
"Semakin kamu diam begini, aku semakin khawatir Nin. Kenapa sih harus nyembunyiin dari aku. Aku bukan Kha yang polos dan amnesia lagi. Aku ngerti apa yang sedang kamu rasain sekarang."
"Aku gak tau apa yang terjadi sama kamu, aku ngerasa ada yang gak beres. Tomi gak mungkin jemput, kalau kamu baik-baik aja." Lanjut Khalisa dengan bersedekap di dada.
Anindi tetap tenang, dia tau bagaimana cara menghadapi adiknya ini. "Apa harus semua masalah diceritakan, Kha?"
"Kenapa harus aku orang yang gak tau apa-apa itu!" Sindir Khalisa datar. "Apa lebih penting mereka daripada aku?"
Anindi berpindah duduk ke samping Khalisa. Membawa adiknya dalam pelukan. "Karena kamu lebih penting, makanya aku gak mau kamu terbebani."
"Aku gak maksa kamu tetap sama Tomi. Aku cuma mau lihat kamu bahagia ada atau tanpa lelaki."
"Jangan pikirin aku Kha, hidup kamu sudah berat. Kamu bahkan berulang kali hampir kehilangan nyawa." Anindi menghela napas pelan. Dia tau kondisi psikis adiknya ini belumlah sembuh total.
"Apa aku selemah itu, Nin. Sampai kamu gak percaya sama aku."
"Bukan gak percaya Kha, baby ini akan lelah kalau bundanya stres. Itu akan berpengaruh dengan emosionalnya saat lahir nanti. Aku dan Tomi tidak ada apa-apa, kita sepakat untuk berpisah baik-baik." Anindi menjelaskan dengan pelan sambil mengusap perut ibu hamil itu. Bicara dengan Khalisa tidak bisa dengan nada tinggi, bisa semakin keras kalau dikerasim.
"Apa harus aku katakan, ada apa diantara kalian berdua?" Sinis Khalisa.
"Kha!" Anindi takut dengan apa yang ada dipikiran Khalisa.
"Kalian saling mencintai, kenapa harus membohongi diri sendiri sih Nin." Khalisa berdecak, Anindi menghela napas lega. Syukurlah kalau itu yang ada dalam pikiran bumil ini.
"Kha, aku udah pikirin semuanya. Biar kami jalan masing-masing ya." Ujar Anindi tenang, ya dia sudah memikirkan untuk pergi dari keluarga mereka.
"Yakin, itu yang kamu mau?" Khalisa menatap Anindi dalam, kakak sepupunya ini terlalu pandai menyembunyikan perihal perasaan.
Anindi mengangguk mantap. "Udah ya kita gak usah bahas ini lagi."
Kalau Anindi maunya begitu Khalisa bisa apalagi selain mengangguk. Dia langsung mengajak Ghani pulang setelahnya. Tomi juga ikut pamit pulang langsung ke kantor.
Anindi memutuskan untuk menutup toko beberapa hari ke depan. Dia sedang malas bertemu orang dan berpura-pura tersenyum bahagia.
Dalam mobil Khalisa masih berpikir keras, sebenarnya apa yang Anindi sembunyikan. Apa yang tidak dia tau, sampai-sampai semua orang bersikap aneh di depannya.
"Abang gak mau ngasih tau aku, sebenarnya tadi malam ada kejadian apasih?"
__ADS_1
Ghani melirik Khalisa sekilas, istrinya ini tidak akan berhenti berpikir sebelum rasa penasarannya terjawab. "Abang kasih tau Kha, tapi gak boleh marah ya."
Khalisa memiringkan tubuh menatap suaminya, ada nada serius di sana. Perempuan hamil itu mengangguk antusias.
"Toko Nindi tadi malam di serang, Abang sama Guntur yang rencanain. Biar Nindi mau tinggal sama kita lagi. Papa sama mama juga sudah tau, cuma Tomi yang gak tau."
Jelas Ghani pelan, sekarang Khalisa mengerti kenapa Anindi bilang di kejar-kejar. Rupanya itu anjingnya.
"Mereka gak ngapa-ngapain Nindi kan, Bang?" Tanya Khalisa khawatir.
"Seperti yang Kha lihat, Nindi gak ada lecetkan."
"Tapi Nindi sakit, Abang. Abang gak lihat dia susah jalan." Ujar Khalisa, dia mengamati Anindi saat sarapan pagi tadi sampai di tokonya.
Iya juga, Ghani melihat Anindi seperti orang sakit. Sedang orang suruhannya tidak menyakiti Anindi. "Mungkin Nindi sakit karena ketakutan, Sayang."
"Ketakutan apa bisa bikin cidera. Orang itu beneran gak nyentuh Nindi kan, Abang."
"Enggak Sayang, gak sampai ngapa-ngapain. Abang udah pastiin semuanya."
"Pinjam hp Abang."
