
"Sayang, Abang mau bicara sama papa dulu ya. Kamu main sama Airil sebentar, mau?" Bujuk Ghani, mereka sudah ada di kamar sekarang.
"Iya mau." Khalisa mengganti pakaiannya dengan baju rumahan berbahan kain yang adem. Itulah kenapa Ghani jatuh cinta dengan Khalisa, istrinya itu sangat penurut. Walau kadang cerewet tapi tetap menuruti kemauannya.
Ghani mengantar Khalisa ke kamar Ghina tempat Airil bermain. Setelahnya dia menuju ruang kerja rahasia sang papa, di sana sudah ada menunggu tiga jagoan, Emran tidak ikut.
Tak lupa Ghani membawa cake yang dicurigainya. Baru diletakkan di meja Guntur langsung menyerobot cake yang dibawa Ghani.
"Makan, kalau lo mau masuk rumah sakit." Ghani berdecak, lalu mempertontonkan rekaman yang didapatnya dari Anindi.
"Untung nyawa gue selamat." Guntur mengusapkan telapak tangannya ke wajah setelah mengucap syukur panjang lebar. Rekaman itu cukup membuatnya merinding.
"Kirim ke lab segera, racun apa yang ada di dalamnya. Selidiki perempuan yang menjadi pegawai Anindi, ceroboh sekali anak itu." Geram Ghani.
Tangannya sudah mengepal kuat dengan rahang yang mengeras dipenuhi amarah. Wajah Ghani terlihat menyeramkan saat seperti ini. Kalau boleh membunuh, dia akan membunuh tikus-tikus menjijikan itu. Argh, Ghani sudah tidak sabar menemukan peneror yang sangat menginginkan istrinya itu.
"Kamera di sana tersembunyi, tidak ada yang menyadari, makanya anak itu berani berbuat ceroboh." Terang Tomi, karena dia yang menyarankan Anindi untuk memasang kamera tersembunyi di sana.
"Bravo."
Guntur berteriak heboh, senyumannya mengembang.
Zaky merebut ponsel yang sejak tadi dimainkan Guntur. "Lo dari tadi main game?" Sentak Zaky, Guntur menjawabnya dengan cengengesan.
Ghani menghela napas lelah, "lo tau gak, gue ninggalin Kha, Guntur. Dan lo di sini main-main." Lelaki itu mendongakkan dagu Guntur dengan kasar.
"Sorry." Desis Guntur tanpa penyesalan, masih dengan tampang yang menyebalkan.
"Dahlah, buang waktu gue di sini." Ghani menendang meja di depannya dengan keras penuh emosi.
"Guntur!" Teriak Tomi, membuat Ghani dan Zaky menoleh. Si empunya masih cengengesan.
"Keluar!" Pekiknya. Jarang-jarang Tomi mengeluarkan kalimat maut seperti itu, artinya dia sedang serius dan tidak main-main.
"Oke... oke... maaf." Guntur mengangkat kedua tangan tanda menyerah, "lagian kalian serius banget, gue jadinya ikutan stress." Ucapnya dengan wajah tanpa dosa.
"Lo mikir gak sih Tur, Kha itu hampir mati. Mati! GUNTUR! Apa ada kata yang lebih main-main dari sekedar MATI!"
__ADS_1
Amarah Ghani meluap, tatapan tajam ditujukannya pada Guntur. Tidak ada kelembutan lagi yang terlihat, beruntung mereka berada di ruangan yang kedap suara.
"Sorry, gue keluar sekarang biar kalian gak emosi lagi." Guntur beranjak meninggalkan ruangan. Ghani memijat pelipisnya setelah Guntur pergi.
"Gue hampir gila mendapati kejadian-kejadian yang bisa mengantarkan Kha pada maut, tapi dengan santainya Guntur menganggap ini lelucon." Desis Ghani geram, tidak habis pikir dengan tingkah sepupunya yang sangat santai dan ceroboh itu.
"Udah, lo tenangin pikiran dulu, temani Kha. Biar gue yang kirim cake ini ke lab." Zaky menepuk punggung kakak iparnya.
"Nanti pegawai Anindi gue yang urus." Ujar Tomi, sungguh dia sangat kecewa dengan tingkah Guntur yang tidak tau tempat. Anak itu memang selalu enjoy, tapi bukan saat seperti ini Guntur harus terang-terangan bercanda.
Ghani meninggalkan Zaky dan Tomi, kakinya melenggang menuju kamar Ghina. Pikirannya sedang kalut saat ini, Guntur malah memperburuk moodnya.
Huuhhh, berkali-kali Ghani menarik napas dengan gusar. Andai ada yang menjual nyawa cadangan, dia pasti membelinya untuk sang istri.
