
"Masih susah gerak, Sayang?"
Ghani duduk di sisi ranjang sambil mengelus tangan kiri Khalisa. Luka di perutnya sudah lebih baik hari ini. Kondisi Khalisa lebih lambat pulih.
"Hu'uh," Khalisa mengangguk lemas. "Kenapa gak kayak di tv, habis di tembak langsung bisa lari, Bang." Curhatnya lemas.
Ghani mengusap kepala Khalisa gemas. "Itu cuma ada di tv, Sayang. Waktu bertahun-tahun dapat terlalui hanya dengan satu kalimat, sepuluh tahun kemudian." Ujarnya dengan kekehan.
"Bisa dong, ini lukanya disembuhkan dalam sekejap." Wanita hamil itu meringis melihat tangannya yang terbalut perban susah di gerakkan.
"Bisa, ayo masuk tv dulu." Ghani ikut nyeleneh. "Sarapan dulu biar cepat sembuh, nanti dokter datang buat periksa."
Istri Ghani itu menurut, makan disuapi suaminya. Baru satu suapan perutnya memberontak.
"Hoek... Hoek..."
Khalisa menahan mulutnya dengan tangan kanan. Ghani langsung panik bagaimana cara membawa istrinya ke kamar mandi dengan cepat.
"Ayo Abang bantu Sayang, pelan-pelan." Ghani menuntun Khalisa sambil memegang tiang infus. Tak tahan, perempuan hamil itu muntah di lantai.
Ghani memijat tengkuk Khalisa, "gak papa muntahin aja di sini." Katanya, lalu mengambil tissue untuk membersihkan mulut istrinya. Setelah selesai Ghani membawa Khalisa ke kamar mandi, membantu mencuci muka.
"Kamu pucat banget, Kha. Kita ke rumah sakit aja ya. Abang sudah baikan, bisa jagain kamu." Ujarnya sembari mengusap pelan wajah sang istri.
"Aku gak mau, mau di rumah aja." Rengek Khalisa dengan mata berkaca-kaca.
"Iya deh, di rumah aja." Putus Ghani akhirnya, tak bisa memaksa. Membawa Khalisa kembali ke tempat tidur. Tidak berapa lama art datang membersihkan bekas muntahan Khalisa.
"Lanjut makannya ya, Kha." Sendok berisi nasi menggantung di depan mulut Khalisa. Ibu hamil itu menggeleng sambil menutup hidungnya.
"Gak mau makan itu, baunya gak enak."
"Mbak, tolong bawa sekalian makanan ini ke bawah ya." Pinta Ghani pada art yang sudah selesai membersihkan lantai. "Ganti sup aja, sama bawakan buah-buahan," lanjutnya.
"Iya Mas." Art itu membawa semua makanan yang ada di atas nakas.
__ADS_1
"Mau makan apa?" Tanya Ghani lembut, tangannya mengelus sayang perut Khalisa.
Khalisa menggeleng, "mau peluk." Cicitnya, Ghani tersenyum kecil, naik ke atas tempat tidur memeluk istrinya hati-hati.
"Perut Abang sudah gak sakit?"
"Sudah lebih baik," jawabnya. Kalau sakit sih masih, tapi dia harus cepat sembuh agar bisa menjaga istrinya.
Tidak sampai dua puluh menit art datang membawakan sup dan buah segar. Ghani segera bangun dan membangunkan istrinya juga.
"Kha coba makan lagi ya, kasian dedek kalau Bunda gak makan." Bujuk Ghani, dia sudah menyiapkan kantong plastik kalau Khalisa muntah-muntah lagi.
"Iya," jawabnya diikuti anggukan kepala. Khalisa hanya bisa makan beberapa suap, setelahnya tidak bisa memasukkan makanan ke perutnya lagi. Kembali muntah-muntah.
Ghani menatap pilu kesayangannya yang lemas karena muntah berkali-kali. Mengecup lama di kening. "Kha, mau makan apa, Sayang?"
"Kha, gak mau makan."
Calon ayah itu menurut, membelai-belai kepala Khalisa. "Ya sudah, kalau Kha mau makan sesuatu bilang ya." Lagi-lagi, Ghani tidak bisa memaksa, semakin dipaksa istrinya akan semakin tersiksa karena terus muntah.
"Ini resep untuk pereda mual dan vitamin," ujar sang dokter setelah selesai melakukan perawatan. Ghani mengucapkan terimakasih, kemudian dokter itu pergi diikuti Tomi.
