Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
67


__ADS_3

Ketika ingin berangkat ke mesjid, Ghani melihat pintu kamar Anindi yang terbuka. Segera lelaki itu menghampiri. Tak ada orang di atas ranjang. Pintu itu selalu tertutup ada atau tidak ada orangnya, apalagi masih subuh begini. Ghani khawatir jika Anindi di culik lagi, tapi bagaimana mungkin penculik bisa masuk ke rumah ini.


Ghani melangkahkan kaki untuk memeriksa kamar mandi, namun terhenti ketika melihat dua orang yang meringkuk tidur di sofa. Dia geleng-geleng kepala, kalau Ayah Haris tau habislah sudah Tomi.


Tidak ingin membangunkan secara langsung karena itu akan membuat Anindi malu. Ghani kembali ke kamar menekan tombol dial pada nomor Tomi. Beberapa detik kemudian terdengar suara-suara serak dibalik telpon.


"Sudah puas tidur sambil berpelukannya? Sekarang bangun. Sampai ketahuan Papa kamu tidur di sana, habislah sudah." Setelah selesai mengomel Ghani meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Istrinya masih tertidur pulas.


"Tidur yang nyenyak Sayang, karena besok akan ada kabar yang membuatmu menangis lagi." Ucap Ghani sendu, setelah mengecup pipi Khalisa dia melanjutkan langkahnya ke mesjid.


Suasana meja makan hening, hari ini atmosfernya sungguh berbeda. Ghani sudah menghubungi mertuanya untuk datang tanpa sepengetahuan papa. Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga atas permintaan Ghani.


Tidak lama menunggu orang tua Khalisa datang. Bukan Khalisa yang melepas kangen. Melainkan Anindi yang menangis histeris dipelukan Nina. Semua orang heran, kecuali empat orang lelaki yang tertunduk lesu.


"Nin kenapa?" Tanya Khalisa bingung, karena tak ada angin tak ada hujan sepupunya yang begitu kuat itu menangis. Tidak mendapatkan jawaban dari Anindi, Kha menatap tajam pada empat orang yang sekarang tertunduk. "Apa yang kalian sembunyikan?" Teriaknya.


Kala tidak mendapatkan jawaban Khalisa kembali berteriak gusar. "Kenapa kalian diam?" Ghani menarik istrinya kepelukan untuk memberikan ketenangan, namun itu tak berarti. "Apa yang kalian sembunyikan dariku?" Teriaknya gusar.


"Kenapa Nin? Siapa yang menyakitimu?" Anindi semakin menangis histeris dipelukan Nina membuat Khalisa frustasi. "Tidak ada yang mau menjelaskan?"


"Tomi. Papa yakin kamu tau sesuatu!" Tembakan tepat sasaran, Tomi mengangkat wajah dengan mata yang memerah.


"Kemaren Nindi diculik Dhafi Pah, kita terlambat menyelamatkannya." Tomi tidak melanjutkan kalimatnya, dia yakin semua orang sudah paham kemana arah pembicaraan.


Ghani meringis, istrinya kembali terisak dalam pelukannya. Ditariknya napas panjang untuk melegakan dada yang ikut sesak setiap mendengar suara tangisan itu.

__ADS_1


Haris berulang kali beristigfar untuk meredakan kemarahannya. Tidak tanggung, sekarang dua orang putrinya yang dijadikan sasaran.


"Aku akan menikahi Anindi Yah, hari ini juga." Putus Tomi, kalimat itu tak mampu melegakan segala sesak yang sudah tercipta.


"Ini bukan salah kamu Tom, bukan kamu yang harus bertanggung jawab, tidak perlu melakukannya."


Tomi menggeleng. "Sayangnya aku harus melakukan itu Yah, agar Dhafi tidak bisa menyakitinya lagi. Itupun kalau Anindi bersedia."


Haris menghela napas berat sebelum akhirnya bersuara. "Bagaimana Nin, kamu mau?" Anindi menangguk, tidak ada pilihan lain bukan. Selain Dhafi, Tomi juga sudah melihat tubuhnya. Tadi malam pun mereka sudah tidur berdua. Allah pasti sangat marah dengannya, tak seharusnya lepas kendali seperti itu.


"Kamu mau mahar apa Nak, biar segera kami siapkan?"


"Apapun itu asal tidak memberatkan Pah." Jawabnya sambil terisak, wajahnya masih terbenam dalam pelukan Nina.


