
"Morning Mom, Dad." Sapa Guntur dengan semangat empat lima. Entah kejedot apa dia tadi malam sampai mulutnya ikut keseleo. Khalisa yang sedang menata piring di atas meja terkekeh geli.
Di rumah mewah ini, waktu mereka berkumpul hanya saat makan pagi atau malam. Selain waktu itu, semua tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
"Salah makan atau habis mimpi nikah sama bule Tur?" Goda Khalisa, hidangan sudah siap tinggal menunggu personil lengkap.
Ghina masih mengurus si kecil, sedang Anindi dan Tomi belum turun. Suaminya? Entahlah, apa yang sedang pria itu lakukan. Sepertinya masih mengurus pekerjaan.
"Tadi malam habis kemasukan jin bule Kha, lumayankan lidah gue jadi lancar bahasa inggris. Bukan lancar sih, sedikit lancar." Guntur geli sendiri dengan tingkahnya yang tengil.
"Woow, amazing. Siapa tau ntar dapat istri bule."
"Laku gak ya Kha gue sama bule?" Pertanyaannya ambigu sekali, barang kale, yang dijual jadi laku. Khalisa menyipitkan matanya seolah berpikir.
"Kalau bagi perempuan Indonesia aja kamu gak masuk dalam tipe mereka apalagi bule Tur." Khalisa bicara tanpa saringan, padahal itu bohong. Guntur itu ganteng aslinya pasti banyak perempuan yang kepincut oleh ketampanannya.
"Hm." Guntur menampakkan wajah sendunya, "lo habis makan cabe berapa kilo Kha, pedas banget." Lalu matanya menatap Mira dan Emran. "Gak ada niat belain aku Mah Pah." Adunya dengan tatapan nelangsa.
"Belain apa? Yang dibilang Kha kan fakta." Ujar Mira dengan kekehan.
"OMG, kenapa semua orang di rumah ini suka sekali menyiksaku." Guntur mendesah berat, seolah dialah orang yang paling menderita.
"Emang sedang tersiksa?" Tanya Ghani yang baru bergabung di meja makan, tangannya langsung merengkuh pinggang mungil Khalisa dan mengecup kepala gadisnya dari samping.
"Banget, apalagi liat kalian mesra-mesraan di sini. Empat pasang lawan satu orang." Adunya dengan gaya merana, Ghina tertawa gelak, centong yang baru diambilnya melayang di atas kepala Guntur.
"Sayang, tangannya jangan nakal." Tegur Zaky, Ghina spontan mengelus kepala Guntur. "Cup, cup, makanya jangan kebanyakan gaya." Ejek Ghina, mengambil tempat duduk disamping suaminya.
"Lo gak nyiksa gue juga Tom biar tambah menderita."
"Meskipun gak gue siksa tetap aja lo menderita Tur, gue gak mau bikin lo jadi tambah menyedihkan." Ah, kenapa ucapan Tomi lebih pedas dari yang lain, Guntur kena mental sekarang.
"Pah Mah, lusa aku mau balik ke Singapura sama Kha." Ujar Ghani di sela-sela makan, mengabaikan Guntur dan Ghina yang adu mulut.
"Gak mau menetap di sini?" Tanya Emran, Ghani menggeleng, Mira memberikan tatapan tajam pada putranya.
__ADS_1
"Aku kan pasti pulang Mah, gak selamanya di sana." Ghani berucap sebelum sang bunda mengeluarkan kata mutiara.
"Lo gak kasian sama gue Gha, kalau lo pergi gimana nasib gue. Apalagi sekarang Tomi sudah gak sebebas dulu, pasti gue yang tersiksa." Guntur melayangkan protesnya.
"Lo mau punya istri gak Tur?" Tanya Ghani.
"Pertanyaan klise, ya iyalah mau. Apa hubungannya sama lo balik ke Singapura."
"Kalau gue pergi lo punya peluang untuk memiliki tanggung jawab memimpin tuh perusahaan. Apalagi coba, gue relain perusahaan buat lo dan Tomi." Ghani menatap sepupunya yang mendesah berat.
"Emang punya istri lo pikir bukan tanggung jawab. Sekarang tugas gue di perusahaan sudah selesai, tinggal lo dan Tomi yang lanjutin. Gue punya tanggung jawab sendiri," lanjutnya.
"Selesaikan makannya, kita bahas ini nanti." Emran menengahi, sebelum perdebatan panjang terjadi di meja makan.
Setelah perdebatan singkat pagi tadi sekarang mereka berkumpul di ruang kerja Emran yang sangat rahasia. Hanya para lelaki yang ada di sana.
"Hargai keputusanku, aku tidak membawa apapun dari keuntungan perusahaan." Ujar Ghani akhirnya saat tak ada yang membuka suara lebih dulu.
"Gha, kita sekarang dalam posisi sulit. Bisakah bantu kita sebentar sampai semua masalah ini selesai," pinta Tomi.