Ghani tidak akan sanggup kehilangan Khalisa. Jauh dari perempuan itu saja hatinya gundah gulana.
Pria itu mengamati istrinya dari depan pintu, hari ini wajah cantik itu tidak berhenti tersenyum. Senyuman yang bisa menular dan memperbaiki moodnya.
"Lagi main apa, Sayang?" Ghani mendekat, duduk di sisi Khalisa.
"Aku mau jawab lagi main ular tangga, tapi gak mungkinkan. Kenyataannya Airil sedang main monopoli," Khalisa terkekeh.
"Emang Airil main monopoli?" Pancing Ghani.
"Monopoli kehidupan." Jawab Khalisa santai, Ghani menyilangkan kaki, kedua tangannya menopang dagu.
"Sayang, kamu habis makan apa? Kok jadi aneh?" Ghani menatap lekat wajah sang istri sampai tak berkedip.
"Aneh? Apa yang aneh Gha? Aku habis makan red velvet." Khalisa mencebikkan bibirnya.
Gha? Khalisa sudah lama tidak memanggilnya seperti itu. Dan tidak ada nada manja saat berbicara.
"Sayang, apa kamu ingat siapa aku?" Tanya Ghani.
Apa Khalisa sudah kembali?
"Gha kamu kenapa sih, bukan aku yang aneh tapi kamu. Masa aku lupa siapa kamu, kamu Ghani Faizan yang suka sekali menyakiti aku. Kamu lupa sudah menyiksa aku saat di hotel, kamu mengabaikanku Gha. Kamu juga mengunci pintu gara-gara marah sama aku." Khalisa terkekeh geli mengingat semua itu, kepalanya menggeleng pelan. Suami galaknya itu sekarang berubah jadi sangat bucin.
__ADS_1
"Kha kamu sudah ingat semuanya?" Ghani menarik Khalisa dalam pelukan saking bahagianya.
"Kha-ku sudah kembali." Ghani menciumi setiap inci wajah istrinya, dengan penuh cinta. Hatinya dipenuhi bunga-bunga, sungguh Ghani sangat bahagia.
"Aku ingat semuanya? Jelas aku ingat Gha." Tegas Khalisa bingung.
"Ghina, jaga Airil." Panggil Ghani nyaring, lalu menggendong istrinya ke kamar.
"Sayang, apa kamu tadi terjatuh, kepleset atau kejedot tembok?" Tanya Ghani penasaran, tidak tau apa yang terjadi dengan istrinya sampai bisa ingatan Khalisa kembali seperti ini.
"Aku cuma main sama Airil, gak ngapa-ngapain lagi." Khalisa heran dengan tingkah Ghani yang tiba-tiba menggendongnya ke kamar.
"I love you Sayang, terimakasih sudah kembali seperti semula." Ghani mengecup kening Khalisa sangat lama.
"Gha, apa kamu demam. Aku khawatir dengan tingkahmu seperti ini." Khalisa memeriksa suhu tubuh Ghani, normal, gumamnya.
Ghani menggeleng, menarik istrinya dalam pelukan. Khalisa tidak berhenti terheran-heran karena tingkah Ghani yang menjadi aneh.
Aneh?
Sebenarnya dia atau Ghani yang aneh? Entahlah Khalisa pusing. Tadi dia tidak sengaja ketiduran di lantai sebentar saat menemani Airil bermain. Bangun-bangun, mendapati tingkah aneh suaminya. Dia juga lupa apa yang sudah terjadi sebelum hari ini. Bukan lupa, tapi samar, susah untuk diingat.
"Kha, berjanjilah apapun yang terjadi kita tetap bersama ya?" Ghani membenamkan kepalanya diceruk leher Khalisa.
"Gha, sebenarnya apa yang terjadi sampai membuatmu jadi seperti ini. Ceritakan semuanya, aku bingung."
"Jangan banyak berpikir, nanti kamu sakit lagi." Jawab Ghani tenang, tangannya mengelus punggung Khalisa.
"Pelan-pelan ceritalah, biar aku paham." Khalisa membelai lembut suaminya dengan sayang.
"Kamu beneran lupa, Sayang?"
"Sekelebat aku ingat, tapi begitu ambigu. Itu nyata atau hanya sebatas mimpi. Hanya beberapa, tidak semuanya." Jelas Khalisa, dia masih bingung dengan apa yang terjadi.
***
Yeeaayyy Kha sudah kembali, awas kalau bikin Kha seperti orang stres lagi 🤣
__ADS_1
maafken, aku suka Kha yang stres biar bikin babang Ghani stres juga.
Tolong cekin dong Kang Mas Erfan teman lamanya Babang Ghani di story sebelah KESUCIAN CINTA sambil nunggu update babang Ghani. Kasihani aku yang baru belajar nulis ini, wkwkwk.