Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
98


__ADS_3

Beberapa kali Ghani menelpon Tomi dan Guntur tidak ada jawaban, kepalanya pening Kha terus merengek. Entah kenapa kesabarannya hari ini tidak banyak, karena terlalu berharap bisa bermesraan dengan istrinya tapi tidak sesuai keinginannya. Dia beralih menelpon Zaky, dering ketiga langsung dijawab.


"Kenapa Gha?" tanya Zaky dari seberang telepon. Setaunya tadi Ghani ingin menginap di hotel.


"Kha menangis terus Zak, minta pulang. Dia seperti anak kecil lagi." Ghani sudah memasang earphone di telinga Khalisa, agar gadisnya bisa lebih tenang.


"Lo jemput gue sekarang, bawa pengawalan. Guntur dan Tomi gak bisa dihubungi." Terangnya sebelum mematikan sambungan telpon.


"Abang! Abang! Abang!" Rengek Khalisa, melepas paksa jilbabnya menarik earphone yang mengganjal telinganya.


"Iya Sayang, iya." Ghani memeluk istrinya yang terus meronta. "Sayang tenang!" Tegas Ghani dengan nada yang lebih tinggi, Khalisa tambah terisak.


Ghani menghela napas kasar, beberapa kali beristighfar. "Sayang, maaf. Abang gak marah sama Kha."


Lelaki itu merapikan rambut Khalisa yang berantakan lalu membaringkannya. Ada apa dengan istrinya ini, sekali ngambek gak bisa di bujuk. Sekarang tantrum begini lagi, Ghani lelah.


"Abang! Abang! Abang!" Rengek Khalisa lagi.


"Kha mau apa Sayang, bilang. Abang gak ngerti kalau Kha begini." Ghani mengusap pipi Khalisa menghapus bekas tangisannya. Lelah menenangkan, Ghani melahap bibir pink Khalisa. Istrinya jadi lebih tenang, malah bermain dengan lincah.


Astaghfirullah, jadi dari tadi menangis mau ini. Ghani menjauhkan bibirnya, Khalisa meraung-raung lagi.


"Sayang sabar!" Ghani melepas jas dan kemejanya, juga gamis Khalisa.


"Mau begini?" Pria itu menyentil gundukan kenyal dengan pipinya. Khalisa mengangguk-angguk. Sebentar lagi Ghani harus ke dokter saraf kalau terus seperti ini. Mungkin saraf kepalanya sudah banyak yang putus.


Ghani menyisir setiap inci apa yang dimiliki Khalisa, memberikannya tanda di sana. Dengan semangat dia menanam benih di ladang gadisnya.


"Abaangg, lagiii!!" Pekik Khalisa, Ghani sampai geleng-geleng kepala. Tenaga apa yang merasuk Khalisa. Dia bisa membuat istrinya tidak bisa jalan lagi kalau seperti ini.


"Sudah Sayang, nanti Kha sakit kelelahan." Khalisa menangis tersendu-sendu sampai akhirnya tertidur pulas. Ghani memasangkan pakaian istrinya kembali. Kalau tidak khawatir Khalisa sedang hamil mana mungkin Ghani mau berhenti saat ada kesempatan.


Setelah berpakaian rapi, Ghani memasang earphone di telinga Khalisa kembali. Zaky sudah lama menunggu di depan kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa lama?" Serang Zaky dari balik kemudi, Tomi duduk di kursi depan sampingnya. Ghani memangku Khalisa, gadisnya itu masih betah tidur.


"Kha merengek tidak mau berhenti, gue pusing. Khawatir Kha sedang hamil muda. Lama-lama gue gila kalau gini terus. Lelah juga menghadapi Kha yang labil." Curhat Ghani, kesabarannya terus-terusan diuji.


"Zak, kita mampir ke rumah sakit sebentar. Bisa juga Kha gitu karena hormon Gha, seperti dulu dia gak mau lepas dari cipo*kan lo." Kata Tomi, Zaky langsung melesatkan mobilnya menuju rumah sakit.


"Telpon Papa Rizal. Minta atur jadwal sama dr. Hira biar cepat." Pinta Zaky, Tomi langsung bertindak.


"Abang! Abang! Abang!" Rengek Khalisa yang baru membuka mata. Zaky dan Tomi mendengar rengekan itu menahan tawa.


"Iya Sayang, Kha mau pulangkan?" Khalisa menggeleng, menarik paksa jilbabnya.


"Sayang, jangan dilepas jilbabnya. Kita lagi di mobil, ada Tomi dan Zaky." Jelas Ghani pelan, dia menahan jilbab Khalisa agar tidak terlepas. Akhirnya Khalisa paham menangis dipelukan Ghani.


