Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
74


__ADS_3

"Coba lihat Guntur." Sontak semua mata menatap Guntur, "Guntur memang belum berumah tangga, tapi dia diuji dengan mengurusi masalah yang kalian miliki. Apa itu adil menurut Guntur?"


"Gak." Teriak Guntur semangat.


"Begitulah, Guntur merasa itu tidak adil. Tapi bagi Ghani, Guntur itu cukup beruntung karena tidak harus tertimpa masalah seperti yang dia alami." Semua terdiam, "bukan begitu Guntur?"


"Ya, aku bahkan tidak tau apa yang harus kulakukan jika semua itu terjadi padaku."


"Alright, anak pintar." Dimas berjalan mendekati Guntur dan menepuk bahunya gemas.


"Tidak ada siapa yang lebih tangguh atau lemah, kita akan bersama-sama menuntaskan semua ini." Zaky menutup laptopnya meletakkan di meja dekat sofa.


"Betul bro, sedih seperlunya. Jangan sampai kesedihan itu menjadi celah musuh untuk menghunuskan pedangnya kembali." Tambah Dimas, kedatangan Dimas sangat berguna untuk membooster kembali semangat Ghani.


"Sudah bicara sama Papa, Tom?" Tomi menggeleng, "Papa ikut ke rumah sakit Gha belum sempat bicara, bentar lagi dzuhur. Setelah ini kita berpencar, Guntur tetap di rumah. Lo sama Zaky ke rumah sakit Gha. Kalau Lo mau langsung pulang Dim?" Tomi melirik Ghani kemudian berpindah ke Dimas.


"Ikut ke rumah sakit bentar baru balik." Jawab Dimas, setelah menunaikan sholat dzuhur mereka mengambil peran sesuai yang sudah direncanakan Tomi. Ghani, Dimas dan Zaky meluncur menuju rumah sakit.


Dimas menyapa orang tua Ghani dan saling bertukar kabar. Juga berkenalan dengan orang tua Khalisa. Dimas merupakan teman kuliah Ghani, jadi dia kenal dekat dengan Ghani. Sampai bekerja, walau beberapa tahun terakhir mereka jarang bertemu tapi masih sering bertukar kabar.


Ghani tersenyum menatap istrinya dari balik pintu kaca. Tetap berjuang sayang jangan pernah menyerah untuk memperjuangkan napasmu.


"Gha." panggil Mira, Ghani bergabung bersama keluarganya. Hatinya miris menatap pemandangan yang tidak diinginkan itu. Ghani duduk di samping sang mama, memeluk tubuh yang sudah tidak muda lagi itu dengan erat. "Kha pasti kuat, kamu juga harus kuat ya." Ghani menangguk.


"Aku pasti kuat Mah, aku tidak akan membiarkan Kha berjuang sendirian." Ghani membenamkan wajahnya dalam pelukan Mira. Berada dalam pelukan mama membuat Ghani merasakan ketenangan. Kasih sayang seorang ibu tak pernah luntur walau anak-anaknya sudah memiliki kehidupan masing-masing.

__ADS_1


Para dokter berdatangan memasuki ruang ICU tempat Khalisa terbaring lemah. Ghani melepaskan diri dari pelukan Mira. Dia berlari menuju pintu ruang ICU, mencegat dokter yang mau masuk.


"Apa yang terjadi dok?" Tanya Ghani dengan gemetar, pikirannya tak karuan, hatinya sedang kacau. Apa yang terjadi pada Kha, istrinya sedang baik-baik sajakan? Ghani berusaha meyakinkan hatinya.


"Pasien kritis, mengalami cardiac arrest atau henti jantung." Jawab sang dokter kemudian menutup pintu, Ghani membeku, jantungnya mencelos. Air matanya mengalir deras. Menatap para dokter yang sibuk memberikan penanganan.


"Sayang, jangan bercanda seperti ini. Jangan nakal, kamu membuatku ketakutan." Kedua telapak tangan Ghani menempel di kaca, keningnya juga ikut menempel. "Sakit Sayang, jangan seperti ini. Jangan tinggalkan Abang sendirian." Siapapun yang mendengarnya akan meringis, ikut terluka.


"Berjuang Kha, berjuang. Jangan berhenti memperjuangkan detak jantungmu. Kami menunggumu di sini, kami menunggu kamu pulang Sayang."


Zaky mendekati Ghani menepuk punggung pria itu untuk memberikan kekuatan, tidak ada yang tega mendekat. Semua yang menyaksikannya ikut menangis.


"Kha tidak akan pergi sekarangkan Zak? Kha akan berjuangkan? Kha tidak akan meninggalkan ku pergikan Zak? Jawab Zaky. Jawab?" Lirih suara Ghani hampir tak terdengar terserbu isak tangis yang sangat menyakitkan. Zaky tak berani menjawab, dia tidak tau jawabannya apa.


