Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
Bonchap 4


__ADS_3

"Arraz, main bola sama Om yuk." Guntur menoel gemas hidung Arraz yang baru membuka mata.


Baby boy itu kalau siang kebanyakan tidur. Malam baru begadang, membuat ayah bundanya harus jaga malam.


"Hayuuk," Ghani mengangkat Arraz dan menendangkan kakinya ke wajah Guntur. "Ini bolanya," seru Ghani menirukan suara anak kecil.


"Ganggu Gha, taroh lagi Arraznya." Perintah Guntur, baru bermain sama Arraz diganggu ayahnya.


"Nih," Ghani memberikan Arraz pada Guntur. Tau kalau Guntur tidak akan berani menggendongnya.


"Nggak, taroh di box aja. Kalau gue yang pegang takut tulangnya jadi patah semua." Tolak Guntur yang masih belum berani menggendong bayi satu bulan itu.


"Gak bakalan patah kalau gak lo lempar, belajar dulu. Biar gak canggung gendong anak sendiri nanti."


"Beneran gak patah?" Tanya Guntur ragu.


"Enggak, satu tangan lo gunakan untuk menahan antar kepala dan lehernya. Tangan yang lain tahan punggung dan bokongnya." Jelas Ghani seraya memindahkan bayi itu pada Guntur secara perlahan.


"Tangan gue biasa buat nonjok orang mental Gha. Sekali gendong bayi jadi gemetar." Ujar Guntur deg-deg'an.


"Awal-awal grogi, kalau sudah terbiasa gak gemetar lagi." Sahut Ghani yang pasti semua orang tau, melakukan apapun awalnya pasti takut-takut. Seperti korupsi contohnya, awalnya takut ketahuan. Lama kelamaan keenakan menikmati uang temuan.


"Pintar-pintar sama Om ya, Sayang." Timang Guntur sambil berjalan-jalan di dalam kamar Ghani.


Sedang Ghani kembali membuka laptop. Setiap ada waktu senggang saat menjaga Arraz, dia gunakan untuk bekerja.


"Gha, panas! Apaan nih?" Tanya Guntur mencari tau darimana datangnya hawa panas itu.


"Oh itu, Arraz ngompol. Tadi dia selesai mandi langsung tidur, jadi gak pake popok," jawab Ghani santai.


"Ghaniiii, lo gak bilang kalau Arraz gak pake popok." Geram Guntur dengan suara pelan.


"Sengaja," sahut Ghani tanpa dosa diikuti kekehan.


Guntur bergegas mengembalikan baby boy itu ke box-nya. Baru diletakkan tangisannya sudah menggema di dalam kamar.


"Gue sudah mandi, huh." Kesal Guntur beranjak ke kamar mandi.

__ADS_1


Sambil tersenyum Ghani mendekati putranya, menggantikan celana dan mengajak bicara.


"Anak Ayah semakin pintar, tau mana yang pantas di pipisi." Ujar Ghani dengan kekehan, baby boy itu ikut tertawa sambil menendang-nendangkan kakinya.


"Bunda kemana sih Sayang, gak kelihatan." Ghani masih mengajak putranya bercanda sambil menangkap kaki mungil yang menendang-nendangnya itu.


"Kalau besar nanti jangan nendang Om Guntur di wajah ya, Sayang. Kalau mau nendang di senjata pusakanya." Beritahu Ghani, yang sudah tentu bayi berumur satu bulan itu tidak mengerti.


"Abaaang, kebiasaan ngajarin Arraz yang aneh-aneh."


Ghani menyengir diomeli sang istri, "biar jadi atlet karate, Sayang."


"Lo kemana aja sih Kha, gak bisa Arraz dengan baik dan benar. Gue sampai diompolin nih!!" Gerutu Guntur pada Khalisa, si empunya menganga tidak mengerti dimana letak salah dirinya.


"Lah, kalau Arraz ngompol salahnya dimana?"


"Salahnya lo ninggalin dia, jadi gue yang gendong. Jadilah gue diompolin," jelas Guntur dengan menggebu-gebu.


Khalisa tertawa terpingkal-pingkal, "itu sih derita lo. Bukan derita gue. Anak bunda memang pintar." Puji Khalisa pada putranya yang tertawa melihatnya ada di sana.