"Ini bukan karena pekerjaan. Kha yang ingin segera balik. Sekarang Kha lebih penting dari apapun untukku."
"Kami bisa apa kalau lo sudah bicara seperti itu." Tomi berdecak kesal.
"Tidak menutup kemungkinan mereka juga mengejar Kha ke Singapura Gha, tolong kamu pikirkan. Di sini dia akan terlindungi." Ghani mengusap wajahnya dengan gusar. Berat, apa yang papa katakan memang benar.
"Lakukan ini untuk Kha, kalau Dhafi bisa melakukan terang-terangan pada Anindi. Itu bisa juga terjadi pada Kha. Lo bisa egois untuk hal inikan? Bujuk Kha agar tetap berada di sini untuk sementara waktu," Guntur berujar.
"Nanti aku pikirkan lagi." Dengan berat hati Ghani mengatakannya, kemudian meninggalkan ruangan. Hari ini dia sudah janji mau mengajak Khalisa ke rumah ayah.
Waktu begitu cepat berlalu, seharian ini mereka berada di rumah Ayah Haris menikmati waktu berdua. Dua minggu sudah Ghani meninggalkan Singapura, meninggalkan usaha yang baru beberapa bulan dirintisnya.
Banyak pertimbangan yang harus dipikirkannya sebelum kembali ke Singapura. Terutama keselamatan Khalisa—istrinya. Salah ambil langkah bisa membuat Kha dalam bahaya.
Ghani duduk di ruang tengah menunggu istrinya yang sedang memasak di dapur. Hari ini gadisnya itu begitu ceria, bagaimana reaksinya nanti kalau dia mengatakan tidak jadi pulang. Seorang Ghani hanya bisa membuatmu terluka Kha. Kenapa kamu harus hadir mengisi hari-hari yang suram ini.
__ADS_1
"Abang kenapa melamun?"
"Hm." Ghani baru menyadari Khalisa duduk dipangkuannya. Membelai lembut pipi Ghani. "Mikirin apa?" Bisiknya manja.
Mata sendu Khalisa bertemu dengan mata teduh Ghani, pria itu menggelengkan kepala. Dua sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman yang begitu manis.
"Masaknya sudah selesai?" Tanya Ghani, mengelus tangan Khalisa lembut. Wanita itu menangguk senang menarik Ghani ke meja makan. "Ayah Ibu gak makan siang?"
"Gak, ini hari kamis. Biasanya mereka puasa makanya aku masak karena di rumah gak ada makanan." Jelas Khalisa dengan semangat.
"Oke, setelah ini kita puasin jalan-jalan."
"Tentu." Khalisa sangat bersemangat, ah gadisnya itu bisa dengan cepat berubah mood. Kadang Ghani kelimpungan menghadapinya. Seperti sekarang, matanya terus berbinar seperti tanpa beban dan tak ada kesedihan.
Ghani mengajak Khalisa ke pantai, perlu perjalanan satu jam lebih sampai mereka berada di lokasi. Gadisnya itu tidak terlalu menyukai pantai.
Tapi hanya tempat itu yang bisa dikunjungi, waktu mereka begitu singkat. Mereka hanya menghabiskan tiga jam di pantai. Setelahnya pulang, waktu banyak terbuang dalam perjalanan.
Permainan yang dilakukan gadis itu hanya bermain pasir seperti anak kecil, tidak berani menyentuh air laut. Sia-sia rasanya mengajak ke pantai, hanya menyisakan lelah. Mengeluh pun tak ada gunanya, Ghani mengamati wajah cantik yang tertidur sepanjang perjalanan.
"Sayang, sudah sampai." Ghani menepuk pipi Khalisa pelan sampai matanya terbuka. "Mau jalan sendiri apa di gendong?"
"Jalan." Sahutnya dengan suara parau, Ghani membukakan pintu mobil menuntunnya sampai kamar. Setelah bersih-bersih Ghani menunaikan sholat. Mereka berdiri di balkon menikmati pemandangan langit yang penuh bintang.
"Bagaimana hari ini, senang?" Ghani memeluk istrinya dari belakang, membenamkan kepala di ceruk leher Khalisa. Menciumi aroma khas tubuh wanitanya.
"Sangat bahagia, makasih Sayang."
"Sama-sama Cinta. Lihat langitnya cantik seperti kamu." Ghani dan Khalisa memandang langit bersama sambil tertawa.
"Sayang." Ghani menatap lembut tepat dimata Khalisa, "kalau kita gak jadi balik lusa gimana?" Ghani mengeratkan pelukannya.
"Kena— aarrggh." Pekik Khalisa nyaring saat merasakan tubuhnya sakit. Ghani langsung memutar istrinya, tubuh itu sudah bersimbah darah.
Satu peluru menembus dada bagian kiri Khalisa. Dengan panik Ghani menggendong istrinya berteriak sekuat mungkin memanggil orang yang ada di rumah.
__ADS_1