
"Sayang, tidur ya. Abang peluk, pasang earphonenya biar bisa tidur cepat." Khalisa mengangguk, Ghani mengambil selimut lalu ikut berbaring di sofa bed.
Khalisa sudah terbiasa dipaksa tidur saat suaminya ada masalah penting. Meskipun tidak tidur beneran dia tetap menurut bersembunyi dipelukan suaminya. Tapi tidak bisa menguping apa yang sedang mereka dibicarakan.
"Kha, Sayang?"
"Iya Bang." Khalisa membuka matanya kembali.
"Mau dipeluk sambil duduk. Kalau gini Abang susah ngobrol sama Tomi nanti."
"Iya," Ghani senang istrinya tetap penurut. Dia bangun membenarkan posisi duduk agar Khalisa bisa nyaman.
"Mau di pangku?" Khalisa mengangguk. "Berat Sayang, tapi gak papa yang penting Kha nyaman." Ghani mengangkat Khalisa kepangkuannya. "Untung Abang kuat, bisa gendong Kha kapanpun."
"Makasih Abang." Khalisa mengecup leher Ghani.
"Sayang, jangan sekarang." Ringis Ghani, cuma gitu aja juniornya sudah bangkit dari tidur sungguh sangat menyiksa berada di dekat istrinya ini. Ghani selalu dibuat menegang tanpa tahu situasi.
Khalisa terkekeh geli. "Huum, bisa cepat tidur kalau dielus-elus," ujar Khalisa usil, sengaja ingin memancing Ghani.
"Nanti Abang kebablasan Sayang." Khalisa merengut, sudah dua puluh menit Ghani belum bisa menjinakkan Khalisa. Baiklah Ghani mengalah menarik selimut menutupi tubuh Khalisa sampai kepala. Sebentar lagi Tomi datang.
"Pasang earphonenya dulu." Titah Ghani, "mulutnya nanti jangan nakal ya."
"Iya Abang." Khalisa tersenyum geli, dia berhasil mengerjai suaminya. Tangan Ghani masuk dalam gamis Khalisa mulai mengelus perut yang berisi anaknya itu dengan lembut. Tubuhnya seperti kena setrum tapi harus ditahan.
Suara bariton langkah kaki Tomi memasuki ruang kerja, pria itu menyipitkan mata. Ghani mengelumbuni Khalisa dalam pelukannya. Tubuh dalam pelukan Ghani itu menggeliat-geliat. Untung selimutnya tebal, tangan nakal Ghani tidak keliatan sudah berkelana kemana saja.
"Lo ngapain Gha, astaga!" Tomi baru sadar perbuatan Ghani.
"Dia gak tidur, mau diginiin. Lo jangan lihat atau dengar apapun. Kha udah pakai earphone, paling bentar lagi dia tertidur."
"Arrggh!" Ghani mengerang, Khalisa menggigitnya. "Jangan gigit Abang, Kha." Tangannya mengusap pipi Khalisa. Agar cepat tertidur, dasar istri nakal. Tomi menggeleng-geleng dengan mata terpejam.
"Sorry Tom, lo datang terlalu cepat. Lo tau sendiri Kha gak bisa dikendalikan. Emang sih gak ngidam aneh-aneh. Tapi kemauannya yang aneh."
__ADS_1
"It's okay. Dia sudah tenang?" Tomi membuka matanya. Ghani mengangguk, "maunya gini, nempel setiap saat. Minta disayang-sayang." Ghani mengecup puncak kepala Khalisa dari balik selimut.
"Kepalanya jangan ditutupin Gha, kasihan susah bernapas. Selimutnya tebal banget." Ghani menurut, menyingkap selimut di bagian kepala Khalisa.
"Ada masalah apa di kantor, jadi balik?"
Tomi berpindah duduk ke samping Ghani, menepuk bahu Khalisa yang dilapisi selimut dengan lembut dua kali. "Gue ikut gemas dengan tingkahnya Gha."
"Hemm," ini kali pertama Ghani melihat Tomi terang-terangan menyentuh Khalisa walau terhalang selimut. "Lo kangen Nindi?"
Tomi menarik napas panjang kemudian mengangguk, "banget, baru juga seminggu gak ketemu." Curhatnya sambil tersenyum, "lihat Kha bisa mengobati kerinduan gue. Mereka sangat mirip," jujur Tomi.
"Devina gimana?" Tanya Ghani serius menatap wajah kalut sepupunya.
"Entahlah, gue gak ada hubungi dia lagi Gha." Jawab Tomi pasrah seraya mengendikkan bahu.
