Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
77


__ADS_3

"Sayang, ayo belajar buka matanya lagi." Khalisa mendengar suara itu seperti sebuah motivasi untuknya. Dia ingin tau siapa orang yang selalu menemaninya ini. Perlahan Khalisa mengerjapkan mata pelan, buram. Tidak jelas, dia melihat samar pria yang sedang tersenyum padanya.


"Alhamdulillah, kamu sudah bangun Sayang." Ghani menekan tombol untuk memanggil dokter. Beberapa menit kemudian dokter datang memeriksa keadaan Khalisa.


"Si—apa?" Kata pertama yang keluar dari mulut Khalisa membuat Ghani syok, Kha lupa dengan dirinya itu tidak mungkin. Ghani menolak pikirannya sendiri.


"Jangan bercanda Sayang, kamu lupa siapa aku?" Tanya Ghani lembut, Khalisa mengangguk lemah. Ghani menatap sang dokter untuk meminta penjelasan.


"Bisa ikut saya sebentar Pak?" Ghani mengangguk, mengikuti sang dokter keruangannya. Tubuhnya lemas saat mendengar penjelasan dari dokter. Baru hatinya bahagia sekarang harus dihadapkan dengan kenyataan pahit yang lain lagi.


Penjelasan dokter terus terngiang di kepalanya, Ghani duduk di sisi brankar dengan tersenyum manis.


"Ibu Khalisa mengalami Amnesia Retrograde, bisa bersifat sementara dan bisa juga permanen. Pada kondisi ini, pasien tidak bisa mengingat informasi atau kejadian di masa lalu. Gangguan ini bisa dimulai dengan kehilangan ingatan yang baru terbentuk, kemudian berlanjut dengan kehilangan ingatan yang lebih lama, seperti ingatan masa kecil." Ghani menghela napasnya kemudian meninggalkan ruangan dokter setelah mengucapkan terimakasih.


"Sarapan dulu ya." Khalisa mengangguk, mereka sudah pindah ruangan. Tinggal pemulihan sebentar lagi sudah boleh pulang. Ghani menyuapi istrinya dengan sabar.


"Kamu masih ingat namamu siapa?" Tanya Ghani lembut, jempolnya mengusap sudut bibir Khalisa yang menempel bubur.


"I–ngat." Jawabnya masih terbata-bata, Ghani memberikan senyumannya yang paling manis. "Kalau sama aku masih ingat?" Khalisa menggeleng, Ghani mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan foto pernikahan mereka, juga foto terakhir saat mereka bermain di pantai.


"Jadi aku istrimu?" Ghani mengangguk, mengusap lembut kepala Khalisa. "Kalau belum ingat jangan dipaksa."


"Maaf." Cicitnya, lagi-lagi Ghani tersenyum gemas. "Jangan minta maaf, bukan salah kamu Sayang."


"Kenapa aku bisa di sini?" Tanya Khalisa lugu, Ghani dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan istrinya. Syukurlah Khalisa tidak memberontak saat mengetahui dia sorang istri.


"Kamu ingat kejadian terakhir saat dapat luka ini?" Ghani menunjuk luka Khalisa.


"Luka?" Cicitnya dengan polos, oh god dia sendiri tidak sadar kalau terluka. Apa luka itu sudah tidak sakit. Ghani mengangguk mengikuti keluguan istrinya. Khalisa membuka piyamanya melihat bekas luka yang sudah sembuh. "Apa tidak terasa sakit?" Tanya Ghani, gadisnya menggeleng.


Ghani membantu Khalisa berbaring, dia rindu bermanja-manja pada istrinya. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat.


"Istirahatlah, jangan terlalu banyak berpikir. Abang temani di sini."

__ADS_1


"Abang?" Beonya, Ghani ingin melahap bibir yang begitu manis saat mengulang setiap kata yang diucapkannya, seperti bayi yang baru belajar bicara.


"Yaa Abang, Kha suka panggilan itu?" Khalisa mengangguk.


"Sekarang boleh Abang memelukmu Sayang, Abang sangat rindu menunggumu bangun." Lagi, Khalisa hanya mengangguk, Ghani memeluk istrinya yang sedang berbaring dan menciumi setiap inci wajah kekasihnya yang sangat dirindukannya. "Cepat sehat biar bisa pulang." Terakhir Ghani mengecup kening Khalisa.


"Nama Abang siapa?" Ghani membuka nakas, mengeluarkan copyan kartu keluarga yang digunakannya untuk melengkapi administrasi. Memberikannya pada Khalisa. "Gha–ni," ejanya.


Ghani tersenyum mengangguk, "iya, benar."


Bisa melihat istrinya bangun kembali itu sudah lebih dari cukup. Ghani tidak akan memaksa Khalisa untuk bisa mengingatnya dengan cepat. Dia akan membantu istrinya belajar mengingat kembali dengan perlahan.


"Apa aku masih punya orang tua, kenapa hanya Abang yang terus menemaniku?"


