Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
61


__ADS_3

Tomi mengantarkan Anindi ke kamar di mana Khalisa dirawat. Lalu kembali ke kantor Emeral Corp menyusul Guntur yang sudah lebih dulu di sana.


"Kusut amat muke lo Tom." Ejek Guntur, tangannya sibuk memeriksa berkas-berkas di meja.


"Kesal sama Anin!" Sahutnya ketus.


"Haahhh fix ketularan Ghani nih."


"Nih sisa cake yang dimakan Kha dan ini plat motor yang nganter pesanan." Tomi meletakkan satu box cake dan secarik kertas di meja.


"Bantuin selesain ini dulu. Malah nambahin kerjaan gue," maki Guntur.


"Apa untungnya bikin Khalisa keguguran?" Tomi berpikir keras, sekeras tembok yang ada diantara dia dan Anindi.


"Au ah, penjahat sekarang suka aneh-aneh gak jelas kayak di novel-novel aja. Tapi sayangnya ada dikehidupan nyata."


"Emang kita nyata hidup?"


"Kagak, kita dedemit." Sahut Guntur ikutan kesal. Saat dia serius lawan bicaranya malah main-main.


***


Dua hari pasca keguguran Khalisa mulai tenang, netra bundar itu masih sembab. Saat sendirian Khalisa masih suka menangis. Ghani selalu setia berada di sisinya untuk menguatkan.


Khalisa memandang langit dengan tatapan kosong. Dinginnya udara malam menyapu lembut di kulit. Air matanya sudah kering. Hatinya sudah lebih tenang sekarang.


"Kenapa ninggalin bunda Nak, bunda belum sempat lihat kamu, Sayang."


Ghani menatap istrinya dari pintu yang mengarah balkon. Sejak pulang dari rumah sakit mama memaksanya tinggal di rumah besar keluarga Emran. Dia tak kuasa menolak, melihat kondisi istrinya yang kehilangan harapan.


"Sayang di sini dingin, nanti bunda sakit." Ghani memeluk istrinya untuk menghangatkan jiwa yang sedang rapuh itu. Mendekapnya erat sampai napasnya terasa di pipi Khalisa.


"Abang, aku mau nyusul anak kita. Dia kesepian minta ditemani bundanya."


"Jangan tinggalin Abang di sini Kha, Abang kesepian kalau sendirian. Kita akan temui anak kita nanti sama-sama ya."

__ADS_1


"Aku mau sekarang Bang, aku kangen." Ghani membawa istrinya masuk ke kamar, udara di luar semakin dingin. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Lelaki itu menarik napas dengan frustasi. Perkataan istrinya membuat hatinya seperti tersayat-sayat ilalang.


"Sekarang Kha temani Abang dulu yaa. Abang kangen kamu."


"Kamu semakin cantik Sayang." Ghani merapikan rambut Khalisa yang berantakan. "Temani Abang mau?" Ghani terus mengalihkan perhatian sang istri dari rasa sepi.


"Abang!" Khalisa meringkuk dalam pelukan suaminya, memendamkan wajahnya ke dada Ghani. Tidak ada air mata yang mengalir lagi, seakan sudah kering karena terlalu sering dikuras.


"Ya Cinta. Mau sesuatu?"


"Mau pulang ke rumah kita Bang, aku takut di sini."


"Setelah kamu pulih kita akan pulang Sayang, menjalani hidup dengan bahagia di sana."


"Gha, sudah tidur?" Panggil Tomi dari luar pintu, dia tidak masuk. Takut mengganggu Ghani sedang memberikan dosis pada istrinya.


"Nanti kususul."


Sahut Ghani, Tomi langsung mengerti meninggalkannya pergi. Bukan saat yang tepat untuk menggoda sepasang kekasih yang sedang berduka itu.


"Sayang, jangan pernah pergi dari hidup Abang. Tetap jadi cahaya untuk Abang ya. Hanya kamu yang bisa memberi Abang kekuatan. Kita sama-sama arungi samudra kehidupan ini dengan cinta ya." Ghani menghapus jarak, menyatukan napas mereka yang semakin memburu hebat. Bibir pucat itu tetap bisa memabukkan Ghani.


Ghani menyelimuti istrinya yang sudah tertidur, hampir dia menyerah membujuk Khalisa saat di rumah sakit. Perempuannya itu menghabiskan setiap waktunya dengan menangis. Diciuminya kening sang istri yang sudah lebih baik hari ini, walau masih suka meracau.


