
Di sebuah bangunan tua, Tomi kelabakan mencari Anindi. Ghani, Tomi dan Guntur berpencar menyisiri setiap sudut bangunan. Juga di luar sekitar bangunan.
Sedang Zaky menunggu di mobil untuk berjaga-jaga. Terakhir kali gadis itu berada di sini, namun tidak ditemukan. Gedung itu kosong. Guntur melacak keberadaan Anindi. Sialnya dia menemukan tempat itu di hotel pusat kota. Bukan pinggiran kota saat ini mereka berada.
Perlu waktu dua jam untuk bisa sampai hotel yang dituju. Tomi menggeram frustasi, walaupun sampai tapi dia pasti sudah terlambat.
"Aarrgghh, siapa bajingan yang menculik Nindi." Teriaknya frustasi, tak ada yang buka suara. Zaky mempercepat laju mobilnya. Saat sampai di hotel mereka tidak menemukan perempuan yang check in atas nama Anindi. Sedang mereka tidak tau siapa yang mengajaknya.
Terpaksa mereka harus kebagian keamanan untuk mencek cctv sekitar dua jam yang lalu. Benar saja Anindi bersama seorang lelaki yang tidak jelas wajahnya.
Tomi langsung berlari menuju kamar itu. Saat membuka pintu, dia menemukan Anindi sedang tertidur tanpa busana. Tomi langsung menggulung tubuh mungil itu dengan selimut.
Ghani yang awalnya ingin masuk ke kamar mengurungkan niatnya. Bersama Zaky dan Guntur menunggu di balik pintu. Ghani mengusap kasar wajahnya, apa yang akan terjadi dengan istrinya kalau mengetahui berita ini.
"Maaf aku terlambat menolongmu." Tomi memeluk tubuh yang dibalut selimut itu dengan air mata yang tak bisa ditahannya. Pertama kalinya dia menangis karena seorang perempuan. "Maaf Nin, maaf." Tomi menepuk lembut pipi Anindi sampai gadis itu sadar.
Hati Ghani merasakan ngilu saat mendengar Tomi mengucapkan kalimat itu. Lelaki itu tersandar di dinding tanpa berdaya.
Anindi mengerjapkan matanya merasakan sentuhan di pipi. Tatapan matanya tertuju pada Tomi, saat matanya terbuka sempurna. Lelaki itu menangis karenanya.
Cairan bening ikut mengalir di pipi Anindi. Tomi mengusap lembut surai hitam nan legam perempuan itu. Dilepaskannya pelukan pada Anindi untuk menutup pintu kamar, lekas dia kembali memeluk tubuh mungil yang rapuh dihadapannya ini.
"Apa yang terjadi?" Tanya Tomi lembut tanpa melepaskan pelukannya.
"Aku tidak tau, saat membuka mata tangan dan kakiku diikat di kursi. Dhafi datang membantu melepaskan ikatan dan memberikanku segelas air putih. Aku meminumnya, setelah itu aku kepanasan, a—aku ingin sekali disentuh." Anindi tak mampu melanjutkan ceritanya, dia merasa malu dan jijik dengan dirinya sendiri. Meminta Dhafi untuk menyentuh dan memuaskan hasratnya.
__ADS_1
"Sekarang masih panas, hm?" Tomi menghapus air mata di pipi Anindi. Anindi menggeleng lemah. "Mandi dulu, baru kita pulang ya."
"Sakiitt." Rengek Anindi.
"Dhafi memukulmu?" Anindi menggeleng lagi, "lalu apa yang sakit?" tanya Tomi keheranan. Anindi menunjuk bagian sensitifnya. Tomi baru paham, dia berusaha menetralisir kemarahannya dengan bersikap biasa di depan Anindi.
"Oke, aku gendong ya ke kamar mandi." Anindi mengangguk, dia seperti sudah tidak punya rasa malu lagi. Tomi juga pasti sudah melihat seluruh tubuhnya.
Tomi menggendong tubuh Anindi yang masih berbalut selimut, kemudian mengambil pakaian yang tercecer memberikannya pada Anindi.
