Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
110


__ADS_3

Selama Tomi di Singapura, Ghani disibukkan dengan urusan Emeral Corp, hampir setiap hari dia menghadiri meeting.


Seminggu sudah Tomi di Singapura, kesempatan itu juga Ghani gunakan agar Tomi sekalian mengontrol bisnisnya di sana. Jadi saling menguntungkan.


"Laporannya kirim ke email saya ya, kalau ada berkas yang urgent segera kirim ke rumah." Ujar Ghani pada Zufar asisten Tomi, setelah menyelesaikan meetingnya.


"Baik Pak," jawab Zufar.


"Ada berkas lain lagi yang perlu tanda tangan sebelum saya balik?"


"Berkas kemaren dan hari ini sudah semua Pak."


"Oke, saya balik dulu. Hubungi saya kalau ada apa-apa, sebentar lagi Guntur ke kantor."


"Siap Pak."


Ghani beranjak dari ruangan Tomi yang dulu miliknya, baru beberapa jam meninggalkan Khalisa dia sudah diserang virus rindu. Dia bisa mengawasi pekerjaan dari rumah.


"Abang sudah pulang?" Tanya Khalisa, jemarinya masih menari di atas keyboard sambil menoleh pada Ghani yang baru masuk ruang kerja mereka.


"Kangen banget sama kesayangan Abang jadi pulang duluan." Jawab Ghani santai ikut duduk di samping Khalisa.


"Awas laptopku jatuh, Abang." Tegur Khalisa pada suaminya yang tidak bisa diam. Terpaksa dia memindah meja portable dan laptop ke samping sofa.


"Laptop bisa beli," jawabnya asal sembari mengangkat tubuh istrinya ke pangkuan.


"Kha gak suka ya, Abang sesuka hati gitu." Keluh Khalisa dengan jengkel, suaminya ini selalu membuatnya kesal.


"Kha suka Abang yang gimana? Gak pake baju, hm." Ghani semakin menggoda ibu hamilnya itu.


"Aku suka Abang diam, jangan ganggu Kha. Oke." Khalisa beranjak dari pangkuan Ghani mengangkat meja dan laptop kembali, dia melanjutkan mengetik mengabaikan suaminya yang usil.


"Kalau Abang suka gimana?" Ghani mengedipkan sebelah mata, mengecup bibir manyun itu tanpa izin.


"Sosor terus, lama-lama jadi bebek." Sarkas Khalisa kesal, Ghani tertawa kecil. Kebahagiaan tersendiri bisa membuat istrinya kesal seperti itu.

__ADS_1


"Abang rela jadi bebek Sayang, asal bisa nyosor setiap saat."


"Terserah!"


"Jadi boleh nyosor sepuasnya nih, Sayang."


"Terserah!"


"Sekalian lepas baju, Sayang."


"Terserah!"


Gemas, Ghani menggigit telinga Khalisa sampai si empunya terpekik sambil meringis.


"Sakit, Abang!"


"Terserah!" Ghani meniru ucapan Khalisa sambil tertawa gelak.


Istri Ghani itu memasang mode diam, mengacuhkan suaminya yang tak berhenti berulah. Khalisa seperti tak terganggu, ide di kepalanya malah mengalir deras dengan kejahilan Ghani. Dia jadi terbantu oleh kenakalan suaminya itu.


"Sayang," Ghani memainkan rambut Khalisa menggulung-gulungnya. Tak mengertikah Ghani kalau perawatan rambut itu mahal. Lihat nanti Khalisa akan mengamuk kalau rambutnya sampai kusut.


"Kha, jangan diam dong, sepi nih." Ghani mencubiti tangan Khalisa berusaha mengganggu istrinya agar berhenti mengetik.


"Pacaran aja sama laptop sampai puas!" Ghani akhirnya kesal, karena tidak berhasil membuat istrinya terusik.


"Abang kenapa?" Khalisa memasang tampang lugu melirik Ghani yang kesal karena ulahnya.


"Pikir aja sendiri!" Ghani mendengus sebal, beranjak ke meja kerjanya. Khalisa tertawa gelak, menyusul Ghani lalu mendudukkan diri di pangkuan sang suami.


Dengan manja Khalisa mengalungkan tangannya di leher Ghani. Ghani masih memasang tampang ketus. Perempuan itu memiringkan kepalanya memberikan sapuan lembut pada bibir Ghani tanpa mempedulikan wajah masam sang suami.


