Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
55


__ADS_3

Tomi dan Guntur sudah dalam perjalanan menuju rumahnya, istrinya sudah menyiapkan makan siang untuk mereka. Ghani menyambut kedua sepupunya dengan senang hati, mempersilahkannya masuk di rumah yang sangat sederhana.


"Gimana usahamu Gha, betah di sini?" Tanya Tomi, sambil mengamati ruangan yang sempit hanya ada dua sofa dan meja kaca di ruang tamu.


"Sangat betah, alhamdulillah ada kemajuan." Sahut Ghani sambil tersenyum.


"Minum dulu, makan siang juga sudah siap." Kata Khalisa yang baru bergabung, dia duduk di samping suaminya. Biasa bumil manjanya selalu menjadi-jadi. Perempuan itu menyandarkan kepala ke bahu Ghani.


"Jadi aku mau jadi Om nih." Pekik Guntur girang, melihat perut Khalisa yang membuncit.


"Husstt dedek lagi tidur jangan berteriak." Khalisa meletakkan telunjuknya di bibir.


"Boleh pegang dedek." Guntur mendekatkan tangannya ke perut Khalisa, tapi ditangkis Ghani.


"Eiitss, jangan pegang-pegang Guntur. Nanti kalau udah lahir aja." Ghani mengusap-usap perut istrinya sambil menciumi puncak kepala Khalisa.


"Kenapa gak bawa Kha pulang aja Gha." Tomi memandangi Khalisa yang lebih kurus dengan wajah yang tampak lelah.


"Kami lebih nyaman di sini Tom."


"Papa pasti marah kalau tau kamu tinggal di rumah seperti ini Gha. Kha juga perlu asupan nutrisi yang lebih baik, kasihan bayinya."


"Papa gak akan tau kalau kalian gak cerita, sayangnya kalian ke sini juga karena disuruh Papa untuk menjemputku pulangkan." Tebakan Ghani takkan melesat, Emran bisa melakukan apapun sesuka hatinya. Kalau sudah uang yang berbicara, tidak ada yang dapat mengelaknya.


"Jangan khawatirkan aku Tom, aku bisa mandiri tanpa uang papa. Kha tidak kekurangan apapun di sini," lanjutnya.


Khalisa hanya diam membenamkan wajahnya dipelukan Ghani. Dia juga kangen sama ayah ibu tapi tidak tega dengan suaminya yang belum memiliki banyak uang. Uang yang didapat dibagi untuk biaya sehari-hari juga membayar karyawan.


"Mama mau ketemu cucunya Gha, pulanglah sama kami," bujuk Tomi.


"Nanti kalau sudah lahiran kami pasti pulang. Ayo makan dulu kalian pasti capek." Ghani mengurai pelukannya, mau membawa istrinya ke dapur tapi Khalisa malah semakin menempel tidak mau beranjak.


"Sayang kenapa manja banget?" Ghani menoel hidung Khalisa yang semakin membenamkan wajahnya.


"Sebentar aku bawa Kha ke kamar dulu ya." Ghani menggendong istrinya ke kamar, lalu mengecup pipinya. "Kenapa Sayang?"


"Gak tau, pengen obat aja. Aneh deh tiba-tiba."


Ghani memberikan dosis obatnya dengan lembut dan lama. Tomi dan Guntur melihat pemandangan dari pintu kamar yang tidak di tutup menelan ludah.


"Sudah, apa mau lagi?" Ghani mengusap pipi Khalisa, memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.


"Sudah."


"Ayo, mereka sudah menunggu." Ajaknya sambil menggandeng tangan Khalisa ke meja makan. Tomi dan Guntur sudah menunggu di sana.

__ADS_1


"Sorry, Kha lagi manja-manjanya." Ghani menyuapi istrinya yang terus menolak makanan. "Dikit aja makan ini Sayang."


"Mual makan itu." Rengek Khalisa, Ghani mengernyitkan alisnya. Beberapa hari ini istrinya tak pernah menolak makanan, malahan selera makannya meningkat. Hanya saja tidak bisa ditinggal lama, minta peluk setiap saat.


"Oke. Aku makan duluan ya. Sini!" Ghani menarik kursi istrinya semakin mendekat. Makan sambil memeluk Khalisa.


"Aku curiga dia begini gara-gara kalian datang. Tadi sama sekali gak manja." Ghani berdecak kesal menatap Tomi dan Guntur.


"Sayang, Om Guntur atau Om Tomi yang nakal." Ghani mengajak bicara bayi dalam perut istrinya. Dua orang yang disebutkan namanya tertawa gelak.


"Gilaa, mana bisa dia nyaut," cerca Guntur, sepupunya ternyata semakin gila.


"Nyaut kok," Ghani terkekeh meyakinkan.


"Gha, mungkin dia kangen mama. Makanya jadi manja." Tebak Tomi, Ghani mulai berpikir ingin memancing istrinya.


