
Dengan rasa malas yang menggunung Guntur memasuki swalayan. Matanya bolak-balik memindai rak-rak mencari keberadaan susu ibu menyusui.
"Beli swalayan ini apa susahnya sih. Atau sekalian kirim dari supermarket lo yang ada di Singapura sana. Lo tau gak, ini antri minyak goreng panjangnya nauzubillah. Badan gue kelelep diantara ibu-ibu." Kesal Guntur mengomel pada Ghani dari telepon.
"Tanya pegawai di sana Guntur, gak semua pegawai ngurusin minyak goreng kan? Gak mungkin pegawai di sana gak tau sama Guntur Syahreza." Ujar Ghani sambil tertawa mendengar kekesalan sepupunya.
"Lo beli sendiri, gue capek dikerubungi ibu-ibu. Mana pegawai lihat sama muka gue, kalau manusia sebanyak ini." Guntur berdesak sambil terus menyisiri rak-rak. "Akhirnya," pekiknya nyaring langsung mematikan sambungan telpon memasukkan ponsel ke saku celana.
"Bruuukkk... Aaawww!!" Ringis seorang gadis yang terpental karena menabrak tubuh Guntur. Guntur langsung menangkapnya sebelum terbanting ke lantai. Seperti sedang berakting di depan kamera dengan slow motion.
Belanjaan yang ada di tangan gadis itu berserakan jatuh ke lantai. Setelah memastikan gadis itu bisa berdiri dengan sempurna tanpa cacat sedikitpun. Guntur membantu memungut belanjaannya.
"Sorry," Guntur memberikan barang belanjaan itu pada gadis yang masih syok berdiri di depannya. Tanpa memperhatikan jelas wajah gadis itu.
"Ah, iya. Maaf sudah menabrak anda, Pak." Ujar gadis itu sungkan mengambil barang belajaannya lalu pergi meninggalkan Guntur yang cengo dipanggil 'Pak'. Apa wajahnya sudah keriput atau rambutnya sudah memutih jadi dianggap bapak-bapak.
"Maaf Pak Guntur, anda sedang mencari apa. Biar saya bantu?" Salah satu pegawai mendatangi Guntur setelah insiden tak mengenakkan itu.
"Oh iya, saya sedang mencari susu ibu hamil yang ini." Guntur menunjukkan foto yang dikirim Ghani.
"Mari ikut saya, Pak." Ujar pegawai itu menunjukkan tempat susu yang dicari Guntur. "Bapak bisa bayar ke kasir yang di sana, biar tidak antri bersama ibu-ibu yang rebutan minyak goreng murah." Lanjut pegawai itu sambil tersenyum setelah menunjukkan arahnya.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Guntur merasa sangat terbantu. Apalagi bisa selamat dari antrian rel kereta api itu. Ia memasukkan sepuluh kotak susu ibu hamil, biar ASI untuk Arraz langsung melimpah. Jadi tidak perlu minum susu sapi. Nanti Arraz bingung kalau minum susu sapi, dia anak bunda Kha apa anak induk sapi.
"Selamat," gumam Guntur setelah berhasil sampai mobil. Ia langsung pulang, sudah cukup petualangan hari ini berdesakan di antara ibu-ibu yang antri minyak murah.
"Arraz!" Teriak Guntur, meletakkan susu yang di bawanya mendekati baby boy di boxnya.
"No cium-cium, Guntur. Mandi dulu, kamu bawa virus omnicron!" Usir Khalisa.
"Aku gak bawa jagung, Kha. Boleh cium ya. Dikit aja." Bujuk Guntur yang sudah sangat gemas pada keponakannya itu.
"Omnicron Guntur. Bukan corn." Khalisa meluruskan, "no... no... mandi Guntur! Apa perlu gue panggil babysitter buat mandiin kamu."
"Mandi!" Kekeuh Khalisa.
"Sayang, gak baik teriak-teriak. Arraz nanti kaget." Tegur Ghani yang baru keluar dari kamar mandi.
"Guntur yang nakal, Abang. Belum mandi mau cium Arraz. Dia tadi habis antri minyak goreng," ujar Khalisa asal.
Guntur mendelik, "lo kira gue pedagang gorengan sampai harus antri minyak goreng murah." Protesnya tidak terima.
"Guntur, mandi dulu. Daripada berdebat sama Kha, lo gak bakalan bisa gendong Arraz juga." Nasehat Ghani yang dituruti Guntur dengan lesu.
__ADS_1
"Nanti aku bikin baby boy sendiri juga. Gak ada yang boleh minjam." Gerutunya pada diri sendiri.
"Lain kali gak usah teriak," Ghani mengusap wajah manyun Khalisa dengan tangannya yang masih basah.
"Abaaaaang!" Teriak Khalisa.
"Baru dibilangin, teriak lagi. Abang lakban mulutnya mau, hm."
"Abang ngeselin, tangannya basah di lap'in ke wajahku. Kha bukan keset, Abang."
"Iya, Kha bukan keset. Kha kesayangan Abang." Ghani menarik Khalisa agar duduk di sampingnya.
"Abang gak mau mangku Kha lagi, apa karena Kha gendut?" Tanya Khalisa cemberut.
"Kha berat Sayang, bukan gendut. Kaki Abang bisa encok kalau mangku Kha terus. Di sini buat Arraz, biar Kha selalu di sisi Abang." Ujar Ghani menepuk pangkuannya seraya tersenyum.
"Abang gombal!"
"Abang bukan pakaian lusuh yang sobek-sobek itu, Sayang. Abang Ghani, masih ingat? Ghani Faizan suami Khalisa Rihanna. Kha gak hilang ingatan lagikan?" Goda Ghani, wajah cantik itu semakin cemberut.
"Kha lupa. Kha ingatnya cuma punya suami yang mesum." Jawab Khalisa dengan sok polos yang membuatnya mendapat hadiah kecupan di pipi.
__ADS_1