Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
Bonchap 16


__ADS_3

"Aaaaaa Sayaaang kamu hamil," teriak Ghani girang. Apalagi setelah diberitahu dokter ada dua makhluk yang bersemayam di sana.


Ia menggendong Khalisa sambil berputar-putar setelah istrinya itu turun dari ranjang pemeriksaan. Tidak peduli dengan dokter yang masih ada di sana.


"Abang berhenti, Kha pusing." Khalisa menepuk-nepuk bahu Ghani agar berhenti berputar. Dia malu dilihat dokter, mereka bukan penganten baru yang kegirangan karena mendapat kabar bahagia.


"Maaf," ujar Ghani menyengir menurunkan Khalisa. Tapi tidak melepaskan dari pelukan takut istrinya itu jatuh karena kliyengan setelah dia putar-putar.


Ayah Arraz itu mengambil resep yang diberikan dokter dan langsung membawa istrinya pulang.


"Mama Papa!!" Teriak Ghani di ruang keluarga rumah utama.


Khalisa meringis melihat tingkah suaminya seperti anak kecil. Perempuan itu duduk dengan santai menyilangkan kakinya sambil menyemil. Tidak ingin pusing karena kelakuan sang suami.


"Apaan sih Gha, masih siang teriak-teriak. Anak-anak lagi istirahat," Ghina berdecak kesal.


Ghani tidak menghiraukan ocehan adik kembarnya. Ia langsung menghambur ke pelukan sang mama. "Mama Kha hamil, Kha hamil kembar Mah," ucapnya seraya menciumi Mira di pipi.


"Kha hamil kembar?" Ulang Emran, Ghani mengangguk beralih memeluk sang papa.


Emran dan Mira menatap Khalisa yang sangat santai menyemil sambil tertawa menonton televisi. Ghina juga dibuat cengo melihat iparnya itu tak acuh pada sang suami yang seperti cacing kepanasan karena saking bahagianya.


"Kha," panggil Emran yang mendekati menantunya lalu duduk di samping Khalisa.


"Iya Pah, mau?" Khalisa menawarkan kue kering di toples pada ayah mertuanya.


"Kha aja yang makan," ujar Emran sambil tersenyum mengelus perut menantunya. "Cucu Papa ada di sini."


Bunda Arraz itu mengangguk, mengeluarkan foto hasil USG di tasnya. "Ini cucu Papa, masih besaran kue nastar Pah." Kekeh Khalisa menyandarkan kepala dengan manja pada bahu ayah mertuanya.


"Lihat menantu Mama itu, manjanya." Ghani tersenyum bahagia melihat Khalisa yang sangat dekat dengan keluarganya.

__ADS_1


"Walau gak hamil dia tetap manjakan?" Mira tersenyum menarik putranya agar mendekat pada Khalisa juga. Ghani mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan sang mama.


"Kalian sehat-sehat ya," Emran mengusap kepala menantunya yang sangat manja, melebihi kemanjaan putri kandungnya sendiri.


Perempuan hamil itu mengangguk, "doakan kami Pah."


"Doa Papa selalu buat kalian Sayang."


Khalisa bahagia, dia tidak pernah merasa sungkan bermanja-manja pada ayah dan ibu mertuanya. Mereka sudah seperti orang tua kandungnya sendiri.


"Cucu Mama cantik atau ganteng nih?" Mira mengambil posisi duduk di samping kiri Khalisa.


"Belum tau Mah, yang penting sehatkan dan mereka lahir dengan selamat." Sahut istri Ghani itu sambil tersenyum. Bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyum kebahagiaan.


"Tentu saja Sayang, apapun jenis kelaminnya. Asal kalian semua sehat." Mira menciumi pipi Khalisa dengan sayang.


"Ada apa?" Tanya Tomi pada Ghina melihat orang tuanya memeluk Khalisa. Dia dan Guntur memang selalu pulang saat mendekati jam makan siang.


"Apaaa? Aku mau punya ponakan kembar??" Teriak Guntur girang, "mana-mana aku lihat?" Katanya heboh, Ghina menepuk jidat frustasi.


