
"Sakit Tom, dadaku ikut sesak. Takdir sebercanda ini pada kita." Ucap Guntur sambil tersenyum getir, air matanya masih terus mengalir membasahi pipi. Persetan dengan cengeng, baru pertama kali dia menangis saat menghadapi masalah.
"Saat melihat Kha keguguran aku masih bisa waras, saat melihat Nindi dilecehkan aku masih bisa waras, tapi sekarang saat melihat Kha hampir merenggang nyawa dan Ghani dalam keadaan tak berdaya. Otakku sudah tak bisa bersikap waras lagi."
"Selama ini aku selalu berusaha berpikir realistis dengan logika tanpa membawa perasaan, tapi sekarang aku tak bisa. Aku tak mampu melihat Ghani sehancur itu."
"Kita ada di sini untuk mendukungnya, memberikan kekuatan agar dia bisa bangkit dan bertahan. Berada diambang batas kehilangan itu semenyakitkan ini. Kita berusaha selalu melindungi Kha, sebaik apapun itu tetap ada celah yang bisa dimanfaatkan orang lain saat kita lengah." Tomi menepuk punggung Guntur, "apapun kemungkinan terburuk yang terjadi dengan Khalisa kita harus siap dari sekarang."
"Lo ternyata mudah menyerah ya Tom, Kha tidak akan mati sekarang." Tomi menggeleng lalu tersenyum singkat.
"Kematian itu pasti Tur, ini bukan menyerah tapi bentuk persiapan. Aku tidak ingin diberikan harapan palsu oleh keadaan."
"Bulshit Tom, diam!" Pekik Guntur, matanya menatap Tomi tajam. "Kha tidak akan pergi sekarang."
"Kalau begitu lo harus berdoa, minta sama Allah." Tomi tersenyum smirk, dia juga tidak berharap Kha pergi secepat ini. Namun dia takut berharap banyak saat menyaksikan dimana tepatnya peluru itu menancap. Tomi memejamkan mata, berusaha menghilangkan ketakutan yang menyerangnya.
"Tapi lo benar Tom, peluru itu menancap di dada kiri Kha, seberapa dalam peluru itu sampai membuatnya mandi darah." Guntur bergidik ngeri memutar kembali kejadian menyakitkan yang disaksikannya sendiri. "Tapi kita punya Allah kan Tom?"
Tomi mengangguk seperti dirinya menjadi orang yang sangat kuat saat ini. Padahal itu tidak benar, Tomi hanya menyembunyikan ketakutannya.
"Seperti lo bilang sakit saat melihat Ghani seperti ini, sama Tur. Dada gue juga ikut sesak, sangat sesak." Tomi menghela napas panjang, mulutnya tercekat untuk berbicara. Sesak, sesak, dadanya sangat sesak sekarang.
"Dari kecil kita selalu bersama Tur, pertama kali aku menyaksikan Ghani menangisi Kha saat koma. Waktu itu Ghani masih belum mengakui perasaannya sepenuh hati, tapi aku yakin dia sudah jatuh cinta lagi dengan Kha. Kali kedua saat Kha keguguran, dia bahkan bersikap seperti anak kecil yang terus menangis dan sekarang."
"Huufft!" Tomi menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Aku juga pengen bilang hidup ini gak adil, pengen banget bilang gitu. Tapi siapa Tomi yang berhak menghakimi kehidupan." Tomi berusaha tertawa mengejek dirinya sendiri. "Terlalu angkuh kalau aku mengatakan hidup ini gak adil." Seiring seringaian keluar dari mulutnya, air mata Tomi menetes.
__ADS_1
"Apa kita terlalu cengeng?" Tanya Guntur sambil tertawa mengejek.
"Tidak ada yang melarang lelaki untuk menangis kan?" Pertanyaan itu bukan dari Tomi, melainkan Zaky yang baru bergabung. "Aku ingin berpura-pura kuat untuk tidak menangis, tapi nyatanya aku tidak bisa melakukannya." Zaky tersenyum miring.
"Setiap makhluk yang bernyawa pasti matikan? Aku pernah kehilangan orang yang aku sayang untuk selamanya. Tapi tidak sesesak ini. Apa yang membuatnya jadi seperti ini?" Zaky bertanya seolah tidak tau jawabannya.
"Mungkin aku menangis bukan karena Kha yang tak berdaya, tapi karena mendengar kalimat yang terucap dari bibir Ghani seperti menikam jantungku, menyisakan perih." Kali ini Tomi yang berucap, tidak menyangka lelaki gagah seperti mereka ternyata bisa rapuh hanya karena kata yang terucap dari bibir Ghani.
"Huuh." Timpal Guntur, "kata-kata yang diucapkannya membuat paru-paruku kehilangan oksigen."
"Aku sudah mendapatkan tiga orang yang siap donor jantung. Kalau diperlukan, kita bisa melakukan tesnya sesegera mungkin." Zaky mengalihkan pembicaraan, sudah cukup sesak yang memenuhi rongga dadanya jangan ditambah lagi. Bukan saatnya untuk mendalami peran melankolis.
