
Rumah sakit tempat yang sangat Ghani benci. Berkali-kali dia menyaksikan Khalisa terbaring lemah di tempat ini. Melihat istrinya kesakitan membuat hati Ghani berdenyut nyeri.
Andai bisa, biar dia saja yang kesakitan. Saat ini Ghani tidak tega melihat Khalisa kesakitan dengan keringat yang bercucuran membasahi keningnya. Ghani terus menggenggam tangan Khalisa untuk memberi kekuatan.
"Bertahan Sayang, istighfar." Ghani menguatkan, Khalisa menjambak-jambak rambutnya, lalu beralih mecakar dan menggigit tangannya. Ghani sampai meringis menahan sakitnya gigi yang menancap di tangannya itu. Tapi istrinya sekarang lebih sakit.
Ghani ingin memecat dokter yang terus meminta istrinya mengejan. Melihat Khalisa kesakitan, saat itu juga dia ingin mengumpat pada dokter kandungan itu. Tidak tahan menyaksikan Khalisa berjuang antara hidup dan mati.
Hati Ghani lega setelah mendengar suara tangis jagoannya. Ghani menangis bahagia, menciumi seluruh wajah Khalisa yang masih lemah.
"Makasih Sayang, makasih. Makasih sudah berjuang. I Love You kesayanganku Khalisa Rihanna. Maafin Abang yang kurang sabar jagain Kha selama ini. Maafin Abang yang selalu nakalin Kha. Makasih sudah memberikan Abang seorang jagoan."
Melihat Khalisa melahirkan hampir kehabisan napas. Ghani jadi menyesal sering menggelitiki istrinya sampai susah bernapas.
Khalisa menanggapi dengan senyuman bahagia, impiannya terwujud memberikan anak yang lucu dan menggemaskan untuk Ghani.
"Istirahat Sayang, biar cepat pulang. Abang gak suka kamu lama-lama di sini." Ucap Ghani, Khalisa sudah dipindahkan ke ruang rawat. Dia mengusap-usap kepala Khalisa, tidak ada yang Ghani perbolehkan masuk.
Dia ingin istrinya bisa istirahat. Bayinya lahir tengah malam, setelah perjuangan beberapa jam menahan sakit. Ghani terharu dan bangga pada istrinya yang manja ini.
"Abang tidur juga gih di sofa."
"Abang temani Kha di sini." Kalau begini rasanya Ghani tidak ingin Kha melahirkan lagi. Bagaimana sakitnya mama yang melahirkan mereka sekaligus dua dulu. Setelah besar dia suka membantah dan menyakiti hati mama tersayangnya itu.
"Kha pengen anak kembar, Abang." Harap Khalisa dengan tersenyum cerah.
"Abang gak tega, lihat Kha lahirin satu aja sakit banget." Ujar Ghani sambil mencium lama di kening sang istri.
"Sakitnya hilang lihat dedek keluar, Abang. Jangan sedih, semua perempuan pasti merasa bangga setelah bisa melahirkan." Khalisa mengusap lembut pipi Ghani.
"Semoga Allah kasih kita kembar nanti ya. Sekarang Kha istirahat, biar Abang bisa cepat buatin dedek lagi." Goda Ghani mengerling jahil.
"Abang ih," kesal Khalisa. Matanya tidak sengaja menatap tangan Ghani yang terluka. "Ini aku yang gigit, Abang."
Ghani hanya mengangguk lucu, "gigi Kha tajam banget."
"Sakit?"
"Gak sesakit saat Kha berjuang untuk putra kita." Ghani tersenyum bahagia, dia akan lebih sabar lagi menghadapi Khalisa mau manja seperti apapun. Mengingat istrinya yang sudah rela berjuang melahirkan buah hati untuknya.
__ADS_1
Pagi-pagi kamar rawat Khalisa sudah ramai kedatangan keluarganya. Mereka heboh menyambut penghuni baru baby boy yang tampan dan menggemaskan.
"MasyaAllah cucu Oma, ganteng banget kayak Opanya." Ujar Mira gemas menggendong cucu keduanya.
Ghani memutar bola mata malas, "aku yang tanam saham Mah, masa dibilang mirip Papa." Ujarnya tidak terima.
"Kan kamu keturunan gen Papa juga, Gha." Sahut Emran, dua orang paruh baya itu keasyikan memomong si baby boy.
"Ponakan aku lucu banget." Guntur mencium gemas, "siapa namanya Gha?"
"Farraz Narendra Faizan," jawab Ghani.
"MasyaAllah, semoga seperti nama kamu Sayang, jadi pemimpin yang jujur." Baby boy itu sudah berpindah ke gendongan Haris dan Nina. Semua menyambut kehadirannya dengan gembira. Ghani merangkul istrinya sambil menciumi di kepala.
