Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
82


__ADS_3

"Abang, itu siapa?" Tanya Khalisa, dia agak susah mengingat nama.


"Itu Guntur, Sayang." Jawab Ghani, setelah mengikuti arah jari telunjuk Khalisa.


"Jahat?" Tanyanya lagi.


"Semua orang yang ada di rumah ini gak jahat." Beritahu Ghani dengan perlahan, kalau terlalu cepat istrinya akan susah mencerna dan mengingat.


"Gak jahat ya?" Khalisa mengulang ucapan Ghani. Lelaki itu mengangguk, "iya, gak jahat."


Semua yang ada di ruang keluarga ingin sekali berteriak memaki istri Ghani yang terlampau polos itu.


"Kha, tolong jangan menggemaskan seperti itu, tak tahan tanganku untuk tidak mencubit pipimu." Pekik Guntur saking gemasnya.


"Berani mencubit pipi Kha, kupotong tanganmu." Sarkas Ghani, membuat Guntur merinding.


"Salahin dia dong, Kha yang mengundang malapetaka." Guntur membela diri, sudah tentu Ghani membela siapa. Siapa lagi kalau bukan si gadisnya ini.


"Jangan salahkan orang lain Guntur, hanya karena kamu tidak bisa mengendalikan diri sendiri." Ghani mengeratkan pelukan pada Khalisa yang dengan nyaman duduk dipangkuannya membenamkan kepala di dada bidang Ghani.


"Iya gue yang salah, bela aja terus bidadari lo itu," kesal Guntur.


"Kok Kha yang disalahin sih, dia gak ngapa-ngapain gini." Ujar Ghani tidak terima.


Mau gimana lagi, dia tidak bisa mengubah istrinya kembali menjadi perempuan berwibawa seperti dulu karena kecelakaan itu. Ghani tetap menyayangi istrinya, malah jauh lebih besar sekarang dan selamanya.


Mira geleng-geleng kepala. "Yang sehat ngalah," katanya mengundang gelak tawa.


"Nasib lo emang ngenes Tur, gak ada yang mau belain." Ghina yang tertawa paling nyaring, ibu satu anak itu lupa kalau anaknya sedang tidur sendirian di kamar.


"Mah, gak ada niat jodohin Guntur juga biar gak dibully terus." Katanya dengan memelas, yang menyaksikan bukan kasihan. Malah tambah ingin menghujat.


"Pacar banyak, cari istri masa gak bisa." Ledek Emran, Guntur cemberut masam. Tuh muka sampai bisa dibikin rujak, ngalahin mangga muda kecutnya.


"Lusa aku nitip Kha dua hari ya, mau ke Singapura. Ada yang harus aku selesain di sana." Izin Ghani, dia tidak mungkin membawa istrinya. Bukan kerja kalau Kha ikut, yang ada dia jadi momong.

__ADS_1


Belum ada jawaban, semua mata tertuju pada satu arah. Bukan Ghani, tapi Khalisa.


"Dia mau kamu tinggal?" Tanya Emran, Khalisa sudah seperti anak kecil yang tidak mau pisah dari ibunya kalau bersama Ghani.


"Nanti aku bujuk dia Pah," lama tidak ada pergerakan gadis itu tertidur dalam dekapan Ghani.


"Gak bisa virtual aja Gha, bukan gak mau jagain kalau rewel siapa yang bisa bujuk." Tomi juga mengungkapkan keresahannya. Selama dua hari ini saja gadis itu tidak mau pisah sedetikpun dari Ghani.


"Gak bisa, aku harus ada di sana. Banyak yang harus aku beresin." Andai bisa diwakilkan dia juga enggan meninggalkan istrinya ini.


"Biar nanti Mama yang jagain, dah sana kamu bawa ke kamar." Ujar Mira, menantunya itu sudah terlelap dengan nyaman dalam pelukan Ghani.


Tanpa babibu Ghani menggendong istrinya ke kamar.


"Capek pasti ngurusin Kha begitu?" Ghina iba pada kakak kembarnya itu.


"Selama ada Kha di sisinya Ghani pasti kuat, Sayang." Zaky meyakinkan Ghina, istrinya itu sering mengalami sedih tanpa sebab kalau kembarannya sedang sedih. Ikatan batin antara mereka sangat kuat.


Setelah perjuangan panjang membujuk Khalisa akhirnya Ghani dibolehkan pergi. Meskipun hatinya gelisah meninggalkan sang istri. Bukan takut Khalisa disakiti di rumah. Tapi khawatir tidak ada yang bisa membujuk gadis itu.


