
"Abang mau meetingkan. Aku nengokin Nindi dulu ya." Izin Khalisa sebelum dia melanglang buana ke alam imajinasi.
"Masih ada setengah jam, Sayang. Abang temani," ujar Ghani setelah melirik jam yang melingkar di tangan.
"Cuma kamar sebelah loh. Nggak bakalan ada yang nyulik aku, Abang." Khalisa memutar bola mata jengah, masa bertamu ke kamar tetangga juga harus diawasi.
"Abang cuma mau ikut, masa gak boleh Kha?"
"Boleh-boleh. Nggak ada yang larang Abang keliling di rumah sendiri," omel Khalisa kesal.
Ghani menggaruk kepala bingung. Apa salahnya jadi kena omel. "Ya udah Abang langsung meeting aja deh," putusnya untuk menghindari perdebatan.
"Kok ngambek?" Khalisa melotot tajam pada sang suami.
"Nggak ada yang ngambek, Sayang." Ghani mengelus dada, kelakuan istrinya ini bisa jadi ladang pahala. Dia disuruh istighfar tanpa henti.
"Kalo gak ngambek ayo temani." Khalisa menarik tangan Ghani, punya istri rada-rada aneh ya harus sabar.
Tanpa permisi dua orang itu masuk ke kamar Anindi. Pemilik kamarnya sedang duduk santai di balkon.
"Udah bisa bangun Nin?"
Ghani menyembunyikan tawa, orang sudah duduk tegap begitu, masa masih ditanya. Istrinya ini ada-ada saja.
"Abang pasti mau nertawain aku kan?" Tuduh Khalisa cemberut, Ghani membulatkan mata. Anindi dan Tomi sudah terkekeh geli.
"Ngapain juga kamu tanya Nindi udah bisa bangun, Sayang. Orangnya itu sudah bisa duduk noh." Ghani menujuk si empunya yang menatap mereka heran.
__ADS_1
"Ih, Abang ngeselin!" Khalisa menghentak-hentakkan kaki kesal.
"Sayang, Sayang. Hati-hati, ini perut ada dedek loh." Ghani mengelus-elus perut Khalisa, khawatir anaknya langsung brojol.
"Mampus, cari aja masalah terooss!" Tomi tertawa mengejek.
"Kha, Sayang. Maafin Abang ya." Ghani memeluk Khalisa seraya mengusap-usap di punggung untuk menenangkan. Netranya menatap tajam Tomi yang tertawa puas.
"Abang ngeselin!"
"Maafin Abang udah nakal sama Kha." Ujar Ghani mengalah, membantah Khalisa sama saja minta drama pagi diperpanjang.
"Abang mau meeting Sayang, ayo kita ke ruangan."
Khalisa langsung menurut. Ghani harus pintar mengatasi istrinya yang pura-pura merajuk ini.
Anindi sampai geleng-geleng kepala. "Kha cuma ngerjain Ghani, Mas?" Tanyanya tidak percaya pada keusilan adiknya itu.
"Iya, sengaja dimanja-manjain aja." Tomi menanggapi dengan kekehan.
"Kha udah gak marahkan sama Mas?" Anindi menatap netra teduh suaminya.
Tomi mengendikkan bahu, "mungkin. Tapi kalau masih marah dia gak mungkin mau lihat aku kan."
"Kha pasti sudah maafin, Mas." Ucap Anindi yakin, dia sangat kenal adiknya itu seperti apa.
Tomi menarik kepala Anindi dalam pelukan, "kalau kamu sudah maafin Mas?"
__ADS_1
"Maaf untuk yang mana?"
"Salah Mas banyak banget ya, sampai pertanyaannya begitu." Tomi terkekeh kecil seraya mengusap pipi Anindi dengan jempolnya.
"Justru aku gak tau salah Mas yang mana, kayaknya aku deh yang banyak salah sama Mas." Anindi menahan telapak tangan Tomi di pipinya. Hangat, seperti hatinya yang menghangat karena perlakuan Tomi.
Tomi menggeleng, menatap dalam netra Anindi. "Maafin Mas belum bisa jadi laki-laki yang baik buat kamu. Mas belum punya cukup ilmu buat membimbing kamu. Maafin Mas yang malah mengajak kamu berbuat maksiat."
Dia menyesali semua kebodohan yang telah dilakukannya pada Anindi. Menyesal telah melanggar prinsipnya sendiri.
"Kita belajar sama-sama. Aku juga bukan orang baik." Anindi mengecup telapak tangan Tomi yang masih digenggamnya.
"Aku mau cari yang gimana lagi, kalau kamu yang paling ngerti aku. Aku yang terlalu egois selama ini sampai gak bisa lihat kamu yang selalu berjuang untuk aku." Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca, hanya Tomi yang selalu ada disaat dia terpuruk.
"Makasih sudah ngasih cinta kamu buat Mas, Sayang."
Anindi mengangguk. "I love you," ucapnya malu-malu dengan pipi memerah.
"Kamu gak pernah bilang cinta?" Tanya Tomi gemas. Anindi menggeleng. "Pantas aja gengsian banget, sama Dhafi?" Tanyanya penasaran.
Lagi-lagi Anindi menggeleng, "gak pernah bilang. Cuma dirasain," cicitnya pelan.
Tomi mengusap kepala Anindi dengan penuh kasih sayang. Wajar kalau perempuannya ini sulit untuk membuka hati, harga dirinya terlalu tinggi.
"Mulai sekarang apapun yang kamu rasain bisa ungkapin sama Mas. Mau marah, sedih, takut atau bahagia. Jangan dipendam sendirian, belajar terbuka dengan diri sendiri. Sebelum memperhatikan orang lain, kamu harus memperhatikan diri sendiri dulu."
"Terimakasih Mas Tomi," Anindi membenamkan wajah di dada bidang lelakinya.
__ADS_1
"Sama-sama, Sayang." Mulai sekarang dia akan menjaga Anindi dengan lebih baik. Memberikan semua yang perempuannya ini butuh, terutama kasih sayang dan perlindungan.