Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
65


__ADS_3

"Kenapa lagi Kha?" Tanya Tomi akhirnya, dia ketinggalan beberapa episode drama pagi ini.


"Gara-gara itu tuh." Guntur menunjuk jajanan yang ada di meja. "Dia beli semua buat Airil."


Zaky menepuk jidat, dia juga ketinggalan drama pagi karena datang barengan dengan Tomi setelah jogging bersama.


"Makan aja, Kha juga gak mungkin mau makan ini lagi." Ujar Emran sambil mencomot ceker setan yang menggodanya.


"Jangan banyak-banyak Pah, nanti diare." Tegur Ghina, saat ceker setan yang keempat ingin beralih ke piring sang papa. Gerakannya menjadi slow motion, tapi tetap saja ceker itu berpindah tempat. Emran hanya cengengesan.


"Biarin Ghin, biar tau rasa kalau sakit perut." Mira tak acuh kembali melanjutkan makannya.


Anindi mengetuk pintu kamar Ghani membawakan segelas susu cokelat dan beberapa potong brownies kukus kesukaan Khalisa.


Setelah ada sahutan suara mengijinkan masuk, Anindi meletakkan nampannya di meja. Ikut bergabung di balkon kamar. Tak berapa lama Tomi dan Guntur ikut masuk ke kamar Ghani.


"Minum dulu Kha." Khalisa mengambil gelas yang disodorkan Anindi meminumnya sedikit. Wanita itu kembali bersandar di dada bidang Ghani.


Ghani melingkarkan tangannya di pinggang Khalisa, menciumi puncak kepala istrinya dengan lembut. Tomi menatap nanar dua orang yang ada dihadapannya.


"Kha main yuk sama Airil." Bukan Guntur yang mengajak, Tapi Ghina yang berdiri di pintu balkon. "Ayo Sayang main sama Mama Kha." Ghina memberikan Airil ke tangan Ghani.


Ghani menyambutnya dengan semangat, menciumi tubuh mungil yang wangi aroma khas bedak bayi. Khalisa masih setia bersandar di dada Ghani. Lelaki itu memangku Airil di paha kanannya. Memainkan tangan mungil itu ke wajah Khalisa.


"Mama jangan sedih lagi, kalau mama sedih Airil juga sedih." Ghani menirukan seperti suara anak kecil. Mengajak Khalisa beranjak ke karpet agar bisa puas bermain.


Pelan-pelan Khalisa bisa tertawa lagi saat bermain bersama si mungil yang tampan. Ghani tersenyum sendu. Bagaimana dia harus menjalani hari-harinya kembali saat Khalisa tidak bisa ditebak seperti ini. Lima orang dewasa hanya menatap nanar dari balkon.

__ADS_1


Kadang Khalisa bisa menangis seperti anak kecil, kadang tertawa seperti tanpa beban, kadang manja. Suasana hatinya susah ditebak membuat Ghani kewalahan menghadapinya.


Hari berganti hari berlalu begitu berat. Khalisa tak mau diajak berobat, sebisa mungkin Ghani mengatasinya.


Sebegitu besar dampak kesehatan Khalisa. Jiwanya sangat terguncang sejak kehilangan calon anaknya. Ghani memeluk erat tubuh rapuh gadisnya yang sekarang sedang terlelap. Berulang kali Ghani menguatkan hatinya untuk menghadapi Khalisa. Berulang kali juga sesak itu datang tanpa permisi.


"Sayang, jangan seperti ini. Abang tak sanggup melihatmu menderita. Kembali seperti dulu Sayang, kita berjuang bersama-sama."


***


Anindi melirik arloji ditangannya sudah hampir jam enam. Dia bergegas merapikan meja kerja mengambil tasnya. Anindi selalu pulang tepat waktu jam lima sore, tokonya buka sampai jam sepuluh malam. Jarang dia sampai maghrib seperti ini. Tanpa datang ke toko sebenarnya tidak apa, tapi Anindi terlalu bosan kalau hanya berdiam diri di rumah.


"Saya duluan ya Ta." Ucapnya pada Mita yang sedang jaga kasir.


"Iya mbak, hati-hati." Anindi mengangguk, meninggalkan tokonya. Menunggu taksi online yang sudah dipesannya. Selama ini dia tinggal di apartemen sendirian. Walau ayah dan ibu Khalisa selalu mengajaknya tinggal bersama tapi dia terlalu segan menyusahkan mereka.


Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya taksi yang dipesannya sampai. Anindi segera masuk ke dalam taksi. Jarak toko dengan rumah keluarga Emran hanya lima belas menit.


"Pak, kenapa belum sampai? Apa kita kesasar?" Tanyanya masih dengan tenang.


"Sebentar lagi sampai Mbak." Kalimat itu membuat Anindi sedikit tenang, sudah sepuluh menit tapi belum sampai juga, Anindi mulai was-was. Dia segera shareloc pada Tomi, seperti yang lelaki itu wanti-wanti. Kalau ada yang tidak beres segera kirim pesan. Baru pesannya terkirim, mobil berhenti. Tapi tempat itu sangat sepi, sebuah bangunan tua. Tidak jelas dimana karena hari mulai gelap.


Anindi semakin ketakutan dan tidak tenang, seseorang masuk ke dalam mobil membekapnya dengan kain. Sepersekian detik kemudian dia hilang kesadaran.


Saat terbangun kondisi tangan dan kakinya terikat pada sebuah kursi. Rasa takut menguasainya sekarang, namun dia masih berusaha tenang. Tak boleh menampakkan wajahnya yang ketakutan.


Allah, dimana dia sekarang. Ruangan ini begitu gelap tak ada cahaya. Tubuhnya gemetar, air matanya ingin lolos begitu saja namun berusaha ditahannya saat suara decitan pintu dibuka. Lampu mulai dinyalakan, betapa terkejutnya Anindi. Karena ini bukan gedung tua seperti tempat terakhir yang dia lihat, tapi sebuah kamar hotel mewah.

__ADS_1


"Selamat datang Anindi, mari kita bersenang-senang." Seorang lelaki dengan tubuh atletis, rahang tegas berwajah tampan menyeringai. Membawakan segelas air putih. "Jangan takut, minum dulu kamu pasti haus."


Anindi menggeleng, dia takut sangat takut melihat Dhafi dihadapannya. Mantan tunangannya, orang yang sangat disayanginya.


"Jangan takut Sayang, aku akan menyelamatkanmu." Bisiknya sensual kemudian melepaskan lakban yang menempel dimulut Anindi dengan pelan.


"Mau apa kamu Mas?" Air mata itu akhirnya lolos juga, berharap ada yang mampu menolongnya sekarang.


"Jangan takut." Dhafi menghapus air mata Anindi dengan lembut. "Minum dulu kamu pasti lelah." Anindi menurut, menghabiskan segelas air putih dibantu Dhafi. Dhafi membantu melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Anindi.


"Jangan takut, aku akan mengantarmu pulang." Dhafi membawa Anindi duduk di sisi ranjang.


"Aku takut Mas, aku takut." Ucap Anindi dengan sesenggukan, Dhafi menarik Anindi kepelukannya untuk memberikan ketenangan. "Jangan takut Sayang, Mas di sini." Anindi mengangguk, membenamkan wajahnya di dada bidang Dhafi.


"Mas panas." Rengek Anindi, setelah cukup lama dia berada dalam pelukan Dhafi yang menenangkan.


"Hm."


"Maass, panas." Anindi merengek melepaskan pashminanya. "Tolong, Mas panas."


"Iya-iya, sini Mas bantu." Dhafi menyeringai licik, melepaskan pakaian Anindi.


"Panas, panas." Anindi bergerak manja di depan Dhafi menuntut ingin segera di sentuh.


"Sabar Sayang." Anindi sudah tidak tahan melepaskan seluruh pakaiannya tanpa kecuali. Sebuah kemenangan bagi Dhafi, tunggu apalagi mangsa sudah ada di depan mata.


Dhafi melepaskan pakaiannya, saatnya bergulat dengan kekasihnya. "Ayo sini." Panggil Dhafi dengan sensual dari atas ranjang, Anindi menurut menikmati pergulatan dengan Dhafi. Badannya panas menuntut untuk disentuh lebih dan lebih sampai akhirnya dia kelelahan dan tertidur.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik Sayang, terimakasih sudah memuaskanku." Dhafi membelai lembut rambut Anindi, mengecup keningnya. Memeluk tubuh mungil itu sampai ikut tertidur.


Anindi sudah menjadi miliknya, mahkota perempuan itu sudah menjadi miliknya. Ini pembalasan yang setimpal untuk Tomi yang ikut campur dengan urusannya. Dia tau Tomi mencintai Anindi dari tatapan mata lelaki itu.


__ADS_2