
"Sayang, kenapa kamu sangat baik memaafkan orang yang sudah melukaimu." Ghani mengusap lengan kiri Khalisa. Setelah menjenguk Luthfi mereka langsung pulang ke rumah.
"Abang, kita tidak taukan bagaimana tertekannya Paman Luthfi selama ini. Abang bisa marah kalau paman menembakku di sini." Khalisa menekan jantungnya.
"Tapi kamu terluka, Sayang." Ghani menahan tangan Khalisa di sana. Dia bangga dengan perempuan di sampingnya ini. Ibu dari anak-anaknya nanti.
"Abang, luka ini bisa cepat sembuh. Tapi kalau aku membiarkan paman sepuluh tahun di penjara selama itu juga aku akan merasa bersalah."
"Terbuat dari apa sih hati kesayangan Abang ini." Ghani menyandarkan kepalanya di bahu kanan Khalisa. "Abang beruntung bisa memilikimu, Sayang. Andai Abang boleh meminta sejak kecil saja kita menikah, biar tidak ada banyak drama. Saat Kha jadi gadis kecil Abang."
"Dulu Kha takut tidak bisa membuat Abang jatuh cinta. Kha takut Abang pergi bersama Clara. Takut pernikahan kita tidak bertahan lama dan jadi janda kembang." Khalisa tersenyum, "sekarang Kha takut maut memisahkan kita terlalu cepat." Ghani melingkarkan tangannya di pinggang Khalisa.
"Abang akan terus minta sama Allah agar bisa bersama di dunia dan akhirat sama kamu, Sayang."
"Makasih, Abang. Tapi bahu Kha pegal ini." Katanya seraya mengusap kepala sang suami.
Ghani mengangkat kepala lalu memberikan satu kecupan di bahu itu, "sudah Abang cium pasti langsung hilang pegalnya," goda Ghani.
"Kalau pegal itu dipijat Abang, bukan dicium." Khalisa meluruskan.
"Abang kalau pegal minta dicium, Sayang. Nih bibirnya lagi pegal. Kha mau sembuhin gak?" Ghani mengerling jahil.
"Heum, bibir Abang pahit kaya pare."
"Pahit tapi kaya nutrisi. Sama kayak bibir Abang ini." Ghani menunjuk bibirnya manja, "bibir Abang pahit, bibir kamu manis. Kalau bertemu kan bisa saling melengkapi."
"Masa sih, Kha gak percaya sama Abang."
"Jangan percaya sama Abang, nanti musyrik." Ghani memeluk gemas kesayangannya.
"Abang, Kha masih kepikiran Nindi." Ujar Khalisa sendu.
"Kha sabar ya, Sayang. Nanti Abang bicara sama Tomi dulu. Mikirin orang terus, bisa meledak ini kepala." Ghani mengelus kepala Khalisa sambil menggoda. Agar perhatian istrinya itu teralihkan.
__ADS_1
"Kayak balon ya," Khalisa menyentil kepalanya sendiri dengan telunjuk. "Perlu dioperasi lagi kayaknya, biar beres."
"Enggak, Abang gak mau lihat Kha gak bangun lagi. Nggak mau."
"Yah, kok melow." Khalisa menggoda balik.
"Abang gak suka lihat Kha sakit, gak suka lihat Kha gak mau bangun." Ucap Ghani serius, dia benci istrinya tidak bisa mengamuk, mengomel, manja dan cerewet lagi.
"Siapa yang suka sakit, Abang." Khalisa tersenyum membelai rahang tegas milik sang suami. "Kha sukanya ini." Katanya setelah mengecup singkap bibir Ghani.
"Kok gak diterusin?" Ujar Ghani kecewa, Khalisa terkekeh kecil.
"Masih siang, Abang. Sana gih kerja, udah jam sebelas ini, Abang belum ada kerja."
"Gak kerja pun uang Abang ngalir, Sayang. Asal ada kamu jaminannya." Ghani tertawa kecil, dia pernah mengucapkan kalimat seperti itu dulu. "Abang jadi kangen Kha yang dulu gak banyak tingkah dan manja deh. Paling cuma nangis kalau Abang diemin."
"Sekarang Kha banyak tingkah dan manja, ya?" Tanya Khalisa sok sedih.
"Iya, Kha gak nyadar." Ghani menyipitkan mata semakin menggoda. Khalisa menggembungkan pipi kesal lalu menggeleng.
"Gimanapun Kha, Abang tetap suka istri Abang ini. Mau Kha manja, cengeng, cerewet, nakal, Abang gak peduli. Kha tetap kesayangan Abang."
"Kha nakal?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Mana dosen cerdas yang Ghani lihat dulu, sekarang tidak ada lagi. Yang ada hanya Khalisanya yang menggemaskan.
