Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
142


__ADS_3

"Aaaaa, ketemu juga!" Seru Sisil yang langsung memeluk Khalisa disusul Ira dan Marsya.


Setelah pembicaraan lewat video call tadi siang, akhirnya Khalisa bisa bertemu dengan para sahabatnya. Mereka bertemu di sebuah cafe, Sisil datang dengan suami dan anaknya. Sedang Ira dan Marsya hanya sendirian, anak dan suaminya ditinggal. Katanya biar tidak terganggu dengan rengekan si kecil.


Ghani membiarkan tiga perempuan itu melepas kangen. Dia menunggu sambil mengobrol dengan Dimas yang menggendong putrinya di meja lain. Netranya tidak lepas mengawasi sang istri yang tidak berhenti tertawa. Kebahagiaan Khalisa merupakan kebahagiaannya juga.


"Gak capek dua jam lebih ngobrol, Sayang." Ghani mengelus-elus belakang kepala Khalisa.


"Masih kurang puas," sahut Khalisa dengan cengiran. Ghani yang hanya menunggu saja lelah apalagi yang mengoceh tanpa berhenti seperti penceramah saja.


"Nanti suruh mereka datang ke rumah aja. Biar puas ngobrolnya di rumah. Lebih aman dan santai juga," saran Ghani.


"Emang boleh?" Khalisa menatap suaminya dengan berbinar.


"Boleh Sayang," justru pekerjaannya jadi berkurang menunggu istrinya itu menggosip ria. Kalau di rumah Ghani bisa tenang tidak mengkhawatirkan Khalisa.


"Makasih, Abang."


"Sama-sama, Sayang." Ghani mengecup kening Khalisa lalu melajukan mobil memecah jalanan kota di malam hari. Ibu hamil itu kelelahan, satu tangan Ghani memberikan elusan lembut sampai si empunya tertidur.


Inilah kenapa Ghani malas membawa Khalisa keluar malam hari, suka tertidur di mobil.


"Sayang, sudah sampai." Ghani menepuk pelan pipi Khalisa. Kalau perutnya tidak bermasalah dia sudah menggendongnya. Lama menunggu Khalisa tidak bangun juga. Terpaksa dia meminta Tomi untuk menggendong istrinya itu masuk ke kamar.


"Thanks Tom." Ucap Ghani setelah Tomi membaringkan Khalisa di tempat tidur.


Tomi hanya mengangguk, "jangan digangguin lagi." Pesannya sebelum meninggalkan kamar Ghani.


Si empunya hanya mengulum senyum, beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya Ghani mengurus sang istri yang tertidur dengan nyaman.

__ADS_1


Ghani melepaskan alas kaki, jilbab dan gamis Khalisa. Kemudian melap tangan dan kakinya dengan tissue basah.


"Ayah tunggu kamu, Sayang." Ghani mengecup perut Khalisa lalu beralih ke kening. Setelahnya dia berbaring sambil memeluk perempuan tersayangnya itu.


"Abang gendong aku tadi malam. Perut Abang kan belum sembuh kenapa gak bangun aja sih." Cerewet Khalisa pagi harinya, istrinya itu setelah sarapan baru ingat mengomel. Ghani geleng-geleng kepala.


"Abang sudah banguning kamu, Sayang. Kamunya aja yang minta di gendong." Ghani terkekeh kecil.


"Kalau perut Abang berdarah lagi gimana? Aku gak mau nemani Abang tidur di rumah sakit." Kata Khalisa dengan wajah cemberut.


"Perut Abang gak sakit, karena bukan Abang yang gendong kamu." Ghani mencubit hidung Khalisa gemas.


"Terus siapa dong?" Tanyanya dengan penuh tanda tanya. Masa dia digendong kuntilanak, kan gak lucu.


"Tomi."


"Ih. Abang kok biarin aku di gendong Tomi sih," kesal Khalisa.


"Tomi gak ngapa-ngapain kok, cuma bantuin Abang gendong kamu. Kalau Abang sakit kamu juga nanti yang sedih."


Khalisa diam dengan wajah cemberut.


"Kha masih marah sama Tomi karena bikin Abang luka?" Tanya Ghani pelan, istrinya langsung menggeleng.


"Pintar istri Abang, gak boleh marah lama-lama ya, Sayang. Apalagi satu rumah." Nasehat Ghani, Khalisa masih diam membenamkan kepala di dada bidang suaminya.


"Kha mau jajan." Ujar Khalisa setelah cukup lama tidak bersuara.


"Mau jajan apa, Sayang. Ayo berangkat, tapi bentar aja ya. Abang mau meeting."

__ADS_1


"Iya," katanya diikuti anggukan. "Abang, jangan lupa bawa dompet, nanti aku malu kalo ngutang lagi."


"Siyap Bunda," Ghani mengambil kunci mobil, dompet dan ponsel tidak boleh ketinggalan. Dia mengajak Khalisa ke sekitar taman, banyak yang jual jajanan di sana.


Seperti biasa, Khalisa suka membeli apa saja yang dilihatnya. Calon ayah itu hanya menurut mengikuti istrinya. Mereka pulang dengan membawa berbagai makanan.


"Ini nih yang Papa suka kalau Kha yang belanja." Emran dengan semangat membuka bungkusan yang diletakkan Ghani diikuti Guntur. Mereka yang tadinya mau berangkat ke kantor jadi ikut menikmati jajanan yang ibu hamil itu beli.


"Ingat gula darah, asam urat, darah tinggi, kolestrol Pah." Ujar Ghina mengabsen penyakit-penyakit yang sudah merakyat.


"Papa makan satu gak bikin langsung kolestrol Ghin," sanggah Emran.


"Iya kalau Papa makan ceker setannya cuma satu. Lah ini sudah habis lima." Mira ikut mengingatkan suaminya. Emran hanya menyengir. Guntur konsentrasi makan dalam diam.


"Kha mau yang mana, Sayang?" Tanya Ghani, dia melihat jajanan-jajanan itu saja sudah kenyang.


Khalisa menggeleng lalu tersenyum, dia senang melihat orang rumah makan jajanan yang dibelinya dengan semangat.


"Lo sudah habis berapa?" Zaky melirik Guntur yang tidak berhenti memasukkan berbagai macam kue ke mulut.


"Lupa ngitungin. Makanan kayak gini kenapa enak ya," komen Guntur.


"Lo semua makanan juga dibilang enak!" Ghina mencebikkan bibir.


"Kha coba, Sayang." Emran menyuapkan kue putu ke mulut menantunya. "Enak?" Tanyanya setelah kue itu berhasil Khalisa kunyah.


"Enak Pah." Khalisa mengomentari kue yang terbuat dari butiran kasar tepung beras, parutan kelapa yang dimasak di dalam tabung bambu kecil dan diisi dengan gula merah itu. Biasanya dijual dengan gerobak berbunyi khas.


"Habiskan kalau enak," Emran kembali menyuapi menantunya itu. "Gak mualkan, Kha?"

__ADS_1


Istri Ghani itu menggeleng. Semua orang di rumah ini menyayangi Khalisa. Ghani tidak perlu khawatir anak dan istrinya dimusuhi di rumahnya sendiri.


__ADS_2