"Sayang mau ketemu mama?" Tanyanya yang mendapatkan anggukan ceria.


"Pantesan jadi aneh. Ya udah besok kita pulang," ujar Ghani asal.


"Beneran?" Sahut Khalisa girang, Ghani jadi pusing sendiri. Tadi niatnya cuma memancing, jadi gak tega melihat wajah ceria itu berubah jadi masam. "Iya Sayang," Ghani mengecup kening istrinya.


"Mau makan itu, lapar!" Pinta Khalisa. Lagi-lagi Ghani mengernyitkan keningnya keheranan.


"Doyan kok." Jawab Khalisa cengengesan Guntur dan Tomi tergelak.


"Kok bisa sih, Kha ngerjain Abang ya." Ghani berdecak kesal, istrinya kadang sangat suka usil.


"Enggak," Khalisa menggeleng cemberut.


"Gara-gara kalian datang nih. Gue yakin kalau gak gue tahan dia pasti mau bergelayutan dipelukan lo." Ghani melirik ke arah Guntur, setelah membaca pikiran istrinya yang menjadi aneh.


"Test aja," tantang Guntur dengan menyeringai.


"Sayang, mau dipeluk Om Guntur." Khalisa mengulurkan tangannya. "Biar ayah yang wakilin yaa." Ghani cepat bertindak, Tomi dan Guntur sakit perut menahan tawa sampai mata berair.


"Ini bukan bundanya kan yang manja?" Selidik Ghani, karena istrinya memiliki riwayat keusilan yang tinggi.


"Apaan sih Bang," Khalisa mencebik cemberut.


"Serius aneh."


Khalisa mengendikkan kedua bahunya. "Sama, aku juga merasa aneh, kayak punya dua jiwa. Kalau udah selesai makannya temenin ke kamar sebentar," rengeknya manja.


"Mau sama aku?" Guntur dengan senang hati menawarkan diri.

__ADS_1


"Gile lo Tur, ini Kha, masih waras." Sahut Khalisa kesal yang membuat Ghani tergelak.


"Bang!" Khalisa memeluk Ghani dari belakang. "Ayo!" Pinta Khalisa manja, Ghani tak bisa menolak lagi. Kalau tidak dituruti, tak akan berhenti merengek bumilnya ini.


"Dia biasanya ngidam apaan sih Gha?" Tomi keheranan dengan tingkah Khalisa. Menurutnya orang hamil tidak ada yang seperti itu.


"Gak ada, cuma gak mau ditinggal, maunya diketekin terus."


"Pantesan," Tomi berdesis.


"Boleh ngintip gak," Goda Guntur.


"Kalau mau gue tampol, hayoo." Ghani menatap Guntur tajam, lalu beranjak membawa istrinya ke kamar.


"Bahagia banget Kha di samping Ghani." Tomi mengawasi Ghani yang merangkul Khalisa sampai menghilang dibalik pintu kamar.


"Gue jadi pengen nikah cepat Tom, lihat mereka begitu."


"Tinggal lamar, ajak nikah, selesai." Jawab Tomi santai, seolah jodoh bisa di dapat dari ciki-cikian yang kemasannya bertulisan berhadiah langsung. Sungguh Tomi tidak mengerti bagaimana perasaan para kaum jomblo di luar sana.


"Lo kira mau ngawinin sapi Tom." Guntur beranjak ke ruang tamu meninggalkan Tomi. Mau mengintip Ghani lagi, tapi sayang pintunya tertutup. Awas bintitan loh.


"Mau apa sekarang?" Ghani terus menggoda istrinya, pura-pura tidak mengerti.


"Kakak!"


"Hm," Ghani tersenyum mendudukkan istrinya di sisi tempat tidur. Memberikan sentuhannya sampai Khalisa merengek-rengek. Baru diberikannya apa yang istrinya mau, sambil tertawa jahat. "Gak bosen Kha?"


"Gak tau nih." Khalisa mendesah kesal, lelah dibuatnya.


"Bawa dzikir dulu, hormonmu lagi gak stabil." Ghani mengusap-usap kepala istrinya dengan manja.


"Capek Bang." Suka-suka hati dia mau manggil suami apa, haah. "Ada permen aja gak, kasihan Guntur sama Tomi ditinggal terus."


"Permen Abang ada." Ghani menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.


"Aishh,, ini satu juga bikin kesel aja." Wajah Khalisa berubah masam.


"Sini **** jempol aja." Ghani belum puas menggoda istrinya.


"Bang, serius ah. Kayak mau ngedot gitu." Khalisa menampol mulutnya sendiri.


"Jangan gitu, sini Abang kasih lagi sampai puas." Ghani menangkap tangan istrinya lalu mengusapnya lembut. "Sakit kalau dipukul Sayang."


Ghani sudah membungkam bibir manis Khalisa. Peraduaan napas itu tak membuat Khalisa kelelahan. Sungguh, istri Ghani ini sangat aneh.

__ADS_1


__ADS_2