Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
60


__ADS_3

"Abaaang, sakiittt!" Ringis Khalisa.


Baru Ghani ingin ikut terlelap, istrinya meringis kesakitan. Lelaki itu menegakkan badannya melihat sang istri yang sudah memucat. Keringat seperti biji jagung berjatuhan dari wajah cantik itu.


"Sakiitt Bang." Rengek Khalisa sambil meringis menahan nyeri di perutnya.


"Sayang apa yang sakit?"


Ghani menjadi linglung melihat istrinya yang terus meringis memegangi perut. Dia berteriak memanggil ayah dan ibu mertuanya. Lalu menggendong perempuan hamil itu menuruni tangga, berpapasan dengan mertuanya.


"Kha kesakitan Bu." Teriak Ghani, Haris bergegas mengambil kunci mobil, sedang Nina sudah mengekorinya di belakang. "Sayang apa yang kamu rasakan?"


"Sakit banget Bang!" Khalisa terus merintih kesakitan.


"Sabar Sayang. Tunggu Ayah sebentar." Haris membukakan pintu mobil. Kemudian melajukannya dengan kecepatan penuh menuju Emeral hospital, setelah Ghani masuk dikursi belakang memangku istrinya yang memucat. 


"Bertahan Sayang."


Ghani menepuk-nepuk pipi Khalisa yang sudah dibanjiri keringat dengan mata terpejam. Ini mengingatkan Ghani kejadian di mana Khalisa koma selama dua hari.


"Sayang bertahan."


Hatinya sudah tidak karuan, campur aduk dengan keadaan istrinya yang hilang kesadaran. Tak merespon, Ghani terus memanggil namanya agar tetap terjaga.


Dua puluh menit waktu yang ditempuh menuju rumah sakit, Haris memarkirkan mobilnya. Ghani berlari membawa istrinya menuju ruang IGD agar segera mendapat tindakan.


Para perawat yang menyambut, meminta Ghani menunggu di luar kemudian mereka membawa masuk Khalisa. Ghani tak berhenti mondar-mandir menunggu kabar istrinya. Semoga hanya sakit perut biasa, rintihnya dengan cemas.


"Anda suami Ibu Khalisa?" Tanya seorang dokter perempuan yang baru keluar dari ruangan itu, Ghani mengangguk. "Maaf kami tidak bisa menyelamatkan janinnya. Istri Anda keguguran, kami sudah melakukan tindakan." Ucap dokter muda yang bernama Hira itu.


"Apa? Keguguran?" Ghani setengah berteriak. Hatinya seperti diremas-remas. Janin yang mereka jaga dengan baik. Ghani tidak bisa mempercayai semua ini, itu tidak mungkin. Semua ini pasti ada kesalahan.

__ADS_1


"Benar Pak, Ibu Khalisa sudah mengkonsumsi obat penggugur kandungan, kami tidak sempat menyelamatkan janinnya karena sudah terlambat." Dokter Hira kembali menjelaskan.


"Obat penggugur kandungan? Itu tidak mungkin dok, saya selalu bersamanya. Dia tidak pernah mengkonsumsi obat apapun." Teriak Ghani, Haris mendekati menantunya. Menenangkan Ghani dengan menepuk-nepuk pundaknya. Dokter muda itu tidak menjelaskan apapun lagi meninggalkan pihak keluarga pasien.


Khalisa sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP, keluarga Ghani juga sudah dikabari mereka sedang dalam perjalanan. Ghani berusaha menenangkan istrinya yang tidak berhenti menangis. Menghapus bekas air matanya agar Khalisa tidak tambah merasa bersalah.


"Sayang, kamu minum obat apa tadi?" Tanya Ghani pelan agar istrinya tidak tersinggung dan meraung karena merasa tertuduh.


"Aku tidak minum obat apa-apa Bang." Sahutnya dengan suara parau—menyayat hati. Mira datang ikut menangis dipelukan Khalisa. "Mama, aku tidak membunuh bayi ini." Ucapnya di tengah isak tangis. "Aku tidak melakukannya," Khalisa menggeleng-gelengkan kepala.


"Mama tau Sayang, kamu tidak mungkin melakukannya. Mama tau ini bukan salah menantu Mama, ikhlaskan ya Sayang."


"Terakhir Kha makan apa?" Selidik Guntur dengan serius, setelah menarik Ghani menjauh dari brankar Khalisa.


"Dia cuma makan cheese cake dari Anindi." Jawab Ghani.


"Cheese cake dari Anindi?" Tomi ikut mendekat, "kapan kamu membelinya Gha, siapa tau kada luarsa."


"Sejak pulang dari rumah mama, cake sudah ada di rumah, mungkin Anindi mengirimnya untuk Kha. Baru beberapa hari yang lalu kami ke tempat Nindi, dia tau Kha sangat suka itu."