"Berisik, keluar kalau cuma mau ceramah di sini." Usir Ghani, dia mau minta jatah vitamin. Kalau ada Guntur, tidak bisa dia realisasikan.


"Jangan tiru ayah atau bunda ya Sayang. Tiru Om Guntur aja," Guntur mencium pipi Arraz kanan dan kiri sampai puas.


"Kalau tiru lo jadinya anak gue gak bener! Sana keluar!!" Ghani mendorong tubuh Guntur keluar dari pintu.


"Pasti lo mau macam-macam sama Kha. Jangan kasih jatah Kha!!" Pekik Guntur dari depan pintu.


"Berisik... Berisik Guntur! Jangan jadi setan!" Ghani langsung menutup pintu.


"Abang kenapa pake teriak-teriak sih!" Protes Khalisa bersiap mengangkat putranya.


"Jangan di gendong, Sayang. Biar Arraz di box, kan gak nangis." Ghani melingkarkan tangannya di pinggang Khalisa. Melepaskan tangan yang sudah siap mengangkat Arraz.


"Minta vitamin, Kha." Rengek Ghani membenamkan dagunya di ceruk leher Khalisa.


"Abaang, ada Arraz loh. Dah sana dulu, nanti aja vitaminnya. Atau ambil vitamin Kha yang ada di laci, lebih berkualitas." Khalisa menyingkirkan tangan Ghani yang bermanja-manja.

__ADS_1


"Sayang, mumpung Arraz diam. Nanti Kha gak ada waktu buat Abang." Ujar Ghani dengan tampang memelas.


"Kapan Kha gak ada waktu buat, Abang." Khalisa tetap mengangkat putranya, memberikannya ASI.


"Abang kurang kasih sayang, sejak ada Arraz." Rajuk Ghani, Khalisa geleng-geleng kepala.


"Abang habis nonton sinetron apasih jadi banyak drama gitu."


"Abang kangen, bukan lagi bikin drama Kha sayang." Kesal Ghani.


"Arraz rebahan dulu ya Sayang, mimi-nya dilanjut nanti. Ayah lagi rewel." Khalisa membaringkan kembali putranya dalam box bayi.


Ghani tersenyum memeluk kembali sang istri, "sayang banget deh sama istri aku ini."


"Jadi kalau gak dikasih vitamin gak sayang gitu?" Tanya Khalisa dengan tatapan tajam.


"Ee...ee, tetap sayang dong. Kha kan kesayangan Abang, selamanya."


"Ya udah gak jadi dikasih kalau masih sayang," ujar Khalisa jahil.


"Kha, jangan nakal, Sayang!" Ghani langsung memutar tubuh Khalisa pelan menghapus jarak diantara mereka. "Ini yang selalu bikin Abang kecanduan," katanya seraya mengusap bibir Khalisa dengan jempolnya.


"Oeekk... Oeekk... Oeekkk.." Suara tangis Arraz menggagalkan semua yang ada dalam otak Ghani. Lelaki itu mencebikkan bibir kesal lalu melemparkan tubuh ke tempat tidur saat Khalisa dengan cepat beralih jadi mengangkat putranya dalam gendongan.


"Arraz, ayah merajuk. Ayo bujuk ayah, Sayang." Baru Khalisa pindahkan ke gendongan, baby boy itu langsung berhenti menangis. Khalisa membaringkannya di samping sang suami.


"Arraz ganggu Ayah, iih. Ayah cuma pinjam bunda sebentar." Ghani menepuk-nepuk paha gemoy bayi mungil itu sambil menciuminya. "Jangan posessif sama bunda, Sayang. Nanti ayah susah minta jatah," celetuk Ghani.


"Abang, yang kayak gitu diomongin sama Arraz. Gak bener banget, mandi sana."


Ghani menggeleng, "mau vitamin dulu baru mandi." Ujarnya kekeuh tidak mau kalah dari Arraz yang selalu bergelayutan di tangan Khalisa.


"Mau cemburu dipikir juga kali Bang, masa cemburu sama anak sendiri."


"Arraz Abang titip sama Nindi dulu ya, Sayang." Ghani langsung menggendong Arraz setelah dapat nur di otaknya.


"Abaaaaang!!!" Teriak Khalisa, dia belum selesai memberikan ASI sudah dibawa kabur.

__ADS_1


__ADS_2