pulang ke rumah. Ingin beristirahat sebentar, dia memilih pergi ke hotel agar Guntur tidak mengganggu ketenangannya.
Katanya jatuh cinta itu mudah, yang susah itu melepaskan. Ketika segala hal sudah diupayakan, tapi akhirnya tak sesuai harapan. Tomi memejamkan mata setelah minum obat tidur. Berharap setelah bangun semua luka di hatinya langsung sembuh.
Di kediaman Emran, Guntur langsung menuju ruang kerja Ghani sepulang dari kantor. Dia kehilangan Tomi sejak tadi siang, ternyata di rumah juga tidak ada.
"Gha, Tomi ada ngomong dia mau kemana gitu?" Guntur membaringkan tubuh di sofa bed, mumpung Khalisa tidak ada di sana.
Ghani masih sibuk dengan laptop di hadapannya, melirik sekilas pada Guntur. "Gak ada ketemu lagi setelah makan bareng tadi siang, emang lo gak bisa lacak keberadaanya?"
__ADS_1
"Nggak bisa, hpnya sengaja dimatikan." Guntur berdecak pelan, sembunyi dimana lagi itu orang. Menyusahkannya saja.
"Biarin ajalah, udah gede juga. Gak bakalan hilang karena diculik, yang ada penculiknya takut sama dia."
"Emang gak ada yang mau nyulik dia sih, gue cuma malas kalo mama ngamuk kayak kemaren malam lagi. Panas nih kuping. Selalu gue yang kena sasaran. Sedih banget hidup gue." Ujar Guntur malah jadi curhat colongan.
"Kasih dia waktu untuk menenangkan diri. Nanti kalo mama nyariin suruh nanya gue aja," jawab Ghani tenang.
Guntur setuju dengan ide Ghani. Kenapa gak dari kemaren-kemaren Ghani aja yang dia jadiin umpan.
Tomi terbangun langsung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tengah malam, gumamnya. Sudah berapa lama dia tertidur. Lelaki itu bergegas bangun dan pulang ke rumah. Mama pasti sedang mengomel lagi di rumah karena dia tidak pulang.
"Dari mana aja lo?" Serang Guntur yang masih belum tidur. Tangannya sibuk mencomot keripik kentang.
Tomi menghempaskan pantatnya ke sofa samping Guntur. "Ketiduran di hotel."
Guntur berdecak, "sama siapa lo ke hotel."
Tomi mendelik, menatap tajam Guntur. Apa semua orang yang ke hotel itu harus tidur dengan perempuan. Tomi dapat mengartikan tatapan Guntur seperti sedang bertanya, siapa perempuan yang lo bawa ke hotel.
"Heh, ini otak dicuci dulu biar gak terus ngeres pikiran. Ada jaminan emang gue tidur di rumah bisa tenang dari gangguan lo." Tomi menoyor jidat Guntur.
"Duh sakit bego, tenaga apa yang lo gunain sih." Ujar Guntur berlebihan, "benar kata Ghani. Kalo ada yang mau nyulik lo, malah penculiknya yang bakalan lo culik balik."
"Berisik, dah malam jangan kebanyakan bacot. Ntar kanjeng mami bangun."
"Lo kalo mau pergi bisa ngabari gak sih, biar gue gak ribet disuruh nyariin lo. Orang patah hati emang suka nyusahin orang aja." Guntur masih kesal kalau mengingat selalu dia yang selalu dijadikan sasaran empuk saat Tomi atau Ghani bermasalah.
__ADS_1
"Gue sumpahin lo nanti patah hati berat." Sarkas Tomi lalu beranjak dari ruang tengah. Menanggapi ocehan Guntur bikin kepalanya tambah pusing. Cukup pusing di kepalanya ini karena memikirkan Anindi.
Lelaki itu menghidupkan ponsel setelah selesai membersihkan badan. Matanya segar karena tidur panjang dari siang sampai malam. Tatapan kecewa Anindi masih merasuk dalam pikirannya. Susah untuknya bisa mendapatkan maaf dari perempuan itu kembali. Ya sudahlah, perempuan masih banyak. Bukan cuma mantan istrinya itu.