"Kenapa Kha tega seperti ini padaku, aku sudah berubah Zak, aku sudah mencintainya sungguh-sungguh. Tapi dia malah ingin pergi dariku." Zaky menggeleng, matanya sudah memerah sebentar lagi air yang tertampung sempurna itu akan terjatuh.


"Lihat Zak, menatapku pun bahkan dia tak mau lagi. Matanya terus terpejam."


"Kha akan bangun Gha, Kha akan bangun, Kha akan membuka matanya kembali untukmu." Entah kekuatan dari mana Zaky mengatakan itu. Menarik Ghani kepelukannya, tubuh kekar yang sekarang sangatlah rapuh. "Kha akan terus berjuang untukmu Gha."


Satu jam berlalu para dokter masih sibuk menangani Khalisa. Ghani tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di dalam. Keinginannya sangat kuat untuk bisa menerobos masuk ruang ICU. Satu jam tidak bertemu gadisnya, dia sangat rindu, bagaimana sekarang.


Dari balik kaca terlihat para dokter bernapas lega kemudian satu persatu meninggalkan ruangan. Ghani mencegat dokter pertama yang membuka pintu.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok? Dia masih bernapaskan?" Dokter wanita itu tersenyum lalu mengangguk. "Alhamdulillah pasien berhasil melewati masa kritisnya. Dia seperti memiliki semangat yang kuat untuk berjuang."

__ADS_1


"Alhamdulillah." Ghani menarik napas lega, "dia selalu punya alasan untuk bertahan." Gumamnya sambil tersenyum. "Aku menunggumu bangun Sayang, aku menunggumu tersenyum lagi padaku."


Khalisa masih belum bisa ditemui kata sang dokter kondisinya masih sangat lemah. Dia bisa melewati masa kritis saja sudah sebuah keajaiban. Ghani menunggu istrinya membuka mata dari balik layar ponsel. Ya Zaky berhasil memasang cctv di ruangan itu hanya untuknya.


Zaky yang memiliki tanggung jawab mengelola rumah sakit swasta ini dibantu paman Rizal ayah Guntur. Hotel Emeral dan Emeral Hospital dibawah pengawasan Zaky.


"Apa saat tidak sadar seperti itu dia juga merasakan sakit Zak?" Ghani menunjukkan layar ponselnya pada Zaky.


"Pasti Gha, organnya masih berfungsi." Malam ini Ghani menunggu Khalisa ditemani tiga pria tampan. Siapa lagi kalau bukan Tomi, Guntur dan Zaky.


Malam sudah semakin larut, mata Ghani enggan terpejam masih setia menatap layar ponselnya. Berbeda dengan Guntur yang sudah tidur dengan dengkuran khasnya. Tomi menyenggol Zaky dengan siku saat ada dua orang berpakaian dokter berjalan di depan mereka menuju ruang ICU.


"Zak, malam begini masih ada kunjungan kah, kalau pasien tidak kritis?" Zaky mengikuti arah mata Tomi memandang, sama seperti Tomi dia juga heran setaunya tidak ada.


Zaky merebut ponsel Ghani mengamati dua dokter yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Wajahnya tertutup masker.


"Oh shitt Tom, mereka membius suster yang jaga." Zaky melempar ponsel ke tangan Ghani, "biar aku yang masuk kalian tunggu di luar." Zaky berlari masuk ke ruang ICU menangkap tangan perempuan yang ingin melepaskan oksigen Khalisa. Dicengkramnya dengan kuat tangan itu lalu menekan tombol emergency.


Ghani mengepalkan tangan kuat, rahangnya mengeras. Dia benci orang yang dengan berani ingin menyakiti miliknya. Kakinya melangkah cepat masuk ruang ICU menghajar dokter laki-laki yang baru selesai membius suster.


Dengan satu bogeman mentah Ghani dokter gadungan itu terhuyung. Tomi datang menyeret orang itu, mengisyaratkan pada Ghani agar tidak membuat keributan dalam ruangan.


Tiga dokter datang saat mereka melumpuhkan dua dokter gadungan. Dokter langsung memeriksa keadaan Khalisa. Syukur mereka datang tidak terlambat, telat sedetik saja nyawa Khalisa bisa melayang.


Ghani menarik kasar masker dua orang yang sekarang berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Bajing*n kalian." Umpat Ghani saat mengetahui siapa orang yang berada di balik masker. "Masukkan mereka ke penjara bawah tanah, biarkan membusuk di sana." Ucap Ghani dingin dengan tatapan tajam, kalimatnya penuh penekanan. "Biarkan mereka puas bermain-main denganku." Ghani menerbitkan senyuman miring yang menyeramkan.


"Kalian terlalu berani datang ke sini, padahal aku belum mengajak kalian bermain." Wajah dua orang dihadapannya pucat pasi dengan tubuh gemetar. Tidak ada kalimat yang keluar untuk membela diri dihadapan Ghani. Tak ada perlawanan, mencurigakan sekali.


__ADS_2