"Kenapa jadi gini, Sayang." Ghani lelah sekarang, moodnya juga ikut berantakan. Permainan tadi tidak bisa membuatnya lega. Karena bukan Khalisa dewasa yang sangat mengerti maunya.


"Mampus, mampus. Dosa apa lo sampai kena getahnya begitu Gha." Ejek Zaky pelan.


"Berisik!!"


Sesampainya di rumah sakit, Ghani menggandeng Khalisa menuju ruang praktek dokter Hira. Setelah melewati berbagai macam cara untuk membujuknya.


"Selamat Pak, atas kehamilan Ibu Khalisa. Kandungannya memasuki usia minggu ketiga." dokter Hira menunjuk ke arah layar, janinnya masih sebesar biji kacang hijau katanya. Ghani juga tidak mengerti. Tapi dia bahagia sekarang.


"Alhamdulillah, MasyaAllah. Terimakasih Sayang." Ghani tidak segan menciumi pipi Khalisa di depan sang dokter. Calon ayah itu sedang sangat gembira.


"Abang, malu!" Ghani mengernyit, apa yang terjadi denga istrinya ini. Tadi di mobil tanpa malu merengek-rengek. "Maaf Sayang, terlalu bahagia." Katanya, dokter itu membersihkan sisa gel di perut Khalisa. Setelahnya Ghani membantu istrinya turun dari ranjang dan duduk di kursi depan sang dokter.


"Ini obat dan vitamin yang harus ditebus, Pak." Dokter Hira memberikan resep, "kandungannya masih sangat muda, Ibu tidak boleh terlalu lelah dan stres ya." Pesannya, Khalisa mengangguk pasti.


Ghani mengucapkan terimakasih pada dokter itu, lalu membawa Khalisa langsung pulang ke rumah.


Suasana rumah ramai dengan berita yang Ghani bawa. Tidak hanya dia yang bahagia, seisi rumah juga bahagia dengan berita kehamilan Khalisa.

__ADS_1


"Sayang, kamu ingat kejadian tadi siang?" Tanya Ghani, Khalisa menyipitkan matanya, ia baru selesai minum susu hamil yang dibuatkan sang suami. "Yang mana?" tanyanya bingung.


"Kejadian di hotel, kamu menangis histeris dan tidak mau berhenti main," jelas Ghani.


"Main?" Khalisa mengangkat sebelah alisnya, Ghani berbicara terlalu bertele-tele.


"Iya, mainin ini." Ghani menunjuk bangga pusaka keramat yang sudah memberikan kehidupan baru di perut sang istri.


"Astaghfirullah, terus?" Pekik Khalisa kaget.


"Kamu sampai mau minta di mobil Sayang, ada Zaky dan Tomi di sana. Kamu lupa sama sekali?"


Khalisa menganggukkan kepala, dia malu. Sangat malu sudah bersikap seperti itu. Jujur dia tidak mengingatnya sama sekali.


"Aku bingung, awalnya kupikir itu karena amnesia. Tapi sepertinya bukan. Aku tidak pahan dengan tingkahmu yang bisa tiba-tiba berubah."


Khalisa menggaruk kepala, tidak mengerti kenapa dia suka aneh begitu kalau hamil. "Mungkin karena kelelahan aja, Bang. Maaf ya bikin kamu khawatir. Jadi gara-gara itu Abang kusut banget hari ini."


Ghani mengangguk, "tapi Abang juga bahagia karena Kha kasih Abang, Ghani Junior lagi. Terimakasih Sayang."


Lelaki itu memeluk istrinya erat, "kalian berdua harus sehat-sehat ya." Ghani menciumi perut istrinya.


"Maaf kalau nanti Kha nyusahin Abang dengan yang aneh-aneh." Ucap Khalisa sendu, kasihan dengan suaminya. Dia kadang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri yang merengek dan menangis dengan manja. Pasti lelah banget mengurusnya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, apapun akan Abang lakukan untuk kalian. Kha jangan merasa bersalah. Abang sayang Kha."


"Kha juga sayang Abang, maafin Kha belum bisa jadi istri yang baik buat Abang."


"Kha sudah yang terbaik, Sayang. Kenapa suka melow sih kalau lagi hamil."


"Aneh ya, otak Kha geser lagi nih." Katanya dengan tertawa kecil.


"Gak papa, asal Kha masih bangun dan sehat." Ghani semakin mengeratkan pelukannya, "kamu masih bernapas aja itu sudah anugerah buat Abang."

__ADS_1


"Abang jangan bikin Kha sedih." Katanya semakin menenggelamkan diri. Walaupun Ghani lelah menghadapi Khalisa tetap saja dia cinta.


__ADS_2