Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
93


__ADS_3

Dering ponsel Tomi mengambil alih perhatian. Tumben Anindi menelpon siang begini, tanpa pikir panjang Tomi langsung menjawab. Mendengarkan setiap kata yang istrinya ucapkan dengan nada ketakutan.


Tomi menutup sambungan telponnya setelah menenangkan Anindi. Semua mata terfokus pada Tomi yang sedang mengepalkan tangan karena menahan marah.


Jari lincahnya mencek cctv di sekitar Anincake, dia sudah antisipasi saat tidak bisa menemani istrinya. Tomi juga sudah memerintahkan bodyguard yang mengawal Anindi dari jauh untuk membawanya pulang.


"Guntur, kirim orang ke Anincake segera. Pengawal Anindi hanya dua orang. Mereka di serang." Titah Tomi, "aarrgh shitt." Geramnya berlari ke kamar untuk bersiap.


"Mereka pikir Kha masih di sana, sekarang mereka menginginkan perang terbuka." Zaky memijat pelipisnya, Ghina hanya bisa menenangkan. Dia dan Guntur ikut Tomi menjemput Anindi.


"Hati-hati Tom, Papa akan hubungi pihak kepolisian." Tomi mengangguk, lalu meninggalkan ruang keluarga. Khalisa meringkuk dipelukan Ghani.


"Kenapa mereka sangat ingin membunuhku Gha." Ghani menciumi puncak kepala Khalisa untuk menenangkan. "Karena kamu istri Ghani yang sangat berharga Sayang, jangan takut."


"Mama, Ghina kalian kembali ke kamar, kamu juga Gha temani Kha." Perintah Emran, mereka mengangguk patuh meninggalkan Emran sendirian.


"Gha, apa Anindi baik-baik aja?" Tanya Khalisa yang sudah terisak dipelukan Ghani. Dia takut kejadian waktu itu terjadi lagi pada Anindi. Dia takut Anindi terluka.


"InsyaAllah Sayang, kita berdoa ya semoga Anindi tidak kenapa-kenapa." Ghani menopang dagunya di atas kepala Khalisa. "Aku lebih takut kamu yang terluka, Sayang."


"Aku baik-baik aja di sini Gha." Khalisa mendongakkan wajahnya menatap wajah khawatir Ghani. "Sekarang aku tidak sedang terluka." Lanjutnya, lalu mencium jakun Ghani.


Ghani bergidik geli, darahnya berdesir panas ulah kejahilan Khalisa. "Sayang, tanggung jawab!"


"Uh, dengan senang hati." Khalisa semakin menggoda dan melancarkan aksinya membuat Ghani bergeliat kegelian.


"Sayang, kita masih nunggu kabar Anindi. Mereka sedang berjuang, masa kita enak-enakan bercinta," tolak Ghani halus.


"Kamu perlu rileks Gha, pikiranmu terlalu kalut." Khalisa menarik Ghani untuk duduk di ranjang. "Maaf beberapa bulan ini aku tidak bisa menjadi tempatmu berbagi lelah." Ghani tersenyum bahagia dengan kedewasaan istrinya.

__ADS_1


Benar, beberapa bulan ini pikirannya kacau. Terlalu mengkhawatirkan Khalisa dan sangat menjaga perasaan istri polosnya.


"Sayang!" Ghani tidak bisa berkata apa-apa lagi selain terharu bahagia. Dipeluknya erat tubuh Khalisa. "Aku tidak mampu mengucapkan apapun lagi selain syukur."


"Aku tau, kamu terlalu bahagia sekarang. Bukan salah kamu jika diwaktu yang sama kamu juga khawatir." Khalisa mengusap punggung Ghani lembut. "Lepaskan segala lelahmu padaku Gha, aku sudah ada di sini."


Kembalinya jiwa Khalisa membuat Ghani semakin kuat dan bersemangat. Siapapun musuhnya itu akan mudah dikalahkan kalau Kha mendukungnya seperti ini.


"Makasih Cinta, perjalanan cinta kita tidak mudah. Saat aku sudah sangat mencintaimu ternyata dunia cemburu pada kita." Ghani membenamkan kepala di ceruk leher Khalisa.


"Kita bisa melalui semua ini sama-sama, Sayang." Khalisa mengurai pelukannya, hari ini dia akan memulai duluan untuk melakukannya. Membantu Ghani agar bisa lebih tenang. "Kamu perlu ini Gha." Khalisa menyambar bibir Ghani lembut, tentu saja berbalas. Peraduan dua benda kenyal itu menjadi semakin panas. Khalisa ingin membantu Ghani meluapkan seluruh emosinya dengan begini.