"Nih!!" Ghani memberikan foto hasil USD dengan kesal. Suasana yang tadi damai jadi berubah ramai.


"Abang," tegur Khalisa dengan tawa kecil.


"Ibarat orang berdoa itu, yang tadinya khusuk langsung ambyar karena satu ketukan nada!!" Seru Ghani benar-benar kesal.


"Sudah-sudah, ini hari bahagia. Jangan marah-marah," Emran menarik Ghani agar duduk di samping Khalisa. Api yang baru menyala itu bisa langsung padam hanya dengan duduk berdekatan.


"Akukan bahagia, kenapa jadi dimarahin." Ucap Guntur sok polos.


"Gak ada yang marah, kamu cuma ngagetin Abang." Beritahu Khalisa yang sudah mulai bermanja-manja pada suaminya. Tanpa peduli dimana dia berada.

__ADS_1


Kabar bahagia itu hanya untuk diketahui keluarganya. Ghani masih trauma atas kejadian yang menimpa Khalisa saat hamil dulu. Ia takut kehamilan istrinya kali ini juga menjadi incaran kalau ada yang mengetahui istrinya sedang hamil.


*


"Assalamualaikum dedek," sapa Arraz di perut bundanya. "Kenapa perutnya belum menggelembung seperti perut bibi dulu bunda?" Tanyanya lugu.


"Dedek masih kecil di dalam Sayang, Arraz jagain Bunda ya biar dedeknya cepat besar." Jawab Ghani sambil mengelus kepala putranya yang sudah bisa menolak kalau di peluk dan cium.


"Tentu saja Arraz akan menjaga Bunda dan adek kecil ini Ayah," Arraz meletakkan telinganya di perut sang bunda. "Belum ada suara, cuma ada suara perut bunda kelaparan." Celetuknya yang membuat Ghani tertawa.


"Arraz istirahat biar Ayah yang siapkan makan buat Bunda." Ghani mengecup lembut puncak kepala Arraz, "cium Bunda dulu Sayang." Beritahunya, kalau tidak begitu putranya itu akan langsung kabur.


"Siap Ayah," Arraz mencium pipi kanan dan kiri sang bunda lalu beralih pada ayahnya. Setelah selesai baru dia beranjak ke kamar.


"Selamat tidur Sayang, jangan lupa baca doa dan matikan lampu setelah sikat gigi." Beritahu Khalisa yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan ayah dan anak itu.


"Selalu Bunda," jawabnya seraya melambaikan tangan yang dibalas Khalisa dengan tersenyum bangga.


"Kha lapar Sayang?" Ghani merapikan anak rambut yang menutupi kening Khalisa ke belakang telinga.


"Enggak Abang, Kha masih kenyang."


"Tapi tetap minum susu, Abang sudah buatin susunya." Hal yang selalu Ghani lakukan, memastikan Khalisa minum susu sebelum tidur. Walaupun tidak sedang hamil, istrinya itu tetap rutin minum susu.


"Iya Abang," Khalisa meminum susu yang Ghani berikan sedikit demi sedikit. "Kenapa rasanya aneh ya Bang, Kha jadi eneg minum susu cokelat."


"Jangan diminum lagi, nanti Abang belikan susu rasa lain. Malam ini gak usah minum susu dulu." Ghani mengambil gelas di tangan Khalisa, membersihkan sudut bibir sang istri dengan jempolnya.


"Alhamdulillah Allah mengabulkan keinginanmu setelah tujuh tahun Sayang," Ghani mengusap lembut pipi Khalisa. Tidak bisa ia utarakan bagaimana rasa sayangnya pada kekasihnya ini.


"Makasih selalu menemani Kha, selalu sabar menghadapi Kha hampir sembilan tahun kita bersama." Khalisa melabuhkan kepalanya di bahu sang suami.

__ADS_1


Ghani tersenyum mengusap belakang kepala Khalisa. Tidak perlu dia ucapkan Khalisa pasti dapat merasakan bagaimana dia sangat mencintai istrinya ini. "Bagaimanapun manjanya kamu, Abang tetap mencintaimu Sayang."


__ADS_2