
"Kha."
Panggil Tomi memberikan tisu pada adik iparnya yang masih menangis itu. "Hapus air matamu Kha, bebaskanlah apa yang kamu rasakan," lanjutnya.
"Sakit Tom, dia mencintai perempuan lain tapi ingin aku tetap bersamanya."
"Kamu mau membantunya melupakan Clara Kha, selama ini dia selalu mencurahkan perhatiannya untukmu kan?"
"Sakit Tom."
"Kamu tenang Kha, aku lebih khawatir kesehatanmu sekarang." Tomi menepikan mobilnya, mengambil air mineral di kursi belakang lalu membukakannya. "Minum dulu Kha, tarik napas dan rileks." Khalisa meminumnya, mengikuti instruksi Tomi seperti yang Ghani lakukan.
"Pakai ini, akan membantumu rileks." Tomi memberikan inhaler pada Khalisa. "Kendalikan pikiranmu sekarang Kha. Tenang ya."
"Lanjutkan Tom, aku sudah lebih baik." Kata Khalisa setelah bisa mengendalikan dirinya.
Tomi hanya mengantar Khalisa sampai parkiran, kemudian kembali menemui Ghani. Sepupunya itu masih kacau, sama kacaunya dengan Khalisa. Dia yang menjadi penengah dibuat pusing tujuh keliling.
"Gha, lebih baik pulang sekarang temani Kha di rumah."
Ghani menggeleng lemah, kembali menyandarkan kepalanya ke sofa.
"Apa kamu mencintai Kha jadi tidak ingin melepaskannya Gha?"
"Tidak tau Tom, pikiranku masih dipenuhi Clara, tapi saat aku berada di dekat Kha semua itu hilang. Aku butuh Kha untuk melupakan Clara."
"Setelah Clara hilang, apa kamu juga akan menghilangkan Kha dari pikiranmu?"
"Aku ingin belajar mencintainya, ingin hidup bersamanya sampai nanti."
"Jangan egois Gha, jika memang tidak menginginkannya maka lepaskan. Kasian Kha tersiksa, dia juga butuh dicintai."
"Apa dia menangis lagi." Tomi menganggukkan kepala, tidak hanya menangis. Gadis itu sangat terluka.
"Ingat kesehatannya yang semakin memburuk saat bersamamu. Dia tidak pernah pingsan sesering ini sebelumnya. Pikirkanlah kesehatannya, bisa-bisa nyawanya terenggut karena ulahmu Gha."
Ghani tak bergeming, memejamkan netranya. Sebesar itukah dia menyakiti Khalisa, sampai membuat istrinya itu sangat tertekan.
***
Sisil : Kha, kamu kemana lama gak nongol? Gak mau cerita sama kami?
Dia baru membaca chat-chat di grup rempong, kangen mereka. Ingin bercerita tapi tidak tau mau mulai dari mana. Terlalu banyak yang bersemayam di kepalanya.
Marsya : Kamu sehatkan Kha?
Ira : Kita ketemuan yuk Kha, mau gak?
__ADS_1
Kha : Aku baik, kenapa kalian jadi terlalu khawatir begitu? 😊
Marsya : Jangan bohong Kha, kami sudah mendengar berita tentang Azhar.
Benarkah? Kenapa dia tidak tau kalau semua itu sudah heboh. Ini akan melibatkan Ghani, kenapa jadi begitu rumit sekarang.
Sisil : Kami tidak hanya sehari mengenalmu Kha, kalau perlu teman bercerita. Kami tetap sahabatmu.
Ira : Kita gebukin aja tuh Azhar sampai bonyok 😃
Kha : Kalian lucu, aku baik-baik aja lho di sini 😁.
Tidak perlu ada yang tau apa yang terjadi sekarang, itu akan membuat semuanya menjadi tambah rumit.
"Kha aku boleh masuk?" Tanya Ghani dari depan pintu. Ini jamnya minum susu, dia pasti membawakan susu sebelum tidur.
"Masuk aja, ini rumahmu tak perlu izin." Jawab Khalisa ketus.
"Minum susu dulu ya." Kata Ghani sambil tersenyum, sekarang senyuman itu lebih sering muncul. Khalisa mengambil gelas susu di tangan suaminya, meneguknya sampai habis. "Pelan-pelan masih panas."
"Udah habis, masih panasan hatiku." Khalisa memberikan gelasnya kembali tanpa menatap wajah Ghani.
"Kha, aku boleh tidur di sini."
Ghani duduk di sisi Khalisa, menatap wajah istrinya yang masih marah.
"Tidurlah di mana kamu suka, ini rumahmu."
Khalisa tidak menanggapi perkataan Ghani, diam tak bergeming.
