
"Bubun, ayo kita ke rumah adek." Rengek Nefa menarik-narik tangan Anindi.
"Ayah capek baru pulang kerja Sayang, kemaren kita sudah main sama adekkan." Ujar Anindi lembut sambil melepaskan dasi sang suami. Hampir setiap hari mereka mendatangi rumah Ghani, untung jaraknya tidak terlalu jauh.
"Tapi hari ini belum, Nefa mau main sama adek." Rengut Nefa menghentak-hentakkan kaki.
"Ayah mandi dulu ya Sayang," Tomi mengusap-usap kepala putrinya.
"Mas, kita setiap hari ke sana. Kamu capek," Anindi tidak setuju, suaminya itu terlalu memanjakan Nefa. Apa yang putrinya inginkan selalu dituruti.
Tomi menggeleng pelan, menepuk kedua bahu sang istri. "Nanti kalau bosan dia berhenti Sayang. Mas mandi dulu, kamu siap-siap." Ucapnya dengan tersenyum, Anindi terpaksa menurut.
"Yeaayy, ketemu adek muka sama!!" Pekik Nefa girang, Anindi yang tadi ingin mengomel jadi tersenyum melihat putrinya yang kegirangan.
"Kalau sudah gitu gak tega kan melihatnya menangis," gumam Tomi kemudian beranjak ke kamar mandi. Setelahnya dia menuruti keinginan putri semata wayangnya itu.
"Adeeekkk!!" Teriak Nefa berlari dengan kaki mungilnya mendekati box bayi. Memain-mainkan tangannya di box itu seperti sedang mengobok-obok aquarium karena tidak sampai.
Arraz yang gemas menarik kursi, menaikkan Nefa ke atasnya. Tapi gadis kecil itu malah ingin masuk ke dalam box bayi.
"Nefa, gak boleh Sayang. Kamu bisa nginjak adek," tegur Tomi pada putrinya yang tidak bisa diam. Jika bundanya anggun maka bocah kecil itu kebalikannya.
"Mau cium adek!" Seru Nefa, tidak suka dilarang."
"Kalau tangan adek keinjak Nefa, nanti adek nangis. Nefa mau adeknya nangis?" Jelas Tomi lembut, gadis kecil itu menggeleng dengan wajah cemberut.
"Angkat!" Titah Nefa menunjuk bayi muka sama itu. Tomi dan Anindi menurut, daripada Nefa yang masuk dalam box bayi dan membuat kekacauan di dalamnya.
Putri Tomi itu menciumi Celin dan Celena dengan gemas, yang menonton aksi itu jadi ikut gemas.
"Keponakan siapa sih itu?" Gumam Ghani yang ingin mengunyel-unyel pipi gemoy Nefa. Kenapa gadis kecil itu manjanya seperti sang istri. Patut dipertanyakan, jangan-jangan waktu hamil mereka kesal sama tingkah Khalisa yang manja. Jadilah sekarang menular.
__ADS_1
"Keponakanmu Bang, emang keponakan siapa lagi." Khalisa mendelik, "jangan salahin aku ya kalau dia manja ngikut aku!" Sarkasnya, melihat tatapan sang suamo jadi merasa tertuduh.
"Aku gak bilang gitu Sayang," ringis Ghani.
"Tapi mata Abang bilang."
"Ya Salam," Ghani menepuk jidat frustasi. Masa matanya yang melirik juga salah.
Setelah puas menciumi pipi bayi kembar itu Nefa turun dari kursi menarik tangan Arraz. Tidak menghiraukan paman dan bibinya yang berdebat.
"Abang, kita ke rumah Oma." Ajak gadis kecil itu, Arraz menurut saja. Kalau tidak dituruti pasti akan mengeluarkan jurus air mata.
"Katanya mau main sama adek, tapi malah ditinggal." Gumam Anindi keheranan menatap putrinya yang sudah menghilang di balik pintu.