Biasanya Ghani yang lebih agresif, sekarang mereka imbang dalam pergelutan sama-sama kuat. Pasangan suami istri itu tertawa dibalik selimut setelah melakukan pergelutan panas yang meninggalkan butiran keringat.


"Terimakasih istriku dunia akhirat, kamu memang sangat mengerti aku." Ghani menciumi wajah Khalisa yang masih berada di atasnya.


"Sayang, jangan merasa bersalah. Itu bukti cintaku padamu." Ghani melihat istrinya lebih dewasa dari Khalisa yang dulu.


"Boleh aku tidur di sini sebentar." Khalisa menepuk pelan dada Ghani.


"Tentu Sayang, itu milikmu. Hanya milikmu." Ghani tersenyum, mereka kelelahan setelah pertempuran sengit. Napas Khalisa sudah teratur, itu artinya sudah tertidur. Ghani ikut memejamkan mata, dia tidur dalam bahagia.


***


Tomi melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Anggap saja dia bosan hidup, Guntur pasti menanggapinya begitu. Segala sesuatu harus dibawa santai. Padahal Guntur sudah mengirim sepuluh orang pengawal, Emran juga sudah menghubungi pihak kepolisian. Jadi bisa santaikan? Namun tidak bagi Tomi, mobil sudah dibuatnya terbang. Untung tidak ada penumpang yang punya sakit jantung.


Jangan tatap wajah Tomi sekarang, dia sudah seperti pembunuh berdarah panas yang terang-terangan ingin memangsa lawannya. Sekarang bergeser ke Zaky, ekspresinya masih bisa tenang. Susah ditebak kapan dia tersulut emosi. Tapi sekali bicara bisa membuat Guntur kicep.


Ban mobil berdecit kala Tomi menginjak pedal rem mendadak tepat di depan toko Anincake. Terjadi baku hantam antara pengawal dan musuh. Penyerangan terbuka sebagai pesan perang dimulai, batin Zaky. Dia keluar dari mobil mengikuti langkah Tomi.

__ADS_1


Guntur berdiam diri di mobil. Dia sudah tau kalau Anindi tidak ada di dalam sana, posisi wanita itu sudah dilacaknya. Namun Guntur enggan bicara, kejadian dia diusir telak Tomi membuatnya malas banyak bacot. Tomi menghambur ke dalam toko tidak akan lebih dari lima menit, itu sudah Guntur perkirakan. Mereka tidak akan terlambat menolong Anindi.


"Dimana istriku?" Geram Tomi, pada dua pengawal yang diperintahkannya membawa pulang Anindi. Para pengawal yang dikirim Guntur terlambat, tidak sempat menolong. Tomi sudah mengacak seluruh isi toko tapi tidak menemukan istrinya.


"Aarrghh," teriak Tomi, kepalan tangannya semakin kuat. Urat-urat tangannya tampak menonjol jelas. Napasnya memburu hebat, Tomi menendang perut pengawal yang sudah tak berdaya itu. Mereka babak belur karena di serang musuh.


Zaky menunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan pengawal yang bersimbah darah. Di luar masih terjadi baku hantam walau hanya tersisa beberapa orang musuh yang masih melawan. "Apa ada diantara kalian yang mengikuti musuh?" Tanyanya dengan tenang. Pengawal itu mengangguk lemah.


Zaky beranjak ke halaman toko.


Dor


Satu tembakan diluncurkannya ke udara. Beberapa menit kemudian mobil patroli berdatangan untuk mengamankan lokasi.


Setelah lokasi diamankan, Zaky menarik tubuh Tomi lalu mendorongnya untuk masuk ke mobil.


"Pinggiran kota." Kata Guntur, Zaky melajukan mobilnya sesuai clue.


"Lo udah tau?"


"Iya." Guntur menjawab singkat, jarak mereka belum jauh. Dia juga sudah mencek seluruh cctv yang memperlihatkan beberapa anak buahnya mengikuti mobil yang membawa Anindi.


"Kenapa diam bego!" Sentak Tomi marah, pria itu sedang dalam mode garang.


"Kalian masuk ke toko tidak lebih dari lima menit, Anindi masih bisa dikejar." Guntur tidak basa-basi lagi, hanya mengeluarkan kalimat yang diperlukan. "Percepat mobilnya Zak, dua puluh kilo meter lagi. Perjalanan mereka terkendala jadi tidak bisa melesat. Polisi juga sudah mencegat di sana."


"Tumben pintar Tur." Zaky tersenyum geli, mengingat kejadian pengusiran tadi siang.


"Gue emang pintar Zak, sejak dulu."

__ADS_1


__ADS_2