
Kala Tomi datang menjemput Khalisa sudah tertidur dalam pelukan suaminya. Sampai rumah pun istri Ghani itu tak terusik.
Pria itu membawa istrinya langsung ke kamar. Setelah membaringkan dengan pelan Ghani melepas alas kaki, jaket dan jilbab Khalisa.
Ghani ingin mengadu, bahwa dia lelah dengan kerikil-kerikil kehidupan yang membuat kakinya sakit untuk melangkah ke depan.
Lelaki itu membelai pipi lembut sang istri lalu mengecupnya singkat di kening. Ghani memeluk erat tubuh mungil yang selalu dapat membuatnya kecanduan ini.
Khalisa semakin beringsut kepelukan suaminya. Ghani mendekap tubuh yang tidur dengan gelisah itu, seraya memberikan usapan lembut di punggung sang kekasih.
"Tidur yang nyenyak, Sayang. Abang menemanimu di sini." Bisiknya untuk memberikan rasa tenang pada Khalisa.
Saking lelahnya Ghani sampai ikut tertidur. Dia seperti sudah kehabisan energi untuk mencari tau siapa yang hampir membuatnya celaka malam ini.
"Eeuugh." Khalisa melenguh, tidurnya semakin gelisah. Ghani menyadari pergerakan-pergerakan kecil dalam pelukannya. Netra suami Khalisa itu membuka dan melirik jarum jam di dinding yang baru bergeser sedikit dari angka dua.
"Sayang," Ghani memberikan usapan lembut di pipi istrinya. Matanya menatap lekat Khalisa yang tidur dengan gelisah malam ini. Ah bibir itu sangat menggoda.
Siyaal, juniornya bangun hanya dengan membayangkan bibir merekah milik sang istri. Mata Ghani yang tadi sayu berubah jadi berbinar dipenuhi gairah melihat tubuh yang meliuk-liuk gelisah itu.
"Abang bantu tenangin ya, Sayang." Ucapnya dengan penuh arti. Khalisa polos tidak akan memberontak kalau diajak gulat tanpa persetujuan. Tengah malam begini membuat otak Ghani semakin liar.
Di bawah kungkungannya Khalisa melenguh membuat semangat Ghani semakin membara. Lelaki itu memeluk erat sang istri yang masih berada di bawahnya setelah menjalankan misi sendirian.
Apa Khalisa tidak berniat bangun sama sekali, padahal tidurnya tidak nyenyak. Ghani tidak tau ketakutan apa yang ada dalam pikiran istrinya itu.
"Kenapa gak bilang sih kalau mau seperti ini dulu biar bisa tidur tenang," Ghani bergumam sendirian setelah menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri. Dia kembali tertidur memeluk istrinya yang sudah lebih tenang.
"Abang!" Pekik Khalisa kaget, melepaskan tubuhnya dari pelukan Ghani. Dia menyadari sesuatu dan menangis ketakutan. Ghani terusik dengan suara tangisan Khalisa.
"Kenapa menangis, Sayang?" Tangannya mengelus lembut kepala Khalisa dengan mata yang masih terpejam.
"Abang, baju aku hilang sendiri. Baju aku hilang." Adunya dengan menangis semakin kencang. Bangun tidur Ghani sudah disuguhkan drama menggemaskan seperti ini. Lelaki itu tersenyum setelah membuka mata dengan sempurna.
"Gak hilang, Sayang. Abang yang bantu lepasin, tadi malam kamu kepanasan." Bohong Ghani, ah otaknya bekerja lagi. Otak Ghani bisa meresahkan si Khalisa polos.
__ADS_1
"Oh." Ucapnya, "Kha takut." Cicitnya lagi lalu beringsek kembali kepelukan Ghani. Duh, subuh nih. Nempel-nempel gini, junior Ghani aktif kembali.
"Sayang, mau bantu Abang?" Ghani menggesek-gesek pipi Khalisa dengan pipinya.
"Mau."
"Main sama Abang, mau?" Otak liciknya bekerja dengan baik.
"Mau." Jawab Khalisa lagi, Ghani berdendang ria dalam hati. Lelaki itu langsung memakan istrinya kembali dengan buas. Setelah membimbingnya untuk mengikuti setiap gerakan yang Ghani lakukan.
"Makasih kesayangan Abang." Ghani memberikan kecupan disetiap inci wajah Khalisa sebelum jatuh lemas di samping sang istri.
