Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
138


__ADS_3

Sepulangnya Ghani dan Khalisa, Tomi mendekati Anindi kembali. "Aku cariin art buat nemenin kamu di sini ya?"


Anindi menggeleng, "aku mau kamu. Aku capek gak bisa tidur setiap malam." Adunya dengan mata berkaca-kaca, saat ini dia ingin menangis sepuasnya.


Tomi tersenyum bahagia. Semoga Anindi sadar dengan apa yang diucapkannya, tidak sedang ngelantur. Lelaki itu mengambil mangkok lalu meletakkan di atas nakas. Kemudian membawa tubuh perempuannya itu dalam pelukan.


"Kalau mau nangis-nangis aja dulu." Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara sesenggukan. "Kamu gak dipaksa kuat buat menghadapi semua orang, kalau kamu capek bilang." Tomi memberikan usapan lembut di punggung Anindi.


"Terimakasih sudah peduli sama aku, Mas." Lirih Anindi dengan suara yang hampir tidak terdengar.


"Aku akan selalu ada saat kamu butuh, kamu selalu punya tempat di hati aku." Lelaki itu mengangkat dagu Anindi lalu menyeka air mata yang ada di sana.


"Kamu serius mau aku, Nin?" Tanya Tomi memastikan kembali.


Sepupu Khalisa itu mengiyakan dengan anggukan.


"Makasih Sayang, aku akan nikahin kamu malam ini juga. Aku akan jagain kamu, kamu gak perlu obat tidur lagi biar bisa tidur dengan nyenyak." Ujar Tomi sambil menggoda, dia tidak suka melihat perempuannya yang kuat ini menangis. Tangis itu membuat Tomi merasa gagal menjaga orang yang sangat dia sayangi.


Anindi hanya menjawab dengan senyuman. Tomi mengambil obat dan air putih di atas nakas. "Kamu minum obat lalu istirahat lagi. Biar aku siapin semuanya."


Perempuan itu menurut, meminum obat kemudian berbaring kembali. Dia cuma mengungkapkan kalimat itu, namun beban hatinya yang berminggu-minggu ini hilang. Terasa sangat lega sekarang.


Tomi tak berhenti tersenyum menatap perempuan tersayangnya yang terbaring dengan pucat. Mimpi apa dia semalam jadi Anindi mau menikah dengannya lagi.


Dia akan memberikan kejutan untuk keluarganya nanti malam. Perempuan yang sudah merenggut kewarasannya ini akhirnya mau menerimanya juga.


"Gak bisa tidur," lirih Anindi. Setelah cukup lama memaksa matanya untuk terpejam, namun tak bisa terlelap juga. Tomi ikut berbaring di samping perempuan itu lalu memeluknya dengan erat.


"Kamu itu sudah kecanduan sama pelukanku makanya gak bisa tidur kalau gak dipeluk." Goda Tomi, Anindi tak menyahut. Kenyataannya memang begitu, dia menyamankan diri dalam pelukan Tomi dengan memejamkan mata. Aroma tubuh Tomi membuatnya tenang.


Tomi berjanji akan selalu menjaga perempuan yang sudah susah payah untuk dia dapatkan ini. Deru napas Anindi mulai teratur dalam pelukan Tomi, perempuan itu sudah tertidur.


"Semudah itu membuat kamu tidur. Kalau ada di samping aku, kamu gak butuh obat tidur." Gumam Tomi pelan seraya mengusap dengan sayang kepala Anindi.


Rasanya Tomi tidak ingin berpisah barang sedetik dengan kesayangannya ini. Dia seperti anak abg yang baru tau rasanya jatuh cinta.

__ADS_1


***


"Papa ngundang siapa sih, banyak tamu di depan?" Tanya Guntur ikut bergabung saat semua orang sedang berada di ruang tengah. Walau cuma dia seorang yang tak memiliki pasangan di rumah ini.


"Gak ada, Papa gak punya tamu. Tamu Ghani kali." Jawab Emran santai sambil memomong Airil yang anteng duduk di pangkuannya.


"Assalamualaikum."


Belum sempat Ghani menjawab, suara salam membuat semua yang ada di ruangan menoleh. Mereka serentak menjawab salam sambil keheranan. Tomi datang bersama Pak Penghulu. Tidak berapa lama tetangga juga berdatangan.


"Siapa yang mau nikahan, Tom?" Ghina tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Kalau ada penghulu pasti ada yang mau nikah kan, pikirnya.


"Gue!" Tomi menunjuk dirinya sendiri sambil tersenyum.


"Tom lo masih sehat kan? Mau nikah sama siapa, ngapain manggil penggulu dan tetangga." Guntur berdecak, Tomi tidak stres gara-gara ditinggal Anindi kan.


