Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
Bonchap 2


__ADS_3

Mohon bantu karya ini agar dilihat pembaca yang lain.


🌹Happy Reading🌹


🌸🌸🌸


"Morning Arraz, hari ini sudah mimi cucu?" Tanya Guntur pada bayi berusia satu bulan itu. Semenjak ada Arraz dia jadi betah diam di rumah, bayi kecil itu masih belum bisa mengamuk. Kalau rewel tinggal kembalikan pada bundanya.


"Mbak aku bawa ke ruangan ayahnya ya." Beritahu Guntur pada babysitter, mendorong kereta dengan hati-hati ke ruang kerja Ghani.


"Astaga Guntur, kenapa di bawa ke sini. Gue mau meeting."


"Arraz gak akan ganggu Gha, gue temenin dia di sini." Ujar Guntur sambil mengajak bercanda bayi yang belum mengerti apa-apa itu selain mencari ASI bundanya.


"Lo gak kerja?" Selidik Ghani.


"Nanti siang," jawab Guntur asal.


"Itu perusahaan Guntur, bukan tempat hiburan yang bisa sesuka hati lo datangi!" Tukas Ghani.


"Iya gue tau, mau nemani Arraz sebentar. Setelah ini gue ke kantor." Sergah Guntur sebelum mendapat kultum, pagi tadi sudah dapat amalan hadis.


"Awas lo bikin Arraz nangis, nanti bundanya mengamuk. Gue hajar lo!" Sarkas Ghani sembari menyalakan laptopnya.


"Sstt, jangan berisik. Arraz lagi tidur." Guntur meletakkan telunjuknya di depan bibir, agar Ghani berhenti mengoceh.


"Bikin anak sendiri sana!" Usir Ghani.


"Mau gue bikin sama siapa?" Guntur memasang wajah memelasnya.


"Pacar-pacar lo dikemanain? Pilih satu buat jadiin istri."


"Gak ada yang berkualitas buat jadi ibu dari anak-anak gue."

__ADS_1


"Emang lo berkualitas jadi ayah?" Tanya Ghani sinis.


"Gak juga sih, seburuk-buruknya lelaki pasti akan mencari perempuan baik-baik untuk menjadi ibu dari anak-anaknya." Guntur membela diri.


"Tergantung keberuntungan lo juga, mungkin." Ghani mengendikkan bahu seraya memeriksa email-email masuk. Dia memang selalu bekerja lebih awal, agar punya banyak waktu bermain dengan anak dan istrinya.


"Assalamualaikum," Anindi mengetuk pintu ruang kerja Ghani. Setelah mendapat jawaban dia langsung masuk, mendekati Arraz di kereta menciuminya di pipi kanan dan kiri.


Ghani bertanya tanpa kata pada Tomi melihat iparnya itu. "Ada apa?"


Tidak pernah Anindi sepagi ini ingin bermain dengan Arraz. Tomi menjawab dengan gelengan kepala.


"Guntur, lo bisa duluan ke kantor. Gue mau mampir ke toko dulu sebentar baru ke kantor." Pinta Tomi dengan tatapan penuh permohonan, melihat Anindi menggendong Arraz ia rasa akan tertunda waktunya berangkat.


"Okeh." Ujar Guntur pasrah. Kalau Anindi yang sudah menguasai Arraz, dia akan tersisihkan.


"Abang!" Khalisa mencari Ghani dengan wajah cemberut.


"Susu aku habis," adu Khalisa.


"Guntur, lo istirahat pulangkan? Titip belikan susu ibu menyusui." Pinta Ghani pada Guntur yang masih belum meninggalkan ruangannya.


"Ogah, gue gak bisa nyari susu ibu menyusui." Tolak Guntur cepat.


"Bukan buat gue, buat ponakan lo juga. Biar ASI-nya melimpah," bujuk Ghani. Guntur tidak akan bisa menolak semua yang diatas namakan Arraz.


"Iya deh. Kirim fotonya, biar gak salah." Ujar Guntur malas, segera pergi dari sana biar tidak ada yang minta tolong lagi.


"Siap, semoga dapat jodoh karena sudah menjadi orang baik." Teriak Ghani diikuti kekehan.


"Berkeringatkan habis nyiram bunga," Ghani membawa Khalisa duduk di sofa. Menghapus keringat di wajah istrinya menggunakan tissue.


"Biar sehat, Abang."

__ADS_1


"Olahraga sama Abang juga bisa menghasilkan keringat dan sehat, Sayang." Ucap Ghani yang mendapat pelototan Khalisa.


"Abang mesum, ada Tomi sama Nindi." Gumam Khalisa pelan.


"Gak ada yang salah, Sayang. Wajar suami istri." Ghani melempar tissue ke tempat sampah setelah selesai. Niat awalnya ingin meeting malah tertunda.


Tiga orang dewasa di ruangan itu menatap iba pada Anindi yang anteng menggendong Arraz. Padahal baby boy itu sedang tidur dengan nyenyak.


"Kenapa Arraznya gak bangun-bangun?" Tanya Anindi sedih.


"Tadi malam Arraz begadang jadi dia ngantuk banget paginya." Jawab Khalisa diikuti senyuman.


"Tidurin aja lagi di kereta, Sayang. Kita berangkat ke kantor dulu. Nanti kalau Arraz bangun kita pulang." Bujuk Tomi, menunggu baby boy itu tidak tau kapan bangunnya. Kecuali kalau pipinya di cubit sampai merah.


"Ayo," Anindi meletakkan Arraz dalam keretanya kembali. Bayi mungil dalam bedong itu hanya menggerakkan bibir. "Kha mau kue apa?"


"Gak dulu deh, badan aku masih lebar." Jawab Khalisa cemberut, walau dalam hati tidak rela menolak.


"Kamu gak harus diet, Sayang. Arraz perlu ASI, wajar kalau badan kamu lebaran." Ghani mengecup pipi istrinya yang memang lebih chubby.


"Ya sudah, nanti aku beliin rujak aja kalau ada." Ujar Anindi.


"Boleh, kalau ada." Khalisa tersenyum melambaikan tangan pada kakak sepupunya itu.


"Istirahat Sayang, kamu cuma tidur beberapa jam tadi malam. Abang mau meeting dulu, sudah ditunggu Riko."


"Kunci pintunya, please. Aku mau lepas jilbab." Khalisa sudah merebahkan tubuhnya di sofa bed.


"Sudah Sayang," Ghani mengecup kening Khalisa lalu beralih pada putranya, "tidur yang nyenyak boy, Ayah kerja dulu." Katanya sambil terseyum menepuk Arraz. Tidak berani mencium, takut baby boy itu langsung bangun dan mewek.


...💥💥💥...


Sungguh tega yang membuat Guntur selalu tersiksa 🤣.

__ADS_1


__ADS_2