
"Kha mana Gha, gak ikut makan?" Tanya Mira saat mereka berkumpul di meja makan, sarapan sudah siap. Ghani hanya cengengesan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena salah tingkah.
"Mencurigakan!" Desis Ghina yang duduk di seberang Ghani.
"Nanti aku bawakan sarapannya ke kamar aja Mah." Putusnya sebelum dibully di tengah khalayak ramai ini. Jangan ditanya, setiap waktu makan pasti akan ada yang menjadi korban bulying. Itulah yang membuat keluarga besar Emran tetap selalu hangat.
"Kha sakit?" Emran memicingkan mata menatap Ghani, yang ditatap mengangguk polos. "Sedikit," jawabnya.
"Sakit sedikit! Apanya?" Mira seolah tak paham tambah menggoda putranya. Guntur jadi penasaran, mereka bahas sakit apaan sih.
"Anuu Mah, argh Mama kepo. Ghani bisa jaga Kha kok." Ujar Ghani frustasi, kalau jujur dia bakal ditertawakan.
"Yakin? Bisa jaga dia, kenapa jadi sampai sakit?" Pancing Emran dengan bibir tersenyum tipis, dugaannya pasti benar.
"Bisa!" Tegas Ghani, melahap sarapannya dengan cepat agar bisa segera kabur.
"Sakit karena kelelahan bikin dedek ya?" Siapa itu yang berkata sembarangan, siapa lagi kalau bukan Guntur yang sok penasaran tadi. Ghani melotot, yang dipelototin malah cengengesan.
"Gas keun, tancap gas nih. Gak sabaran banget baru juga pulang." Selidik Tomi, Ghani mendelik. Tuhkan bener, dia jadi bahan pergunjingan hangat pagi ini.
"Ho'oh, biar kita saingan. Benih siapa yang cepat jadi." Sarkas Ghani akhirnya, mulutnya sudah tidak bisa difilter lagi. Mumpung gadis polosnya tidak ada di sini, jadi bisa bicara sembarangan.
"Siapa takut?" Tantang Tomi, susah nih kalau dua orang ini sudah mulai bersaing. Kalau Guntur Ghani sudah biasa bersaing, beda dengan Tomi yang lebih banyak diam mengamati.
"Ekhem." Anindi berdehem membuat Tomi menciut. Ghani terkekeh geli. "Salahnya yang mancing duluan siapa?" Dengan santainya lelaki itu menyuap nasi goreng ke mulut tak mempedulikan Tomi yang memelototinya.
"Barengan juga lebih baik, iyakan Pah? Biar rame banyak cucu rumah kita." Sambar Mira dengan semangat empat lima.
"Jadi tambah semangat bikin lagi Mah." Ghani selesai sarapan lebih dulu, langsung mengambil nampan yang sudah siap dengan sarapan dan segelas susu untuk Khalisa.
"Doain cepat jadi." Ghani mencium pipi Mira sekilas kemudian berlalu. Dua orang paruh baya itu geleng-geleng kepala.
"Apa otakku yang sakit sekarang ya, istrinya jadi polos, suaminya jadi bar-bar gitu." Keluh Ghina memegang kepala yang tidak pusing, sama sekali tidak pusing. Yang bikin pusing itu melihat kelakuan kakak kembarnya yang jadi slengean.
__ADS_1
"Biarlah gimana bahagianya aja Ghin, kasihan dia banyak pikiran."
Benar apa yang dikatakan Emran, Ghani bersikap aneh seperti itu karena menutupi hatinya yang terluka. Dia berusaha terlihat bahagia di depan orang-orang yang disayanginya. Padahal hatinya begitu resah, takut jika masih ada orang yang memburu istrinya.
Karena faktanya setelah pelaku penembakan tertangkap, tempat usahanya yang menjadi sasaran. Artinya masih ada musuh yang tidak diketahui dari sisi yang mana.
Ghani masuk kamar saat Khalisa sibuk menyisir rambut panjangnya. Ghani meletakkan nampan di meja lalu membantu istrinya menyisir rambut.
"Cantik, aku selalu suka wangi rambutmu Sayang." Ungkapnya setelah mencium puncak kepala sang kekasih.
Semburat merah muncul di pipi Khalisa. Rona merah yang tidak bisa disembunyikan dari si pemujinya, membuat Ghani gemas. Tangannya mengunyel-ngunyel pipi Khalisa.
"Kamu kalau malu-malu gitu bikin aku tambah tergoda." Bisik Ghani sensasional, untungnya Khalisa yang sekarang kalem. Coba kalau Khalisa nya yang dulu pasti sudah dapat cubitan sayang di perut.
"Ayo sarapan dulu, Cinta." Ghani meletakkan sisir di meja rias, menuntun istrinya duduk di sofa. Lalu menyuapi Khalisa makan dengan sabar.