"Papa sama Mama mau merestui Tomi nikah lagi?" Lelaki itu menatap Emran dan Mira bergantian.


"Bukan nggak mau merestui, tapi kamu mau nikah sama siapa? Pernikahan tidak bisa terjadi tanpa mempelai perempuan."


"Aku cuma mau nikah lagi Pah." Ucap Tomi sendu, Emran memeluk pemuda yang berdiri di depannya.


"Iya, nanti kamu nikah lagi setelah Papa nyariin perempuan yang bisa kamu nikahin ya." Bujuk Emran khawatir, anaknya ini pulang-pulang minta nikah.


"Aku mau nikah sekarang, Pah." Tegas Tomi membuat semua orang syok di tempat. Mau nikah sama siapa kalau mempelai perempuannya tidak ada? Dalam otak mereka kalimat itu berputar-putar.


"Mohon maaf Pak, Bu, tidak ada pernikahan di sini. Sepupu saya ini sedang patah hati, jadi kelakuannya begini." Ucap Ghani sopan pada penghulu dan tetangga yang datang. Para tetangga yang datang mendesah kecewa.


"Jangan ada yang meninggalkan tempat ini," tegas Tomi pada penghulu dan tetangga di sana.


Mira mendekati putranya, "Sayang, kamu kenapa? Jangan buat Mama sedih." Ujarnya dengan air mata yang sudah menggantung di pelupuk mata. Apa yang sudah Tomi alami sampai jadi seperti ini.


"Mama gak boleh sedih, harusnya Mama bahagia Tomi mau nikah lagi." Lelaki itu memeluk Mira dengan penuh kasih sayang. Dia ingin tertawa puas melihat semua orang menganggapnya gila. Untung dia sudah mengajak kerjasama penghulu dan para tetangga.


"Walau kamu gak nikah, Mama tetap bahagia Sayang." Ujar Mira sambil mengelus kepala Tomi.

__ADS_1


"Tapi aku mau nikah malam ini juga Mah," lirih Tomi pelan.


"Sama siapa, Sayang?" Mira menangkup wajah Tomi dengan penuh ke khawatiran.


"Anindi." Jawab Tomi lantang sambil tersenyum bahagia.


"Tom, lo jangaan gila ya. Nanti siapa yang jagain gue kalau lo gila." Ujar Ghina dramatis, dia pusing dengan keluarganya ini. Banyak sekali masalah. Jangan sampai dia jadi ikutan gila juga.


"Hm, sini. Lama gak peluk kan?" Panggil Tomi pada adik sepupunya yang sangat usil. Ghina memberikan putranya pada sang suami lalu menghambur ke pelukan Tomi.


"Lo gak boleh gila. Gak boleh," desis Ghina.


"Gak ada yang gila, Sayang. Nggak malu diliatin orang." Ghina menggeleng tidak mempedulikan tatapan orang lain.


"Nanti kita cari Anindi yang lain ya," bujuknya pada Tomi.


Sekarang Tomi yang menggeleng, "hanya ada satu Anindi yang kuinginkan di dunia ini." Jawabnya tanpa ragu.


"Tapi dia tidak ditakdirkan untuk kamu, Tomi!" Ujar Ghani lantang, sepupunya ini tidak bisa dilembutin.


"Gue cuma mau Nindi Gha, mau Nindi!" Seru Tomi tidak kalah lantang.


"Eh, kalian kenapa jadi bertengkar? Ini jadi nikah gak, atau batalin aja. Kasian Pak Penghulu nonton drama kalian." Tegur Nina yang tidak tahan menyaksikan dari tadi. Dia sudah puas tertawa tanpa suara di luar.


"Ibu, jadi Tomi nggak gila?" Tanya Khalisa antusias. Dia sedari tadi diam saja tidak berani ikut campur.


"Siapa yang gila sih," Tomi menepuk kepala Khalisa gemas sambil tertawa.


Anindi masuk ke rumah sudah rapi dengan kebaya putihnya dituntun Haris. Semua orang dibuat cengo.


"Lo jangan bikin kita yang gila dong, malu tau jadi tontonan." Guntur berdecak meninju bahu Tomi kesal. Si empunya malah tertawa dengan sangat bahagia karena berhasil memberikan kejutan untuk keluarganya.


"Sekarang Mama sama Papa ngerestuin nggak kalau Tomi nikah malam ini. Kalau enggak Pak Penghulu mau pulang nih," goda Tomi jahil menyambut Anindi dan menggenggam tangannya dengan erat.


Emran dan Mira mengangguk antusias. Tomi sudah menyiapkan jamuan untuk acaranya. Jadi tidak perlu menyiapkan apapun lagi.

__ADS_1


__ADS_2