"Dunia kita itu terlalu kejam untuk mereka yang tidak mengerti Tom." Ghani berdiri di balkon kamar Tomi menatap langit cerah dengan awan biru. Hembusan angin yang menenangkan. Tomi tersenyum miring, ikut berdiri di samping Ghani.


"Bukan cara seperti ini yang aku inginkan untuk mendapatkannya Gha. Tidak adil untuknya aku mendapatkannya dengan kecurangan seperti ini."


"Dia berusaha kuat walau kutau hatinya pastinya sangat hancur sekarang. Setelah kehormatannya terenggut, sekarang hatinya pun harus aku renggut juga."


"Apa dia salah sudah mengenal keluarga kita?" Lanjut Tomi, Ghani menggeleng. "Dia justru akan tambah hancur kalau tidak mengenal keluarga kita Tom."


"Hadir atau tidaknya kita, mereka akan tetap mengincar putri-putri Ayah Haris. Itulah yang mereka inginkan sejak awal." Lanjut Ghani, lagi-lagi dia hanya bisa menghela napas dengan kasar untuk mengurangi segala sesak yang hadir.


"Kita atau mereka sebenarnya yang pantas disebut perenggut kebahagiaan." Tomi tersenyum mengejek, Ghani menggendikkan bahu.

__ADS_1


"Siapapun itu yang pasti sekarang tugas kita membahagiakan putri-putri Ayah Haris." Ghani menepuk punggung Tomi dua kali untuk memberikan kekuatan. Lalu mereka bergabung ke ruang keluarga membantu persiapan akad nikah Tomi dan Anindi nanti malam.


Anindi duduk di depan cermin ditemani Khalisa, meneliti kembali jejak-jejak yang ditinggalkan Dhafi tadi malam. Bukan pernikahan seperti ini yang diinginkannya. Dia ingin menikah dengan orang yang dicintainya. Tapi orang itu juga yang telah menghancurkan hidupnya.


Khalisa membantu mengompres kiss mark yang terlihat jelas di leher jenjang Anindi yang putih. Hatinya ikut sakit mengetahui apa yang terjadi dengan kakak sepupunya.


"Kenapa Dhafi sangat jahat Kha, setelah membuatmu kehilangan baby dia juga membuatku kehilangan kehormatanku." Lirih Anindi yang di dengar Khalisa, kalimat yang sangat memilukan. Khalisa hanya mampu menggeleng. Sakit kehilangan calon anaknya belum hilang, sekarang orang itu membuat sakit yang baru dengan menyakiti orang tersayangnya.


"Jangan meminta jawaban dariku Nin, aku tidak akan punya jawabannya."


Anindi menghentikan tangan Khalisa yang sedang mengompres lehernya. Dipeluknya tubuh yang sekarang lebih kurus itu. Meluapkan segala sakitnya, dia tau Khalisa pun tak kalah sakit dengan dirinya.


"Begitu sayangnya Allah denganku Kha, sehingga menunjukkan siapa Dhafi itu sebenarnya. Allah mengirimkan lelaki yang begitu baik menerimaku apa adanya. Tidak pantas untukku terus mengeluhkan?" Anindi menguatkan dirinya sendiri, ini sakit, sangat menyakitkan. Namun dia tak boleh menyalahkan takdir Allah.


Khalisa ikut menangis tanpa suara, membalas pelukan Anindi. "Aku tak sekuat kamu Nin." Lirihnya hampir tak tedengar dengan suara yang bergetar.


"Kamu kuat Kha, kamu sangat kuat. Kamu membuktikan kalau kamu sangat kuat dengan masih ada di sini sekarang." Suasana kamar menjadi sendu, hanya isak tangis yang terdengar. Perih dan sakit itulah gambarannya.


Dua orang lelaki yang sekarang berdiri di depan pintu hanya bisa mematung. Tidak akan pernah bisa mengerti sesakit apa yang dirasakan perempuannya itu.


"Kita akan sama-sama Nin, terus sama-sama." Khalisa tak sekuat Anindi yang masih mampu mengungkapkan kata-kata penyemangat saat hatinya sedang rapuh. Tak ada kata yang mampu diungkapkannya selain sesak.


Khalisa mengurai pelukannya saat menyadari suaminya ada di ambang pintu. Dia berlari memeluk lelaki yang sudah merentangkan tangan untuk menyambutnya.


Ghani mengangkat tubuh mungil itu sambil tersenyum, membawanya ke kamar. Memberikan ruang untuk Tomi bersama Anindi.

__ADS_1


__ADS_2