"Tidak makan apa-apa, selain makan siang bersama di rumah mama." Ujar Ghani, sambil mengingat-ingat. Khalisa tak pernah jauh darinya, saat keluar pun selalu didampinginya.


"Ada yang aneh?" Komentar Emran yang masih menyilangkan tangan di depan dada mencerna pembicaraan anak-anaknya.


"Bu, siapa yang mengantar cake itu?" Haris ikut bicara, saat merasakan ada yang tidak beres. Kejadian yang dialami anaknya sangat mustahil hanya karena sepotong cheese cake.


"Ojol, pesannya untuk Khalisa dari Anindi." Jawab Nina yang sudah pias. Haris manggut-manggut mengambil ponsel menghubungi keponakannya.


Wajahnya mendadak berubah setelah mengakhiri panggilan telpon. Nampak kemarahan yang menyelimuti Haris, entah berita apa yang baru didapatkannya.


"Ada yang sedang main-main denganku." Haris mendekati putri yang tak berhenti menangis. "Sayang, Ayah pasti akan bikin perhitungan pada mereka. Jangan menangis lagi." Haris mengusap air mata putrinya dan mencium di kening kemudian meninggalkan kamar diikuti Emran, Tomi dan Guntur.

__ADS_1


"Mama!"


Ghani masih betah berada dalam pelukan Mira yang duduk di sofa sampingnya. Istrinya sedang ditemani ibu mertua.


"Itulah kenapa aku tidak mau tinggal di sini Mah, selalu Kha yang jadi sasaran. Kami sudah bahagia tinggal di sana."


Suara yang bergetar itu masih terdengar di telinga Khalisa. Air matanya semakin merembes. Nina tak bisa bicara, hanya mengusap kepala putrinya berkali-kali agar lebih tenang.


Ghani bisa menjadi lelaki yang sangat lemah ketika bersama sang mama, hatinya sungguh sangat lembut. Juga bisa menjadi sangat menakutkan ketika berhadapan dengan orang luar. Mira tak menjawab, hanya terdengar suara sesenggukan.


Emran kembali ke kamar rawat bersama Haris. Mereka sudah selesai berbincang dengan Tomi dan Guntur. Dua anak muda itu melakukan tugasnya masing-masing.


Tomi membawa mobilnya melaju ke toko Anincake meninggalkan area rumah sakit, sedang Guntur kembali ke kantor. Masalah dikantor akhir-akhir ini tak kalah rumitnya.


Anincake ditempuhnya dalam waktu lima belas menit. Gadis yang akan dijemput Tomi itu sudah siap setelah dikabari Haris. Mereka menuju kediaman Haris untuk mengambil sisa cake yang dimakan Khalisa.


"Siapa saja yang membeli cheese cake hari ini?" Selidik Tomi, sambil mencuri pandang kecantikan gadis disampingnya. Ada kupu-kupu yang beterbangan di hatinya menciptakan detakan jantung yang lebih cepat dari normalnya.


"Aku tak bisa mengingatnya Tom, pelanggan silih berganti. Aku juga tidak selalu standby di luar." Anindi merasa tidak enak hati karena adik sepupunya dikabarkan keguguran setelah memakan cake dari tokonya.


"Kalau orang yang kenal dengan Ayah, apa ada yang datang membeli cake?"


"Setauku hanya Dhafi yang kenal Ayah, pelanggan yang lain aku tidak pernah interview sedetail itu pada mereka." Sahut Anindi mulai jengah seperti menjadi terdakwa.


"Dhafi? Siapa dia?" Tomi bersikap seolah tidak tau, sebenarnya hanya ingin Anindi banyak bicara dengannya untuk menghilangkan kecanggungan.


"Dia calon suamiku, apa kamu mencurigainya." Tatapan sinis yang didapatkan Tomi, bukan perbincangan hangat. Menyadari Anindi tidak nyaman dengan pertanyaannya, Tomi memilih meminta maaf.


"Maaf, bukan maksud menuduh, hanya bertanya." Sesal Tomi, memijat kepalanya dengan tangan kiri. Sakit kepalanya bukan karena cheese cake itu tapi karena perempuan cantik disampingnya yang mulai jutek.


Tak ada sahutan dari ucapannya, Tomi memilih diam agar tidak salah bicara, biar ayah saja yang mengintrogasinya.

__ADS_1


Tomi memarkirkan mobil di rumah megah Haris, meminta Anindi untuk menunggunya sebentar. Dia sudah mendapat intruksi langsung dari pemilik rumah. Itu membuatnya tidak canggung untuk memasuki ruangan-ruangan pribadi.


Selesai mendapatkan yang dicarinya, Tomi kembali ke mobil melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit. Tanpa banyak bicara, padahal itu kesempatan langka yang dia miliki untuk PDKT. Namun mulutnya seakan enggan untuk berucap sekarang.


__ADS_2