"Langsung pakai di kamar mandi ya." Pinta Tomi, kemarahannya menguak saat melihat noda di seprai. Oh Tuhan apalagi ini, Tomi menggeram. Dibukanya pintu kamar hotel, tiga orang sudah menunggunya di luar. Tomi langsung memeluk Ghani.
"Nindi diperk*sa Dhafi, Gha." Lirihnya, seakan tak sanggup mengatakan itu. "Cari dia pasti belum pergi jauh."
"Iya." Hanya itu yang mampu Ghani ucapkan, karena Zaky sudah bertindak. Tomi mengurai pelukannya saat pintu kamar mandi terbuka. Setelah mengusap air matanya, Tomi mendekat ke kamar mandi.
"Masih sakit," cicitnya pelan.
"Ayo aku gendong." Tanpa menunggu jawaban Tomi langsung mengangkat tubuh mungil itu, Anindi tidak mampu mengangkat wajah. Membenamkannya di dada bidang Tomi. Dia sangat malu sekarang.
Tiga orang lelaki tampan itu mendahului Tomi, mereka masuk ke mobil. Ghani masuk paling terakhir, setelah menutup pintu dia duduk di samping Zaky yang mengemudikan mobil. Jarak dari Hotel ke rumah hanya sepuluh menit.
Andai mereka tau titik lokasi dari awal tidak akan terlambat seperti ini menyelamatkan Anindi. Sepanjang jalan Tomi memeluk Anindi, dia tak bisa melepaskan perempuan yang rapuh ini lagi.
Tomi langsung menggendong Anindi ke kamar, menemani gadis itu agar tidak larut dalam kesedihan.
__ADS_1
"Ganti baju dulu." Pinta Tomi lembut dengan senyumannya, Anindi mengangguk mengambil baju ganti dan beranjak ke kamar mandi. Kemudian kembali duduk di samping Tomi setelah selesai.
"Mau dipeluk lagi?" Tawar Tomi, Anindi hanya mengangguk lemas.
"Aku akan menikahimu, jangan khawatirkan apapun." Tomi membelai lembut pipi Anindi. Anindi tak mampu menangis, seakan air matanya sudah habis. Dia hanya bisa diam.
"Ini akan berat untukmu, tapi aku yakin kamu kuat. Aku akan selalu menemanimu." Bujuk Tomi sambil menciumi puncak kepala gadis itu untuk memberi ketenangan. Sekarang sudah jam sebelas lewat, Ghani pasti sudah kembali ke kamarnya begitu juga Zaky.
"Aku malu, aku menjijikkan." Cicit Anindi, "aku sudah menggoda Dhafi untuk memuaskanku." Tomi menarik napas panjang baru berucap. "Kamu tidak menyadari itu, kalau kamu sadar pasti tidak akan melakukannya."
"Mas, gak jijik sama aku?" Tomi menggeleng, "aku sudah tidak —" Tomi meletakkan telunjuknya di bibir Anindi, "seperti apapun kamu aku akan tetap menerimanya. Sekarang kamu tidur ya sudah malam."
"Temani."
"Aku temani di sini." Tomi menepuk sofanya, Anindi menggeleng.
"Mau di peluk, aku takut."
"Gak takut sama Allah?"
"Takut." Cicitnya membuat Tomi gemas.
"Sudah, tidur gih sana. Aku temani dari sini." Tomi merebahkan tubuhnya di sofa saat Anindi beranjak ke ranjang. Namun gadis itu kembali lagi ke sofa.
"Kenapa, hm?" Tak ada jawaban Anindi malah ikut berbaring di sofa. Tomi bergegas memeluknya agar tubuh mungil itu tidak terjatuh. Tubuhnya sudah sangat lelah setelah seharian bekerja.
__ADS_1
Tomi memejamkan mata, tangannya masih merengkuh gadis yang bersembunyi di tubuhnya. Mengabaikan hasrat yang dia miliki, pertama kali tidur memeluk perempuan.
Mungkin gadis itu masih dalam pengaruh obat perangsang sehingga ingin terus di peluk. Kalau sadar, pasti tidak akan mau melakukannya. Tomi hanya bisa pasrah, menolak juga tak mampu.