Pelan tapi pasti Khalisa berhasil menerobos masuk, mendominasi permainan kali ini. Ghani tak tinggal diam menyeimbangkan ritme kelincahan istrinya. Tangannya ikut bergerak memberikan sentuhan lembut pada kulit Khalisa. Dirasa cukup pemberian dosis obatnya, Khalisa menghentikan permainan sebelum Ghani meminta lebih.


"Manis," Ghani mengusap bibir Khalisa yang basah dan membengkak karena gigitannya.

__ADS_1


"Udah berhenti ngambeknya," Khalisa menyandarkan kepalanya dalam pelukan Ghani.


"Abang gak ngambek tuh," katanya sambil mengelus-elus punggung Khalisa. Lama tak ada suara Ghani melirik, ternyata ibu hamil itu tertidur dengan nyaman dipelukannya.


Ghani menidurkan Khalisa di sofa bed, mengamati wajah cantik yang terlelap dengan nyaman. Tangan mengingkirkan anak rambut yang menghalangi pandangan matanya.


"Sehat-sehat kesayangan Ayah." Ghani mengecup perut Khalisa kemudian beralih ke pipi. Setelahnya dia melanjutkan pekerjaan, memeriksa laporan outlet, restoran dan supermarket. Juga ditambah proyek-proyek yang masuk di Emeral Corp. Semenjak Tomi di Singapura, pekerjaannya jadi bertambah.


***


Selama seminggu ini Tomi menghadiri meeting bersama para direksi di Singapura. Dia disibukkan dengan pekerjaan hingga lupa dengan permasalahan hatinya.


Walau sebenarnya dia masih merindukan Anindi. Dimanapun Tomi berada, bayangan perempuan itu selalu hadir menghantuinya. Mereka tidak pernah bertukar kabar lewat telpon lagi setelah berpisah.


Huft, dia berharap setelah pulang dari sini bisa lebih baik. Entah berapa lama Tomi akan berada di tempat ini.


Selesai meeting Tomi mengunjungi salah satu outlet King Burger milik Ghani. Dari satu outlet dia beralih ke outlet yang lain sampai lima outlet itu selesai Tomi kunjungi. Kedepannya Ghani akan membuka outlet di Indonesia.


Tomi salut dengan sepupunya itu. Gila memang, kurang dari setahun sudah bisa membuat bisnisnya berkembang sepesat ini. Keahlian Ghani dalam berbisnis tidak bisa diragukan lagi.


Usai mengunjungi outlet King Burger, Tomi beristirahat di apartemen. Supermarket dan restoran akan dia kunjungi di hari berikutnya. Badannya cukup lelah hari ini.


Badannya memang lelah, tapi matanya enggan tertutup cepat. Matanya menerawang jauh pada perempuan yang sudah berhasil mencuri hatinya. Tomi sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk move on.


Kalau Anindi tau apa yang sudah dia lakukan pada Devina pasti perempuan itu akan semakin dingin padanya. Sungguh sangat susah disentuh hati Anindi. Tomi menyerah untuk memperjuangkan rasa cintanya. Dia menyerah pada takdir yang memisahkan mereka.


Lelah berpikir akhirnya Tomi terlelap. Berbeda dengan Anindi yang tidak akan bisa tidur tanpa bantuan obat. Perempuan itu ragu dengan perasaannya sendiri.


Anindi tidak tau kenapa dia susah tidur sejak berpisah dengan Tomi. Hampir setiap malam matanya terjaga kalau tidak dibantu obat tidur.


Dia percaya Tomi bisa hidup tanpa dirinya. Mengingat video Tomi bermesraan seperti suami istri dengan perempuan lain, membuat dada Anindi berdenyut nyeri. Apakah dia cemburu pada mantan suaminya itu. Tomi sendiri yang bilang ingin tidur dengan perempuan yang bisa memuaskannya.


Entah apa maksudnya orang yang mengirim dvd berisi adegan dua orang itu. Mungkinkah Tomi sendiri yang mengirim padanya. Anindi tidak tau, hidupnya sudah cukup hancur sekarang. Tidak ingin tambah hancur lagi dengan memikirkan mantan suaminya itu.


Biarlah Tomi bahagia dengan jalannya sendiri. Anindi tidak memiliki hak untuk melarangnya. Sama seperti Tomi, dia juga akan menyembuhkan hati dengan caranya sendiri.

__ADS_1


Anindi mengambil obat dan air putih di atas nakas lalu meminumnya. Sekarang sudah jam sebelas malam, matanya masih segar.


Sambil menunggu mata mengantuk, Anindi membuka platform novel online. Dia penasaran kelanjutan kisah yang Khalisa tulis. Setelah satu jam membaca baru kantuknya datang. Inilah yang Anindi lakukan setiap malam agar bisa tertidur.


__ADS_2