"Lo sempat tidur sama dia?" Selidik Ghani, dia tau Tomi paling lurus diantara mereka bertiga. Tapi itu bisa saja terjadi karena sepupunya satu ini sedang frustasi.
"Gue gak bisa Gha, dia minta tapi gue gak bisa ngelakuin itu." Tomi bersyukur tidak menggauli perempuan itu, dia memang kurang ajar sudah menjadi bajing*an.
"Huuhh, gue lega dengarnya. Walau yang lo lakuin tetap gak benar," jujur Ghani.
Ya Ghani tau itu, Guntur sedang berusaha mendekati salah satu dokter kandungan yang bekerja di rumah sakitnya.
"Gue minta tolong lo bantu kerjaan di sini ya."
"Gampang, lo tenangin diri di sana. Biar gue yang bantu Guntur ngurusin kerjaan di sini."
"Abaang!" Khalisa menggeliat, mengerjapkan mata lucu. Setelah terbuka sempurna dia melihat Tomi duduk di sofa sampingnya.
"Abang!" Teriaknya lagi sambil melompat dari pangkuan Ghani, berpindah ke samping kanan suaminya lalu bersembunyi di tangan Ghani.
"Kenapa Sayang?"
"Malu, malu, malu!" Cicitnya, ekspresi itu sangat menggemaskan bagi Ghani.
__ADS_1
"Tomi gak lihat Sayang." Ghani menenangkan Khalisa. "Beneran?" Khalisa menatap tajam mata Ghani.
"Iya beneran gak lihat Kha, cuma lihat lo kayak ulat bulu dalam selimut aja." Goda Tomi dengan senyuman jahil.
"Enggak, Tomi bohong Sayang. Dia cuma godain kamu." Jelas Ghani, saat tatapan Khalisa semakin menajam padanya. Beneran kan, Kha tadi gak seperti ulat bulu kata Tomi.
Setelah berhasil membuat Khalisa merajuk Tomi kabur meninggalkan sepasang suami istri itu dengan tertawa geli.
Sebelum berangkat ke Singapura Tomi mengunjungi Anindi terlebih dahulu. Semakin berusaha keras untuk melupakan, semakin membuatnya kepikiran. Bukan lupa, yang ada hatinya semakin rindu.
"Anindi ada?" Tanya Tomi pada Mita yang menjaga kasir.
"Ada di ruangan Pak, masuk aja." Jawab Mita sopan, tidak ada yang tau kalau mereka sudah bercerai.
"Assalamualaikum," Tomi mengetuk pintu ruangan Anindi lalu masuk tanpa menunggu jawaban.
"Wa'alaikumsalam Mas," kaget Anindi. Sudah seminggu mantan suaminya itu tidak muncul di hadapannya.
"Kamu apa kabar?" Tanya Tomi canggung, dia duduk tepat di kursi depan Anindi.
"Alhamdulillah sehat, ada apa?" Anindi seperti biasa bersikap santai saat berhadapan dengan Tomi.
"Kangen aja, seminggu gak lihat kamu rasanya kangen banget. Semakin aku memaksa lupa, kamu semakin sering hadir dalam pikiranku." Entah sejak kapan Tomi jadi lemah seperti ini terhadap wanita.
Anindi hanya tersenyum, "sudah makan siang?" Tanyanya.
"Belum," jawab Tomi diikuti gelengan.
"Kita makan dulu, baru ngobrolnya dilanjut lagi." Anindi membawa Tomi duduk di sofa lalu memesan makan siang. Tidak lama makanan datang.
"Aku mau ke Singapura, pasti nanti kangen banget sama kamu." Tomi menatap lekat Anindi yang menyiapkan makan siang. "Apa kamu sama sekali gak kangen denganku Nin. Apa cuma aku yang punya rasa rindu ini." Ucapnya lalu tertawa kecil, Anindi tetap bersikap biasa saja.
"Dunia ini gak adil banget ya, cinta sepihak itu menyakitkan Nin. Aku berusaha ikhlas, tapi gak semudah itu." Curhat Tomi, Anindi seperti tertampar oleh kenyataan yang ada di hadapannya.
"Aku harus gimana Mas?" Tanya Anindi bingung, bagaimana dia memposisikan diri. Sedang dialah yang menjadi penyebab luka Tomi.
__ADS_1
"Tetap seperti apa yang membuatmu nyaman dan bahagia. Aku akan menyembuhkan hatiku sendiri seiring dengan berjalannya waktu," kata Tomi sambil tersenyum.
"Makan dulu, nanti dingin gak enak." Berhadapan dengan Tomi membuat Anindi jadi serba salah.