"Abang gak lama, Sayang. Dua malam aja." Jelas Ghani pada sang istri, gadis itu sudah berkaca-kaca. Ghani membawanya dalam pelukan, duh berat meninggalkan kalau Khalisa bertingkah seperti ini.


"Mau," jawabnya antusias lalu melepaskan pelukan Ghani, "Abang pergi aja, Kha mau jalan dulu sama Guntur." Ucap Khalisa lugu, Ghani tersenyum lalu menganguk membiarkan Guntur membawa pergi istrinya lebih dulu.


Setelah mobil Guntur sudah menghilang baru Tomi mengantar Ghani ke bandara. Lelaki itu berangkat setengah hati.


"Gue akan secepatnya selesain kerjaan di sana dan langsung pulang. Gak bisa jauh-jauh dari Kha seperti ini." Curhatnya pada Tomi.


"Kha akan baik-baik aja di rumah Gha, tidak perlu terlalu khawatir. Biar lo bisa selesain masalah di sana dengan tenang." Nasehat Tomi, Ghani menghela napas berat, bagaimana caranya dia bisa tenang kalau harus jauh dari istrinya.


Belum satu hari Khalisa sudah gelisah mencari Ghani.


"Kha, makan dulu Sayang. Kamu belum sarapan dari pagi tadi, belum minum obat jugakan." Bujuk Mira pada menantunya.


"Mau di suapin Abang." Khalisa duduk di lantai, menempelkan dagunya di meja.

__ADS_1


"Mama yang suapin ya, sama kok enaknya kalau Mama yang nyuapin." Mira mengelus kepala menantunya dengan sayang, ini sudah jam dua siang. Khalisa belum mau makan sejak pagi. Pagi tadi menolak makan karena merajuk di tinggal Ghani, sekarang mau makan disuapi.


"Gak mau!" Ucapnya cemberut.


"Aku yang suapin ya Kha," bujuk Anindi yang sedari tadi ikut mengamati adik sepupunya itu. Khalisa tetap menggeleng.


"Telpon suamimu Nin suruh pulang, mungkin kalau mereka yang bujuk Khalisa mau. Kasihan perutnya belum ada diisi."


Anindi mengangguk langsung menghubungi suaminya. Tidak lama Tomi dan Guntur pulang.


"Ada apa?" Tanya Tomi heran, dia bergegas pulang takut Khalisa kenapa-kenapa. Ternyata gadis itu baik-baik saja.


"Bujuk Kha biar mau makan, dari pagi belum makan." Jelas Mira, Guntur sontak menepuk jidatnya. Tugas mereka tenyata tidak jauh-jauh dari babysitter.


Tomi menarik napas panjang sebelum berjongkok mengambil nasi di meja. "Kha, duduk sini." Dia menepuk sofa, gadis itu menurut.


"Pintar," puji Tomi. Seperti yang sering dilakukan Ghani, memberikan pujian setelah Khalisa melakukan sesuatu. "Sekarang makan ya," bujuknya. Khalisa menggeleng dengan cepat.


"Coba langsung suapin." Saran Anindi pada suaminya.


"Mau disuapin?" Tanya Tomi, gadis itu mengangguk. "Oke," dia menyuapkan sesendok nasi beserta lauknya, tidak ditolak.


"Bagus, ayo makan lagi." Pujinya, persis seperti membujuk anak kecil. Guntur sampai meneguk ludah kasar. Tugas berat selama dua hari gumamnya.


Tomi terus memberikan pujian saat Khalisa mau menyuap nasinya. Sampai nasi di piring itu ludes tak tersisa. Lapar juga, gugamnya sambil terkekeh kecil.


"Makannya sudah selesai, sekarang waktunya minum obat biar cepat sembuh. Kalau Kha sembuh bisa ikut Abang ja..., eh ikut kerja nanti." Bujuk Tomi, hampir saja dia berucap ikut Abang jalan-jalan. Bakalan heboh lagi kalau Khalisa merajuk.


Baguslah Khalisa mau menurut untuk minum obat, sekarang tugasnya selesai.


"Ngantuk," gumamnya.


"Ayo aku antar ke kamar," ajak Anindi. Khalisa menggeleng, "mau dipeluk. Abang selalu meluk Kha kalau tidur."


"Ya udah aku peluk," bujuk Anindi.

__ADS_1


"Enggak mau!" Teriaknya dengan mata berkaca-kaca menatap Guntur.


"Eh, bakal dibunuh Ghani gue." Guntur berucap refleks saat dia ditatap seperti tersangka. Tomi menahan tawa, dia lebih beruntung hanya mendapat tugas menyuapi saja.


__ADS_2