"Sebentar lagi orang tuamu datang Sayang," Ghani mengelus puncak kepala Khalisa, "saat itu kamu sedang kritis, jadi hanya Abang yang diizinkan dokter menemanimu."


"Abang sayang sama aku?"


"Abang sangat menyayangimu Kha, Abang sangat mencintaimu. Abang selalu menunggu kamu bangun, menemanimu di sini."


"Iya, kita saling mencintai, Sayang."


Apa orang amnesia itu perasaannya juga hilang, batin Ghani. Kalau dulu dia berjuang untuk jatuh cinta, sekarang dia juga harus berjuang untuk membuat istrinya jatuh cinta kembali.


"Apa ada orang yang kamu ingat selain diri sendiri?" Tanya Ghani penasaran.


"Sepertinya ingat beberapa temanku, Sisil, Azhar, Winda, hm." Khalisa menjeda kalimatnya, "aku ingat bentuk wajahnya tapi lupa namanya." Jelas Khalisa dengan manja, Ghani berusaha santai saat Kha menyebutkan nama Azhar.


"Nah itu aku ingat, tapi lupa namanya." Telunjuk Khalisa mengarah pada orang yang sedang berjalan ke arah mereka. Ghani tersenyum geli saat melihat Papa yang datang, "itu Papa Sayang."


Mata Khalisa mengerjap lambat, ekspresinya sangat lucu. Kalau tidak habis sakit pipi itu ingin sekali dijadikan Ghani sebagai pelampiasan.


"Papa?" Cicitnya dengan nada manja, Ghani mengangguk. "Itu Papa aku, jadi juga Papa kamu Sayang." Khalisa mengerjapkan matanya polos seperti orang kaget. Ghani mana tahan kalau terus-terusan melihat wajah polos istrinya. Ingin sekali melahapnya malam ini juga.

__ADS_1


"Papa?" Cicit Khalisa sekali lagi masih tidak percaya.


"Iya Sayang, Pa-pa." Ulang Ghani menegaskan, Ghani jadi sangat gemas.


"Takut." Khalisa menarik selimutnya hingga kepala, Ghani tertawa geli apalagi saat melihat wajah papa kebingungan yang disusul mama.


"Takut kenapa Sayang?" Khalisa menggeleng dalam selimut, Emran meminta penjelasan atas kelakuan menantunya.


"Kha lupa semuanya Pah." Emran dan Mira mematung mendengar kalimat yang Ghani ucapkan. Ghani hanya tersenyum membujuk istrinya untuk membuka selimut. "Sayang ayo buka selimutnya, Mama sama Papa kangen Kha, lama gak ketemu." Ujarnya lembut, hanya dengan Ghani Khalisa mau menurut.


"Mama?" Tanyanya sambil menyingkap selimut, Ghani mengangguk. "Ayo salim dulu Sayang."


"Salim? Itu siapa." Ghani mengambil tangan Mama menciumnya kemudian beralih pada Papa. "Itu namanya salim Sayang." Ujar Ghani mencontohkan pada sang istri.


"Oh." Khalisa membulatkan matanya, mengikuti seperti yang Ghani lakukan. "Istri pinter," puji Ghani lalu memberikan hadiah kecupan di kening.


"Itu apa?" Tanyanya polos.


"Itu hadiah karena sudah jadi istri yang pintar." Ujar Ghani asal, bingung harus menjawab apa. Istrinya beneran polos atau sedang mengerjainya saja.


"Hadiah?" Ghani lagi-lagi mengangguk, semakin gemas dengan kepolosan istrinya.


"Mau lagi hadiah." Cicitnya, Ghani tertawa lalu mengecup lama kening Khalisa. Entah, ini keberuntungan atau kesialan. Dia akan mengikuti alur saja sekarang.


"Kamu apakabar Sayang?" Tanya Mira, sambil mengusap punggung tangan Khalisa. Dia sangat rindu dengan menantunya. Selama dua bulan tidak ada yang boleh menemui Khalisa kecuali Ghani.


"Sayang?" Mira mengangguk antusias, "cuma Abang yang boleh panggil aku Sayang." Beo Khalisa, Ghani menahan tawanya agar tidak meledak, melihat ekspresi kesal sang mama padanya.


"Ya sudah, cuma Abang yang boleh panggil sayang ya?" Khalisa mengangguk, "terus Mama manggilnya apa?"


"Apa?" Tanya Khalisa pada Ghani dengan mengerjap-ngerjapkan mata, sangat menggemaskan.


"Kha, Kha–lisa." Ghani membantunya mengeja, lalu Khalisa mengikuti.

__ADS_1


"Kha, Kha–lisa." Ulangnya, aduh kenapa sekarang istri Ghani jadi menggemaskan seperti ini. Coba kalau di kamar berduaan akan puas Ghani ajari cara bercinta, agar dia untung banyak.


"Baiklah, jadi panggilnya Khalisa ya?" Tanya Mama lagi, Khalisa mengangguk lucu.


__ADS_2