Ghani memberikan ponselnya pada Khalisa. Tidak tau apa yang ingin istrinya itu lakukan. Khalisa membuka akses cctv, lalu mengaga tidak percaya.
"Abang, coba ketepi sebentar."
Suami Khalisa itu menurut, menepikan mobil.
"Tomi di kamar Nindi tadi malam sampai subuh, Abang, mereka ngapain?"
Ghani ikut mengamati rekaman cctv, benar saja ada yang tidak beres. "Nindi gak sakit waktu turun tadi malam, dan paginya." Suami Khalisa itu tidak melanjutkan kalimatnya, menatap sang istri yang seperti terluka.
"Abang!"
"Kha tenang dulu ya, Sayang. Kita gak boleh nuduh tanpa bukti." Ghani mengambil ponselnya kembali. Istrinya ini bisa meresahkan kalau sudah jadi detektif.
"Nindi gak akan sedih kalau tidak ada apa-apa di antara mereka, Abang. Aku paling tau gimana Nindi selalu bisa bersikap tenang dalam kondisi bagaimanapun. Tapi di meja maka tadi pagi dia terlihat sangat terluka, walau itu disembunyikan."
__ADS_1
"Kami ngundang Dev juga buat cari tau perasaan Nindi sama Tomi, Sayang. Terbukti Nindi punya perasaan sama Tomi sampai cemburu begitu. Sekarang kita pulang dulu ya, nanti Abang cari tau langsung sama Tomi."
"Iya, Abang." Sahut Khalisa lesu. Ghani melanjutkan perjalanan. Di kepalanya penuh dengan banyak tanda tanya.
"Kalian mau ikut bertemu Luthfi?" Tanya Emran saat mereka sampai rumah, kedua orang tuanya sudah siap untuk pergi.
Ghani menatap sang istri, "mau ikut, Sayang?" Katanya memastikan. Khalisa menjawab dengan anggukan.
Mereka berangkat menuju rumah tahanan. Mira yang paling sedih. Perempuan paruh baya itu tidak bersuara sepanjang perjalanan.
"Bang Luthfi kenapa tega melakukan ini sama Kha? Kha tidak salah apapun." Mira meneteskan air matanya saat berada di ruang besuk tahanan. Mereka hanya punya waktu sebentar. Luthfi sudah menceritakan semuanya, Khalisa tidak benci malah merasa iba.
"Maafkan Abang, Mira. Aku terpaksa melakukannya agar keluargaku tetap utuh."
"Abang bisa cerita sama Mira, kita cari solusi sama-sama. Bukan begini caranya."
"Maaf Ra, sudah membuatmu kecewa." Luthfi menumpahkan air matanya, dia sudah menyakiti adik sepupu yang sudah seperti adik kandungnya sendiri.
"Khalisa, Ghani maafin Paman ya. Maaf sudah menembakmu Sayang." Lutfhi menatap sendu pada Khalisa.
"Kha sudah maafin Paman. Terimakasih Paman tidak membunuh Kha." Ucap Khalisa, hatinya ikut sakit ketika melihat Paman Luthfi berlinangan air mata.
"Paman tidak bisa melakukannya Kha, maaf sudah membuatmu kesakitan. Kalau Paman tidak melakukan itu. Tyas yang akan membunuhmu. Maafkan Paman ya." Khalisa mengangguk, dia memeluk tubuh Ghani erat.
"Abang, boleh Kha tarik gugatan pada Paman." Ghani menatap Emran dan Mira bergantian.
"Tidak perlu melakukan itu Kha, Paman memang salah, pantas berada di sini. Kalian cukup bantu rahasiakan tentang Clara." Potong Luthfi, dia tidak meminta di ampuni atas kesalahan yang sudah dilakukannya. Dia tidak pernah membenci Khalisa. Semua dilakukannya karena terpaksa.
"Ayah yang akan menarik gugatannya Kha." Khalisa melepaskan tangannya dari pelukan Ghani. Menghambur kepelukan Haris yang datang tanpa sang ibu.
"Haris!" Pekik Luthfi dan Emran bersamaan. Emran tidak menyangka Haris melakukan itu setelah anaknya hampir mati terbunuh.
"Tidak apa, aku percaya Luthfi tidak akan mengulanginya. Kita juga punya rahasianya bukan." Haris mengerti kerisauan Emran, dia meyakinkan semua tidak akan terulang lagi.
"Aku tidak ingin putriku merasa bersalah seumur hidup. Dia sangat sensitif, apalagi sekarang sedang hamil." Haris mengecup lama kening Khalisa. "Ini yang kamu mau Sayang." Khalisa mengangguk pelan.
"Baiklah, kami akan membebaskanmu Luthfi. Ingat semua ini karena Kha." Tegas Emran, Lutfhi mengangguk terharu, semudah itu dia dimaafkan. Padahal kesalahannya tidak pantas mendapatkan maaf sebesar ini.
__ADS_1