"Nakal banget, sampai bikin Abang makin cinta. Jangan sedih gitu, Abang suka semua yang ada dalam diri Kha. Apalagi ini, bikin ketagihan." Ghani menyentil bibir Khalisa jahil. Khalisa memonyongkan bibirnya cemberut. Membuat Ghani gemas dan menyesapnya dengan hangat.
Di kantornya Tomi memeriksa cctv toko Anindi tadi malam. Dari mana datangnya orang yang menyerang toko itu.
Matanya terbelalak saat Guntur bernegosiasi dengan orang-orang itu dan menyuruhnya pergi. Ada yang tidak beres, pasti mereka orang suruhan Guntur.
Tomi tidak sabar untuk pulang dan menghajar Guntur. Gara-gara kejadian itu dia sampai meniduri Anindi. Andai malam itu toko Anindi tidak diserang, dia tidak akan menyakiti perempuan yang sangat dicintainya itu.
Haahh, Tomi benci mengetaui kenyataan ini. Kalau benar ini ulah Guntur, dia akan memberikan pelajaran yang setimpal.
__ADS_1
Pulang ke rumah Tomi langsung mencari Guntur, lelaki itu sedang berada di ruangan kerja Ghani.
"Apa maksud lo, hah. Ngelakuin semua ini dan bikin Nindi ketakutan." Tomi melempar ponselnya ke sofa di samping Guntur. Si empunya menatap Tomi cengo. Mengambil ponsel yang Tomi lempar lalu mengamati video rekaman cctv.
"Harusnya lo senang, gue lakuin ini biar lo bisa jadi pahlawan Nindi." Katanya sambil tersenyum menggoda.
"Senang, lo bilang, hah. Gara-gara ini hubungan gue sama Nindi semakin hancur." Teriak Tomi geram.
"Kok nyolot sih, kita itu bantuin lo biar bisa bersatu lagi sama Nindi." Guntur tidak terima disalahkan, sedang Ghani masih duduk tenang mengamati dua orang yang adu mulut itu.
"Kalau aja lo gak bikin kerusuhan malam itu gue gak akan ngelakuin kesalahan besar, bodoh." Tekan Tomi, sangat benci melihat wajah Guntur yang tidak punya rasa bersalah.
"Lo yang bikin kesalahan kenapa harus nyalahin gue, lo yang nikmatin tubuh dia kenapa gue yang salah." Guntur bangkit dari duduk, mensejajarkan tubuhnya dengan Tomi. Dia tau semuanya tanpa Tomi bercerita. Sebelum Ghani menceritakan kerisauannya Guntur sudah menyelidikinya.
"Semua gara-gara rencana lo, bangs*at!"
Tomi mengepalkan tangan kuat dan melepaskan tinjuan di perut Guntur lalu menendangnya. Guntur terpelanting kebelakang, lelaki itu bangkit melakukan serangan balasan, pantang baginya untuk diam saat diajak gelut. Bogeman dan tendangan mendarat di perut Tomi.
Ghani segera bangkit saat keduanya sudah main tangan dan adu jotos. "Cukup!" Teriaknya lantang mendekati Tomi dan Guntur yang masih saling tinju. Guntur menghentikan tinjuannya saat Tomi terjatuh di lantai karena tendangan mautnya.
Guntur menyeka sudut bibirnya yang berdarah, wajah tampannya pasti babak belur sekarang. Tak kalah menyedihkan dengan Tomi. Mereka serasa berada di ring tinju.
Ghani membantu Tomi berdiri, lalu menepuk lelaki itu di bahu. "Jadi benar lo sudah nidurin Nindi!"
"Lo juga ikutan hah, ini semua rencana kalian. Kalau kalian gak ngelakuin ini, gue gak bakal kelepasan sama dia." Tomi menarik baju Ghani lalu menghajarnya. Melepaskan tinjuan di perut Ghani berkali-kali. Dia sudah kerasukan amarah, walau tubuhnya babak belur tapi masih kuat menghajar.
Tomi benci dengan kenyataan bahwa semua ini hanya permainan keluarganya.
"Tomi!" Teriak Guntur, Ghani meringis kesakitan tidak dapat melawan, karena luka di perutnya masih belum sembuh.
"Apa, hah!" Tomi melepaskan tinjuannya kembali pada Guntur. Semua ini belum apa-apa dibanding apa yang dia lakukan sama Anindi tadi malam. Itu sangat menyakiti perasaan perempuan yang sangat disayanginya.
Guntur menendang Tomi sampai tersungkur ke lantai. Lalu mendekati Ghani yang sudah melemah.
__ADS_1
"Abaaang!" Teriak Khalisa dari depan pintu, suaminya sudah tergeletak lemas di lantai.
Tomi langsung bangkit dan menegang di tempat. "Kha!" Gumamnya.