Beberapa waktu kemudian Tomi datang kembali membawakan obat yang baru ditebusnya. Memberikan pada Ghani yang masih setia duduk di sisi istrinya. "Minum dulu obatnya Kha."
"Thanks Tom," Ghani membuka beberapa butir obat, meminumkannya pada Khalisa. "Kalau perutnya sudah lebih tenang kita makan lagi ya."
Khalisa mengiyakan dengan anggukan kepala. Kembali menyandarkan tubuh pada bantal yang disusun setinggi punggungnya setelah selesai minum obat. Tidak berapa lama wanita hamil itu tertidur. Mungkin karena lemas jadi cepat tertidur.
"Sudah ketemu Dev?" Tanya Ghani usai membenarkan posisi tidur Khalisa.
"Gue gak ngerti jalan pikirannya, dia mau tidur sama gue karena yakin gue gak akan melakukan. Gimana jadinya kalau gue beneran khilaf waktu itu."
Tomi memijat pelipisnya yang sama sekali tidak sakit. Dia hanya pusing dengan otaknya yang tak mau berhenti memikirkan Anindi.
"Lalu sekarang lo mau gimana?" Ghani sudah memasang earphone di telinga Khalisa, agar kejadian kemaren tidak terulang. Istrinya itu bisa usil, menguping pembicaraan.
__ADS_1
"Ya gak gimana-gimana. Emang gue harus gimana?" Tomi tersenyum, mengejek dirinya sendiri.
"Ya barang kali mau berjuang lagi, gue gak tau apa mau lo. Gue bukan peramal cinta."
"Gak akan ada habisnya bahas cinta, Gha. Terserah saja lah. Dari dulu memang gue selalu ditinggalin orang yang gue sayang." Ingatan Tomi mengawang pada kedua orang tuanya yang telah lama pergi.
"Kita tidak tau kapan takdir bahagia datang. Mungkin selangkah lagi, atau beberapa langkah di depan. Atau bahkan mungkin masih jauh. Tapi, ketika kita berhenti, bukankah akan semakin menunda takdir bahagia itu datang."
"Setelah hujan akan terbit pelangi. Begitu juga kesedihan Tom, tidak ada rumus mutlak orang yang hari ini menderita besok akan tetap menderita. Lo harus tetap melangkah sesulit apapun keadaannya."
"Gue lelah Gha." Lirih Tomi, orang sekuat Tomi ternyata bisa rapuh juga.
Ghani beranjak duduk ke samping sepupunya dengan hati-hati. "Kalau lelah istirahat, lo mau tetap memperjuangkan Nindi atau membuka hati untuk orang baru, itu cuma lo yang bisa menentukan. Asal jangan berhenti melangkah dan menyakiti diri sendiri." Katanya sembari menepuk punggung Tomi.
"Jangan terjebak dengan wajah Nindi yang ada pada diri Kha. Lo bakalan tambah lelah," lanjut Ghani mengingatkan. Bukan sebab cemburu, dia hanya ingin sepupunya itu tetap melangkah, tidak terkungkung pada masalalu yang menyakitkan.
"Gue bahkan gak tau apa yang hati gue mau Gha, gue bingung."
Wajah putus asa sangat nampak di sana. Orang lagi patah hati atau jatuh cinta memang susah untuk di nasehati. Ghani berdecak pelan, ikutan bingung mau bicara apa lagi.
"Lo gak balik ke kantor?"
"Balik nanti kalau gak malas."
Ghani geleng-geleng kepala, orang galau ternyata semenyedihkan itu. Apa dia dulu lebih parah dari Tomi, memalukan sekali kalau mengingat itu.
"Lo ngapain kek yang bisa ngalihin galau lo itu," saran Ghani.
"Gue kerja Gha, gue kerja gak nganggur." Tomi berdecak kesal, Ghani menggaruk tengkuknya salah ngomong dia.
"Maksudnya cari hal yang menyenangkan, bukan cuma kerja. Nanti kepala lo bisa meledak kalau kebanyakan kerja."
"Ya tidur."
Ya salam, Ghani ingin membenturkan kepala ke tembok. Biar tembok tau, kalau dia tidak bisa menangani orang yang sedang dilanda galau.
__ADS_1
"Ya sudah, tidur sana. Lo jadi nambahin pikiran gue." Decaknya, lama kelamaan dia juga kesal dengan tingkah Tomi.