
"Guntur gak pulang dan Kha gak mau sarapan di bawah." Ucap Mira sendu, biasanya anak-anaknya hanya bertengkar sebentar tidak pernah seserius ini.
"Mah, Guntur sudah dewasa mungkin pulang ke rumah Paman Rizal. Dan Kha, ada Ghani yang bisa membujuknya. Mama jangan risau berlebihan." Tomi memeluk perempuan yang sudah menjadi orang tua penggantinya.
"Arraz ikut Paman kerja aja ya," Tomi berjongkok setelah mengurai pelukan sang mama. Ia mengusap-usap kepala Arraz. Tomi sudah sangat hapal, Ghani pasti sedang membujuk Kha.
"Bibi ikut juga?" Tanya Arraz memastikan.
"Enggak, Bibi ke toko Sayang."
"Yaah, Arraz maunya nemenin dedek aja." Wajah mungil itu cemberut. Tomi melirik Anindi yang berdiri di sampingnya, wanita itu mengangguk. Tidak masalah kalau Arraz ingin ikut bersamanya.
"Oke, tapi Arraz jagain dedek ya. Jangan bikin dedek capek main kejar-kejaran sama Arraz." Bocah kecil ini sangat suka berlari-larian bermain di ruangan, Tomi khawatir Anindi dibuat kelelahan menjaganya.
"Bawa mbaknya aja sekaluan Nin, biar Airil Ghina yang antar ke sekolah." Ujar Emran, menantunya itu baru ketahuan hamil. Dia tidak ingin mendengar berita buruk karena sesuatu menimpa Anindi.
"Iya Pah, ayo kita siap-siap Sayang." Anindi menuntun Arraz naik ke atas untuk mengambil peralatan si kecil itu.
"Ayo Bibi, kejar Arraz!!" Teriak Arraz menarik tangan Anindi saat ingin menaiki tangga.
"Dedek gak bisa lari Sayang," jantung Anindi dag dig dug takut Arraz terpeleset di tangga. Sedang dia harus menjaga janinnya yang masih sangat rentan ini.
"Astagfirullah, baru dibilangin jangan lari-larian. Aku gak yakin Nindi bisa jaga Arraz kalau gini Pah." Tomi berlari mengejar anak kecil itu lalu membawanya dalam gendongan.
"Main kejar-kejarannya sama Paman aja Sayang." Tomi melambung-lambungkan Arraz ke udara kemudian menciumi di perut.
"Sepertinya Papa harus bikin lift di rumah ini, cucu Papa jagoan semua, bahaya kalau main lari-larian di tangga." Ujar Mira masih mengamati cucunya yang tertawa kegirangan.
Emran menyetujui usul istrinya, memang lebih baik tangga ditutup sementara sampai cucu-cucunya itu besar. Ia akan membuat lift di rumah ini.
"Ayaaah!!" Teriak Arraz dari depan pintu kamar.
"Iya Sayang," Ghani bersegera membuka pintu. "Arraz sudah sarapan?"
__ADS_1
"Sudah Ayah, Arraz tadi diajak paman terbang. Sekarang Arraz mau nemenin dedek ke toko. Kalau gak ada Arraz nanti dedek gak ada teman mainnya," ujar Arraz sangat bersemangat.
"Ijin Bunda dulu ya Sayang," Ghani tersenyum mengusak-usak kepala putranya. Bocah berumur tiga tahun itu minta diturunkan dari gendongan.
"Yakin kamu bisa jaga Arraz sendirian?" Tanya Ghani pada Anindi untuk memastikan kembali. Khalisa menjaga Arraz sendirian saja dia masih belum yakin, apalagi Anindi yang sedang hamil muda.
"Nanti mbaknya juga ikut Gha, aku gak sendirian." Jawab Anindi meyakinkan Ghani.
"Oke. Sekalian nitip satu minggu boleh juga kan?" Ghani menyengir seraya menaik turunkan alis, melirik Tomi yang sudah memberikan tatapan membunuhnya.
"Dasaaar, dikasih hati minta jantung!!" Sarkas Tomi kesal. Kalau dititipi Arraz satu minggu, bocah kecil itu akan mengganggu kesenangannya saja. Pasti mau terus menempel pada istrinya, bisa-bisa dia yang kurang kasih sayang.
