
Ghani memboyong istrinya ke Singapura. Usahanya masih perlu perhatian lebih, jadi tidak bisa ditinggalkan lama. Sepanjang perjalanan Khalisa tidak mau lepas dari pelukannya, lebih manja dari balita pikirnya sambil tersenyum.
"Sayang, kita tinggal di sini ya. Maaf, rumahnya kecil dan gak ada asisten rumah tangga di sini." Ghani membawa istrinya ke kamar kecil berukuran tiga kali empat meter. Meskipun kecil tapi bersih semua benda tersusun dengan rapi.
"Yang penting sama kamu, gak penting tinggal di mana." Khalisa tersenyum mengedipkan sebelah matanya. Siaoa yang mengajari istrinya itu jadi centil. Eh, tapi bukankah dari dulu istrinya itu agresif.
"Kakak juga gak ada mobil di sini, Sayang. Sudah dijual buat modal." Khalisa tersenyum geli mendengar ocehan suaminya. "Udah ah jangan melow. Kita bisa jalan kaki, lebih romantis gandengan tangan kalau mau jalan-jalan, kali di mobil gak bisa dempet-dempetan."
"Makasih Sayang." Ghani memeluk istrinya, syukurnya terus bertambah karena Allah mengirimkan perempuan setulus Khalisa.
"Harus banget ya ngucapin terimakasih. Sudah seharusnya istri itu selalu mendukung suaminya kan." Omel Khalisa cerewet, Ghani tertawa kecil dengan kecerewetan istrinya itu.
"Istirahat dulu Kha, biar aku yang beres-beres." Ghani membaringkan istrinya sambil memijati kaki mungil itu.
"Temani tidur dulu, nanti aku temenin beres-beresnya gimana?" Usul Khalisa.
"Ide bagus, lebih cepat kalau dikerjakan sama-sama ya kan. Cepat jadi anak." Goda Ghani dengan genit.
"Satu aja belum lahir." Khalisa mencebikkan bibirnya.
"Dibikin kembar Sayang."
"Bisa ya request gitu, emang bikin roti diadon dulu terus dicetak sesuka hati." Khalisa menggeleng pelan dengan pemikiran absurdnya.
"Bisa, mau coba? Sini aku adonin." Ghani mengedipkan matanya menggoda sang istri.
"Ih, Abang mesum."
"Emang Kha mikir apa?" Ghani sengaja membuat istrinya kesal. "Mikir yang jorok ya? Ih, lagi hamil gak boleh mikirin yang aneh-anah."
"Abang tuh ngadonin apa?"
"Roti buat burger, Sayang." Jawab Ghani asal, lalu tertawa geli menikmati wajah masam sang istri.
__ADS_1
Ghani menusap pelan perut Khalisa yang lebih berisi di usia kehamilan yang ke delapan minggu. Dia belum punya tabungan untuk lahiran. Uang tabungannya sudah habis untuk biaya transportasi menjemput istrinya. Usahanya harus lebih keras lagi untuk membahagiakan anak dan istrinya.
***
Bersama istrinya Ghani bekerja keras mengembangkan outlet-outletnya sampai dikenal banyak orang dan ramai dikunjungi pembeli.
Berawal dari tiga outlet dalam tiga bulan terakhir sudah bertambah menjadi lima belas outlet. Berkat kegigihan Ghani dan ilmu bisnis yang dimilikinya, tidak terlalu sulit untuk merintis dari nol.
"Sayang." Ghani memeluk istrinya yang sedang memasak di dapur.
"Hm."
"Masak apa beb?" Ghani melingkarkan di pinggang sang istri. Meletakkan kepala di ceruk leher Khalisa, sambil mengamati kegiatan memasak yang dilakukan istrinya.
"Beban hidup ya?"
"Beb, au ah terusin aja sendiri." Khalisa terkekeh kecil, menoleh ke samping lalu mengecup pipi Ghani. Si empunya terlonjak kaget.
"Abaaaangg, pelan-pelan nanti dedek sakit." Pekik Khalisa kaget mendapat perlakuan brutal sang suami.
"Maaf dedek, ayah lagi gemess sama bunda." Ujarnya, menurunkan Khalisa dengan pelan ke kasur. Kasurnya tidak seempuk yang ada di kamar Ghani dulu.
"Kenapa?" Tanya Khalisa polos, tatapannya fokus pada bola mata sang kekasih. Setelah pertemuan mereka kembali, hubungannya jadi lebih romantis. Khalisa tak bisa ditinggal lama-lama.
"Karena bunda hari ini ulang tahun, jadi hadiahnya di ranjang," Ghani tertawa gelak.
"Lupa ya, dulu mau ajak aku honey moon." Rengek Khalisa.
"Masih ingat, tapi sekarang uangnya belum cukup Sayang, baru ngumpulin buat lahiran dedek." Jawab Ghani, merasa bersalah belum sempat mengajak istrinya jalan-jalan. Waktu begitu cepat memutar balik keadaannya. Sekarang dia tidak punya kemewahan lagi.
"Gimana dong, biar cukup?"
"Nanti aku kumpulin lagi ya Sayang, maaf cuma bawa hadiah ini." Ghani memberikan paper bag yang berisi pakaian hamil pada istrinya.
__ADS_1
"Bercanda Sayang, gimana hari ini pembukaan outlet barunya sukses?" Khalisa tidak peduli apapun lagi, asal bersama Ghani dia sudah bahagia. Akhirnya dia bisa menggapai suaminya yang galak ini.
"Sukses, berkat kamu." Ujar Ghani, memberikan senyuman terbaiknya untuk sang istri.
"Alhamdulillah. Suami hebat." Khalisa menyisir rambut suaminya dengan jari-jari mungil yang sudah tidak sehalus dulu lagi.
"Karena ada kamu." Ujar Ghani, "aku bahagia bisa melihat senyumanmu setiap hari." Saudara kembar Ghina itu mengecup seluruh wajah istrinya.
"Abang bau!" Pekik Khalisa nyaring.
"Wangi kok, wangi keringat. Sini cium dulu keteknya." Ghani mengangkat tangannya usil di depan Khalisa.
"Ogah, lariii!" Khalisa bangkit dari tidurnya menjauhi Ghani sambil tertawa gelak.
"Sayang, jangan lari! Kasian dedek ngos-ngosan gak bisa napas." Ghani mengejar istrinya ikut tertawa, hari-hari mereka dipenuhi dengan keceriaan.
"Bilang aja Abang mau dipeluk."
"Tau aja, sini peyuukk." Pinta Ghani manja, menangkap istrinya lalu mendekap dengan erat.
"Hari ini kita masak apa, Sayang. Tomi dan Guntur mau ke sini?" Tanya Ghani saat sudah selesai menggoda istrinya. Istrinya itu masih ngos-ngosan mengatur napas setelah mereka main kejar-kejaran.
"Masak ayam asam manis rasa cinta yang sempurna dari istri Abang tersayang."
"Ampuun, istriku bucin akut." Ghani memutar bola mata jengah.
"Ayo kita lanjut masak dulu." Ajak Khalisa berusaha melepaskan pelukan dari Ghani.
"Gak bisa, ini nempel. Aku nempel dipelukanmu." Ghani menguatkan pelukannya, hobbynya sekarang menggoda Khalisa.
"Abaangg!" Kesal Khalisa, mereka sama. Sama-sama suka menjahili pasangannya.
Selesai membantu istrinya memasak Ghani mandi dan berpakaian rapi, tidak ingin dikasihani oleh sepupunya karena penampilannya yang kusam.
__ADS_1