"Sayang jangan ke balkon ya, di kamar aja. Kalau bosan kita main sama Airil."
Jujur, Ghani masih trauma mendapati Khalisa tertembak saat sedang bersamanya berdiri di balkon.
"Abang takut kamu kepleset dan jatuh, nanti kakinya sakit." Bohong Ghani, dia tidak mungkin mengatakan ketakutannya pada gadis polosnya ini. Bisa-bisa istrinya ikut ketakutan.
"Kalau jatuh, nanti sakit ya?" Tanyanya polos.
"Iya, istri pintar." Ghani mengacak rambut Khalisa dengan gemas.
"Abang, rambutku rusak." Protes Khalisa, bukan berhenti Ghani malah mengacaknya lagi. Khalisa memasang tampang cemberut, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Nanti Abang sisirkan lagi." Bujuk Ghani, tidak tega melihat istrinya hampir menangis. "Cup cup Sayang, jangan menangis. Abang nakal ya." Ghani merapikan rambut yang berantakan karena ulahnya sendiri. Habisnya gemas sekali, tidak tahan melihat ekspresi menggemaskan si mungil ini. Ghani mencium kepala Khalisa dengan lembut berulang kali.
Bisa ditebakkan Ghani yang garang itu bisa menjadi menggemaskan juga karena apa. Sudah tentu karena istri polosnya yang mengemaskan, dia juga tertular bertingkah menggemaskan di depan keluarganya.
Hal konyol yang mustahil terjadi, nyatanya terjadi sekarang. Dia tidak bosan menanggapi pertanyaan-pertanyaan konyol istrinya yang membuatnya menjadi konyol juga.
__ADS_1
Hari pertama di rumah Ghani membawa istrinya berkeliling disekitar rumah. Mengenalkan tempat-tempat yang bisa digunakan untuk bersantai saat bosan berada dalam rumah.
"Abang, mau mandi di sana." Khalisa menunjuk-nunjuk ke arah kolam renang.
Ghani tidak tau Khalisa bisa berenang atau tidak. Duh, suami macam apa dia ini.
"Itu airnya dalam, Sayang. Kita berendam dalam bathtup aja ya." Rayunya pada sang istri, gadis itu menggeleng cemberut.
"Di dalam sana airnya sedikit, Kha mau mandi airnya yang banyak. Ayo." Katanya menarik Ghani mendekati kolam renang.
"Sayang, kalau tenggelam di sana nanti gak bisa napas." Jelas Ghani lembut, Khalisa sudah berkaca-kaca. "Ya sudah ayo." Putus lelaki itu akhirnya. Mana tega dia melihat kesayangannya itu menangis. Kha disenggol nyamuk saja, nyamuknya langsung Ghani bunuh.
"Yeaayy." Teriak Khalisa girang, melepaskan jilbab dan membuka piyamanya.
"Eh, eh mau ngapain, Sayang." Ghani bergegas memasangkan jilbab itu lagi dan merapikan piyama Khalisa. "Mandi di sini gak boleh buka baju, ini tempat terbuka. Aurat Kha gak boleh kelihatan orang."
Khalisa menggembungkan pipinya lalu menggeleng tanda tak mengerti. Argh, Ghani menjelaskan terlalu cepat, istrinya jadi gagal paham.
"Kalau sama Abang gak boleh dilepas juga?" Tanyanya, setelah bisa mencerna ucapan Ghani.
"Eh, bukan gitu Sayang." Gawat, dia bisa gak dapat jatah malam ini. Ghani membawa istrinya duduk di sisi kolam.
"Dengarin Abang, Kha itu istri Abang. Kalau begitu hanya boleh di depan Abang, Kha boleh lepas jilbab atau baju di depan Abang. Tapi gak boleh kalau di luar kamar." Jelasnya seraya membawa sang istri bersandar di dadanya.
"Kha paham?" Tanya Ghani setelah cukup lama tidak mendapat jawaban atau anggukan. Gadis itu menggeleng bingung.
Lelaki itu menghela napas pelan lalu tersenyum, "kalau sedang di luar kamar Kha harus berpakaian lengkap seperti ini, paham?" Jelas Ghani dengan lembut, Khalisa mengangguk.
"Pintar, kalau dalam kamar cuma berdua sama Abang. Jilbab dan pakaiannya boleh di lepas, Kha ngerti?" Lagi-lagi kepala itu mengangguk.
Tolong Ghani, ingin cari kesempatan tapi lelah juga kalau tingkah istrinya terus-terusan begini.
***
__ADS_1
Kalian suka ya kalau Khalisa jadi polos, kasihan Ghani kalau dikasih masalah terus 😂