"Busyeett, nyari jantung kayak nyari rempela aja Zak, semudah itu." Sela Guntur sambil tertawa, sudah cukup sesi menangis. Sekarang saatnya berperang.
"Haha, makanya punya mulut dipakai buat hal-hal yang berguna," ejek Zaky.
"Sudah, mereka dalam perjalanan ke sini, kecuali Ghina." Tomi mengangguk paham, Ghina tidak mungkin ikut ke rumah sakit bersama anaknya yang masih bayi, bola matanya beralih melirik Guntur, "tugas lo udah beres?"
"Wes rampung, tinggal pasang cctv, baru bisa dilakukan besok pagi."
"Sniper belum terdeteksi?" Tomi menatap Guntur kemudian beralih pada Zaky, keduanya menggeleng bersamaan. Tomi mengepalkan tangannya, menahan emosi yang kembali meledak.
"Biar pihak kepolisian yang melakukan pemeriksaan." Zaky menenangkan Tomi, "tapi kita harus melakukan pengawasan untuk memastikan mereka tidak dalam kuasa musuh."
"Wajib, lebih baik lagi kalau salah satu dari kita yang terjun langsung," ujar Tomi.
__ADS_1
"Good idea, siapa?" tanya Zaky.
"Gue aja, lo temani Ghani. Pasti masih ada orang yang menyerang titik utama. Guntur mengawasi bagian luar sekalian menyisir sniper. Bagus lagi kalau Ghani mau membantu menelusuri kasus penggelapan dana, gue yakin ada hubungannya. Biar Ghani dibantu Dimas." Jelas Tomi, diangguki Guntur dan Zaky.
"Nanti gue yang bicara sama Ghani, kalau suasana hatinya sudah membaik," timpal Zaky.
"Awalnya gue pikir sasarannya Anindi, ternyata dia cuma dijadikan pemecah fokus. Busurnya tetap mengarah pada Kha." Guntur berdecak, memainkan ponselnya untuk melihat setiap titik cctv yang terhubung ke ponselnya.
"Jadikan pelajaran." Zaky menepuk punggung Guntur kemudian beranjak, "bentar lagi Mama Papa sampai, let's go."
"Aku bukan orang baik Bu, dulu aku juga seorang penjahat yang kejam. Mungkin karena aku jahat makanya Allah balas kejahatanku sekarang." Setelah cukup lama diam, akhirnya Ghani bicara lagi. Dia tidak menyadari tiga orang yang bersamanya sempat pergi. Karena Ghani terlalu menyelami rasa sesak yang melandanya, membuatnya tidak menghiraukan orang yang ada disekeliling.
"Ini hanyalah ujian untuk menghapus dosa dan mengangkat derajatmu Nak." Nina tersenyum menatap Ghani, lalu beralih pada Tomi yang bersender di tembok.
Malam semakin pekat, cuaca begitu dingin. Haris belum juga kembali, sudah satu jam lebih. Operasi belum ada tanda-tanda selesai. Sekarang sudah hampir jam sebelas, suara gesekan roda brankar dengan lantai membuat malam menjadi tambah mencekam.
Begitu banyak orang yang sakitkah sampai malam begini para perawat masih sibuk memindahkan pasien. Ghani menutup wajah dengan kedua tangannya untuk mengusir segala resah dan gelisah.
Ucapan salam dari mama papa memecah keheningan malam. Anindi langsung menghambur kepelukan Tomi, matanya sembab. Sudah bisa dipastikan wanita itu terus menangis. Tomi menyunggingkan senyumannya, menghapus jejak air mata di pipi Anindi.
"Apa Kha baik-baik saja, Mas?" Tomi mengangguk, "berdoalah agar Kha baik-baik saja. Mas kotor jangan dipeluk." Tomi berusaha mengurai pelukannya menunjukkan noda darah di kaosnya, tapi Anindi menolak.
"Aku takut." Cicit Anindi, Tomi membawa Anindi ke kursi yang agak jauh dari keluarganya. "Jangan takut, Mas ada di sini." Tomi menarik Anindi kepelukannya kembali, untuk memberikan rasa nyaman dan menghilangkan keresahan istrinya.
"Tidurlah Mas temani." Anindi menurut memejamkan mata, tubuhnya bersandar pada dada bidang Tomi. Tubuhnya lelah kejadian beberapa jam yang lalu membuat air matanya tak mau berhenti menetes. Dia tidak tau apa yang terjadi, hanya mengetahui kalau adik sepupunya tertembak. Entah bagaimana itu bisa terjadi. Tomi mengelus punggung Anindi sampai gadis itu terlelap.
__ADS_1
Dunia yang begitu kejam telah merenggut kehormatan Anindi, bagaimana mungkin gadis itu tidak ketakutan. Apalagi setelah penyerangan yang terang-terangan terjadi beberapa jam yang lalu.
Baru kemaren Tomi membicarakan masalah ini dengan Ghani, namun ternyata musuh tidak ingin terlambat. Wajah damai Anindi yang sedang terlelap dalam pelukan Tomi, sejenak membuat pria itu tenang.