"Selamat tidur Cinta, mimpi indah." Ucapnya lalu beranjak menemui Tomi di kamar, di sana sudah ada Guntur. Mereka tak pernah serius kalau berdiskusi lebih banyak adu argumen.


"Kami sudah tau pelakunya, masih belum bisa bertindak tanpa persetujuanmu, Gha. Karena setelah ini semua tidak akan bisa seperti semula lagi." Terang Tomi sambil menyesap kopi yang sudah dingin. Ghani menghempaskan tubuhnya di ranjang Tomi.


"Tom, kasurmu tak seempuk punyaku apa karena tidak ada perempuan yang menidurinya." Ghani tidak terlalu serius menanggapi ucapan Tomi, instingnya sudah tau arahnya kemana pembahasan ini akan terjadi.


Tomi berdecih, Guntur menahan tawanya tidak ingin mengusik Tomi.


"Bagaimana?" Desak Tomi.


"Aku pusing Tom, akan semakin panjang kisah ini kalau itu ada kaitannya dengan Anindi." Ghani tertawa sinis.

__ADS_1


"Serius dong Gha, pusing nih."


"Terserah, kan kamu bosnya." Ghani terkekeh, dia memang marah kehilangan calon bayinya dan melihat kondisi istrinya sekarang. Tapi tidak ingin ambil pusing dengan masalah di keluarga papanya lagi.


"Ayolah Gha, jangan seperti ini."


"Semua ini tidak dapat mengembalikan anakku lagi Tom." Ghani keluar kamar dengan membanting pintu keras. Berurusan dengan Azhar membuatnya ingin membunuh lelaki itu. Siapa lagi kalau bukan Azhar dibalik semua ini, berangnya.


Ghani kembali menemui istrinya yang tertidur pulas. Mata sembab itu membuat wajah cantik kekasihnya memucat.


***


Tanpa Ghani, Tomi dan Guntur bertindak setelah meminta izin Emran dan Haris. Tak lupa membawa Anindi agar gadis itu tidak salah paham atas tuduhannya.


Tomi memasuki kediaman Azhar bersama dua orang petugas kepolisian, di sana ada Ardi yang menjadi orang kepercayaan Emran. Setaunya Dhafi juga tinggal di sana, karena dia anak dari saudara Leni, mamanya Azhar.


Mereka disambut baik oleh Ardi, Azhar sudah mengajar pagi ini jadi tidak ada di sana. Tomi tidak banyak bicara menyerahkan semuanya pada pihak berwajib.


"Bisa panggilkan saudara Dhafi." Ujar seorang polisi, karena hanya Ardi yang menghadapinya di sana. Tidak lama kemudian Dhafi keluar dengan kebingungan. "Ini surat perintah penangkapan anda, mari ikut kami untuk memberikan keterangan di kantor polisi."


Sebenarnya Tomi tidak suka dengan membawa polisi, hukumannya sangat ringan. Tapi ini yang papa inginkan.


Dhafi membaca isi suratnya kemudian tersenyum smirk. Tapi senyumannya menghilang ketika melihat Anindi ada di sana.


"Kamu tidak percaya merekakan Nin?" Lirih Dhafi di depan perempuan itu.


"Aku percaya dengan apa yang seharusnya aku percayai Mas."


Dhafi tidak paham dengan ucapan Anindi.


"Aku percaya semua yang ada diantara kita telah berakhir." Lanjutnya dengan menyunggingkan senyuman manis.


"Apa yang sudah keponakan saya lakukan?" Ardi mengambil surat penangkapan. Dia bingung dengan kejadian yang ada di depan matanya.


"Azhar mungkin bisa bebas Om, tapi kali ini Dhafi tidak." Tomi menyeringai, menatap lawan bicara yang wajahnya sudah memerah. "Ditunggu Papa di kantor." Tambahnya dengan main-main.

__ADS_1


"Oh ya satu lagi pesan dari Ayah Haris, beliau membatalkan rencana pernikahan Anindi dengan Dhafi. Kalau ingin kejelasannya temui langsung, itupun kalau masih punya nyali setelah menghilangkan nyawa cucunya yang tak berdosa."


"Awas kau Tomi!" Teriak Dhafi, matanya bertemu dengan tatapan membunuh Anindi. Tomi sudah menggagalkan rencananya, dia tidak akan tinggal diam.


__ADS_2