"Airil punya teman berantem sekarang, Sayang." Ghina berbicara dengan putranya, Khalisa dan Ghani membelalakkan mata. Baru lahir sudah disuruh berantem, mau jadi apa nanti putranya itu.
Tomi merangkul Anindi yang terlihat sedih untuk menguatkan. Bukan sedih karena kehadiran anggota baru. Istrinya itu sedih karena belum Allah beri kepercayaan untuk mendapatkan momongan.
Nina memberikan baby boy itu pada Anindi, "semoga Allah cepat memberikan kalian momongan juga." Katanya sambil mengusap kepala Anindi.
Serentak semua yang ada diruangan mengaminkan. Tomi mengecup pipi putra Ghani itu lalu beralih ke pipi Anindi.
***
"Assalamualaikum anak Ayah, Farraz Narendra Faizan." Ghani menyapa putranya yang baru bangun tidur.
Bayi tampan berusia satu minggu itu menggeliat lucu. Bayi mungil itu bangun sepagi ini. Ghani menciumi pipinya lembut, kemudian beralih pada Khalisa.
"Pagi Sayang." Ghani mengecup lama kening Khalisa. Dengan muka bantalpun istrinya masih cantik.
"Gak kasih Abang morning kiss dulu nih." Goda Ghani, Khalisa mencubit gemas pipi Ghani. Matanya masih mengantuk sudah diganggu.
"Abang, Kha ngantuk."
"Tidur lagi Sayang." Ghani berpindah posisi ke belakang Khalisa, memeluk istrinya dari belakang.
"Abang peluk biar bisa tidur nyenyak." Khalisa tadi malam tidak bisa tidur nyenyak, mereka bergantian menjaga Arraz.
Ketukan pintu membuat Khalisa terbangun, Ghani masih tertidur dengan memeluknya.
__ADS_1
"Sebentar." Teriak Khalisa tidak terlalu nyaring, melepaskan tangan Ghani dari pinggangnya perlahan agar tidak terbangun lalu membuka pintu setelah memasang hijab instan.
"Tomi, ada apa?" Tanya Khalisa heran.
"Ghani masih tidur?" Tomi melirik arlojinya sudah jam sepuluh pagi. Sepasang pasutri itu baru bangun.
"Iya, tadi malam Arraz rewel."
"Bangunin gih, Riko nelpon. Ghani janji meeting jam sepuluh." Beritahu Tomi, pasti ponsel Ghani silent makanya manajer restoran itu menelpon padanya.
"Sekarang jam berapa?" Mata Khalisa spontan melirik ke arah jam dinding. "Astaghfirullah," Pekiknya.
"Aku tinggal ya, kalian jangan lupa sarapan." Tomi mengingatkan lalu meninggalkan Khalisa yang masih berdiri di pintu.
"Abang!!" Panggil Khalisa, tidak ada jawaban.
"Sayang!" Panggilnya lagi, menepuk pelan pipi Ghani, Arraz masih terlelap dengan nyenyak. Belum bangun juga, Khalisa mengecup kedua mata Ghani, lalu meniupnya kencang.
"Kha!" Kesal Ghani setelah membuka mata. Kha ini gak ada romantis-romantisnya bangunin suami.
"Abang, sudah jam sepuluh lewat. Abang janji meeting jam sepuluhkan. Riko udah nelpon Tomi."
"Serius Sayang," Ghani melirik jam di dinding, lalu bangun, tapi tdak langsung mandi. "Minta obat pagi dulu, Sayang." Dosis paginya tidak boleh terlewat.
"Abang belum gosok gigi." Khalisa mendengus kesal, suaminya ini masih sempatnya minta jatah.
"Abang sudah gosok gigi sebelum sholat tadi." Ujar Ghani tanpa aba-aba langsung menyambar bibir Khalisa lama.
"Makasih Sayang, mmuuach." Ghani mengecup bibir Khalisa untuk mengakhiri sesinya lalu beranjak ke kamar mandi. Untung dia sudah sholat subuh, jadi tidak kebablasan.
Hidupnya sangat indah dengan kehadiran Arraz. Lengkap sudah kebahagiaannya selain didampingi istri yang cantik.
Keterpaksaan menikahi Khalisa membuat Ghani jadi ketergantungan pada kesayangannya itu. Tak bisa seharipun dia jauh dari Khalisa yang hampir dihadapkan dengan maut, membuat Ghani sangat menjaganya.
...THE END ...
Dengan berakhirnya cerita ini diucapkan terimakasih. Ambil baiknya buang buruknya. Jangan tiru hal yang tak pantas ditiru.
Mohon maaf jika banyak salah kata dan khilaf dalam tulisan ini. Maaf jika tidak dapat memenuhi ekspektasi kalian para pembaca. Terimakasih sudah support cerita ini.
__ADS_1
Semoga Author bisa menulis lebih baik lagi, berkat semangat kalian 😊.