Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
Bonchap 6


__ADS_3

“Bunda,” panggil anak kecil yang baru lancar merangkai kata itu. “Arraz ikut Bibi ke toko boleh?” ijinnya seraya menarik-narik tangan Khalisa.


“Sudah dapat ijin dari Ayah?” tanya Khalisa. Balita yang baru berusia tiga tahun itu menggelengkan kepala.


Ghani yang fokus di depan laptop hanya menyimak ocehan putranya itu.


“Coba minta ijin sama Ayah dulu,” usul sang bunda. Walau tau sang suami mendengarkan percakapan mereka.


“Bunda yang ijinin, nanti Ayah marah sama Arraz.” Sebut bocah lelaki itu.


“Siapa yang mau pergi maka ijin sendiri, anak laki-laki harus pemberani.” Khalisa mengusap kepala Arraz sambal melirik suaminya yang kebetulan sedang menatap ke arah mereka.


Ghani bangkit dari kursi mendekati anak dan istrinya, “Arraz mau ngapain ikut bibi Sayang. Di sana gak ada temannya, bibi juga kerja gak bisa jagain Arraz.”


Bocah laki-laki itu naik ke pangkuan Ghani, “Arraz mau makan kue yang banyak.” Sebutnya dengan mata berbinar ceria, sangat bersemangat.


“Ayah bisa pesanin buat Arraz kalau cuma mau makan kue,” Ghani membelai lembut kepala putranya.


“Tapi Arraz mau yang baru jadi dan lihat langsung cara buatnya,” kata anak lelaki itu manyun.


“Bibi bisa buatkan yang banyak di rumah buat Arraz.” Ghani tidak bisa melepaskan putranya tanpa pengawasan. Dia masih trauma dengan kejadian-kejadian yang dulu menimpa Khalisa. Takut itu terjadi juga pada putra semata wayangnya.


“Ayah,” rengek Arraz dengan mata berkaca-kaca.


“Boleh pergi kalau sama Ayah dan Bunda ke sana,” putus Ghani. Anak lelaki itu mengangguk setuju, turun dari pangkuan Ghani berlari keluar mencari bibinya di kamar.

__ADS_1


“Anak bundanya, kalau gak diturutin nangis.” Ghani mencubit gemas pipi Khalisa, tubuh yang dulu mengembang saat menyusui Arraz itu sekarang sudah ramping lagi.


“Yakin? Gak mirip ayahnya yang keras kepala!” balas Khalisa.


“No, mirip bunda. Kita bikin baby twin yuk Sayang,” ajak Ghani mendusel-dusel pipi Khalisa.


“Kan mau menemani Arraz, kenapa jadi bikin baby, Abang.” Khalisa mendelik pada suaminya.


“Kita pergi honeymoon, titip Arraz sama Nindi dan Tomi.” Usul Ghani, dia sangat terbantu dengan adanya paman dan bibi Arraz itu.


“Abaang, mau bikin baby twin gak harus ninggalin Arraz jugakan. Kha gak mau pisah sama dia. Kha belum pernah pisah sama Arraz.” Tolak Khalisa, tidak setuju dengan ide sang suami.


“Sebentar aja, satu minggu Kha. Mau ya?” bujuk Ghani.


“Gak perlu dihitung jam juga Sayang, sekalian aja bilang sepuluh ribu delapan puluh menit.” Ghani berdecak kesal dibuatnya.


“No, pokoknya Kha gak mau!” tegas Khalisa.


“Kalau lima hari gimana?” tawar Ghani, Khalisa tetap menggelengkan kepala.


“Tiga hari?” Ghani masih melakukan penawaran. Istrinya itu tetap menggelengkan kepala, “satu malam,” putus Khalisa.


Ghani mendesah berat, satu malam tidak bisa kemana-mana. Paling mentok ke hotel, “mending gak usah kalau cuma satu malam.” Katanya kembali beranjak ke kursi kerja.


Khalisa mengernyitkan kening, “merajuk,” gumamnya. Sambil menimbang-nimbang dalam hati, "bujuk, enggak, bujuk, enggak, bujuk, enggak."

__ADS_1


Akhirnya Khalisa menyusul Ghani, duduk di pangkuan dan melingkarkan kedua tangan di leher suaminya.


"Abang, jangan marah. Kha cuma khawatir kalau kelamaan ninggalin Arraz," perempuan itu mengeluarkan bujukan mautnya yang tidak akan bisa ditolak Ghani. Sebab bibirnya sudah menempel manja di sana.


"Dua hari Sayang," pinta Ghani sebelum mendapatkan obat dosis berat. Khalisa mengangguk setuju, lalu memberikan sapuan lembut pada benda kenyal itu.


"Ayaaaah!!" Teriak Arraz dari depan pintu dibelakangnya ada Anindi dan Tomi. Dua orang dewasa itu melotot tajam. Khalisa lekas melepaskan tangannya dan turun dari pangkuan Ghani.


"Ayah kenapa gigit bunda. Nanti bunda kesakitan." Bocah berusia tiga tahun itu minta di gendong Khalisa. Mengamati bibir bundanya yang bengkak.


"Kenapa Ayah bikin bunda luka!" Tegas bocah kecil itu lagi.


Ghani menggaruk tengkuknya, tidak tau harus menjelaskan bagaimana kalau kegiatan yang dia lakukan itu tidak menyakiti bundanya.


"Rasain lo!!" Decak Tomi pelan, sudah berkali-kali diingatkan agar jangan bercinta disembarang tempat.


"Ayah tadi niupin bibir bunda yang luka Sayang biar cepat sembuh." Ghani mendekati anak dan istrinya setelah memiliki alasan yang lebih waras.


"Bunda luka kenapa?" Selidik Arraz.


"Bibir bunda kegigit Sayang. Jadi Ayah yang niupin." Khalisa ikut mengarang cerita, Arraz mengangguk mengerti dengan penjelasan orang tuanya.


"Bunda makannya hati-hati, Arraz gak mau bunda berdarah." Arraz ikut meniup bibir Khalisa lalu mengecupnya agar cepat sembuh.


"Ayo kita jalan sama paman dan bibi, Sayang." Ajak Ghani sebelum banyak kebohongan yang terjadi. Walau ia sedikit tidak rela, suntikan obatnya belum terselesaikan.

__ADS_1


__ADS_2