Tidak lama setelahnya azan subuh berkumandang. Ghani bergegas bangun, yah tidak sempat sholat di mesjid gara-gara pergulatan subuh tadi.
"Sayang, sudah subuh ayo kita mandi dulu." Ghani menepuk pipi istrinya yang bergumam tidak jelas.
"Hm, udah pagi?" Tanyanya seraya mengerjap-ngerjap lambat.
"Iya Sayang, Abang gendong ke kamar mandi ya." Khalisa hanya mengangguk lucu.
Untung tiga kali Ghani malam ini, lelaki itu tertawa geli dengan pikirannya sendiri. Kapan lagi dia bisa mengendalikan Khalisa di atas ranjang seperti ini.
"Abang, Kha boleh petik sayur?" Izinnya saat melihat sayuran hijau di kebun sang mama mertua.
"Boleh, Kha suka sayur?"
"Emmm," Khalisa tampak berpikir lalu menggangguk sedetik kemudian menggeleng. Ghani tersenyum mengelus kepala yang menggemaskan itu.
"Petik secukupnya aja, Sayang."
"Dua boleh, eh tiga." Katanya mengangkat jari telunjuk, tengah dan jari manis di depan wajah Ghani. Lelaki itu mengangguk menyetujui.
"Abang, sayurnya cantik. Kha gak jadi petik deh, sayang." Perempuan itu mengelus-elus sayuran di depannya.
"Ini namanya sawi pagoda, Sayang." Ghani memetik satu tangkai lalu memberikannya pada sang istri.
__ADS_1
"Cantik," pujinya lagi.
"Tapi masih kalah cantik sama istri Abang ini." Ghani menggandeng istrinya membawa kembali ke rumah.
"Eh, kalian. Pagi-pagi sudah bikin mata sakit." Keluh Guntur saat berpapasan dengan pasangan yang membuat kepalanya selalu puyeng itu.
"Gak usah dikasih mata kalau gitu, punya mata juga gak disyukuri." Jawab Ghani sinis, membawa istrinya duduk di sofa.
"Kalian mau minum?" Tawar Mira sambil berteriak dari arah belakang.
"Aku bisa ambil sendiri nanti Mah." Sahut Ghani, dia berusaha melakukan sendiri untuk melayani istrinya. Kecuali makan, semua mama yang masak. Tidak seperti dulu, Ghani yang selalu memasakkan sarapan untuk Khalisa.
"Kha mau minum susu sekarang atau nanti sekalian sarapan?"
"Nanti sarapan aja." Jawabnya cuek, gadis itu masih antusias dengan setangkai sayur di tangannya.
"Itu istri lo gak pernah lihat sayur!" Sindir Guntur gemas. Masa sayur aja disayang, sampai segitunya dielus-elus.
Ghani hanya bisa mengelus dada, ulah sepupunya ini Khalisa bisa rewel lagi nanti. "Kalau dia rewel gara-gara lo, lo gue gantung Tur. Gue capek tau."
Guntur langsung kicep, niat bercanda pagi jadi gagal.
"Biarin aja dia jangan diganggu. Kasihan tuh Ghani udah capek dari semalem." Tegur Emran pada Guntur, pria paruh baya itu membawa segelas kopi dan koran di tangan. Ikut bergabung di ruang tengah.
"Ada cidera gak tadi malam, Gha?" Tanya Emran pada putranya.
"Enggak Pah, cuma Kha ketakutan sampai susah tidur." Ghani mengusap belakang kepala istrinya yang asik sendiri, persis seperti anak kecil yang sedang bermain boneka kesukaan.
Emran menghela napas lelah melihat wajah sendu menantunya, yang mengamati saja lelah. Apalagi Ghani yang mengurusnya.
"Papa coba panggil dokter ke sini ya. Kamu bujuk dia nanti."
Ghani mengangguk, dia juga lelah kalau terus-terusan begini. "Nanti aku coba, Pah."
"Abang, patah." Rengek Khalisa, saat setangkai daun sawi pagoda itu patah.
__ADS_1
"Nanti kita petik yang baru lagi, Sayang." Bujuk Ghani membawa Khalisa bersandar di bahu bidangnya.
Khalisa tidak hanya hilang ingatan tapi bercampur trauma. Apalagi dengan kejadian beberapa hari yang berturut-turut ini. Istrinya jadi semakin mudah tantrum, tidak bisa salah sedikit. Ghani harus lebih sabar menghadapinya.