"Ya sudah kalau gak mau liat mukaku."
Ghani ingin mencium kening Khalisa sebelum beranjak namun istrinya memalingkan wajah. "Selamat istirahat Kha." Ghani meninggalkan Khalisa membawa kesedihannya kembali.
Maaf Gha, hati ini masih sangat sakit, beri sedikit waktu untuk menenangkan diri dulu.
Tengah malam Ghani ke kamar istrinya, menatap wajah cantik yang sedang tertidur pulas. Sesak karena rindu dengan mantan kekasihnya tadi hilang sekejap.
"Kamu penyelamatku Kha, dari cinta dan orang yang salah. Itulah kenapa aku bersikeras mempertahankanmu meski cinta belum kumiliki untukmu."
Ghani mengusap lembut kepala Khalisa, kemudian mengecup bibir manis itu. Berbaring di samping istrinya, ingin terus bisa tidur bersamamu Kha. Berada dalam pelukan hangatmu.
Tangan Ghani tidak mau berhenti membelai mesra pipi istrinya, sampai gadis itu menggeliat dan membuka mata. Menatap Ghani dengan terkejut.
"Kenapa di sini, Gha?"
"Aku kangen Kha...!!"
__ADS_1
"Kangen Clara?"
Ghani mengangguk membenamkan wajahnya di bawah bantal. Khalisa mendekat kemudian memeluknya.
Ada yang menusuk tepat dijantung Khalisa. Saat bersamanya pun Ghani masih merindukan mantan kekasihnya. Itu sangat menyedihkan, bisakah dia bertahan bersama orang yang tidak mencintainya.
"Sudah tenang?"
"Iya."
"Ayo aku antar ke kamar."
"Bolehkah aku tidur di sini dalam pelukanmu Kha." Pinta Ghani lirih. Khalisa mengangguk merebahkan badannya membelakangi Ghani, suaminya merengkuh tubuhnya dalam pelukan.
Air mata terjatuh begitu saja menahan sakitnya terhimpit oleh keadaan sekarang. Kenyataan suaminya mencintai orang lain tapi tidak mau melepaskannya.
"Jangan menangis Kha. Maafkan aku." Ghani mengulang-ulang kalimatnya. Khalisa membalikkan badan mendekap suaminya sangat erat.
"Sakit Gha, melihatmu seperti ini. Aku tak kuat, aku tidak bisa menemanimu. Kamu kembali ke kamar ya, beri aku waktu. Menjauhlah dariku untuk sementara ini."
"Iya, kamu lanjutkan tidur ya."
Ghani kembali ke kamar dengan perasaan penuh sesak di dada, dia saja tidak mau menerima Clara yang sudah tidur dengan lelaki lain. Egoisnya dia memaksa Kha untuk menerimanya yang masih mencintai perempuan lain.
***
Hati Khalisa diliputi kecemasan saat ingin berangkat ke kampus, pasti bertemu Azhar nanti. Selain masalah Ghani juga ada Azhar yang membuat kepalanya semakin terasa ingin meledak.
Hadapi sajalah, semoga tidak terjadi apa-apa. Bismillah, Khalisa memantapkan hati sebelum berangkat. Dia menemui suaminya untuk minta izin agar tidak kenapa-kenapa lagi. Diketuknya pintu kamar Ghani untuk berpamitan.
"Aku berangkat ya." Izinnya sambil menundukkan kepala saat Ghani membuka pintu, tak berani menatap wajahnya takut luluh dan terpesona. Gagal deh nanti menghindarnya. Lagi sakit hati, jauh darinya jadi tambah sakit.
"Iya, mau aku yang antar?" Ghani menatap mata istrinya lekat tanpa berkedip.
"Gak usah."
"Hati-hati Kha." Ghani mencium keningnya kemudian mengecup di bibir. Khalisa mencium punggung tangan suaminya kemudian pergi tanpa memandang wajah lelakinya itu.
Khalisa takkan kuat lama-lama menghindar kalau perlakuan Ghani seperti ini.
"Kha aku antar...!" Ujar Tomi saat Khalisa membuka pintu. Tomi langsung membukakan pintu mobil untuknya.
"Ghani yang memintamu mengantarku?"
Tomi mengangguk, "iya, kenapa?"
"Gak suka aja."
__ADS_1
"Gak suka orangnya apa cemburu?" Tanya Tomi sambil tertawa kecil.
"Kamu dalam bahaya kalau jauh darinya Kha, Azhar mengincarmu. Harusnya kamu bisa membaca situasi. Kalau begini Azhar akan semakin gencar mengejarmu." Jelas Tomi, apa yang iparnya ucapkan ini memang benar. Azhar semakin gencar mengejarnya.