Ghani terkekeh geli, "malam ini aja deh. Mana mau Kha jauh dari Arraz lama-lama. Kalau mau sudah kuajak honeymoon ke luar negeri."
"Oke, malam ini aja, jangan minta kompensasi lagi!!" Seru Tomi.
"Terimakasih besan, jagain calon menantuku ya." Ghani tertawa gelak menunjuk perut Anindi.
"Khaaa!!" Teriak Tomi dengan sangat nyaring.
"Tomi!!" Ghani melotot membekap mulut suami Anindi itu. Anindi ikut tertawa gelak melihat tingkah dua pria dewasa yang seperti bocah.
"Kalian ngapain?" Khalisa mengkerutkan kening melihat Tomi yang berusaha melepaskan tangan Ghani dari mulutnya.
"Gha udah ngetake anakku buat jadi menantunya Kha," sebut Tomi sambil menyeringai ke arah Ghani setelah berhasil lepas dari tangan sepupunya itu.
"Abaaang!! Jadi Abang yang ngajarin Arraz gak bener. Aku udah marah-marah sama Guntur yang gak salah." Pekik Khalisa dengan suara yang menggema.
"Kha, Abang gak ngajarin Arraz ngomong gitu Sayang. Malah Arraz yang ngajarin Abang." Ghani langsung berinisiatif memeluk Khalisa dari belakang, agar istrinya ini tidak semakin mengamuk.
"Mana ada bocah umur tiga tahun ngajarin bicara orang dewasa!! Abang tuh ngadi-ngadi ya." Seloroh Khalisa sangat kesal.
"Beneran Sayang, Abang gak pernah ngomong gitu." Ghani menciumi belakang kepala Khalisa supaya tenang.
__ADS_1
"Abang mana bisa dipercaya lagi!!" Sarkasnya.
Ghani meringis, bisa lari kemana-mana kalau bawa-bawa kepercayaan. Ia memutar tubuh Khalisa pelan, kemudian memeluknya dengan erat.
Tomi dan Anindi tertawa gelak, mereka mentertawakan Ghani yang kewalahan menghadapi Khalisa.
"Kha, Sayang." Bisik Ghani, istrinya itu akan melemah kalau diberikan kelembutan. Ghani melotot pada Tomi yang masih tertawa gelak. Mereka puas mentertawan deritanya.
"Sepupu lucknut memang," maki Ghani dalam hati. Kalau dia memaki di depan Khalisa, kesayangannya ini bisa semakin mengamuk.
"Kenapa teriak-teriak!!"
Kehebohan itu terjadi di depan kamar, jelas saja Mira mendengar suara teriakan Khalisa. Ia dan suaminya menyusul ke depan kamar Ghani yang menjadi sumber suara.
"Abang Mah, masa mau jadiin anak mereka yang masih dalam perut menantu. Kalau laki-laki gimana, siapa yang jadi istrinya." Ucap Khalisa cemberut, Ghani menepuk jidat pelan. Astaga, jadi itu yang dipermasalahkan istrinya sampai mengamuk.
Mira menggeleng pelan, kenapa lagi dengan menantunya ini.
"Kha masih kontrol rutin Gha?" Tanya Emran pelan di samping telinga putranya, dia khawatir tumor otak itu tumbuh lagi di kepala menantunya.
Ghani mengangguk, tidak bersuara untuk meminimalisir amukan Khalisa.
Itulah yang membuat Emran tidak mengijinkan mereka pindah rumah, Khalisa bisa saja kadang bersikap seperti anak kecil yang polos. Dan disaat yang lain bisa menjadi sangat dewasa. Dia sudah mengkonsultasikan dengan beberapa dokter, tapi tidak ada kelainan apa-apa pada menantunya ini.
"Arraz sudah siap." Anak kecil itu menarik tas yang berisi susu, pakaian ganti dan popok.
"Sebentar Sayang," Tomi mengambil tas itu dan menggendong Arraz.
"Abangmu cuma bercanda Sayang, hari ini biar Nindi yang jaga Arraz. Kalian jalan-jalan aja." Emran menepuk lembut kepala menantunya. "Menginap juga gak papa, biar Papa bantu jaga Arraz." Lanjutnya, jelas wajah siapa yang paling cerah mendengar maklumat itu kalau bukan Ghani.
...💥💥💥 ...
Aku kasih bonus lagi, mari kita tertawakan Babang Ghani berjamaah😅.
__ADS_1