"Bukan si kembar yang dia cari Sayang," Tomi meletakkan bayi itu ke dalam box kembali. Entah siapa yang dia angkat, wajah mereka memang sama kalau tidak jeli memandangnya. Mau dijauhkan bagaimana juga tetap saja yang Arraz dicari putrinya.
"Kalau Papa tau nanti marah loh," ujar Anindi lesu.
Tidak lama putrinya itu datang lagi dengan berteriak nyaring. "Yayah, Nefa mau nginap di kamar Abang Arraz."
"Gak boleh Sayang, Nefa harus ikut Ayah pulang." Tolak Tomi tegas, gadis kecil itu menundukkan wajah dengan mata berkaca-kaca. Tadi bilangnya mau mengajak Arraz mencari sang nenek, tapi malah ke kamar Arraz.
Ghani menarik gadis yang hampir menangis itu dalam pangkuannya. Tidak mengatakan apapun, hanya memberikan pelukan. Dia nasehati gadis sekecil Nefa tidak akan mengerti juga.
"Nefa mau tidur sama Abang Arraz," rengek Nefa pada Ghani.
"Laki-laki gak boleh tidur sama perempuan Sayang," ucap Ghani lembut. Kalau Khalisa saja bisa tunduk padanya, apalagi gadis kecil fotocopyannya ini.
"Ayah sama bunda juga laki-laki dan perempuan, boleh tidur satu kamar. Paman juga," sebut Nefa.
"Orang dewasa yang sudah menikah boleh tidur satu kamar Sayang. Lihat paman dan bundamu tidak menikah jadi gak boleh tidur satu kamar." Ujar Ghani mencari perumpamaan, entah putri Tomi ini mengerti atau tidak.
__ADS_1
"Jadi kalau Nefa sudah menikah denga Bang Arraz baru boleh tidur satu kamar?"
Ghani meringis mendengar pertanyaan itu, "gak boleh Sayang. Kalian kakak adik gak boleh menikah. Seperti paman dan bibi Ghina gak boleh menikah." Ghani mengusap-usap kepala Nefa, lebih baik dia katakan seperti itu. Sebelum apa yang dikhawatirkan sang kakek kejadian.
"Gitu?" Tanya Nefa sambil menggembungkan pipi. Ghani mengangguk pasti.
"Yayah kita pulang, Nefa gak mau ke sini lagi!!" Gadis kecil itu turun dari pangkuan Ghani, menarik-narik tangan Tomi mengajaknya pulang.
"Dia paham," gumam Khalisa hampir berbisik pada sang suami.
"Mungkin Sayang," lelaki itu memijat kening pusing.
"Pamit sama paman dan bibi dulu Sayang, gak mau ketemu Oma?" Tanya Tomi yang langsung berdiri menuruti putrinya.
"Enggak!" Jawab Nefa judes menyalami Ghani dan Khalisa. Tingkah Nefa seperti orang dewasa itu bikin gemas yang melihat saja.
"Nefa, coklatnya ketinggalan!" Teriak Arraz yang bingung adiknya itu langsung pulang. Padahal dia tidak mengatakan apapun yang bisa membuat Nefa merajuk.
"Aku gak suka cokelat!" Teriaknya tanpa menoleh.
Arraz menggaruk kepala, mencari sang ayah di kamarnya. Mereka pasti tau penyebab Nefa merajuk.
"Nefa kenapa merajuk Yah?" Tanya Arraz dari depan pintu kamar.
"Dilarang tidur sama kamu, jadi dia ngambek." Ucap Ghani sambil tertawa kecil.
"Bukan salah Arraz ya, Arraz gak mau bujuk."
"Ya, bukan salah Arraz." Ghani mendekat ke arah pintu mengusap kepala putranya. "Arraz istirahat, jangan terlalu manjakan adekmu itu."
"Ya Ayah," Arraz mengangguk patuh kembali ke kamar.
__ADS_1